
Part 52
Yudha pasrah, membiarkan Bagas meluapkan amarahnya lebih dulu setelah redah barulah dia akan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sehingga dia kabur dari rumah pamannya.
Puas melampiaskan kemarahannya, Bagas masuk ke dalam kamar meninggalkan Yudha sendirian. Untuk sementara Bagas ingin menenangkan dirinya.
Yudha masuk ke dalam kamarnya, sebelumnya dia sudah bisa menebak reaksi Bagas akan seperti itu. Yudha hanya menunggu waktu yang tepat, untuk bicara dan mengatakan semua masalah yang dia hadapi selama tinggal bersama pamannya.
"Sofia," gumam Yudha ketika sedang berbaring di kasurnya, tiba-tiba dia mengingat sosok yang hampir tiga bulan dia tinggalkan tanpa kabar berita.
"Besok pagi, aku akan menemuinya di kampus. Tunggu aku Sof."
Yudha asyik dengan lamunannya sampai akhirnya tertidur pulas, apalagi dia juga masih lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.
Yudha terbangun, saat perutnya terasa lapar. Pemuda itu keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur mencari makanan.
"Makanlah dulu, kalau sudah selesai susul kakak di luar."
Yudha terkejut mendengar suara berat Bagas yang berbicara di belakangnya, sekilas dia menoleh lalu mengangguk kemudian melanjutkan makannya.
Bagas menunggu adiknya di teras rumah, perasaannya sudah mulai tenang dan ingin mendengarkan penjelasan dan cerita adiknya.
Tak lama, Yudha datang dan menarik kursi di sebelah kakaknya. Keduanya duduk menghadap ke depan, belum ada yang memulai perbincangan masing-masing diam dengan pikirannya.
"Kenapa kabur dari rumah paman?" Bagas membuka pembicaraan.
"Aku tidak betah kak," jawab Yudha pelan.
"Kakak ingin tahu alasannya," ucap Bagas datar.
Pandangan Bagas masih mengarah ke depan, sikapnya seperti itu membuat Yudha sedikit gugup karena takut Bagas akan marah lagi setelah mendengar ceritanya.
"Bilang sama kakak, apa yang menyebabkan kamu kabur dari sana?" desak Bagas.
"Aku takut kakak marah padaku," balas Yudha sambil melirik Bagas di sebelahnya.
"Kakak akan lebih marah lagi, jika kamu tidak mau bilang dan mengatakan apa alasanmu kabur."
"Baiklah. Tapi, kakak janji ya tidak akan marah setelah mendengarnya," bujuk Yudha demgan wajah memelas.
"Hmm."
Yudha menceritakan semua pengalaman yang dialaminya selama di rumah pamannya, tak ketinggalan dia juga mengatakan bagaimana perlakuan istri pamannya tersebut terhadapnya sehingga dia memutuskan untuk pulang.
"Apa yang kakak bayangkan, itu semua jauh dari kenyataan," ungkap Yudha.
__ADS_1
Bagas menghela napas, ada rasa kecewa terselip dalam hatinya. Namun, dia juga tidak bisa memaksakan kehendak terlebih menahan Yudha untuk tetap tinggal disana.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Bagas.
"Aku ingin bekerja kak, sambil mencari pengalaman dan tahun berikutnya mau mendaftar kuliah," jawab Yudha ragu-ragu.
"Baiklah, kakak berharap kamu bisa bertanggup jawab atas keputusanmu!" ucap Bagas penuh tekanan.
Untuk kesekian kalinya, Bagas memberi kebijakan pada adiknya. Bagaimana pun juga, dia tidak ingin melihat adiknya terpuruk sehingga saat ini dia hanya bisa memberi dukungan kepada keputusan yang Yudha ambil.
Setelah perbincangan panjang antara keduanya, kakak beradik itu pun masuk ke dalam rumah. Yudha berjalan ke kamarnya, kemudian mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya Haris.
"Halo." suara Haris terdengar di seberang.
"Halo Ris," balas Yudha.
"Heii, Broo! Apa kabarmu?" seru Haris terdengar begitu senang.
"Baik Ris, bagaimana denganmu?" tanya Yudha tak kalah senang.
"Aku baik Yud, ayo, main ke rumah aku tunggu sekarang!" ajak Haris.
"Oke, Bro. Aku kesana sekarang," timpal Yudha bersemangat.
"Kak, aku pamit mau ke rumah Haris," ucap Yudha.
Bagas yang sedang membaca buku, mengangkat wajahnya lalu memandangi Yudha dengan tatapan curiga.
"Yud, baru beberapa jam kamu sampai, bukannya istirahat malah keluar lagi," ujar Bagas seakan tak percaya apa yang diucapkan adiknya.
"Hanya sebentar kak, aku janji tidak akan lama disana," bujuk Yudha
"Terserah kamu, kakak capek!"
Bagas menutup buku bacaannya, meletakkan di atas meja lalu beranjak pergi. Sedangkan Yudha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tapi, tetap mengambil kunci motor dan segera menuju rumah Haris.
Yudha sudah di rumah Haris, pemuda langsung menerobos masuk ke kamar sahabatnya seperti biasa dia lakukan jika datang ke rumah Haris..
"Woyy, yang sopan dong kalau bertamu. Main nyelonong saja!" canda Haris.
"Alaah, gayamu bilang sopan. Padahal kamu sendiri justru lebih parah dari aku," balas Yudha sembari naik ke atas ranjang Haris dan merebahkan tubuhnya di samping sahabatnya.
"Geserr Yud, sempit tahu!"
"Begini saja kamu bilang sempit?"
__ADS_1
Yudha merapatkan tubuhnya, kemudian sengaja menjahili Haris dengan memeluknya dari belakang.
Refleks Haris berontak, kemudian mendorong tubuh Yudha hingga terjatuh.
"Yud, Kamu harus ke dokter! tiga bulan menghilang kelakuanmu jadi berubah menjijikkan begini hii." Haris bergidik geli dan menjauhkan tubuhnya dari Yudha.
"Hahahaha, dasaarr jombloo!" ejek Yudha sambil tertawa lebar.
Haris semakin kesal menerima ejekan sahabatnya, bahkan dia segera membalas dengan berkata,"biar pun jomblo. Tapi, aku masih normal Yud beda denganmu yang aneh!"
Yudha cekikikan melihat ekspresi Haris yang kesal, ditambah lagi wajahnya yang begitu polos membuat haris makin nampak lucu di mata Yudha.
"Huuh, serius amat. Bercanda Ris bercandaa!!"
Haris melempar bantal ke arah Yudha dan dengan sigap pemuda itu menghindar, kemudian keduanya pun tergelak lalu berpelukan hangat.
Puas menjahili sahabatnya, Yudha kembali menunjukkan wajah seriusnya dan mengajak Haris mengobrol untuk melepas rasa rindunya.
"Ris, bagaimana kuliahmu lancar?" tanya Yudha memulai obrolan serius.
"Lancar Yud, bagaimana denganmu?"
Yudha tertegun kemudian menghela napas panjang, matanya menerawang memikirkan nasibnya yang harus menjadi pengangguran.
"Aku juga belum tahu Ris, untuk sementara ya harus nganggur dulu sambil cari-cari lowongan pekerjaan," jawabnya lemah.
Haris terlihat berpikir sejenak setelah mendengar jawaban Yudha, sesaat kemudian dia tersenyum tipis karena menemukan solusi yang baik untuk sahabatnya tersebut.
"Yud, aku punya teman kampus yang mempunyai restoran. Kebetulan dia sedang mencari karyawan baru," ucap Haris.
"Kamu mau jadi waiters Yud?" tanya Haris lagi
Tanpa berpikir panjang, Yudha langsung berkata,"iya, aku mau!"
Kesempatan emas pikir Yudha, kapan lagi dia bisa bekerja dan menghasilkan uang sehingga ketika Haris menawarkan pekerjaan dia langsung meng iyakan.
Sekaranglah waktunya untuk membuktikan pada Bagas, bahwa dia juga bisa hidup mandiri dan bisa bekerja tanpa dibayang-bayangi saudaranya pikir Yudha.
"Aku mau Ris, kapan kita bisa bertemu temanmu itu?" tanya Yudha dengan wajah sumringah.
"Besok aku bicara dulu sama dia, setelah itu kita buat janji bertemu," jawab Haris ikut senang.
Keduanya pun sepakat dan menyusun rencana, kemudian mereka melanjutkan obrolan dengan topik lainnya.
Tiba-tiba saja Yudha teringat Sofia, seketika wajahnya berubah murung dan terdiam sedih. Namun, tidak berlangsung lama dia tersenyum lagi saat terlintas kembali rencananya bersama Haris.
__ADS_1