
Part 37
Kedua pemuda tersebut sudah sampai di depan rumah Sofia, Yudha turun dan memarkir motornya sembari melirik ke arah rumah kekasihnya.
"Ris, rumahnya sepi."
"Pemiliknya di dalam Yud, belum apa-apa kamu sudah keok duluan."
"Kamu yang jalan di depan," ucap Yudha sambil mendorong tubuh Haris ke depan.
"Apaan sih, kamu kan pacarnya? Harusnya kamu yang masuk duluan," tolak Haris memutar tubuhnya
Aksi saling dorong keduanya ternyata mengundang perhatian seseorang dari dalam rumah, sejak kedatangan mereka ayah Sofia yang duduk di beranda samping melihat dan menatap dari kejauhan.
Ayah Sofia bangkit lalu menghampiri keduanya di depan gerbang, tentu saja ingin bertanya apa tujuan kedua pemuda tersebut.
"Sedang apa kalian disitu? Bapak lihat Sejak tadi hanya saling dorong."
Yudha dan Haris tersentak kaget, di dekat mereka sudah ada seseorang yang menyapa.
Yudha tergagap dan berkata,"ee, anu Pak, kami mencari Sofia."
"Kalian siapa?" selidik ayah Sofia
"kami teman kuliahnya Sofia pak," jawab keduanya bersamaan.
Ayah Sofia tersenyum kemudian mengajak dua pemuda itu masuk, Yudha dan Haris berjalan mengikuti langkah ayah Sofia dari belakang.
ketiganya sudah sampai di teras rumah, ayah Sofia menyuruh keduanya duduk di bangku yang berada persis di depan Si Bapak.
Ayah Sofia memulai percakapan,"ada keperluan apa kalian kesini?"
"Kami mencari Sofia, sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kuliah," jawab Yudha
..."Oh, kalian belum tahu kalau Sofia sudah pindah kampus?"...
Gleeeg ....
Suara Yudha tercekat di tenggorokan, ucapan ayah Sofia membuat perasaannya seketika kacau. Ada apa sebenarnya dengan kekasihnya itu sampai harus pindah dan kuliah di kampus lain, bahkan Sofia menyembunyikan semua darinya.
Dengan suara bergetar Yudha memberanikan diri bertanya,"kenapa Sofia pindah om?"
"Om juga tidak tahu alasannya, hanya saja Sofia memaksa pindah dan akhirnya kami mengabulkan permintaannya."
"Om, kalau boleh tahu Sofia pindah ke kampus mana?" sambar Haris
"Maaf, Sofia meminta om untuk merahasiakannya dari siapapun."
__ADS_1
Yudha tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi wajahnya, pemuda itu nampak begitu kalut dan frustasi sampai meremas rambutnya.
"Ada apa denganmu Sof, sungguh itu bukan alasan jika harus pindah dan menghindar dariku," batin Yudha
"Tapi, Sofia masih tinggal di rumah ini kan om?" tanya Haris lagi
"Iya," jawab ayah Sofia singkat
Haris menoleh ke arah Yudha yang sejak tadi terlihat gelisah, pemuda itu tak lagi banyak bicara dan memilih diam.
"Bisakah kami bertemu Sofia om?" ujar Haris memohon
"Sebentar, kalian tunggu di sini om panggil Sofia di kamarnya." Ayah Sofia beranjak dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Yud, sabar. Jangan stres begitu."
"Aku bingung Ris, kenapa Sofia tiba-tiba berubah dan menghindari aku," balas Yudha
"Tanyakan langsung padanya, apa alasan sehingga dia memutuskan pindah kampus," ucap Haris menenangkan sahabatnya
Tak lama kemudian, ayah Sofia muncul dan keduanya pun menghentikan perbincangan mereka.
"Maaf nak, om sudah bicara pada Sofia. Katanya dia belum mau bertemu dengan siapapun."
Wajah ayah Sofia tampak risih, sepertinya dia juga merasa enggan mengatakan pesan dari anak gadisnya tersebut.
"Sudah Yud, nanti kita kesini lagi. Sofia mungkin mau istirahat," ucap Haris memotong kalimat Yudha.
"Ayo, Yud." Haris mengajak Yudha pulang sembari berpamitan pada ayah Sofia.
"Maaf sudah merepotkan om, kami pulang dulu. Salam sama Sofia ya om," ucap Haris kemudian menarik tangan Yudha.
Yudha pasrah dan berjalan lemas mengikuti Haris, bertahan di tempat itu pun akan sia-sia karena Sofia tidak mau menemui mereka.
Mereka sudah ada di luar gerbang, Yudha naik ke atas motornya. Pemuda itu kehilangan semangat karena gagal bertemu kekasihnya.
"Tenang Yud, besok pagi-pagi sekali kita kesini dan mengintai Sofia," bujuk Haris.
"Apa yang terjadi dengan Sofia?"
"Simpan saja pertanyaanmu itu nanti, kalau sudah bertemu Sofia baru kamu tanyakan langsung," ujar Haris lalu naik ke atas motor dan duduk di belakang Yudha.
Motor Yudha melesat membela aspal, di perjalanan keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Haris menepuk pundak sahabatnya tersebut.
"Yud, besok kita bolos dan cari Sofia sampai ketemu."
"Mau cari kemana sih Ris, bahkan kita tidak tahu dia pindah di kampus mana?" balas Yudha
__ADS_1
"Kita intai dia, dari rumahnya sampai ke tempat tujuannya."
Haris begitu antusias menyampaikan idenya namun, Yudha hanya diam sembari menghela napas seakan tidak yakin dengan rencana sahabatnya itu.
"Kamu yakin, rencana itu akan berhasil?" tanya Yudha.
"Yakin, 1000%!!!"
Dua sahabat tersebut sudah tiba di rumah Haris, Yudha tak mau berlama-lama hanya mengganti baju dan memakai kembali seragamnya kemudian dia bergegas pulang.
Keesokkan paginya ....
Yudha datang menjemput Haris di rumahnya, sesuai rencana mereka kembali mendatangi rumah Sofia. Tapi, kali ini dengan cara yang berbeda yaitu mengintai Sofia keluar dari rumahnya.
Keduanya bersembunyi di tempat yang tak jauh dari rumah Sofia, menatap dari jauh kearah rumah dengan posisi siaga jika Sofia keluar maka mereka akan mengikutinya dari belakang.
"Ris, aku gemetaran begini," ucap Yudha sambil menunjukkan tangannya yang gemetar.
"Hahaha, santai Yud santaaiii jangan gugup," ledek Haris sambil tertawa.
"Stttts, jangan berisik Ris. Nanti kita ketahuan!" ucap Yudha sambil menempelkan telunjuknya di bibir.
Hampir satu jam keduanya menunggu dan mengamati dari luar, akhirnya orang yang di cari muncul dari dalam rumah.
"Ris, itu diaa!" Yudha setengah berteriak. Dengan gerakan cepat Haris membungkam mulut Yudha memggunakan tangannya.
"Mmm, tanganmuu bauuu!" umpat Yudha menepis tangan Haris.
"Aah lebayy, jangan teriak! bisa-bisa rencana kita gagal karena ulahmu," balas Haris kesal
Mereka masih tetap pada posisi. Namun, tetap mengawasi pergerakan Sofia dari jauh. Sedangkan Sofia, dia masih belum menyadari ada dua pasang mata yang sedang mengamati gerak-geriknya.
Sofia menaiki motornya, kemudian keluar dari gerbang dan melaju di jalanan.
"Ayo, Yud. Buruaan jangan sampai loloss!" ucap Haris panik kemudian melompat ke atas motor.
Yudha sengaja menjaga jarak motornya agak jauh, agar Sofia tidak curiga dan tahu bahwa ada orang yang mengikutinya dari belakang.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Sofia tiba di salah satu kampus yang juga berada di kota tersebut. Gadis itu memasuki area parkitan lalu memarkir motornya.
Yudha dan Haris memelankan kendaraan mereka, memastikan Sofia tetap dalam pantauan mereka meskipun jaraknya agak jauh.
"Di sini rupanya kamu sembunyi Sof," gumam Yudha dan masih bisa didengar oleh Haris.
"Iya, sayaang. Aku sembunyi di sini," ucap Haris menirukan suara perempuan.
Plaaakk ....
__ADS_1
Tepukan keras mendarat di paha Haris, antara malu dan kesal Yudha memasang wajah garang pada sahabatnya.