LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 34. Kawan Atau Lawan


__ADS_3

Yu Qian lalu mengangguk dan mulai menyantap makanannya.


"Fei, jagalah adikmu, aku akan kembali sebentar lagi." Ucap Ling Yan yang di sambut anggukan kepala dari bocah itu.


Ling Yan lalu berjalan keluar dari dalam gubuk dan melesat dengan cepat menuju kembali ke desa.


Sesampainya di desa ia lalu berjalan menuju sebuah toko pakaian dan membeli beberapa pakaian anak-anak untuk kedua bocah itu.


Dan setelah membeli beberapa pakaian untuk keduanya, Ling Yan lalu berjalan kembali ke sebuah toko obat untuk membeli beberapa pil penyembuh untuk dirinya dan Yu Qian yang sedang demam.


Namun sebelum sampai ke toko obat yang ia tuju, sebuah kalung dari penjual aksesoris sedikit menarik perhatiannya.


"Bibi, berapa harga kalung ini." Ucap Ling Yan.


"Itu adalah kalung biasa tuan muda, hanya seharga 10 keping perunggu." Ucap wanita itu.


"Baiklah aku mau satu." Ling Yan lalu memberikan 1 buah keping perak pada wanita itu.


"Tuan ini terlalu banyak." Ucapnya.


"Ah anggap saja itu hadiah dariku." Ucap Ling Yan Sambil tersenyum.


"Terimakasih tuan muda." Ucap wanita itu.


Ling Yan lalu kembali berjalan dan akhirnya sampai juga di depan toko obat yang ia tuju, tanpa pikir panjang Ling Yan lalu memasuki toko obat itu dan mendapati seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana dan terlihat seperti seorang aklemis.


Pria paruh baya pemilik toko yang menyadari kehadiran Ling Yan langsung menyambutnya dengan senyum yang ramah.


Akan tetapi karena persepsi jiwa seorang aklemis yang cukup tinggi, ia dapat merasakan sebuah kekuatan yang terpendam di dalam tubuh pemuda yang baru saja memasuki tokonya itu, namun dia sebisa mungkin bersikap biasa dan ramah di depan Ling Yan.


"Hmm anak muda ini tidak sesederhana yang terlihat." Batinnya.

__ADS_1


"Selamat datang tuan pendekar muda, apakah ada yang bisa saya bantu." Ucap pria paruh baya itu.


"Hmm aku ingin membeli beberapa pil penyembuh dan apakah kau menjual bahan herbal untuk menurunkan suhu badan." Ucap Ling Yan.


"Hmm pil yang anda butuhkan ada berbagai jenis tuan pendekar, kami memiliki 3 jenis pil penyembuh, tapi untuk herbal untuk menurunkan suhu badan kami sedang kehabisan." Ucapnya.


"Tapi jika tuan pendekar membutuhkannya untuk menurunkan demam kami memiliki pil penyembuh yang cocok." Ucap pria itu lagi.


"Baiklah aku ingin beberapa pil itu, dan juga pil penyembuh seperti apa yang kau miliki." Ucap Ling Yan.


"Mohon tunggu sebentar tuan muda." Pria paruh baya itu lalu mengeluarkan 4 jenis pil yang berbeda-beda di hadapan Ling Yan.


"Ketiga jenis pil ini adalah pil penyembuh yang kami miliki, sedangkan yang ini adalah pil untuk menurunkan suhu badan." Ucap pria paruh baya itu.


"Baiklah aku ingin pil ini sebanyak 3 butir,dan juga berikan pil penyembuh yang paling bagus disini." Ucap Ling Yan tak ingin berlama-lama.


"Baiklah tuan, jika anda ingin pil yang paling bagus aku menyarankan anda membeli pil penyembuh tingkat 3 ini, dengan pil ini tubuh anda yang terluka akan pulih dengan cepat, hanya saja harganya lumayan mahal." Ucapnya.


"Sudahlah aku tidak ingin berlama-lama, berikan aku sepuluh butir, berapa harganya." Ucap Ling Yan.


Tanpa pikir panjang Ling Yan lalu mengeluarkan 2 ribu koin emas dari dalam cincin nat miliknya dan menyerahkannya pada pria paruh baya itu.


Dan setelah mengambil barang yang ia beli, Ling Yan lalu berbalik badan dan mulai berjalan keluar dari dalam toko yang menjual pil itu.


Tetapi belum sempat Ling Yan keluar sepenuhnya, suara pria paruh baya itu membuatnya menghentikan langkahnya.


"Nak kau adalah anak yang berbakat, masih muda tetapi sudah memiliki kekuatan pendekar emas, tapi mengapa aku merasa kau juga memiliki 2 buah kekuatan yang tersimpan di dalam dirimu." Ucap pria paruh baya itu dengan senyuman penuh arti.


Ling Yan yang mendengar perkataan pria itu sontak menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya dan menatap lekat pria yang sedang tersenyum itu.


"Kawan atau lawan." Ucap Ling Yan dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


"Hmm kau sangat sensitif anak muda, jika kau ingin menjadi seorang aklemis yang hebat, aku bisa menjadikanmu muridku." Ucap pria paruh baya itu.


"Heh mengapa aku harus percaya padamu." Ucap Ling Yan.


"Entahlah, tapi itu semua tergantung pada keputusanmu anak muda pemilik api kehidupan." Ucap pria itu yang tetap tersenyum penuh makna.


Mendengar perkataan pria paruh baya yang mengetahui tentang api kehidupan yang ia miliki, Ling Yan sangat terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa.


Setelah beberapa saat Ling Yan terdiam tanpa kata, Ling Yan pun kembali membuka suaranya.


"Bagaimana kau tahu." Ucap Ling Yan.


Pria itu kembali tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ling Yan, "Datanglah kembali lain waktu jika kau ingin menjadi muridku." Ucap pria paruh baya itu lalu mengeluarkan energi petarung yang ia miliki, walaupun hanya sekejap namun itu sudah cukup untuk membuat Ling Yan tersentak.


"Energi petarungnya mengapa sampai setinggi itu, siapa orang ini." Batin Ling Yan.


Ling Yan masih menatap lekat wajah pria paruh baya didepannya namun tidak dapat membaca ekspresi wajah dari orang itu.


Tak lama kemudian Ling Yan lalu tersenyum dan kembali berjalan keluar dan kembali menuju gubuk tua tempat dimana kedua bocah bersaudara itu tinggal.


"Pria paruh baya itu bukanlah seorang aklemis biasa, bahkan dia memiliki aura petarung yang sekuat itu, sepertinya dia hanya terlihat lebih muda dari usianya." Batin Ling Yan.


Sementara itu sepeninggal Ling Yan dari toko obat, "Api kehidupan, api spiritual yang berada di tingkat ke 26, Bagaimana mungkin seorang anak muda yang hanya seorang pendekar emas bintang 1 yang memiliki kekuatan seperti itu, tapi masih ada satu kekuatan lagi yang dimiliki oleh anak muda itu yang tidak mampu aku ketahui." Ucap pria pemilik toko obat itu.


"Pak tua, sepertinya kau sudah menemukan seseorang yang akan menjadi tuanku selanjutnya." Ucap sebuah suara dari dalam fikiran pria paruh baya itu yang sebenarnya adalah seorang kakek tua berusia 120 tahun.


Ia dapat mempertahankan kemudaannya karena tenaga dalam yang ia miliki sudah mencapai puncak pendekar suci.


"Hmm aku juga berfikir begitu, tetapi kau harus menunggu kedatangannya kembali karena belum saatnya ia memilikimu." Ucapnya.


"Hehehe aku akan menunggu saat dimana ia pantas menjadi pemilik kekuatan ini." Ucap suara itu kembali.

__ADS_1


Kakek tua itu hanya tersenyum menanggapi perkataan suara yang terdengar di dalam fikirannya.


"Tuan Shen Long, aku sudah menemukan pemilikku selanjutnya, apakah dia akan sama sepertimu, tapi aku berharap dia dapat menggunakan kekuatanku ini untuk kebaikan." Batin pemilik suara misterius di dalam fikiran pria paruh baya itu.


__ADS_2