
"Kak Ling Yan, ini adalah kue buatanku, bawalah ini sebagai bekal perjalanan mu." Kata Xui sambil memberikan keranjang itu pada Ling Yan.
"Kau membuatnya hanya untuk Ling Yan, lalu bagaimana dengan kami bertiga." Goda Yan Shiki yang membuat semuanya tertawa.
Ling Yan lalu meraih keranjang tersebut sambil berterima kasih pada Xui.
"Terimakasih, aku akan memakannya nanti." Jawab Ling Yan sambil memasukkan keranjang tersebut kedalam cincin natnya.
"Baiklah, karena semuanya sudah siap, bagaimana kalau kita....." Belum sempat Yan Shiki menyelesaikan perkataannya tiba-tiba saja Ling Mei yang baru saja datang kan menghampiri Ling Yan dengan membawa keranjang makanan juga.
"Kak Ling Yan!!! hah... hah.. untung saja belum terlambat, ini untuk kak Ling Yan." Ucap Ling Mei sembari menyerahkan keranjangnya.
"Eh.... Ling Mei, ini..." Ling Yan tersenyum canggung saat mendapati Ling Mei juga memberikan bekal padanya.
Sementara kedua temannya yang lain yaitu Shuyang dan Han Li terlihat begitu iri sambil menggerutu di dalam hati.
"Sialan, baru saja Xui memberikan bekal padanya, sekarang Ling Mei juga datang memberikan bekal untuknya." Gerutu Shuyang dalam hati.
Sementara Han Li.
"Tidak hanya Xui, bahkan murid dari tetua Yan Shiki pun memberikan bekal padanya." Umpat Han Li.
"Kalian berdua ini memang sepakat untuk membuat bekal untuk Ling Yan ya, tetapi mengapa hanya untuk Ling Yan saja, dan untuk kami tidak ada." Yan Shiki menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Xui dan muridnya Ling Mei.
Sementara Ling Mei, ia kini mengikuti jejak Xui yang juga sedang menunduk malu sambil bergumam.
"Ternyata Xui juga memberikan bekal pada kak Ling Yan, bagaimana ini, apakah kak Ling Yan akan menerima bekal dariku juga setelah menerima bekal Xui, atau apakah sebaiknya aku memberikannya pada Shuyang saja." Batin Ling Mei khawatir.
Baru saja ia berniat untuk memberikan bekalnya pada Shuyang, Ling Yan yang merasa tidak enak pun akhirnya berkata sambil menerima keranjang tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih Ling Mei, aku menerimanya, tetapi karena terlalu banyak, mungkin aku akan berbagi dengan tetua dan yang lainnya agar bisa membantuku menghabiskannya." Jawab Ling Yan yang membuat kekhawatiran Ling Mei menghilang.
Ling Mei lalu mengangguk mengerti.
"Iya itu tidak masalah." Jawab Ling Mei sambil tersenyum.
"Hmmm ini sudah semuanya kan, sudah tidak ada yang lain lagi kan." Tanya Yan Shiki pada Ling Yan sementara Ling Yan hanya terkekeh melihat Yan Shiki bertanya padanya seperti itu.
"Baiklah ayo kita berangkat." Ajak Yan Shiki sambil berjalan keluar sekte di ikuti oleh ketiga murid yang akan menjalankan misi itu.
"Kekaisaran Feng kami datang!!!!" Shuyang berteriak sambil berjalan dan disambut tawa oleh mereka berempat.
Zhu Qing, Ling Mei dan Xui kini menatap keberangkatan keempatnya hingga punggung Ling Yan tidak terlihat lagi.
"Semoga cepat kembali." Gumam ketiganya bersamaan di selingi hembusan angin yang menerpa wajah ketiga gadis itu.
Ke empat pendekar sekte seribu pedang itu kini melesat dan berlari dengan kecepatan tinggi setelah meninggalkan wilayah kota heihan.
Terlihat Yan Shiki selaku orang yang memimpin misi tersebut berada di posisi paling dupam di ikuti Han Li, Ling Yan dan Shuyang dibelakangnya.
Ling Yan yang sedang berlari terlihat sedikit mengerutkan keningnya karena mengingat sesuatu terkait keberangkatannya ke kota bufeng saat ini.
"Hmm... bukannya kota bufeng adalah tempat dari Pendekar pandai besi yang membuat belatiku itu." Ling Yan teringat dengan Pendekar misterius itu.
"Waktu itu aku sempat mendengar ia menyebut nama Yu Ming yang begitu familiar, tapi karena begitu terburu-buru aku malah tidak bisa mendengar semuanya." Batin Ling Yan sambil mengingat kembali dimana ia pernah mendengar nama Yu Ming ini.
"Ada apa, apakah ada yang mengganjal pikiranmu." Tanya Shuyang yang membuyarkan lamunan Ling Yan.
"Ah tidak ada apa-apa, hanya teringat sesuatu." Jawab Ling Yan yang kini sudah kembali fokus pada perjalanannya.
__ADS_1
*****
Sekte petir hitam.
Yu Lao sang pemimpin sekte petir hitam terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menunggu seorang tetua yang ia miliki.
Tak lama kemudian tetua yang ia tunggu-tunggu itu akhirnya sudah sampai dan sekarang ia terlihat duduk sambil memberikan hormat pada ketuanya.
Tetua itu bernama Yu Zhong yang saat ini sudah mencapai tingkat pendekar suci bintang 3.
"Salam ketua Yu Lao, aku datang untuk menunggu perintah." Hormat Yu Zhong pada ketua sektenya.
"Hahaha dalam 2 tahun terakhir kau berhasil membuka 3 gerbang rupanya, perkembangan kekuatan yang kau miliki lumayan hebat." Ujar Yu Lao.
"Pergilah ke kota teratai, dan rebut gulungan milik Yu Ming dari bocah itu." Kata Yu Lao yang langsung disambut anggukan kepala dari Yu Zhong sebelum akhirnya ia menghilang dari tempatnya.
Dua tahun yang lalu Yu Lao mengutus 2 tetua sektenya untuk merebut api spiritual dan juga mengambil kembali gulungan teknik ilmu halilintar bumi yang dibawa oleh Ling Yan bersama kedua adik angkatnya.
Namun usahanya tersebut tidak membuahkan hasil bahkan membuat kedua tetuanya yang berada di tingkat pendekar raja malah berakhir tewas.
Sebenarnya ia ingin kembali mengutus seorang tetua lagi pada waktu itu, akan tetapi setelah mengetahui kalau api spiritual bukanlah elemen sembarangan yang bisa diserap membuat dirinya mengurungkan niatnya dan baru melanjutkan niatnya lagi saat ini setelah mendapatkan pil pelindung jiwa dari seorang pendekar suci yang misterius.
"Khekhekkhe Walaupun aku tidak tau siapa orang itu, tetapi pil yang ia berikan padaku ini akan membuatku dapat menyerap api spiritual milik bocah itu, dan dengan begitu kekuatan yang aku miliki akan menjadi semakin kuat." Tawa Yu Lao pecah sambil menggenggam 2 pil pelindung jiwa di tangannya.
Sebagai seorang pemimpin sekte petir hitam sendiri, Yu Lao saat ini sudah mencapai tingkat pendekar suci yang sudah berhasil membuka 7 gerbang dan menguasai elemen petir, dan elemen api.
Tanpa ia sadari, seorang pendekar berjubah hitam yang sedari tadi mendengar perkataannya itu terlihat sedang tersenyum dibalik jubah yang menutupi kepalanya.
"Dasar pendekar bodoh, kau terlalu terlena dengan kekuatan hingga bertindak sangat bodoh seperti ini, dan sebentar lagi kedua api spiritual itu akan menjadi milikku." Gumam pendekar itu sambil tersenyum licik.
__ADS_1
Dalam sekali tebak, jika seseorang mendengar gumaman pendekar berjubah hitam tersebut, ia pasti akan dapat dengan mudah mengatakan kalau orang yang ada di balik jubah hitam itu adalah seorang wanita.
Pendekar berjubah hitam itu lalu pergi dari tempatnya dan dari aura petarung yang ia miliki terlihat ada sebuah simbol seperti api yang menyerupai 2 naga yang satu berwarna hitam dengan mata putih dan satu lagi berwarna putih dengan mata yang hitam.