KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Daffa Arkana


__ADS_3

Part 61


Satu jam pasca operasi, Masyitah mulai merasakan nyeri pada bekas luka sayatan di perutnya. Ibu muda itu meringis menahan sakit.


Fadli tidak tega melihat istrinya kesakitan. Tapi, lelaki itu tak tahu harus berbuat apa.


"Mah, Ita kesakitan itu," tunjuk Fadli dengan sudut matanya memberitahu ibunya.


"Iya, mama tahu. Efek obat biusnya mulai hilang makanya nyerinya sudah terasa," sahut Ridha.


Murni mendekat ke ranjang, kemudian mengusap lembut tangan anaknya sambil menyeka keringat di wajah Masyitah.


"Maah," ucap Masyitah dengan suara lirih juga lemah.


"Iya, nak. Mama di sini, mama dan papa mertuamu juga ada."


Masyitah diam, mencoba memejamkan matanya sesekali terdengar rintihan kecil dari bibirnya.


"Sebesar ini perjuangan seorang ibu, maafkan Ita mah," gumam Masyitah dalam hati.


Pusing, mual, dan nyeri di bagian punggung membuat Masyitah tidak nyaman. Bahkan bagian bawah tubuhnya seperti mati rasa efek dari obat bius yang belum sepenuhnya hilang.


Murni tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya, melihat putri semata wayangnya terbaring lemah tak berdaya menahan sakit.


Wanita yang baru berapa jam berstatus nenek itu menoleh pada besannya, kemudian dia menghampirinya.


"Ibu Haji, apa persalinan cesar efeknya seperti ini?" tanya Murni cemas.


"Iya, efeknya bisa sampai satu atau dua bulan. Proses penyembuhannya lumayan lama dan harus tetap kontrol," terang Ridha.


"Astaga, kasihan sekali kamu nak," ucap Murni pelan.


Mendengar penuturan ibunya, ketakutan Fadli semakin menjadi. Otaknya seketika tak bisa berpikir jernih.


"Mah, jangan menakut-nakuti begitu. Bikin cemas saja," sungut Fadli.


"Bukan menakut-nakuti Fad, memang faktanya begitu. Ita butuh waktu penyembuhan bekas lukanya!" balas Ridha kesal.


"Kalau kamu tidak percaya, coba tanyakan langsung pada perawat. Pasti jaeabannya sama seperti mama."


"Bagaimana dengan anak ku mah?"


"Kan ada kamu Fad, apa gunanya kamu jadi ayah dan suami, hmm?"


"Sudah, sudah. Kenapa kalian jadi berdebat? Kasihan Ita terganggu dengan suara yang berisik!" ujar Haji Salim.


Berbeda dengan Murni dan Haji Burhan, keduanya lebih banyak diam tak banyak berkomentar karena rasa khawatir dan cemas dengan keadaan anaknya.


Melihat menantunya gelisah, akhirnya Haji Burhan pun bersuara,"Fad, kamu istirahat saja dulu. Setelah ini kamu butuh tenaga ekstra untuk mengurus anak dan istrimu."


Fadli mengangguk, lantas beranjak dari tempatnya berjalan menuju sofa yang ada di dekat ranjang. Kemudian dia merebahkan dirinya.

__ADS_1


Dua jam lamanya Fadli memghabiskan waktu beristirahat, lelaki itu terbangun saat mendengar suara tangis bayi dari ruangan sebelah.


"Mah, itu suara anak ku!" seru Fadli pada ibu dan mertuanya.


"Kamu mengenalinya?" tanya Murni kurang yakin


"Tentu saja mah, aku mau ke sana."


Fadli bergegas bangkit, kemudian berjalan cepat menuju ruangan bayi di sebelah kamar Masyitah.



"Hei, tampan. Papa di sini!"


Fadli mengajak berbicara bayi kecil yang sedang terlelap di depannya, rupanya suara tangisan yang di dengarnya adalah suara bayi yang lain.


"Ternyata bukan kamu yang menangis, makanya papa ke sini melihatmu," sambung Fadli lagi


Seorang perawat datang menghampiri, Fadli meminta ijin untuk menggendong bayinya.


"Sus, bolehkah saya menggendongnya?"


"Boleh pak. Tapi, bapak harus mencuci tangan dulu agar tetap steril," jawab perawat.


Dengan semangat Fadli berjalan ke arah wastafel kemudian mencuci bersih tangannya, senyumnya terus mengembang menggambarkan perasaannya yang begitu senang.


"Ayo, nak. Sini papa gendong," gumamnya.


Hati-hati Fadli mengangkat bayinya dari ranjang, gerakan tangannya masih kaku, membuat perawat terus mengawasi Fadli dari tempat duduknya dengan wajah cemas.


"Iya, sus. Saya masih kaku, maklum dia putra pertamaku."


Sambil memggendong bayinya, Fadli bergumam,"oh, iya. Papa belum menyiapkan nama untukmu nak."


Lima menit, Fadli rasa cukup waktu bercengkerama dengan putranya. Lelaki itu menurunkan bayi dari gendongannya lalu menaruh kembali ke ranjang.


"Sus, saya titip putraku ya," ucap Fadli sambil tersenyum.


"Iya," sahut perawat tersebut.


Fadli kembali ke kamar istrinya, di dalam ruangan, ayah, ibu, dan juga mertuanya masih berbincang seperti saat dia tinggalkan.


Ridha mengangkat wajah saat Fadli datang, kemudian bertanya,"tadi anakmu yang nangis Fad?"


"Bukan mah, dia malah nyenyak tidurnya."


Fadli ikut bergabung, duduk di antara ayah dan ibunya. Mereka membahas rencana aqiqah untuk bayi yang baru beberapa jam lahir tersebut.


"Fad, tadi kami sudah membicarakan tentang aqiqahan cucu kami," Ridha memulai perbincangan.


"Hmmm."

__ADS_1


"Rencananya dua minggu lagi acaranya dilaksanakan," sambung Ridha.


"Apa tidak terlalu cepat mah? Ita kan belum pulih total."


"Lebih cepat lebih baik, kamu pikir Ita yang akan bekerja dan menyiapkan semua?"


"Siapa lagi kalau bukan aku dan Ita," celetuk Fadli


Plaaakkk ....


Satu tepukan keras mendarat di paha Fadli, Ridha kesal pada putranya yang seenaknya berkata-kata.


"Auuuh, sakiit mah!" keluh Fadli mengusap pahanya.


"Kamu pikir kami ini apa hah? selalu saja meremehkan kemampuan orang tua!"


"Hehe, maaf mah. Iya, terserah kalian saja. Asalkan jangan sampai merepotkan Ita, dia masih butuh istirahat," ucap Fadli sambil terkekeh.


"Oh, iya. Kamu sudah menyiapkan namanya Fad?" kali ini Murni bersuara.


Fadli menoleh pada Ibu Mertuanya, hampir saja dia melupakan hal penting untuk putranya.


"Belum mah, nanti saja kalau Ita sudah agak membaik," jawab Fadli.


Hari sudah sore, orang tua Fadli dan Masyitah berpamitan pulang. Tinggal lah Fadli sendiri yang menunggui istrinya.


Kondisi Masyitah juga sudah mulai membaik. Namun, gerakannya masih sangat terbatas dan belum bisa leluasa seperti semula.


"Fad, kemana mama dan papa?" suara Masyitah masih terdengar lemah


"Mereka sudah pulang sayang, mungkin besok pagi ke sini lagi."


"Oh, iya. Sayaang, siapa ya nama yang bagus untuk anak kita?" tanya Fadli.


Masyitah diam, sedikit pun dia belum memikirkan nama yang tepat dan bagus untuk bayinya. Akhirnya dia menyerahkan pada Fadli untuk mencarinya.


"Kamu saja yang mencari nama yang tepat Fad, aku belum menyiapkannya sama sekali."


"Bagaimana kalau kita beri nama Daffa Arkana, kamu suka?" tanya Fadli lagi.


"Ah, iya, aku suka Fad. Nama yang indah," jawab Masyitah tersenyum senang.


Karena terlalu antusias, Masyitah sampai melupakan kondisinya. Sampai tiba-tiba dia meringis menahan sakit.


Fadli panik melihat mimik wajah Masyitah yang seketika berubah.


"Kenapa sayang? kamu jangan dulu terlalu banyak bergerak."


"Sudah, istirahat saja dulu. Besok kita baru kita bahas lagi ya," bujuk Fadli.


Masyitah mengangguk pelan, ternyata persalinan caesar tak seindah yang orang-orang bayangkan. Bahkan mungkin jauh lebih berat dari persalinan normal, pikirnya.

__ADS_1


Keesokkan paginya, Murni dan Haji Burhan datang kembali menjenguk anak dan cucunya. Seorang perawat datang membawa bayi Masyitah ke dalam kamar.


Murni segera bangkit menyambut cucunya,"aaiih, cucuku yang ganteng. Sini nak nenek gendong!"


__ADS_2