
Part 39
"Baiklah, kali ini aku harus lebih keras lagi. Cara pertama tidak bisa memberi efek apa pun."
Bagas menghela napas, dia pun akhirnya menentukan sikap dan keputusan yang akan diambil mengenai adik lelakinya.
Lain halnya dengan Yudha, di dalam kamar dia malah asyik bercanda dan bercerita dengan kekasihnya melalui telpon.
"Yud, kenapa kamu bisa menemukan aku?" tanya Sofia di seberang
"kamu pikir aku akan diam saja, hmm? kamu menghilang seenaknya membuatku hampir gila Sof."
Terdengar kekehan Sofia di telpon, ada rasa bangga dan haru terselip di hatinya. Yudha begitu keras mempertahankan hubungan mereka yang hampir terpisah, padahal dia hampir saja putus asa dan berusaha menjauhi Yudha.
"Sof, aku ingin tahu apa yang membuatmu menjauh dariku?"
Sesaat Sofia tertegun, dia ragu mengatakan pada kekasihnya tersebut apa penyebab yang membuatnya menghindari Yudha. Gadis itu berpikir keras, sebab jawabannya nanti akan berakibat fatal pada hubungan mereka.
Sofia mengalihkan pembicaraan dengan berkata,"Yud, kapan kalian ujian Sekolah?"
"Sayaang, jangan merubah topik," ucap Yudha
Hening ....
Tak ada suara, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Yudha melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin jawaban pertanyaan tadi." Yudha menegaskan kembali ucapannya, tentu saja hal itu membuat Sofia semakin gusar di sana
"Maaf sayang, tidak mungkin aku mengatakannya padamu karena pasti akan membuatmu sedih," batin Sofia
Sofia menarik napas panjang, kemudian berkata,"sebenarnya aku hanya ingin menguji kesungguhanmu, apakah kamu serius atau hanya sekedar ingin mempermainkanku."
Sofia memilih berbohong, tak ingin ada salah paham apalagi keributan antara mereka sehingga dia harus mengarang cerita agar Yudha percaya padanya.
"Astaga sayaang, sudah sejauh itu kamu masih menganggapku main-main?"
Setelah perbincangan panjang mereka, Sofia memutuskan mengakhiri komunikasi dan menutup telpon. Salah satu alasan juga dia menjaga jangan sampai terjebak perkataan Yudha yang terus memancingnya untuk bicara jujur.
Sementara itu, di balik pintu kamar Bagas menempelkan telinga mencuri dengar pembicaraan adiknya tanpa diketahui Si empunya kamar.
Setelah berhasil mendapatkan informasi, Bagas bergegas pergi dan melangkah menuju kamarnya. Di dalam kamar, lelaki itu menyusun rencana bagaimana caranya untuk memisahkan Sofia dan Yudha.
__ADS_1
"Kalian benar-benar keras kepala, bahkan rencana awal yang aku susun rapi gagal total," sungutnya.
Besok paginya, di meja makan Bagas mengajak Yudha berbincang sejenak sebelum mereka berangkat ke tempat aktifitas masing-masing.
"Yud, kapan ujian akhirmu?" tanya Bagas memulai pembicaraan.
"Hmm, bulan depan kak," jawab Yudha sambil mengunyah makanannya.
"Kamu sudah punya rencana mau melanjutkan kemana?"
"Aku mau mengambil jurusan Teknik kak. Tapi, aku juga tertarik dengan Ilmu Hukum."
Yudha memang termasuk salah satu siswa yang cerdas di sekolahnya, sekalipun cuek pada saat proses pembelajaran dia mampu menyerap materi dengan baik dari gurunya. Oleh karena itu, dia selalu mendapat perhatian khusus dari para guru.
"Saran kakak, sebaiknya kamu fokus dulu dengan pendidikanmu. Jangan sampai perhatianmu terpecah untuk hal-hal yang tidak bermanfaat."
Bagas memberi nasihat dan menyelip kalimat sindiran untuk adiknya, jika dia terang-terangan melarang sudah bisa dipastikan Yudha akan membantah dan berdalih mencari alasan.
"Kamu juga harus tahu, menjadi mahasiswa itu harus komitmen pada diri sendiri tidak bisa seenak hati mau berbuat apa pun," lanjut Bagas.
Yudha mengangkat wajahnya, pemuda itu tersenyum tipis menatap wajah saudara lelakinya.
"Tenang kak, jangan khawatir. Aku akan membuat kakak bangga!"
"Iya, kakak percaya padamu dan berharap kamu benar-benar memenuhi janjimu itu," ujar Bagas kemudian segera menghabiskan makanan di piringnya.
Kedua kakak beradik itu pun menyelesaikan sarapan, setelah itu mereka akhirnya berpisah di depan gerbang dan berangkat ke tujuan masing-masing.
Yudha sudah sampai di sekolahnya, seperti biasa pemuda itu memasuki kelas dan mengikuti semua pelajaran sesuai jadwal.
Tanpa dia ketahui, Bagas sedang menemui Sofia di kampusnya.
Sofia dan Bagas bertemu di taman dekat kampus, keduanya duduk di sebuah bangku. Namun, belum ada yang memulai perbincangan.
"Apa kabarmu?" tanya Bagas memulai pembicaraan.
"Ba ..., baik kak," jawab Sofia gugup dan tertunduk.
"Sofia, aku harap kamu bisa mengerti maksudku datang menemuimu."
Sofia masih tertunduk sambil meremas jari tangannya, untuk kesekian kalinya Bagas datang menemuinya dan meminta dia menjauhi Yudha. Tapi, Sofia harus menyerah pada kegigihan Yudha yang berusaha mencarinya sampai menemukan kampus tempatnya pindah.
__ADS_1
"Kamu mendengarku Sofia?"
"Iya kak," jawab Sofia.
"Aku sudah menjauhi adikmu.Tapi, dia sendiri yang datang mencariku," lanjut Sofia dengan suara yang mulai bergetar.
"Aku tidak melarang atau menghalangi hubungan kalian. Tapi, cobalah berpikir apakah pantas kamu memacari seorang pemuda yang masih belia?"
"Yudha juga sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir, aku mohon padamu Sofia, menjauhlah untuk sementara waktu agar dia fokus untuk belajar."
Sofia terdiam, bulir kristal yang berkumpul di sudut matanya akhirnya terjun bebas tak bisa dicegah.
"Kak, salahku apa?" tanya Sofia tersenyum getir diselah isaknya
"Kamu tidak salah apa-apa Sofia, bahkan kamu adalah gadis yang baik. Hanya saja, aku belum rela jika cita-cita Yudha harus kandas jika hubungan kalian semakin dekat," ucap Bagas dengan suara pelan.
Lelaki itu menoleh lalu menatap gadis di depannya, sejujurnya dia pun merasa iba dengan nasib Sofia setelah tahu sedekat apa hubungan adiknya dengan gadis ini.
"Aku mengerti posisimu, terlebih lagi hubungan kalian sudah sangat jauh. Rasanya mustahil kalau disuruh berpisah."
Sofia mengangkat wajahnya, mata gadis itu membola kaget mendengar ucapan lelaki di depannya.
"Apa dia sudah tahu keadaanku? Bagaimana mungkin dan dari mana dia tahu?" gumam Sofia dalam hati
Seperti memahami ekspresi Sofia, Bagas pun mengatakan berkata,"aku sudah tahu semuanya, bahkan waktu dan dimana kalian melakukannya pun aku tahu."
Gleegg ....
Napas Sofia tersengal, jantungnya seakan berhenti berdenyut karena kaget. Gadis itu menelan salivanya dengan tubuh kaku menahan malu sekaligus frustasi.
"Kenapa Sofia, kamu kaget aku bisa tahu semuanya?" ucap Bagas memiringkan kepalanya.
Sofia tertegun, tak bisa berkata-kata. Diamnya menjadi sebuah jawaban bagi Bagas. Namun, lelaki itu tetap tenang dan kembali melanjutkan pembicaraan.
"kamu mungkin menganggapku jahat. Tapi, percayalah semua kau lakukan untuk kebaikan kalian. Aku tidak mau kalian menderita nantinya."
"Maksud kakak?" tanya Sofia memberanikan diri
"Sofia, kamu mau nanti ketika menikah Yudha tidak bisa menafkahimu?"
Sofia bertambah bingung, pernyataan Bagas sungguh ambigu dan tak bisa di tebak. Satu sisi dia meminta menjauhi Yudha, sedangkan di sisi lainnya dia seakan memberi restu.
__ADS_1
"Aah, apa ini? Yudha kakakmu sungguh membuatku pusiing!" jerit Sofia dalam hati.