
Part 25
"Ada apa mah, tumben mama murung?" tanya Masyitah yang melihat ibunya duduk sendiri di ruang tamu
"Sini, temani mama." bukannya menjawab Murni malah mengajak Masyitah duduk bersamanya
Wanita tua itu memberi isyarat dengan menepuk ruang kosong di sebelahnya, agar Masyitah duduk.
Masyitah menuruti perintah ibunya, mantan gadis itu menautkan alisnya heran sebab tidak biasanya ibunya bersikap seperti itu. Termenung layaknya orang yang baru putus cinta.
"Mama sedang ada masalah?" Masyitah kembali bertanya
"Ssstt, mama lagi sedih. Jangan banyak tanya."
"Aah, mama. Jawaban macam apa itu," sungut Masyitah.
Murni mengalihkan pembicaraan, bertanya mengenai kesiapan anaknya pindah esok hari.
"Bagaimana persiapan besok, sudah beres semua?"
"Iya, mah aman," jawab Masyitah mengacungkan jempolnya.
"Bagus, sekarang mama bangga padamu."
"Hah, memangnya dulu mama tidak bangga padaku?" Masyitah memanyunkan bibirnya
"Entahlah, mama juga bingung," sahut Murni sekenanya.
"Ah, sudahlah aku mau ke kamar sudah ngantuk. Ngobrol sama mama bikin kepalaku pusing!"
Tanpa menunggu balasan ibunya, Masyitah beranjak dari kursi dan berlalu meninggalkan ibunya sendirian di ruang tamu.
"Mau tidur di situ sampai pagi?"
Suara berat Haji Burhan mengagetkan Murni. Tapi, hal itu justru membuatnya senang karena akhirnya suaminya mau menyapa setelah beberapa jam melakukan mogok bicara.
"Hmmm, apa kubilang. Kamu tidak akan bisa tidur tanpa kehadiranku, xixixi." Murni cekikikan dalam hati
Setelah menyapa istrinya, Haji Burhan masuk kembali ke dalam kamar tanpa menunggu istrinya. Naik ke atas ranjang lalu berbaring menghadap ke arah dinding, pasangan orang tua itu tidur dengan posisi saling membelakangi.
Pagi-pagi sekali Masyitah bangun, bergegas ke kamar mandi membersihkan diri lalu menunaikan shalat subuh.
Selesai shalat subuh, Masyitah membangunkan suaminya.
"Ayo, bangun Fad sudah pagi."
"Aku sudah habis mandi dan shalat," ujarnya lagi sambil menepuk punggung suaminya
__ADS_1
Fadli menggeliat dan membuka pelan matanya, di depannya tampak Masyitah sudah berpakaian rapi.
"Kenapa tidak menungguku berjamaah?"
"Biar tidak boros waktu, menunggumu bangun pasti lama sementara kita diburu waktu," jawab Masyitah.
Fadli bergegas turun dari tempat tidur lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sepuluh menit kemudian dia keluar, memakai baju dan segera shalat subuh.
Sedangkan Masyitah, merapikan tempat tidur dan memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang.
Fadli sudah selesai shalat, lelaki itu melipat kembali sajadah yang dipakainya dan menyimpan ke tempat semula.
"Fad, bagaimana caranya kita membawa barang-barang ini ke rumah baru?" tanya Masyitah sambil menunjuk beberapa tas dan kardus yang berisi pakaian dan barang milik mereka.
"Diangkut dengan mobil, masa harus dipikul hehe," balas Fadli terkekeh
"Mobil siapa?"
"Kamu lupa? Mobil bak operasional toko, bisa dipakai untuk mengangkut semua barang-barang ini," jawab Fadli.
"Ya, sudah sana ambil."
"Iya, aku kesana sekarang," sahut Fadli lagi.
Satu jam kemudian, Fadli sudah kembali mengendarai mobil yang akan dipakai mengangkut barang mereka.
"Itaa!" panggil Murni pada anaknya.
Masyitah muncul dari kamar ketika mendengar namanya dipanggil, dia bergegas menghampiri asal suara.
"Ada apa mah?"
"Mobil siapa di depan?" tanya Murni
"Oh, itu mobil toko yang Fadli pinjam untuk mengangkut barang ke rumah baru mah," jawab Masyitah.
Setelah mendengar jawaban putrinya, Murni segera masuk ke kamar dan memanggil suaminya.
"Ayo, pah. Mobilnya sudah ada di depan," ujarnya
"Biarkan Ita dan suaminya duluan, nanti kita menyusul karena papa belum mandi," jawab Haji Burhan santai.
Murni cemberut, padahal niatnya ingin berangkat bersama anak dan menantunya. Tapi, gagal karena harus menunggu suaminya mandi dan berpakain dulu baru mereka menyusul kesana.
Murni keluar lagi dari kamar untuk menemui anaknya, untuk memberitahu kalau dia dan suaminya akan pergi setelah Haji Burhan selesai dengan urusannya.
"Ita, kalian bsrangkat saja duluan. Mama dan papa akan menyusul," ujar Murni.
__ADS_1
"Kenapa mah?" tanya Masyitah heran.
"Papamu belum mandi, kamu tahu sendiri kan bagaimana papamu?"
"Hmm, baiklah kami duluan. Tapi, jangan lama-lama mah, aku tidak enak sama orang tua Fadli kalau mama dan papa datang terlambat."
Akhirnya pasangan suami istri itu pun berangkat menuju rumah baru mereka, barang yang dibawa pun lumayan banyak karena sebagian dipakai untuk acara syukuran di sana.
Masyitah dan suaminya sudah sampai di rumah mereka, keduanya menurunkan semua barang dari mobil dan mengaturnya di dalam rumah.
Ruang tengah dan ruang tamu sengaja dikosongkan lalu tikar digelar karena tamu akan duduk melantai, kursi dan meja disusun rapi di teras rumah agar ruangan menjadi lebih lapang.
Satu jam kemudian, Haji Burhan dan istrinya datang lalu menyusul Haji Salim bersama keluarga dan beberapa orang pegawai mereka juga ikut.
Petugas katering yang Fadli pesan juga sudah datang, mereka dengan sigap menata makanan dan minuman di atas meja.
Haji Salim menghampiri Fadli yang sedang memantau para petugas katering bekerja, berdiri di samping Fadli lalu menepuk pelan pundak anak sulungnya.
"Berapa banyak tamu yang kamu undang?" tanya Haji Salim sedikit berbisik
"Tidak banyak pah, hanya tetangga dekat dan beberapa relasi bisnis kita," jawab Fadli
"Oh, papa kira banyak. Papa khawatir dengan persediaan makanan yang kamu pesan," ujar Haji Salim
"Hehhe, jangan khawatir pah. Aku sengaja memesan lebih, persiapanku lebih dari cukup," balas Fadli terkekeh.
Kedua lelaki beda generasi itu pun saling tersenyum, kemudian mereka berjalan ke teras tempat Haji Burhan duduk bersama istrinya.
"Oh, Pak Haji. Mari duduk di sini, sebentar lagi tamu akan datang," ujar Haji Burhan sambil menunjuk kursi panjang di sebelahnya
"Ah, iya, terima kasih."
"Sepertinya tamu kalian banyak nanti Fad," ujar Haji Burhan lagi pada menantunya.
"Tidak juga pah, hanya beberapa orang. Ini kan cuma syukuran kecil-kecilan khusus orang-orang terdekat saja," balas Fadli tersenyum tipis.
Tamu sudah datang, acara pun segera di mulai dengan pengajian yang dipimpin salah seorang ustadz.
Masyitah dan Fadli duduk bersebelahan, senyum tak lepas dari wajah keduanya saat mendengar lantunan doa ustadz yang di Aamiini oleh tamu yang hadir.
Acara berlangsung sekitar satu jam sampai selesai, hingga para tamu berpamitan pulang dan yang tinggal hanya orang tua mereka.
Setelah lama berbincang, tak terasa waktu sudah sore. Orang tua Fadli dan Masyitah berpamitan pulang ke rumah masing-masing meninggalkan anak mereka di rumah barunya.
Murni sepertinya masih ingin tinggal. Namun, suaminya memaksa pulang karena ingin beristirahat.
"Ayolah, mah kita pulang. Biarkan Ita dan Fadli beristirahat dulu, papa juga capek dan ingin istirahat di rumah," ajak Haji Burhan.
__ADS_1
Murni hanya bisa menampakkan wajah kesalnya. Tapi, dia tidak bisa menolak ajakan suaminya untuk pulang ke rumah mereka.