Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 99 : Keadaan Berbalik


__ADS_3

Persetan!


Liang Zu tak peduli entah siapa nama pemuda di hadapannya, yang terpenting adalah bagaimana agar dapat membungkam mulut nya selamanya.


Sambil mengelap sudut bibirnya dengan sebelah tangan, Liang Zu mengambil nafas besar. Perlahan pria tua itu dapat berpikir dengan tenang, pikirannya lebih jernih dan segar.


"Dia tidak lemah, serangan tadi membuktikan jika ia merupakan petarung suci. Aura miliknya tidak sekuat Song Dayi, jelas bukan petarung suci bintang dua. Namun aku tak tahu seberapa jauh tingkatannya." Hal ini yang menjadi permasalahan. Seharusnya ia dapat melihat tingkatan lawannya, tapi itu tidak berlaku bagi pemuda ini.


Meninggalkan Liang Zu yang masih berpikir, tak jauh dari tempat tersebut terdapat tujuh orang yang saling berhadapan. Tiga di antara mereka adalah Song Dayi, Ciu San dan juga Zhi Long. Ketiganya bahu membahu menghadapi empat pria tua yang memiliki tingkat kultivasi petarung senior bintang delapan sampai dengan sembilan.


Kultivasi Ciu San dan juga Zhi Long berada di bawah keempat orang ini, tapi dengan teknik kombinasi serta bantuan kekuatan Song Dayi, bukan mustahil bagi mereka menghadapi empat pria tua itu.


"Tetua agung, mohon engkau bersedia membantu kami dengan menjadi mata tombak serangan. Dengan teknik kombinasi kami akan mencoba membuka celah, di saat itu engkau harus menghabisi mereka dalam satu kali serangan."


Mendengar kalimat yang keluar dari Dua Kapak Kembar, Song Dayi diam sejenak kemudian mengangguk dengan cepat. "Jika begitu aku akan menyerahkan empat orang itu kepada kalian."


Dua Kapak Kembar mengangguk.


"Adik," Ciu San melirik Zhi Long dengan maksud tertentu.


Zhi Long mengetahui maksud sang kakak, pria bertubuh gempal itu pun mengangguk.


Song Dayi tak tahu apa yang akan dilakukan sepasang manusia gempal di sampingnya. Yang jelas ia hanya mengingat tugasnya dan membiarkan dua saudara ini membuka ruang untuknya.


"Dasar gila, hanya kalian berdua? Apakah kalian pikir kultivasi kalian memadai untuk mengalahkan kami?!" Satu dari empat pria tua tertawa lantang, dia memandang rendah Ciu San dan juga Zhi Long yang sudah bersiap dengan sebuah kapak di tangan mereka.


Hem!


Melihat lawan memandang rendah dia dan kakaknya, Zhi Long mendengus kesal. "Kesombongan adalah pintu gerbang kehancuran."


Setelah berkata demikian ia membawa kapak melesat ke depan dengan cepat. Gerakan yang cepat itu mampu mengubah wajah keempat pria tua yang semula berdiri dengan wajah tenang.


"Adik, kau jangan meningalkan aku." Ciu San menghantam tanah, melesat mengikuti jejak Zhi Long.


Pertarungan dua lawan empat pun berlangsung sengit, meski begitu sangat jelas jika Dua Kapak Kembar tidak dapat memberikan tekanan berarti terhadap keempat lawan yang ada.


Song Dayi masih mengamati, senjata di tangannya juga telah bersiap menunggu celah yang terlihat. Namun sampai beberapa pertukaran celah belum juga nampak.

__ADS_1


"Kombinasi kedua, teknik amarah kapak bermata dua!" Zhi Long berseru dengan lantang, dengan itu gerakan dia saudara itu semakin cepat dan kompleks.


Keempat pria tua tak menyadari perubahan gerakan yang dilakukan Dua Kapak Kembar, mereka terlalu menikmati pertarungan yang masih berada dalam genggaman tangan.


Pertarungan masih berlangsung dan mereka telah melancarkan lebih dari dua puluh serangan. Namun dua pria gempal masih saja bergerak dengan keadaan penuh semangat dan tekad.


Dari sini mereka sadar jika ada yang tak beres. Meski sepasang lawan ini terus bergerak, keduanya sangat jarang menyerang dan terus menghindar. Bahkan gerakan yang dikeluarkan seolah hanya mengarahkan mereka ke posisi yang pria kembar ini inginkan.


Sial!


Mata mereka terbuka lebar, alur pertarungan yang sangat menggugah semangat membuat mereka melupakan keberadaan Song Dayi.


"Mundur!" teriak salah satu pria tua dengan panik.


Ketiga pria tua lain seketika menahan langkah kaki, kemudian berusaha mundur sejauh mungkin.


Namun tak semua bisa mundur, salah satu dari empat pria tua di hadang oleh Song Dayi yang tanpa basa basi mendaratkan tusukan tepat di bagian dada.


Jlebs!


Slash...


Song Dayi mencabut pedang yang menancap di tubuh pria tua, nampak cairan merah mengalir dan terus turun menetes dari ujung bilah tajam tersebut.


"Sekarang jadi adil, tiga lawan tiga." Song Dayi tersenyum, membuat ketiga pria tua menggeram marah.


Namun Song Dayi malah memutar pedangnya dan bergerak maju bersama dengan Dua Kapak Kembar.


Wajah ketiga pria tua nampak berubah pucat, mereka langsung membentangkan senjata dan berusaha menahan serangan sekuat tenaga.


Trank...


Tring...


Dentingan logam yang saling bersentuhan itu membuat pertarungan semakin memanas, walau malam hari terasa dingin tak menghapus keringat yang terus menetes dari kening mereka.


Pertarungan bukan hanya melibatkan mereka, melainkan ribuan orang yang membawa senjata tanpa kenal takut nan ragu. Mereka saling bertarung demi mendapatkan gelar terkuat, demi mengkukuhkan posisi sebagai pemenang.

__ADS_1


Tidak terasa bulan bersinar semakin terang, waktu malam akan segara berakhir dan hari akan berganti. Namun pertarungan di bumi Kota Chen masih terus berlangsung dan tak akan berhenti sampai sang pemenang telah ditentukan.


Malam terasa panjang dan melelahkan. Wajah semua orang nampak kelelahan, mereka telah berjuang dan tubuh mereka memiliki batasan. Namun dengan membawa nama kebenaran mereka saling mengalahkan.


Kedua belah pihak mengklaim menjunjung kebenaran, menbawa keadilan. Namun tidak satupun di antara mereka yang mempedulikan banyaknya korban, semua hanya didasari oleh satu hal. Kekuasaan!


...


"Kakak ketiga, kenapa kau tidak menyerah dan hidup damai bersamaku. Aku juga sebenarnya sangat berat untuk berhadapan denganmu." Pangeran kedelapan--Shao Ziyu, berkata dengan sangat yakin.


Namun mendengar ini Shao Mingrui malah terkekeh. "Adik kedelapan, nampaknya kau harus memperhatikan sekitar. Keadaan telah berubah, jika ada yang harus menyerah, kau adalah orangnya."


Shao Ziyu mengerutkan kening, kemudian perlahan mengedarkan pandangan.


Ekspresi Shao Ziyu perlahan memburuk ketika melihat keadaan di mana pasukannya dibuat kewalahan oleh pasukan Shao Mingrui.


Tidak mungkin!


Shao Ziyu telah mempersiapkan semuanya, dia membawa sembilan puluh persen pasukannya dan itu seharusnya lebih dari cukup untuk menumpas Kota Chen. Namun mengapa terjadi hal seperti ini, mungkinkah ia salah memperkirakan?


Hem!


"Meski dengan pasukanmu kau dapat menahan pasukan ku, Kota Chen tetap akan hancur karena pasukan kakak pertama juga bergerak dari perbatasan utara."


Shao Mingrui hanya tersenyum samar, mengapa ia harus khawatir sedang saudaranya--Zhou Fan telah datang.


Kedatangan Zhou Fan menandakan masalah di perbatasan utara telah diselesaikan. Tidak tahu bagaimana cara pemuda itu melakukan aksinya, yang jelas ia sangat percaya kepada nya.


"Jangan bersikap sok tenang, itu membuatku kesal!" Shao Ziyu mendengus dingin, menyerang Shao Mingrui dengan pedang di tangannya.


Namun Shao Mingrui mampu menghindar, bahkan mengeluarkan serangan balasan.


Trank!


Dua senjata beradu, akan tetapi Shao Mingrui yang lebih siap mampu mendorong mundur Shao Ziyu.


"Pertahanan yang lumayan," ucap Shao Mingrui dengan senyum menghiasi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2