
Pertarungan di depan gerbang sangat mengerikan, beast tingkat tujuh delapan tak pandang bulu menyerang semua orang yang berusaha mendekat.
Gerbang klan telah tertutup, menghindari kemungkinan buruk jikalau ada beast yang mencoba masuk. Dengan jumlah yang hanya sekitar tiga ratusan orang mereka semua baik dari kubu barat ataupun timur bahu membahu berhadapan dengan kawanan beast yang menyerang.
Mereka seolah melupakan perselisihan, bertarung bersama bahkan tak jarang saling menolong.
Sian Lou yang melihat dari jauh tersenyum, mungkin orang berpikir serangan beast adalah suatu yang buruk. Namun tidak sepenuhnya buruk, karena dengan itu ia dapat yakin bila masih ada persatuan di antara klannya.
Di saat bersamaan Ma Teng datang dengan membawa puluhan orang, Sian Ying langsung berseru dari tempatnya. "Patriark Ma, akhirnya kau datang. Cepat bantu kami mengalahkan mereka."
Ma Teng tersenyum, "Tunggu aku patriark, aku datang." Di tangannya telah ada pedang yang merupakan senjata rank mitick.
Sian Ying seolah mendapat sebuah guyuran air di saat cuaca panas, begitupun dengan Sian Xi ataupun lainnya. Namun, beberapa saat Sian Ying menyadari ada yang salah dengan Ma Teng.
"Patriark Ma, apa yang akan kau lakukan?" Bukan melesat mengincar beast tingkat sembilan, tapi malah memburu ke arahnya.
Mata Sian Ying menyipit, tak mau mengambil resiko langsung menjauh dari Ma Teng yang hendak melakukan tebasan.
"Patriark Ma, apa yang kau lakukan?!" Bukan Sian Ying, tapi Patriark She dan juga beberapa orang lainnya ikut menanyakan maksud Ma Teng menyerang Sian Ying.
Bukan menjawab Ma Teng tersenyum sinis, "Dasar bodoh, apakah kurang jelas apa yang aku lakukan?"
Sian Ying sangat murka, tapi di sisi lain dia harus menghadapi kera ekor tinju yang menyerang dengan brutal dan kekuatannya tak lebih lemah darinya.
Ma Teng tertawa sumbang, menengadahkan kepala seolah dia adalah penguasa dari segala penguasa. "Hari ini kalian semua akan binasa!"
Tepat setelah berkata Ma Teng menyebar seluruh orangnya yang memiliki kekuatan tak kurang dari petarung suci bintang delapan.
__ADS_1
"Fisik mereka tidak biasa," ucap Zhou Fan spontan ketika melihat fisik puluhan orang itu tidak seperti manusia pada umumnya.
"Pasti mereka telah menggunakan teknik terlarang itu. Sebuah teknik terlarang yang bisa meningkatkan kekuatan dengan memanfaatkan energi kekuatan beast."
Zhou Fan terbelalak, tak percaya ada hal semacam itu di dunia ini. Jika dibiarkan bukankah akan buruk bagi yang melawan mereka, terlebih yang kekuatannya ada di bawah petarung suci bintang delapan.
"Guru, aku akan mengatasi mereka. Jika tidak turun tangan maka dapat dipastikan akan timbul banyak korban."
Sian Lou memandang sejenak pertarungan yang masih berlangsung, kemudian mengangguk. "Baiklah. Kau urus dua puluh orang itu, sementara aku akan menghadapi Ma Teng."
Sekejap mata Sian Lou tak lagi berada di tempatnya, muncul tiba-tiba di hadapan Ma Teng dan mendaratkan serangan kejutan. Namun Ma Teng yang telah menggunakan teknik terlarang untuk bertransformasi memiliki kewaspadaan begitu tinggi, dia dapat berkelit meski serangan masih menghempaskan tubuhnya.
"Sialan!" Ma Teng menggeram kesal, menengadahkan muka melihat seorang pria tua yang sangat dikenalnya.
"Ka-kau ... !"
"Bagaimana mungkin! Bukankah kau juga petarung dewa bintang tiga, mengapa ...."
Sian Lou hanya diam tak menanggapi keterkejutan Ma Teng. Sementara Patriark Klan Ma itu merubah air mukanya menjadi buruk, "Kau tidak di tingkat petarung dewa bintang tiga. Sialan! Kau menyembunyikan kekuatanmu!"
Meninggalkan Ma Teng yang meraung-raung seperti korban perampokan, Zhou Fan berkelebat mencari setiap orang yang mengenakan pakaian hitam dengan garis merah di kerah lehernya. Mereka adalah orang Klan Ma yang telah bersekutu dengan beast.
Namun tak perlu mencari, karena tanpa diminta dua orang dari mereka datang dengan sendirinya. Mereka tak basa-basi, menyerabg Zhou Fan dengan memanfaatkan kelebihan fisik yang kokoh seperti beast tingkat sembilan.
Zhou Fan menarik mundur kaki kanan, kemudian tangan mendorong pedang menghalau sambil memberi serangan balasan.
Tubuh mereka terhempas, menghantam dinding Klan Sian Barat dengan telak. "Benar seperti dugaanku, fisik mereka boleh meningkat, tapi kekuatan masih sama di tingkat petarung suci bintang delapan."
__ADS_1
Melihat dari tubuh yang terhempas sama sekali tak terluka membuat Zhou Fan mengubah cara bertarungnya, ia mengeluarkan teknik dewa pedang dan menghujam dua pria berpakaian hitam.
Serangan bertubi membuat dua pria kewalahan, mereka jatuh bangun menghalangi gerakan pedang yang sangat liar. Namun memang telah ditetapkan, kekuatan petarung dewa tidak bisa dengan mudah dikalahkan oleh petarung suci bahkan jika itu bintang sembilan.
Zhou Fan terus mendesak dua pria sampai melihat celah dan langsung menghabisi mereka. Dia tak berlama-lama larut dalam kemenangan, karena masih tersisa belasan orang yang masih harus dia urus.
Waktu terus berlalu dan matahari yang semula terasa hangat kian panas dan membakar. Meski demikian, deru pertarungan masih terus berjalan dan belum bisa dipastikan siapa yang akan menang.
Tetesan keringat terlihat membasahi inci demi inci wajah setiap orang yang bertarung mempertahankan daratan dewa dari invasi beast. Bau anyir mulai terasa karena darah menetes tiada habisnya. Permukaan tanah yang semula berwarna coklat, perlahan tapi pasti mulai berubah kemerahan dengan cairan kental yang merupakan buah dari pertarungan.
Hosh... Hosh...
Sian Hui, Sian Xi dan juga Sian Ying masih berhadapan dengan beast tingkat sembilan. Ciu San, Zhi Long turut ambil bagian dan membantu dengan kapak di tangan mereka.
Sian Lou ******* habis Ma Teng, pria tua gagah itu kini babak belur dan telah kehilangan banyak tenaga dalam. Kini kesadarannya tersisa hanya untuk mempertahankan nyawa yang bisa saja hilang tanpa ia sadari.
Namun upayanya untuk menolak kematian bertentangan dengan Sian Lou yang melesat membawa pesan dari raja neraka. "Pengkhianat sepertimu sama sekali tak pantas diampuni."
BLAR!!
Ledakan hebat membuat Sian Lou mundur, ketika kepulan debu perlahan menghilang nampak sesosok berjubah hitam berdiri di hadapan Ma Teng.
"Tuanku!" Ma Teng begitu senang melihat kedatangan sosok yang ia anggap sebagai tuan, tapi pandangan sosok berjubah hitam nampak enggan untuk menganggapnya.
"Dasar payah, aku tak butuh orang lemah sepertimu. Mati saja kau!" Dengan hanya satu kata mulut Ma Teng menyemburkan darah, dia langsung tergeletak dengan nafas tersengal.
"Tu-tuanku, me-mengapa kau ...." Terdapat perasaan tidak terima dalam kepala Ma Teng, tapi sebelum ia dapat mengungkapkan kekecewaan kesadaran tak lagi dapat dipertahankan.
__ADS_1
Melihat kematian Ma Teng sosok berjubah hitam hanya diam, seolah itu sama sekali tak berhubungan dengannya. Dia menurunkan pandangan sejenak, kemudian kembali mengangkatnya. "Orang lemah hanya akan menjadi beban!"