KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Roti Sobek Milik Suamiku


__ADS_3

Part 11


Fadli menoleh pada Masyitah saat wanita itu sudah berdiri di depan meja riasnya, lelaki itu memberikan senyum terbaiknya tapi justru membuat Masyitah bergidik ngeri.


"Kenapa masih berdiri di situ, katanya mau mandi?"


"Kamu lupa ya, sebelum shalat subuh tadi aku sudah mandi," jawab Fadli


"Haah, rupanya kamu membohongiku!"


Ingin rasanya Masyitah menjambak rambut suaminya, merasa bodoh dengan mudahnya Fadli berhasil menipunya.


Saat perdebatan suami istri tersebut berlangsung, Murni muncul lagi di depan pintu membuat keduanya mendadak terdiam.


"Sssttt, pamali pagi-pagi begini bertengkar, lebih baik kita sarapan," ledek Murni sembari mengajak anak dan menantunya sarapan.


"Semua ini gara-gara mama!" Masyitah menghentakkan kakinya dan berlalu keluar dari kamar.


Murni dan Fadli hanya saling pandang, suasana hati Masyitah memang suka berubah-ubah sesuai kondisi.


"Ayo, nak, kita sarapan dulu. Abaikan kelakuan istrimu itu," ujar Murni.


Fadli dan mertuanya berjalan menuju ruang makan, Haji Burhan sudah menunggu di sana bersama Masyitah.


Masyitah tak menghiraukan kedatangan suaminya, tentu saja sikapnya itu memancing reaksi Murni


"Duduklah Fadli."


"Ita, ambilkan makanan untuk suamimu," ujar Murni sambil menunjuk piring di depan Fadli


Masyitah menggeram, tapi tetap melakukan tugasnya sebagai istri.


Sarapan yang penuh drama, karena Murni hanya sibuk mengurusi anak dan menantunya sampai memgabaikan suaminya sendiri.


Fadli berdehem, memberanikan diri berbicara pada mertuanya kalau hari ini dia mulai bekerja.


"Setelah sarapan aku pamit, karena mulai hari ini aku akan bekerja membantu papa di toko," kata Fadli.


"Alhamdulillah, mama senang mendengarnya. Iya, kan Ita?" Murni mengangkat wajahnya menatap Masyitah yang duduk di depannya


Masyitah tak menunjukkan reaksi apapun, baginya tidak penting Fadli bekerja atau tidak sebab dia masih kesal dengan kejadian di kamar pagi ini.


Fadli beranjak dari kursinya di ikuti Masyitah setelah mereka selesai sarapan, begitu juga Haji Burhan dan istrinya ikut beranjak meninggalkan ruang makan.


Masyitah mengekori suaminya berjalan keluar, sampai di teras Fadli membalikkan tubuh menghadap istrinya.


"Aku berangkat ya, hati-hati di rumah."


Masyitah belum sempat menjawab namun, tiba-tiba Fadli mendekat da mengecup kening Masyitah.

__ADS_1


Masyitah terperanjat kaget, serangan mendadak dari Fadli membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Sial, dasar maling pagi-pagi mencuri kesempatan!" umpat Masyitah dalam hati


Fadli hanya terkekeh, lelaki itu sudah bisa menebak isi hati istrinya karena wajah Masyitah langsung berubah pias.


Tanpa berkata lagi Fadli berlalu, menaiki motornya dan meninggalkan Masyitah yang masih mematung di tempatnya


Terkejut, itu yang Masyitah alami. Wanita itu memegang dadanya terasa degub jantungnya begitu kencang. Sikap Fadli barusan sangat manis.


"Itaaa, jaga kewarasanmu!" jeritnya dalam hati.


Masyitah masuk kembali ke dalam rumah, membantu ibunya memasak untuk makan siang yang sudah menjadi aktifitas mereka sehari-hari.


Sore hari Masyitah mandi, tubuhnya yang berpeluh sehabis membereskan kamar. Pakaian Fadli yang masih tersimpan di dalam tas Masyitah masukkan ke dalam lemari.


Menjelang maghrib Fadli datang, lelaki itu masuk ke dalam kamar tapi tidak menemukan istrinya di dalam. Tak ingin menunda waktu Fadli bergegas masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Fadli keluar dari kamar mandi, matanya mencari-cari keberadaan tas pakaiannya.


"Tadi pagi masih ada di sini, sekarang kemana? Jangan-jangan Ita membuangnya?"


Fadli berjalan mengelilingi kamar masih menggunakan handuk yang terlilit di tubuhnya, Fadli yang masih kebingungan di kagetkan kemunculan Masyitah yang tiba-tiba masuk.


Lelaki itu melonjak kaget, handuk yang melilit sebagian tubuhnya terlepas dan meluncur ke lantai.


Sedangkan Fadli segera mengambil handuk di lantai dan memakainya kembali, jujur dia juga merasa malu namun, kelucuannya pada tingkah istrinya lebih mendominasi.


Fadli tergelak, perlahan berjalan mendekati Masyitah, sepertinya akan seru jika menjahili istrinya pikir Fadli.


"Dasarr tidak tahu malu," umpat Masyitah dan terdengar oleh Fadli.


"Malu karena apa, hmm?"


Fadli semakin mendekat, Masyitah belum menyadari jarak mereka tinggal selangkah karena wajahnya masih tertutup.


Fadli mendekatkan wajahnya pada wajah Masyitah, wanita itu merasakan hawa napas suaminya dan spontan mundur ke belakang.


"Jangan mendekat, atau aku teriak memanggil mama kesini?" ancam Masyitah merasa terpojok.


"Silahkan saja, kalau kamu berani," tantang Fadli


"Awas Fadli, kamu jangan macam-macam padaku," ucap Masyitah semakin panik.


"Aku cuma mau satu macam, tapi ...." Fadli menghentikan ucapannya.


"Tapi apa?" tanpa sadar, Masyitah menurunkan tangannya.


Fadli kembali tergelak, bahkan suara tawanya lebih keras memenuhi ruangan.

__ADS_1


"Kamu sudah menodai mataku!" seru Masyitah sambil menahan malu.


"Hah, sini aku lihat noda apa di matamu?"


"Mam ...." belum sempat Masyitah berteriak Fadli langsung membungkam mulut istrinya dengan tangannya.


"Sssttt, jangan berisik," bisik Fadli.


"Mmmm." Masyitah berusah memberontak.


Fadli melepaskan tangannya, takut Masyitah nekad berteriak dan membuat heboh seisi rumah seperti kejadian pagi tadi.


Masyitah memalingkan wajahnya, penampakan Fadli yang hanya memggunakan handuk di depannya membuatnya malu.


"Mana tas pakaianku?" tanya Fadli mencairkan suasana yang mulai kaku.


"Dalam lemari," sahut Masyitah tanpa menoleh.


"Astaga, hampir saja pertahananku jebol melihat roti sobek itu," gumam Masyitah dalam hati.


Fadli berbalik dan melangkah mendekati lemari pakaian, membuka pintunya lalu mengambil baju koko dan sarung untuk shalat maghrib.


"Aku mau memakai baju, kamu ingin melihatnya?" goda Fadli.


Dengan gerakan cepat Masyitah berlari keluar kamar, matanya sudah benar-benar ternoda saat melihat dada bidang dan perut kotak-kotak suaminya yang membuat pikirannya sempat berkelana.


"Sekarang kamu masih menolak melihatnya, besok atau lusa pasti akan membuatmu ketagihan."


Fadli mengenakan pakaiannya bersiap-siap untuk shalat maghrib, sembari menunggu adzan dia memanggil Masyitah shalat berjamaah dengannya.


Pasangan suami istri itu pun melaksanakan ibadah dengan khusu, Masyitah kembali merasakan ketenangan dan kenyaman saat shalat berjamaah bersama suaminya.


Hati Masyitah semakin yakin, menambatkan rasa pada Fadli lelaki pilihan orang tuanya.


Setelah menutup doa, Fadli memberi isyarat pada Masyitah untuk mendekat padanya dengan mengulurkan tangan untuk menyalaminya.


Masyitah spontan merangkak maju, meraih tangan suaminya penuh takzim.


"Maafkan aku ya, seringkali menjahilimu," kata Fadli sambil mengelus kepala Masyitah.


Masyitah hanya mengangguk, wanita itu tertegun sesaat ada kekaguman muncul di sudut hatinya. Ternyata Fadli tak seburuk apa yang ada di dalam benaknya.


"Aku juga minta maaf, selama ini selalu berkata kasar padamu," balas Masyitah.


Fadli menarik tubuh Masyitah masuk ke dalam pelukannya, Masyitah pasrah tanpa penolakan seakan tubuhnya terkoneksi dengan Fadli.


"Biarkan aku memelukmu sejenak," pinta Fadli


Masyitah mengangguk lagi, sambil menikmati dekapan suaminya untuk pertama kali rasanya damai dan tentram dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2