
Part 46
Ketika akan masuk ke kamar, terdengar suara seseorang yang sedang batuk. Kedua kakak beradik itu saling pandang dan melanjutkan langkah mereka.
Kamar yang gelap dan terasa pengap, sehingga Bagas dan Yudha sedikit kesulitan mengenali sosok yang terbaring di atas ranjang.
"Kak, mana saklar lampu? kamarnya gelap begini aku tidak bisa melihat dengan jelas," ujar Yudha.
Bagas lalu merogoh kantong dan mengambil ponselnya kemudian menyalakan senter, lelaki itu mengarahkan cahaya ke sisi tembok hingga akhirnya menemukan saklar di dinding kamar.
"Saklarnya ada di belakangmu Yud," ucap Bagas
Yudha memutar tubuhnya, pemuda itu menekan tombol saklar dan lampu kamar phn menyala.
Saat cahaya lampu sudah memenuhi ruangan, sirot mata keduanya langsung tertuju ke atas ranjang dan melihat sosok lelaki tua dengan tubuh kurus terbaring lemah.
"Paman!"
Keduanya menghambur dan memeluk tubuh ringkih di depan mereka, sedangkan Pak Herman terkejut menerima pelukan mendadak dari dua orang sekaligus.
"Si ..., sii ..., siiapaa kalian?" tanya Pak Herman terbata dengan suara lemah.
"Aku Bagas paman, ini Yudha adik ku," jawab Bagas.
Tak ada reaksi apa pun dari Pak Herman, dia hanya menatap kosong pada dua pemuda di hadapannya dengan wajah datar.
"Paman tidak mengenali kami? kami putra Prayoga adik paman," sambung Bagas lagi.
"Yoga," gumam Pak Herman lirih, kemudian sedetik kemudian tangis lelaki tua itu pecah.
"Mana Yoga? mana adik ku?"
Bagas dan Yudha kembali saling pandang, setelah menyadari bahwa paman mereka sedang tidak baik-baik saja.
Bagas Berlutut di depan ranjang sambil mengelus tubuh pamannya lalu berucap,"Paman, ayah kami sudah lama meninggal apa paman sudah lupa?"
"Kamu bohong, Yoga ada di kamarnya panggil dia kesini," bantah Pak Herman.
"Ayah sudah ...."
"Kak, paman sedang sakit jangan memaksanya." Yudha memotong ucapan kakaknya yang sepertinya ikut terbawa suasana
Bagas menghela napas, hampir saja dia lupa jika sedang menghadapi orang yang amnesia. Lelaki itu pun bangkit dan memutar tubuhnya lalu melangkah keluar kamar menuju ruang tamu.
__ADS_1
Yudha mengikuti langkah kakaknya, kemudian kembali bergabung bersama bibi dan teman Pak Herman yang sedang berbincang.
"Bibi, apa yang terjadi dengan paman?" tanya Bagas.
"Sudah dua tahun pamanmu seperti itu, sejak terserang stroke dia spertinya kehilangan ingatannya," jawab Sang Bibi.
"Kemana Radit dan Alan? apa selama ini paman tidak berobat ke rumah sakit?" pertanyaan beruntun dan menohok dari Bagas pada bibinya, karena prihatin melihat kondisi pamannya saat itu.
"Mereka sudah menikah, sekarang memilih tinggal di kota lain bersama keluarga masing-masing," jawab istri Pak Herman tertunduk sedih.
"Paman sudah berobat?" tanya Bagas lagi.
"Bibi hanya memberi obat seadanya, kalau mau ke rumah sakit tidak ada yang mengantar dan juga bibi tidak kuat membopong pamanmu."
Semakin teriris hati Bagas mendengarnya, sungguh dia tidak menyangka kehidupan pamannya jauh dari kata baik. Bahkan sangat memprihatinkan.
"Bi, kak Bagas ini seorang dokter. Mungkin bisa mengecek kondisi paman," ucap Yudha ketika melihat Bagas termenung.
"Apa iya?"
"Iya, bi. Nanti biar kak Bagas periksa dulu agar kita tahu penanganannya seperti apa," lanjut Yudha.
Bagas hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Namun, pikirannya menerawang jauh dan jiga merasa heran dengan sikap sepupunya, anak-anak Paman Herman yang tidak satu pun mau menemani orang tua mereka.
Tinggal mereka bertiga di ruang tamu, saling diam dengan pikiran masing-masing lalu tiba-tiba Si Bibi membuka suara lagi.
"Ayo, bibi antar ke kamar kalian. Pasti kalian ingin istirahat karena perjalanan jauh."
Wanita tua itu pun beranjak, melangkah menuju sebuah kamar yang terletak di tengah ruangan. Bagas dan Yudha mengikuti di belakang sambil menenteng tas pakaian mereka.
"Ini kamarnya." Si Bibi membuka pintu lalu menekan tombol saklar menyalakan lampu.
"Masuklah," ucapnya lagi.
"Iya, terima kasih bi," balas Bagas.
Setelah menunjukkan kamar ponakannya, istri Pak Herman kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan suaminya.
Keduanya sudah di dalam kamar, Yudha langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan diri. Perjalanan panjang dan melelahkan membuat tubuhnya terasa kaku.
Bagas menarik sebuah bangku yang ada di dekat ranjang lalu duduk dan bersandar, pandangannya mengarah ke atas sesekali memejamkan mata dan menghela napas kasar.
"Yud, anak-anak Paman Herman tega ya, meninggalkan orang tua mereka yang sudah renta dan dalam keadaan sakit," ujar Bagas tanpa menoleh pada Yudha.
__ADS_1
"Mereka belum tahu rasanya kehilangan orang tia kak," balas Yudha sambil menahan rasa kantuknya.
"Besok pagi, kakak akan cek kondisi paman. Kalau sudah terdiagnosa baru kakak cari apotek terdekat."
"Hmm," gumam Yudha yang mulai kehilangan kesadarannya dan matanya pun sudah tertutup.
"Kira-kira di sekitar sini ada apotek ya?" ucap Bagas lagi, pandangannya tetap lurus ke depan.
Hening, tak ada jawaban.
"Yud?"
Bagas menoleh dan matanya membelalak kaget.
"Astagaa! Pantas saja tak ada suara rupanya sudah tepar anak ini," gumam Bagas.
Lelaki itu pun akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri, dia mengambil pakaian bersih dari dalam tasnya kemudian membawa masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur mereka.
Beberapa menit kemudian, Bagas selesai dengan mandinya kemudian ikut merebahkan diri di samping Yudha yang sudah tertidur nyenyak.
Besok paginya, Bagas bangun lebih cepat lalu bergegas mandi. Sebab dia akan melakukan pengecekan pada tubuh pamannya agar mengetahui obat apa yang akan dia berikan.
Bagas keluar dari kamar dan berpapasan dengan bibinya yang berjalan menuju dapur, Bagas menyapa bibi dan bertanya tentang pamannya.
"Pagi bi," sapa Bagas sambil tersenyum.
"Pagi juga nak, mana adikmu?
"Belum bangun bi, mungkin dia lelah karena perjalanan jauh," jawab Bagas
"Paman sudah bangun bi?" Bagas balik bertanya.
"Iya, sudah. Pamanmu ada di kamar dan minta di bikinin bubur," jawabnya
Bagas tertegun, ingin rasanya dia menawarkan diri untuk membantu. Tapi, dia takut bibinya akan tersinggung.
"Setua ini, kalian harus saling merawat dan mengurus diri sendiri. Sementara anak-anak kalian hidup nyaman bersama keluarga mereka."
"Ah, bi. Bolehkah aku memeriksa kesehatan paman?" tanya Bagas hati-hati.
"Tentu saja boleh, sana. Temani pamanmu di kamar bibi mau ke dapur dulu, menyiapkan sarapan.
Bagas mengangguk. Tapi, dia masih berdiri di tempatnya membiarkan bibinya berlalu lebih dahulu barulah dia berjalan menuju kamar pamannya.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan Bagas, kemana pun dia pergi akan selalu membawa beberapa peralatan medis seperti stetoskop, jarum suntik, cairan infus, dan juga obat-obatan untuk pertolongan pertama.