
Part 17
Hubungan Fadli dan Masyitah semakin hari semakin harmonis, pasangan itu mulai menunjukkan perasaan masing-masing tanpa malu lagi seperti awal mereka menikah.
"Pah, hubungan mereka sudah mengalami perkembangan. Ita juga kelihatannya menurut pada suaminya," ucap Murni pada suaminya saat melihat Masyitah mengantar Fadli berangkat kerja.
"Iya, papa berharap semoga Ita bisa menjadi istri yang baik untuk Fadli, tugas dan tanggung jawab kita sudah diambil alih oleh Fadli," balas Haji Burhan.
Masyitah berjalan masuk melewati kedua orang tuanya, Murni mencegat dan memanggil anak perempuannya itu.
"Ita, kenapa tidak ikut suamimu?"
"Aku mau mencuci pakaian mah, keranjang baju kotorku sudah penuh dan bertumpuk," jawab Masyitah
"Oh, ya, sudah sana."
Masyitah berbalik dan berlalu meninggalkan ayah dan ibunya, di dalam kamar Masyitah mengumpulkan semua pakain kotor milik suaminya yang masih tergantung lalu memasukkan ke dalam keranjang.
"Hhuuuh, beginilah jadinya kalau selalu menunda pekerjaan. Akhirnya repot sendiri karena baju kotor menumpuk," gerutunya sambil menarik keranjang.
Dengan sudah payah Masyitah menarik keranjang pakaian ke belakang, demi menunjukkan pada suaminya bahwa dia bukanlah istri yang manja maka harus dimulai dari hal kecil seperti ini.
Akhirnya Masyitah berhasil membawa keranjang tersebut sampai ke tempat mesin cuci, napasnya terengah-engah maklum ini pertama kalinya untuknya. Biasanya Fadli menyuruhnya membawa semua pakaian kotor mereka ke loundry.
"Semangat Ita! Pasti suamimu akan senang kalau tahu kamu mengerjakan semuanya sendiri," gumam Masyitah.
Tanpa Masyitah sadari, ada sepasang mata yang sedang mengamatinya dari balik pintu dan sedang menahan tawa.
Sebelum memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, Masyitah memeriksa pakaian dan saku celana suaminya.
"Wuuiiih, rizki istri sholihah ini!" serunya saat menemukan dua lembar uang seratus ribu di dalam saku celana Fadli
Masyitah mengibas-kibaskan lembaran uang tersebut. Namun, tiba-tiba uang tersebut ditarik paksa dari tangannya.
"Ee, eeeh, mamaaa itu milik ku!" teriaknya panik
"Selesaikan dulu pekerjaanmu," ledek Murni kemudian berlalu pergi
"Iiih, menyebalkan!" gerutu Masyitah lalu mrlanjutkan pekerjaannya
Murni tertawa cekikikan karena sudah berhasil menjahili putrinya. Namun, dia tidak bermaksud untuk mengambil uang tersebut tetapi hanya ingin membuat Masyitah kesal.
"Uang dari mana itu mah?" tanya Haji Burhan saat Murni muncul memegang lembaran uang kertas di tangannya.
"Uang anakmu, tadi dia menemukan di saku celana suaminya."
"Kenapa diambil mah? Itu kan bukan milik mama," ujar Haji Burhan
"Nanti saja mama kembalikan, kalau dia sudah selesai mencuci pakaian."
__ADS_1
Murni kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam kantong bajunya, Haji Burhan melirik tak suka. Tapi Murni tak ambil pusing dia hanya tersenyum miring pada suaminya.
Satu jam kemudian, Masyitah datang menemui ibunya meminta kembali uang yang diambil ibunya.
"Mah, kembalikan uangku," ucap Masyitah dengan wajah kesalnya
Murni merogoh sakunya dan menarik uang dari dalam, kemudian dia menyodorkannya pada Masyitah
"Ini uangmu, mama juga masih punya," sindirnya pada Masyitah
"Iyaa, tahu, mama punya banyak uang dari papa," balas Masyitah sembari mengambil uang di tangan ibunya.
"Makasih mah, nanti kalau aku punya kelebihan rizki aku janji akan berikan sedikit buat mama."
Masyitah mengecup tangan ibunya, walaupun mereka sering berdebat tapi itu semua tidak mengurangi rasa sayangnya pada ibunya.
"Hmm," sahut Murni
"Aku mau istirahat dulu mah, nanti kalau Fadli pulang bilang padanya aku di kamar," pamit Masyitah dan berbalik pergi tanpa menunggu jawaban ibunya.
Sore hari Fadli pulang, seperti biasa dia akan membawa makanan kesukaan istrinya dan sudah menjadi sebuah kewajiban baginya setiap pulang kerja membelikan sesuatu untuk Masyitah.
"Ita dimana mah," tanya Fadli saat bertemu ibu mertuanya di ruang tamu
"Di kamar, sedang istirahat," jawab Murni
"Apa ini?"
"Martabak telur, aku beli dua," jawab Fadli
Murni hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O, kemudian membuka bingkisan tersebut dan menawarkan pada suaminya.
"Aku masuk dulu mah," pamit Fadli dan berlalu pergi meninggalkan ayah dan ibu mertuanya.
Sampai di depan kamar Fadli menarik gagang pintu, tampak Masyitah sedang merapikan tempat tidur dan belum menyadari kehadiran suaminya.
"Ehemmm." Fadli berdehem
Masyitah menoleh dan memutar tubuhnya, senyumnya langsung mengembang lalu bergegas menghampiri Fadli.
"Kamu membawa apa?" tanya Masyitah melirik tangan bungkusan di tangan suaminya
"Martabak telur, kamu suka?"
"Iya, sini aku pindahkan ke dalam piring dan dibagi untuk mama dan papa," ucap Masyitah
"Sudah aku kasih untuk mereka, yang ini buatmu."
Mendengar ucapan suaminya, Masyitah pun menyambar bungkusan di tangan suaminya lalu membukanya.
__ADS_1
"Hmm, tampaknya enak aku mau mencobanya."
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," kata Fadli mengingatkan istrinya
"Ingat, tidak ada makan malam yang gratiss!" ucap Fadli tersenyum penuh arti.
Masyitah seketika berhenti mengunyah, wanita itu memutar bola matanya lalu sedetik kemudian melepaskan sisa martabak di tangannya.
"Maksudnya kamu meminta bayaran?" tanya Masyitah memiringkan kepalanya
"Sebentar." Masyitah beranjak dari tempatnya, berjalan menuju lemari kemudian membuka laci dan mengambil selembar uang seratus ribu.
Wanita itu datang menghampiri suaminya, menyerahkan selembar uang. Namun, Fadli menepis tangannya.
"Ini pengganti uangmu yang terpakai," ujar Masyitah menatap tajam lelaki di depannya
"Eeh, bukan begitu maksudku jangan salah paham Ita." Fadli menolak uang yang disodorkan istrinya
"Kalau bukan uang, lantas apa?"
"Aah, sudahlah, aku mau mandi."
Fadli berbalik meninggalkan Masyitah, lelaki itu mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Hehe, padahal uang ini juga punyamu sendiri. Aah Ita, rizki memang tak akan kemana," gumamnya sembari terkekeh
Lain halnya dengan Fadli, di dalam kamar mandi dia mengumpat sendiri menyesali ucapannya yang malah ditanggapi berbeda oleh Masyitah.
"Padahal bukan itu maksudku, aku ingin ..., aah sialaan!"
Sepuluh menit kemudian, Fadli sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Masyitah yang duduk menghadap ke arah pintu, seketika mematung dan menelan salivanya. Penampakkan Fadli yang masih menggunakan handuk dengan bertelanjang dada membuatnya terpana.
"Kamu terpesona ya melihatku, hmm?"
"Siapa bilang? Kamu terlalu percaya diri," elak Masyitah tersipu menyadari telah tertangkap basah.
"Tentu saja aku yang bilang, mulutmu sampe menganga begitu apa lagi namanya kalau bukan terpesona," cecar Fadli
Masyitah tak bisa lagi mengelak, wanita itu membuang muka menghindari kontak mata dengan suaminya.
Wajah Masyitah merah menahan malu, sementara itu Fadli justru mendekat dan berdiri di depan Masyitah.
"Ita, lihat aku! Jangan menghindar kamu sudah tertangkap basah mengagumiku," ledek Fadli lagi
Masyitah menunduk, tak mau menatap suaminya membuat Fadli semakin semangat menggodanya.
Fadli tahu betul, Masyitah paling tidak tahan ditatap apalagi dengan jarak yang begitu dekat, pasti dia akan menghindar karena malu.
__ADS_1