KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Perjalanan Panjang


__ADS_3

Part 45


Hari ketiga perjalanan, beberapa jam ke depan mereka akan tiba di kota tujuan. Keduanya mengemasi barang dan menyiapkan diri, mandi dan memakai pakaian bersih.


"Yud, sebentar lagi kita sampai," ujar Bagas memgingatkan adiknya.


"Iya kak."


"Mandilah dan ganti pakaianmu," lanjut Bagas.


Yudha beranjak dari kasur, kemudian mengambil pakaian dari dalam tasnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Bagas masih berbaring di tempatnya, menunggu giliran mandi setelah Yudha selesai.


Keduanya sudah rapi, untuk mengisi waktu luang mereka mengunjungi kafetaria yang ada di kapal sembari menunggu waktu, Bagas memesan dua coffee latte dan stik kentang menemani waktu santai mereka.




"Kak, Paman Herman sudah tahu kita mau datang?" tanya Yudha sambil mencicipi hidangan di depannya.


"Belum," sahut Bagas.


Yudha berhenti mengunyah, pandangannya menatap lurus ke depan. Entah apa yang ada di benaknya hanya dia yang tahu, Bagas tak menanggapi sikap adikya dia malah sibuk dengan minumannya.


Yudha menoleh pada Bagas dan berkata,"kakak yakin, kedatanganku tidak membebani keluarga paman?"


"Yakin, Insyaa Allah kehadiranmu tidak akan menjadi beban bagi mereka," jawab Bagas dengan kayakinannya.


Keduanya menghabiskan makanan dan minuman mereka, kemudian Bagas membayar pesanan lalu mengajak Yudha mengelilingi bagian-bagian kapal yang belum mereka datangi.


Satu jam kemudian, terdengar suara dari pengeras yang mengumumkan bahwa kapal sebentar lagi akan berlabuh dan meminta para penumpang untuk segera bersiap-siap.


Kapal sudah merapat dan berlabuh di dermaga, penumpang turun demikian juga dengan kakak beradik tersebut. Keduanya berdesakan dengan penumpang lainnya menuju tangga.


Saat sudah di dermaga, keduanya berjalan ke pintu keluar sambil menenteng tas masing-masing.


Yudha berhenti sejenak, kemudian memanggil Bagas yang berjalan di depannya.


"Kak!"


Bagas menoleh ke belakang lalu berucap,"ada apa?"


"Kakak sudah tahu alamatnya?"


Bagas menggeleng, kemudian mengambil secarik kertas lusuh dari saku celananya. Rupanya, Bagas hanya bermodalkan panduan dari tulisan yang ada di dalam kertas tersebut.


"Kakak hanya punya ini, dulu paman yang memberinya. Menurut petunjuk Paman Herman, rumahnya ada di sekitar pelabuhan ini lokasinya hanya beberapa meter dari sini."


"Coba kita tanyakan orang di sekitar pelabuhan kak, mungkin ada yang mengenal paman," saran Yudha

__ADS_1


"Iya, ayo, kita kesana." Bagas menunjuk sebuah tempat dan di situ berdiri seorang pria.


Keduanya berjalan menghampiri lelaki yang sedang berdiri, wajah mereka tampak bingung karena untuk pertama kalinya kakak beradik itu mengunjungi kota tersebut.


"Permisi Pak," sapa Yudha


"Ah iya, ada yang bisa saya bantu?" jawab lelaki itu tersenyum ramah.


"Kami orang baru, ingin mencari seseorang di alamat ini." Yudha menyerahkan secarik kertas pada lelaki di depannya.


Lelaki itu mengambil kertas dari tangan Yudha, kemudian membacanya sekilas dan kembali tersenyum.


"Di sini tertulis nama Herman, kalau boleh tahu siapa dia?" tanya lelaki itu lagi.


"Dia paman kami, sudah lama bertugas dan menetap di kota ini. Bapak mengenalnya?" Bagas menjelaskan perihal pamannya.


"Coba sebutkan ciri-cirinya, kebetulan saya mengenal seseorang dengan nama yang sama," ujar lelaki itu.


"Hmm, kulit beliau sawo matang, tubuhnya tidak terlalu tinggi, berambut lurus dan memiliki dua orang anak laki-laki." Bagas menyebutkan ciri-ciri pamannya sembari mengingat sosok yang sudah lama tidak dilihatnya.


"Maaf Pak, kami tidak memiliki fotonya dan mungkin juga sudah ada perubahan pada fisik beliau," sambung Bagas


Lelaki tersebut tersenyum lebar, kemudian dia mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah benda pipih, dengan cekatan dia menyalakan ponsel dan membuka galeri foto.


"Orang ini yang kalian maksud?" tanyanya sambil menyodorkan ponselnya.


Lama Bagas mengamati gambar di layar ponsel, wajah sesosok pria yang mirip dengan ayahnya terpampang disana.


"Bapak mengenalnya?" tanya Bagas meyakinkan lagi.


"Iya, kami dulu satu ruangan waktu beliau belum pensiun," jawab lelaki tersebut.


"Alhamdulillah," ucap Bagas lega.


Mereka bertanya pada orang yang tepat, ternyata lelaki itu mengenal pamannya sehingga mereka tidak kebingungan lagi mencari dimana alamat Paman mereka.


"Mari, saya antar ke rumah Pak Herman."


Lelaki itu menawarkan jasanya, tentunya saja disambut baik oleh kakak beradik tersebut agar perjalanan mereka lebih mudah lagi.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Bagas berbasa-basi.


"Tentu saja tidak, kebetukan saya juga ingin bertemu dengan Pak Herman."


Karena jarak rumah Pak Herman dengan pelabuhan, mereka memutuskan berjalan kaki sembari mengobrol.


Yudha mengikuti di belakang sambil bergumam,"tempat apa ini? sepi layaknya tak ada kehidupan, mana bisa aku betah disini."


Tak lama, meteka sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana. Ketiganya berhenti sejenak lalu Si Lelaki tersebut mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


Hening ....


"Assalamualaikum," ucapan kedua barulah terdengar jawaban dari dalam.


"Waalaikumussalam," Seorang wanita paru baya berjalan keluar.


"Eh, ada tamu. Silahkan masuk," ucapnya sambil membuka lebar daun pintu.


Bagas tertegun, wanita di depannya tidak mengenali mereka. Namun, dia segera menepis pikirannya dan menganggap jika istri pamannya itu lupa padanya dan juga Yudha.


"Silahkan duduk," ucapnya mempersilahkan ketiga tamunya.


Rasanya tak tahan lagi hanya berdiam diri dan menunggu, Bagas segera bertanya pada wanita tua di depannya.


"Paman Herman ada Bi?"


Wanita itu belum menjawab, dia mengamati wajah Bagas dengan seksama untuk sekian detik lalu tiba-tiba dia tersenyum lebar.


"Kamu Bagas ya?!" serunya


"Iya, Bi. Paman ada?" Bagas mengulangi pertanyaannya.


Wajah wanita itu berubah sendu, kemudian membuang pandangan ke sembarang arah.


"Sepertinya ada sesuatu yang bibi sembunyikan?" batin Bagas


"Pamanmu ada di kamar, masuklah ke dalam," ujarnya lemah.


Sedetik kemudian pandangannya beralih menatap Yudha dan berkata,"kamu Yudha kan, adiknya Bagas?"


"Iya, Bi."


Bagas dan Yudha beranjak dari kursi, keduanya menyalami istri paman mereka yang tubuhnya terlihat mulai ringkih.


"Apa kabar? kalian sudah dewasa sekarang, bibi sampai lupa dan hampir tidak mengenali kalian," ujar Wanita tua itu.


"Alhamdulillah, kami baik Bi, seperti yang bibi lihat sekarang," jawab Bagas.


"Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu dengan sahabat pamanmu ini?" tanyanya penasaran sambil menunjuk lelaki yang datang bersama kedua ponakannya.


"Tadi, di pelabuhan kami mencari alamat paman dan bertemu dengan Bapak ini," ujar Bagas menjelaskan sembari melempar senyum pada lelaki tersebut.


"Oh, syukurlah. Kalian bertemu orang yang tepat."


"Paman ada di kamar, kalian berdua masuklah ke dalam," ucap Sang Bibi menyuruh kedua ponakan suaminya itu.


Mereka pun berdiri lalu melangkah menuju kamar yang ditunjuk Bibinya. Namun, perasaan Bagas menjadi was-was mengingat reaksi bibinya saat dia bertanya tentang pamannya.


"Kak, perasaanku tidak enak," bisik Yudha lirih.


"Sama, kakak juga begitu." Bagas balas berbisik.

__ADS_1


Langkah keduanya seakan begitu berat, ditambah lagi suasana rumah yang sepi membuat hati keduanya semakin tidak karuan.


__ADS_2