LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 255. Penantian.


__ADS_3

Kota heihan yang awalnya ramai oleh pengunjung yang lalu lalang karena menjadi salah satu jalur perdagangan terbesar di kekaisaran Wei kini terlihat seperti tempat yang tidak berpenghuni setelah sekte seribu pedang menghimbau kepada para penduduk untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.


Tentu saja pada saat mengumumkan hal itu, banyak dari para pedagang termasuk keluarga Jia yang menolak pemberitahuan itu.


Bahkan aksi protes yang dilakukan oleh keluarga pedagang itu berlangsung sampai 2 hari penuh.


Namun setelah di katakan kalau kota tersebut sebentar lagi akan menjadi medan pertempuran yang akan memakan banyak korban, para penduduk dan pedagang akhirnya tunduk dan mengikuti himbauan dari sekte pelindung kota heihan itu.


Saat ini hanya terlihat ada beberapa orang pendekar sekte seribu yang tengah berpatroli di sekitar kota untuk memastikan bahwa tidak ada satupun orang lagi yang masih menetap di kota tersebut.


"Apakah kau merasakan ada sesuatu yang aneh disini." Ujar salah seorang murid kepada rekannya karena sejak tadi ia memang sedikit merasakan adanya hawa yang berbeda di sekitar kota tersebut.


Para murid sekte seribu pedang yang sedang berpatroli tersebut sebenarnya sudah beberapa hari ini di tugaskan untuk mengawasi sekitaran kota, tapi baru kali ini salah satu dari pendekar tersebut merasakan ada hawa yang berbeda saat berpatroli di sekitaran kota.


"Buang perasaan takutmu itu, kami semua tidak merasakan apapun." Jawab salah satu temannya yang disambut anggukan dari temannya yang lain.


Pendekar sekte seribu pedang yang tadinya merasakan hal aneh tersebut terlihat berhenti sejenak sambil menatap ke arah belakang, tetapi kali ini ia juga tidak dapat merasakan apapun setelah temannya itu menegurnya.


Pendekar sekte seribu pedang itu akhirnya mengalihkan pandangannya kembali dan melihat teman-temannya yang sudah berjalan menjauh.


"Mungkin memang hanya perasaanku saja." Batin pendekar itu sambil menyusul teman-temannya.


"Hei tunggu.... jangan tinggalkan aku." Teriaknya.


Tanpa ia sadari, seorang pendekar berpakaian hitam yang ada di balik kegelapan terlihat tengah mengangkat pisaunya dengan aura pembunuh yang samar.


Tetapi setelah melihat para pendekar itu mulai menjauh, salah seorang rekannya langsung mencegahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Melihat ekspresi wajah temannya itu membuatnya menghilangkan nafsu membunuhnya sebelum menurunkan pisaunya kembali.


Sementara itu, para pendekar sekte seribu pedang tadi terlihat masih berkeliling di sekitar kota, dan setelah berkeliling sebanyak beberapa kali dan memastikan tidak ada apapun di sana, pendekar-pendekar sekte seribu pedang itu akhirnya memutuskan untuk kembali.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, setelah kepergian mereka dari kota tersebut, puluhan pendekar bertopeng bunga merah terlihat keluar dari balik bangunan beserta pepohonan yang tumbuh di kota heihan itu.


Jika topeng yang mereka miliki tidak melekat pada wajahnya, mungkin kita bisa melihat kalau puluhan pembunuh tersebut saat ini sedang tertawa menyeringai melihat kepergian para pendekar Sekte Seribu Pedang itu.


"Sebenarnya mengapa ketua Xiang Yu melarang kita untuk membunuh mereka sekarang?." Tanya salah satu dari pembunuh tersebut dengan aura pembunuh yang sedari tadi ia tahan.


"Sebaiknya kau diam saja dan mematuhi perintah ketua, bagaimanapun juga ketua sudah berpesan untuk tidak melakukan apapun sebelum pasukan lainnya sampai." Jawab rekannya dengan tatapan kesal.


Para pembunuh bayaran bunga darah yang saat ini berada di kota heihan sebenarnya sudah sampai sejak kemarin dan ditugaskan untuk mengawasi sekitaran wilayah sekte seribu pedang.


Seandainya saja pemimpin para pembunuh bunga darah Xiang Yu tidak berpesan agar tidak ada satupun dari mereka yang boleh bertindak sebelum pasukan utama sampai, mungkin pendekar sekte seribu pedang yang tadinya berada di kota sudah kehilangan nyawa mereka karena tidak merasakan kehadiran musuh.


Sementara itu seluruh Aliansi aliran hitam 4 pilar api kini sudah hampir sampai di kota heihan bersama dengan para anggota sekte gunung tengkorak dipimpin oleh ke empat pendekar pemilik api spiritual.


Di belakang mereka berempat terlihat para petinggi sekte-sekte aliran hitam yang lain termasuk Yu Lao dari sekte petir hitam.


Yuanrang yang berlari sejajar dengan Gu Liang sesekali saling melirik dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Dia benar-benar sudah menyerap api kematian itu." Batin Yuanrang yang bisa merasakan aura Petarung yang sangat kuat dari Gu Liang.


"Ternyata bukan hanya Yan Susu, Jin Fan dan juga Yuanrang ternyata juga sudah berada di tingkat pendekar suci bintang 9, aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka kalau hanya mengandalkan kedua api spiritual yang aku miliki." Batinnya.


Walaupun saat ini ia memiliki 2 api spiritual, nyatanya Gu Liang masih belum terlalu yakin bisa mengalahkan ketiga saudara seperguruannya itu.


Namun jika ia berhasil mendapatkan pusaka yang tersembunyi di dalam sekte seribu pedang, ia sudah bisa memastikan dapat mengalahkan mereka semua walaupun harus menggunakan beberapa trik licik.


"Aku akan merebut api spiritual yang kalian miliki setelah mendapatkan pusaka itu." Batin Gu Liang sambil tertawa sinis dalam hati.


Tetapi pada saat melihat ke arah Yan Susu, ia agak sedikit menghilangkan nafsu di dalam hatinya karena ia tahu kalau adik seperguruannya itu memiliki persepsi jiwa yang tinggi.


Sementara itu, Yan Susu yang dapat melihat ada sedikit tatapan lain dari mata Gu Liang juga ikut membatin.

__ADS_1


"Sepertinya ia merencanakan sesuatu setelah penyerangan ini." Batinnya.


Tetapi Yan Susu tidak menghiraukan hal tersebut, karena jika Gu Liang mencoba untuk berbuat rencana lain, ia sudah memiliki senjata rahasia yang dapat membuat Gu Liang menyesali perbuatannya.


*****


Di depan menara seribu pedang, seorang gadis cantik berusia 16 tahun terlihat menatap kosong ke arah menara seribu pedang.


"Kak Ling Yan, ini sudah hari ke 15 sejak kau masuk kedalam menara seribu pedang, mengapa kau belum keluar juga dari sana." Batin gadis itu.


Tatapan gadis cantik tersebut terlihat berkaca-kaca sebelum akhirnya seorang berpakaian serba putih dengan jenggot panjang menepuk pundaknya pelan dan membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Master Shen Yu!!" Ucap gadis itu sedikit terkejut.


Shen Yu menatap gadis itu dengan tatapan sedikit iba sebelum berkata.


"Ini sudah ketiga kalinya aku menemukan mu disini." Ucap Shen Yu kepada gadis tersebut yang tidak lain adalah Xui.


Shen Yu lalu mengalihkan pandangan ke arah menara seribu pedang sambil berkata.


"Sepertinya kau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan muridku, aku bisa melihat itu semua dari tatapan matamu itu."


Pipi Xui sedikit memerah mendengar pernyataan Shen Yu, dan membuatnya tidak dapat mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya.


Shen Yu lalu tersenyum kembali tanpa mengalihkan pandangannya dari menara seribu pedang.


"Kau tahu, menunggu seseorang yang sangat berharga bagi kita memang sangat berat, karena aku pun pernah merasakan hal yang sama denganmu." Ujar Shen Yu mengingat masa lalu.


Ling Xuilan yang mendengar itu terlihat mengerutkan dahinya.


"Kau tahu dulu aku juga pernah memiliki harapan agar bisa bertemu kembali dengan seseorang yang paling berharga dalam hidupku, walaupun itu mustahil, tetapi saat bertemu dengan Ling Yan, dia kembali membuatku mengingat kenangan dengan orang itu."

__ADS_1


Shen Yu menatap langit biru sambil mengingat kembali masa-masa dimana ia bisa bersama dengan gurunya Shen Long.


"Hahaha mengapa aku malah menceritakan ini padamu." Shen Yu tertawa kecil sebelum mengalihkan pandangannya lagi ke arah Ling Xuilan.


__ADS_2