
Part 49
Sudah seminggu Yudha berada di rumah pamannya, setiap hari waktunya dihabiskan merawat pamannya. Sesekali dia juga menemani bibinya ke kebun yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Uang saku yang diberikan Bagas padanya sudah menipis, otomatis dia harus benar-benar berhemat.
Hari ini, Yudha diminta bibinya pergi ke kebun kakao milik pamannya dan memanen buah tersebut jika sudah ada yang matang.
Yudha berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang sepi, sungguh ini jauh dari keinginannya. Namun, apa daya dia harus melakoninya dan bersabar menunggu Bagas datang menjemputnya kembali.
"Yaa Tuhan, mimpi apa aku. Harus menjalani semua ini," sungutnya si tengah perjalanan menuju kebun.
Yudha sudah sampai di kebun pamannya, matanya membelalak melihat penampakan buah kakao yang begitu lebat.
"Wow!!, sepertinya sudah lama kebun ini tidak dikunjungi. Buahnya juga lebat dan besar-besar," seru Yudha.
Sebelumnya bibinya sudah mengajaknya ke kebun. Tapi, yang mereka datangi lokasi yang lain. Bibinya hanya menunjukkan jalan dan memberitahu kalau pamannya juga memiliki kebun kakao di sekitar situ.
Yudha pun mulai memanen, empat buah karung yang dibawanya semua terisi penuh. Pemuda itu bingung bagaimana caranya membawa pulang karung-karung tersebut.
Yudha keluar dari lokasi kebun, dia berjalan menuju jalan setapak dan berhenti di persimpangan.
"Sebaiknya aku berdiri disini, semoga saja ada orang yang lewat," gumamnya.
Tak lama kemudian, dari jauh Yudha melihat sebuah gerobak sapi mendekat ke arahnya berdiri. Yudha berniat menghentikan gerbok tersebut dan meminta tolong memberinya tumpangan.
Gerobak tersebut semakin dekat, Yudha melambaikan tangannya memberi isyarat. Gerobak itu pun berhenti tepat di depannya.
Pemilik gerobak itu menatap curiga pada Yudha, mungkin juga heran karena melihat sosok asing. terlebih lagi tampilan Yudha memang sangat berbeda dari masyarakat setempat.
Kulit yang bersih serta pakaian rapi, meskipun hanya mengenakan kaos dan celana pendek bukanlah penampakan seorang petani. Tentu saja mengundang kecurigaan orang yang melihatnya.
"Permisi pak," sapa Yudha ramah
"Siapa kamu?" tanya pemilik gerobak tersebut dengan wajah datar sambil menilik wajah Yudha
__ADS_1
"Sepertinya kamu bukan orang sini, apa yang kamu lakukan di tempat sepi begini?"
"Maaf, saya ponakan Pak Herman. Baru seminggu tinggal di rumahnya, tadi paman menyuruhku ke kebun kakao di sebelah sana." Yudha menunjuk letak kebun pamannya sambil menjelaskan identitasnya.
Pemilik gerobak itu terdiam, mencoba mengingat nama yang disebutkan pemuda di depannya. Kemudian dia bertanya lagi.
"Apa perkataanmu bisa dipercaya?" ucapnya memiringkan kepala.
"Aku berani bersumpah pak, Paman Herman itu adik ayahku dan aku baru pertama kali datang berkunjung ke rumah paman," ucap Yudha meyakinkan.
"Hmm, baiklah. Kenapa kamu menahan gerobak ku?"
"Aku ingin meminta bantuan, bisakah bapak memberiku tumpangan. Di kebun ada empat karung penuh hasil panenku yang akan dibawa pulang."
"Tidak mungkin aku memikul keempat karung tersebut pak," lanjut Yudha memasang wajah memelas.
"Kalau begitu, tunjukkan dimana karung-karung itu dan naiklah bersamaku," ajak pemilik gerobak kemudian dia memutar balik gerobaknya menuju arah yang ditunjuk Yudha.
Keempat karung sudah diangkut ke dalam gerobak dengan bantuan pemilik gerbak, Yudha pun ikut naik dengan napas terengah-engah.
Sepanjang perjalanan, keduanya berkenalan dan bercerita tentang banyak hal. Yudha menceritakan kenapa dia bisa dibawa ke rumah pamannya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai, Yudha dibantu pemilik gerobak menurunkan karung berisi kakao tersebut dan mengangkatnya ke dalam gudang.
Orang tersebut hanya tersenyum sambil mengangguk, kemudian berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
Yudha masuk ke dalam rumah, pemuda itu bergegas ke kamar dan mengambil handuk lalu membersihkan dirinya yang penuh peluh.
"Aah, siaall. Badanku sampai lengket dan gatal, mana capek pegal-pegal lagi," gerutunya sembari menyiram tubuhnya dengan air.
Dalam hati dia ingin berteriak sekuat tenaga, kesal, marah, kecewa beraur menjadi satu. Dia merasa Bagas sudah sengaja menjebak dan menyiksanya.
"Kak Bagas, kamu tega sekali pada adikmu sendiri. Kakak tidak tahu betapa siksanya aku disini," batinnya
Selesai mandi, Yudha merebahkan tubuhnya di ranjang hingga akhirnya dia tertidur dengan lelap sampai sore hari.
Dalam tidurnya, sayup-sayup Yudha mendengar suara ketukan pintu. Pemuda itu menajamkan pendengarannya dan benar saja, bibinya sedang mengetuk pintu sambil memanggil namanya.
Yudha bangun, kemudian turun dari ranjang dengan langkah malas menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Yud, sudah sore. Bibi kira kamu belum pulang. Tapi, bibi lihat di belakang sudah ada karung berisi kakao jadi bibi periksa kamarmu," ucap bibinya.
"Iya, bi. Aku pulang sejak tadi siang dan langsung istirahat," jawab Yudha..
"Besok pagi, temani bibi ya. Kita belah kakao lalu dijemur di depan."
Yudha menganga heran, dia mengira jika kakao itu dijual dalam bentuk utuh seperti saat dipanen. Ternyata harus melalui proses penjemuran lagi.
"Oh, Tuhaan. Kapan selesainya penderitaanku ini!" jeritnya dalam hati.
"Harus dibelah dan dijemur lagi bi?" tanya Yudha penasaran.
"Iya, dijemur lagi hingga beberapa hari ke depan," jawab bibinya.
"Baiklah, bibi ke kamar dulu ya," pamit Si Bibi.
Yudha mengangguk sambil menggaruk tengkuknya, andai saja dia memiliki uang mungkin dia sudah kabur dan pulang ke kotanya.
Satu bulan sudah terlewati, Yudha semakin tertekan dan merasa jenuh. Setiap hari dia hanya menghabiskan waktu mengurus rumah dan merawat pamannya.
Sifat asli bibinya pun mulai keluar, jika Yudha tak bisa membantunya di dapur. Maka, jatah makan Yudha akan dikurangi kadang kala juga bibinya menyembunyikan makanan dari Yudha.
Sejak di rumah pamannya, Yudha hanya mengenal beberapa orang tetangga. Itupun dia jarang berinteraksi, mereka hanya bertemu di masjid pada saat shalat. Waktu seperti itulah yang bisa Yudha manfaatkan untuk bersantai.
Hingga suatu hari, saat itu Yudha pulang dari kebun dalam keadaan lapar. Tapi, ketika sampai di rumah dia tidak mendapati sedikit pun makanan di dapur.
Seketika emosi Yudha memuncak, dia masuk ke dalam kamar lalu mengemasi barang-barangnya.
Saat itu tekadnya sudah bulat, jalan satu-satunya dai harus kabur dari rumah pamannya. Meskipun dalam hati kecilnya kasihan dan iba melihat pamannya. Tapi, dia juga tidak tahan lagi dengan perlakuan bibinya.
Pakaian dan barang Yudha sudah ada dalam tas, pemuda itu melongok di balik pintu mengawasi bibinya.
"Maafkan aku paman karena harus meninggalkanmu. Kak Bagas, aku tidak bisa memenuhi janjiku. Kakak tidak tahu apa yang aku alami disini," gumamnya lirih
Saat itu yang terbayang di kepala Yudha, bisa keluar dari rumah pamannya meskipun harus menumpang hidup untuk sementara waktu di rumah tetangga yang dikenalinya.
Perlahan Yudha keluar dari kamar, pemuda tersebut mengendap-endap melewati kamar pamannya.
Baru saja Yudha akan mencapai pintu, terdengar suara piring terjatuh dari dalam kamar pamannya.
__ADS_1
"Gawaaatt!! aku pasti ketahuan," jeritnya dalam hati.
Yudha berdiri mematung di tempatnya, dengan tubuh kaku dan keringat mulai bercucuran menahan rasa gugupnya.