
Part 72
Seila menggeliat, matanya membola saat melihat di sampingnya seorang pria asing sedang terlelap. Seketika dia menyibak selimut dan melihat tubuhnya tanpa busana.
"Astagaa, apa yang terjadi denganku? Siapa pria ini?"
Merasakan ada pergerakan, Yudha membuka mata dan melirik ke samping. Untuk sekian detik keduanya saling tatap lalu Yudha melonjak turun dari ranjang.
Spontan Seila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sebab Yudha tanpa sadar berdiri tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"Heii, apa kamu sudah gila? Pakai bajumu!" seru Seila sambil tetap menutup wajahnya.
Mendengar ucapan Seila, barulah Yudha menyadari keadaannya dan segera berlari menuju kamar mandi.
"Siall, kenapa aku jadi sebodoh ini sih?" gerutu Yudha di balik pintu kamar mandi
"Apa semalam dia tidak menyadari kami melakukannya?"
Sementara itu, Seila masih kebingungan sambil memandangi kamar yang dia tempati.
"Kenapa aku sampai ada di sini, bukannya semalam aku di cafe? Lalu siapa dia dan apa yang sudah kami lakukan?"
Seila melihat pakaiannya berserakan di lantai, barulah dia menyadari apa yang sudah terjadi.
Seila segera turun dari ranjang lalu memungut pakaiannya, kemudian memakainya kembali. Tak lama, Yudha keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Seila melirik Yudha, wanita itu bergidik geli saat melihat sosok Yudha berdiri di depan pintu.
"Kenapa kamu belum memakai bajumu?"
"Bajuku masih di lantai, coba lihat," tunjuk Yudha dan pandangan Seila mengikuti arah jari Yudha.
"Ambil bajumu dan segera pakai, aku ingin bicara denganmu," ucap Seila tanpa melihat Yudha.
Yudha bergegas mengambil pakaiannyaa di lantai, kemudian masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Seila menunggu sambil duduk di sofa.
Sepuluh menit kemudian, Yudha sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dalam keadaan rapi.
Seila menoleh sekilas, ada rasa canggung sekaligus malu saat mengingat kejadian semalam bersama lelaki yang belum dikenalnya itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Yudha
"Duduklah," sahut Seila.
Yudha melangkah menuju sofa dan duduk tak jauh dari Seila, keduanya diam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Seila membuka pembicaraan.
"Siapa namamu?"
"Yudha, Yudha Pratama," jawab Yudha
"Namaku, ...."
Belum sempat Seila bicara, Yudha langsung memotong ucapan Seila.
__ADS_1
"Seila, aku sudah tahu namamu. Statusmu juga adalah wanita bersuami."
Wajah Seila bersemu merah, antara malu dan juga kaget karena Yudha sudah mengetahui identitasnya.
"Semalam aku check in menggunakan KTP mu," sambung Yudha.
"Hmm, sekarang kamu sudah tahu nama dan statusku, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?" pancing Seila
"Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu mengkhianati suamimu?" tanya Yudha memiringkan kepala.
"Kamu ingin tahu? Sepenting apa buatmu?"
Bukannya menjawab, Seila malah bertanya balik dan seakan menantang Yudha. Bahkan tak terlihat penyesalan di wajahnya.
Yudha terdiam, karena sebenarnya dia juga bingung harus bersikap bagaimana. Terlebih lagi status Seila masih bersuami tentu saja akan beresiko untuk dirinya.
"Sel, jawab dulu pertanyaanku. Jangan malah bertanya balik," ucap Yudha.
"Aku kecewa, marah, dan benci padanya. Puass?!"
"Kamu ingin melibatkan aku? Atau sengaja menjebakku?"
"Tidak, ini hanya kebetulan," jawab Seila santai.
"Seila, sebaiknya kamu pulang sekarang. Suamimu pasti mencarimu!"
"Dia tidak akan peduli, aku pulang atau tidak bahkan mati sekalipun," ujar Seila dengan nada sedih.
"Sel, apa pun masalahmu. Jangan pernah merusak dirimu sendiri," ucap Yudha pelan.
Tanpa aba-aba, Seila langsung menghambur ke pelukan Yudha sambil terisak sampai tubuhnya bergetar.
"Dia sudah menyakiti aku, menyia-nyiakan cintaku bahkan mengkhianatiku," ucap Seila dalam isaknya sambil terus memeluk Yudha.
Ragu-ragu Yudha mengangkat tangannya, perlahan mengusap lembut rambut hitam Seila dan mengusapnya.
"Ternyata, separah ini jika wanita sedang patah hati. Apa Sofia juga melakukan hal yang sama?" batinnya.
Tanpa sadar, Yudha mengecup kepala Seila memberi rasa nyaman. Seila diam tak menolak, tetap pada posisinya memeluk erat tubuh lelaki yang baru saja dikenalnya.
Hampir dua jam keduanya berbincang, Yudha memutuskan untuk pulang karena khawatir kakaknya akan mencarinya.
Sebelum pulang, keduanya sudah saling bertukar nomor ponsel. Entah untuk tujuan apa, yang pasti Yudha dengan mudahnya meminta nomor Seila.
Keduanya berpisah di depan lobi hotel, Yudha langsung pulang ke rumah dan disambut Bagas dengan wajah penuh tanya.
"Dari mana?"
"Kerja kak," jawabnya enteng
"Bukannya jadwalmu hanya sampai jam sebelas, lantas kenapa pulang pagi?" selidik Bagas
"Aku ketiduran kak, semalam tamu ramai jadi kecapean," bohong Yudha
__ADS_1
"Hmm, ya sudah. Sana mandi dan istirahat lah, kakak mau berangkat kerja."
Yudha mengangguk dan berlalu pergi, saat merasa aman Yudha mengusap dadanya yang hampir saja jantungnya seakan berhenti berdetak karena gugup.
"Huuuft, aman. untung saja aku bisa berbohong. Kalau tidak, bisa repot jadinya."
Yudha masuk ke dalam kamarnya, naik ke atas ranjang lalu berbaring terlentang menatap langit-langit. Terbayang kembali adegan panasnya bersama Seila, wanita yang baru dikenalnya semalam.
Awalnya Yudha dihantui rasa bersalah. Namun, rasa kagum bercampur iba juga datang bersamaan.
Pertemuan singkatnya bersama Seila, meninggalkan kesan mendalam baginya. Tiba-tiba ponselnya berdering, Yudha segera bangkit dan meraih ponsel dari atas nakas.
Nama Seila tertera di layar ponsel, sejenak Yudha menatapnya lalu menekan tombol menerima panggilan.
Dari seberang terdengar suara manja Seila menyapa,"Halo."
"Ya halo," sahut Yudha.
"Yudha?"
"Iya Sel, ada apa?"
"Kamu di mana?" tanya Seila berbasa-basi
"Di rumah Sel."
"Yud, aku juga baru sampai," lanjut Seila
"Suamimu ada di rumah?" selidik Yudha memelankan suaranya.
"Tidak ada, suaramu kenapa Yud? Kamu takut ya?" goda Seila
"Iya." Yudha berkata jujur, tentu saja resikonya besar jika sampai ketahuan suami Seila.
"Jangan khawatir, dia tidak ada di rumah. Hanya sesekali saja dia datang ke sini. Itu pun hanya ingin melampiaskan hasratnya," ucap Seila dengan suara bergetar.
"Sel, jujur sama aku. Apakah selama ini kalian masih berhubungan baik?"
"Tampak dari luar, kami baik-baik saja. Tapi, sesungguhnya hubungan kami tak ubahnya api dalam sekam," jawab Seila.
"Maksudnya?" Yudha belum mengerti pembicaraan Seila.
"Suamiku menikah lagi dengan sekretarisnya, tanpa ada satu pun dari keluarga yang mengetahuinya."
"Itulah sebabnya, kenapa aku benci dan marah padanya. Dia sudah mengabaikan perasaanku, dia menikah diam-diam di belakangku Yud," terang Seila.
Akhirnya Yudha pun paham, apa yang sedang Seila alami. Rupanya wanita tersebut berada dalam goncangan rumah tangga dan melampiaskan dengan cara minum hingga mabuk dan berakhir di kamar hotel bersamanya.
"kasihan juga wanita ini, mengorbankan dirinya hanya untuk membalas sakit hati pada suaminya," gumam Yudha.
"Sel, aku mau mandi dulu ya. Soalnya hari ini aku masuk kerja siang, jadi harus istirahat."
Yudha pamit dan menutup telpon, sebenarnya dia tidak tega. Tapi, harus menjaga jarak mengingat status Seila yang masih memiliki suami. Dia tak mau mengambil resiko yang mambahayakan dirinya.
__ADS_1