
Setelah ketiga ayam hutan yang ia panggang matang, Shuyang kini menghampiri Ling Yan dan juga Yu Leng yang sedari tadi sedang bercakap-cakap.
"Ini dia, ayam panggang nya sudah matang." Kata Shuyang sambil memberikan masing-masing seekor ayam panggang pada keduanya.
"Terimakasih anak muda." Yu Leng tersenyum sambil meraih ayam panggang itu lalu tanpa menunggu waktu lama ketiga orang itu langsung menyantap makanannya bersama-sama.
Saat mereka bertiga sudah menyelesaikan kegiatan makan malamnya, pandangan Ling Yan tiba-tiba tertuju pada Han Li yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Eh.... sepertinya Han Li tidak sendirian." Gumam Ling Yan yang juga bisa melihat Jia Li berjalan menuju tempatnya bersama Han Li.
"Ada apa putri Jia Li, mengapa anda keluar dan datang kemari, disini cukup berbahaya." Ujar Shuyang.
"Hmm tidak ada apa-apa, aku hanya merasa bosan duduk di dalam kereta kuda itu, jadi aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar." Ujar Jia Li menjawab perkataan Shuyang
Sementara Han Li, ia hanya bisa menghela nafasnya karena ia dan Yan Shiki sudah mencegah Jia Li sedari tadi, akan tetapi tetap saja ia ingin keluar dari dalam kereta kuda itu.
Sebenarnya alasan utama Jia Li yang ingin keluar adalah ia ingin menemui Ling Yan yang sedang berjaga karena sedari tadi ia Bahkan tidak melihatnya sekalipun.
Padahal ia berharap Ling Yan lah yang berjaga di bagian depan rombongan agar ia bisa selalu dekat dengan pemuda itu, akan tetapi ia tidak menyangka kalau Ling Yan akan diberikan tugas untuk memperhatikan Yu Leng dan juga berjaga di bagian belakang rombongan kereta kuda.
Jia Li lalu berjalan ke arah Ling Yan yang sedang duduk di hadapan Yu Leng, namun belum sempat ia berjalan sebanyak 5 langkah, tiba-tiba ada Ling Yan merasakan aura pembunuh yang begitu tersembunyi dari arah pepohonan.
"Menunduk!!!" Ling Yan berteriak sangat keras dan membuat Shuyang, Han Li, dan Yu Leng mengikuti perkataannya, akan tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Jia Li karena teriakan Ling Yan yang begitu tiba-tiba.
5 buah pisau belati terlihat meluncur ke arah mereka berlima namun berhasil mereka hindari, sementara pisau belati yang mengarah ke arah Jia Li, ditahan dengan susah payah oleh Ling Yan menggunakan pedang darah apinya.
"Sial!!! serang mereka." Sebuah teriakan yang lumayan keras terdengar dari dalam pepohonan di ikuti dengan keluarnya para pendekar bertopeng dari dalam hutan.
Ting!!!
__ADS_1
"Sial kita diserang." Teriak beberapa pengawal yang saat ini sedang menahan para perampok yang tiba-tiba saja menyerang.
"Putri Jia Li, berlindung di belakangku." Ucap Ling Yan yang melihat Jia Li sedikit ketakutan dan panik.
Dan berselang beberapa saat, 3 orang pendekar perak bintang 5 yang menggunakan topeng, keluar dari balik pepohonan dan langsung bergerak menyerang.
Han Li dan Shuyang yang melihat itu sontak saja maju menahan serangan mereka, Han Li melawan 2 perampok, dan Shuyang melawan 1 orang perampok lainnya.
Sebenarnya kekuatan Shuyang Yaang berada di tingkat pendekar perak bintang 6 dan Han Li yang berada di tingkat emas bisa dengan mudah mengalahkan lawannya saat ini.
Namun karena ini merupakan pertarungan hidup dan mati yang pertama kali bagi mereka, Shuyang dan Han Li terlihat begitu kaku dan terlihat seperti ragu melayangkan serangan mereka.
Apalagi saat ini keduanya tertekan oleh aura pembunuh yang dimiliki oleh lawan-lawannya itu.
Sementara itu di tempat lain, terlihat Yan Shiki tengah disibukkan oleh 7 orang pendekar jiwa dan satu orang pendekar raja yang menyerangnya.
"Beraninya kalian mengepungku seperti ini." Yan Shiki mengumpat sambil menahan setiap serangan yang mengarah padanya.
Ling Yan yang melihat ketiga rekannya tertekan saat bertarung melawan perampok langsung mengeluarkan pisau belati dari dalam cincin natnya untuk membantu kedua rekannya itu.
Ling Yan pun melemparkan pisau bara api pada salah satu perampok yang di lawan oleh Han Li, tetapi belum sempat pisau itu mengenai sasarannya, tiba-tiba sebuah pisau belati dari arah yang lain mengenai pisau Ling Yan yang membuatnya berubah arah.
Ting!!!!
"Ah bagaimana mungkin?" Ling Yan terlihat kebingungan karena pisau bara api miliknya diselimuti oleh api kehidupan, dan untuk mematahkan serangannya itu diperlukan tenaga dalam yang cukup besar.
Ling Yan lalu mengalihkan pandangan ke arah dari mana pisau tersebut berasal, dan tak lama kemudian, seorang pendekar berkumis tebal dengan wajah seramnya keluar dari balik pepohonan.
"Tak kusangka ada seorang bocah yang cukup jenius yang mengawal rombongan ini." Ujar pendekar itu.
__ADS_1
Ling Yan nampak mengerutkan dahinya saat mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh pendekar itu setara dengan seorang pendekar senior bintang 8 seperti dirinya.
"Kau pasti adalah pemimpin para perampok ini bukan, tapi.... baru kali ini aku menemukan gerombolan perampok yang pemimpinnya sekuat dirimu." Ucap Ling Yan sambung menyuruh Jia Li mundur.
"Hahahaha!!! Perampok? siapa bilang kami adalah perampok, kami adalah anggota dari salah satu pembunuh bayaran terkenal dari kekaisaran Feng yang ditugaskan untuk membunuh gadis muda itu." Perampok itu menunjuk ke arah Jia Li sambil mengeluarkan aura pembunuhnya.
Jia Li yang mendengar itu langsung bergetar hebat karena tekanan aura pembunuh yang ia terima, sementara Yu Leng, ia sebenarnya bisa saja membantu Ling Yan, namun itu pasti akan membuat identitasnya terbuka, jadi ia memilih memastikan keselamatan Jia Li saja dari belakang.
Tadinya gerombolan pembunuh tersebut berencana menghabisi Jia Li dengan sekali serangan, namun rencana mereka tersebut malah digagalkan oleh Ling Yan yang menyadari kehadiran mereka.
Dan karena tidak ada pilihan lain serta posisi mereka yang sudah diketahui, para pembunuh ini terpaksa maju menyerang dan mengepung mereka semua.
Ling Yan yang mendengar perkataan pendekar berkumis tebal itu kan menarik pedangnya.
Ling Yan sebenarnya merasa sedikit heran dan berpikir ada beberapa pihak yang sangat tidak menyukai keluarga Jia setelah melihat ada begitu banyak pendekar jiwa dan bahkan seorang pendekar senior yang ikut menyerang rombongan mereka, pasalnya jika tujuan mereka hanya ingin membunuh Jia Li, maka seharusnya mereka tidak perlu mengirim pembunuh bayaran sebanyak ini.
"Kalau begitu, kami tidak ada pilihan lain selain membunuh kalian." Ucap Ling Yan sambil menarik pedangnya.
"Pedang api membelah samudra." Ling Yan langsung menggunakan teknik pedangnya menyerang pendekar itu.
"Heh, kau tidak akan bisa mengalahkanku bocah tengik." Pendekar tersebut terlihat mengalirkan tenaga dalamnya juga sambil mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan Ling Yan.
Trang!!!!
Karena meremehkan kemampuan Ling Yan, pedang milik perampok tersebut patah karena ketajaman pedang darah api yang Ling Yan miliki.
Untung saja serangan Ling Yan itu tidak sampai mengenai tubuhnya, karena jika saja pedang Ling Yan berhasil melukainya, mungkin saat ini pendekar itu sudah menderita luka luar yang cukup parah.
"Apa... kekuatan apa itu." Pendekar itu bergerak cepat dan mengambil jarak dari Ling Yan karena terkejut dengan kekuatan yang ia miliki.
__ADS_1
"Sial aku meremehkannya." Ucap pendekar itu yang disambut senyuman penuh makna dari Ling Yan.