Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 100 : Kemenangan


__ADS_3

Langit perlahan mulai berubah terang, pertarungan yang dimulai malam hari itu masih saja bertahan bahkan ketika matahari telah bersinar.


Desa Moore--tempat terjadinya pertempuran antara pasukan pangeran kedelapan dengan pasukan yang mendukung pangeran ketiga kini berubah menjadi pemakaman masal. Banyak sekali mayat yang tergeletak di antara bangunan yang hancur berantakan.


Hem!


"Tak ku sangka selain tiga petarung suci, masih ada satu lagi petarung suci. Mungkinkah pangeran ketiga mendapatkan bantuan dari Kekaisaran Han?" Patriark Klan Liang--Liang Zu sudah tak bisa meneruskan pertarungan, ia harus mengakui jika pemuda bertombak itu lebih kuat dibandingkan dengannya.


Tak salah jika ia berpikir Zhou Fan berasal dari Kekaisaran Han, karena mencapai petarung suci diusia yang sangat muda. Bahkan di Kekaisaran Han bakat seperti itu sangatlah langka.


"Aku harus melarikan diri dari sini, entah bagaimana nasib Klan Liang jika aku mati." Liang Zu mulai berpikir untuk kabur, dia tak lagi memikirkan tawaran pangeran kedelapan ataupun hubungan di antara mereka.


Dalam posisi seperti ini, keselamatan adalah yang utama. Apa itu kerjasama, apa itu kepercayaan dan kesetiaan. Di hadapan kematian, semua akan pudar.


Hubungan hanya berlandaskan keuntungan, tidak ada untung untuk apa tetap dipertahankan. Lebih baik segera pergi dan menerima kerugian sebelum kerugian semakin tak terbayangkan.


Perlahan Liang Zu melipat tangan ke belakang, dia mengeluarkan token teleportasi. Ketika token telah berada dalam genggaman tangan, senyum pun terpancar.


Namun saat tangannya hendak mengoperasikan token tersebut, sebuah serangan menghantam tubuhnya.


Bang!


Liang Zu terlempar, tubuhnya jatuh terseret beberapa langkah.


"Uhuk... " Pria tua itu tak berusaha bangkit, dia melirik token di tangan kanannya.


Akan tetapi sebuah kaki menyepak token tersebut hingga hancur berkeping-keping.


Wajah Liang Zu berubah pucat, ia pun perlahan menengadah ke atas.


"..."


Melihat Zhou Fan berada tepat di dekatnya, pria tua itu menghela nafas berat. "Kau dapat membunuhku," ucapnya sembari merentangkan tangan, seolah pasrah dengan kematian.

__ADS_1


Zhou Fan menyipitkan mata, bukankah beberapa saat lalu keinginan untuk hidup pria ini sangat tinggi, mengapa tiba-tiba hilang. Sangat mencurigakan!


Namun Zhou Fan tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja, ia mengayunkan tombak dan bersiap memenggal kepala Liang Zu.


"Jika kematian yang kau harapkan, aku akan mengabulkan." Zhou Fan menebaskan tombak dan mengincar leher Liang Zu.


Liang Zu tersenyum samar, tersirat sebuah rencana yang tidak rasional. "Jika kau menginginkan nyawaku, walau aku mati juga tidak akan membiarkanmu hidup."


Dengan itu Liang Zu menghantamkan sebuah kantong berwarna hitam ke permukaan tanah.


BLAR!


Ledakan cukup memekakkan telinga, membuat pertarungan di sekitar berhenti untuk beberapa saat.


"Tuan muda... " Dua Kapak Kembar berseru terkejut, ledakan yang sangat dahsyat, mungkinkah Zhou Fan dapat selamat?


Mereka tak tahu apakah tuan muda mereka dapat bertahan dari ledakan.


Asap masih menutup pandangan, sehingga tak ada yang tahu nasib orang yang ada di sekitar kejadian. Namun perlahan asap hitam itu mekudar, memperlihatkan tubuh pria tua yang bercecer dengan kondisi mengenaskan.


Sementara dalam jarak belasan langkah, seorang pemuda berjalan dengan seekor serigala berbulu merah.


Melihat sosok tersebut, Dua Kapak Kembar tersenyum. Mereka benar, bagaimana mungkin tuan muda dikalahkan begitu mudah. Musuh memainkan cara licik, tuan muda mereka telah berada satu langkah di depan. Itu sebabnya mereka bersedia mengikuti nya.


Tanggapan berbeda ditunjukkan oleh beberapa pria tua yang tengah bertarung dengan Song Dayi. Wajah mereka seketika pucat melihat mayat Patriark Liang yang hanya tersisa daging berserakan.


Sungguh mengerikan!


...


Waktu terus berlalu, matahari telah bersinar terik. Pertarungan telah usai, pasukan Kota Chen sukses keluar sebagai pemenang. Namun sangat disayangkan, beberapa orang termasuk pangeran kedelapan melarikan diri.


"Bagaimana bisa pangeran kedelapan melarikan diri?" Patriark Song bertanya kepada beberapa tokoh penting dalam pasukan.

__ADS_1


Seorang pria tua bersuara, "Ini semua salahku, Kasim Yuan terlalu kuat. Aku yang hanya petarung suci bintang satu tak mampu menghadapinya. Dia memanfaatkan kelengahan ku dan bergerak cepat menghilang dengan token teleportasi. Sebelum itu ia tak lupa membawa pangeran kedelapan, bahkan pangeran ketiga pun terluka karena nya."


Pria tua itu adalah Patriark Klan Hati Surgawi. Dia merasa bersalah karena kelalaiannya membuat musuh melarikan diri. Namun sungguh itu bukan niat dalam dirinya.


"Ini juga bukan kesalahan patriark, meskipun pangeran kedelapan berhasil melarikan diri. Kekuatan pasukannya sudah pasti melemah, ini tetap menjadi kemenangan untuk kita." Zhou Fan mencoba menengahi.


Patriark Song sejenak berpikir, memang benar yang dikatakan pemuda di hadapannya ini. Pasukan pangeran kedelapan yang berhasil melarikan diri paling hanya beberapa puluh orang saja, setidaknya dengan begini kursi kaisar telah berada dalam genggaman Shao Mingrui--pangeran ketiga.


"Selamat keponakan, engkau akan menjadi kaisar selanjutnya." Patriark Song menepuk pundak Shao Mingrui.


Shao Mingrui tersenyum, samar-samar ia mengangguk. "Ini adalah kemenangan kita semua, tanpa kalian semua ini tidak akan pernah tercapai."


Semua orang mengangguk dan berseru ria. Siang itu adalah hari besar bagi mereka, terkhusus Shao Mingrui yang memantapkan diri sebagai putra mahkota.


"Saudaraku, kau telah banyak membantuku. Jika ada suatu yang bisa aku lakukan, aku tak akan ragu melakukannya. Tentu saja selama aku mampu." Shao Mingrui berjalan mendekati Zhou Fan. Tanpa nya, sudah dapat dipastikan tak akan menapaki jalan yang ia lalui saat ini.


Jika ada yang bertanya siapa yang paling berjasa, Shao Mingrui tak akan ragu mengatakan bahwa itu adalah Zhou Fan--saudaranya. Semua orang harus mengetahui betapa besar peranan pemuda itu dalam pencapaiannya.


Satu bulan berlalu dan kabar kemenangan Shao Mingrui telah menyebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Shao.


Banyak yang tak menyangka jika yang akan meneruskan tahkta adalah pangeran ketiga, padahal sebelumnya yang paling berkemungkinan adalah pangeran pertama dan juga pangeran kedelapan.


Kabar tentang saudara pangeran ketiga yang datang bak pahlawan dan bertarung laksana jendral besar membuat semua orang menjulukinya sebagai Sang Legenda. Namun tak ada seorang pun yang tahu siapa sebenarnya Sang Legenda itu.


Di sebuah ruangan yang lumayan besar, beberapa orang tengah berkumpul. Salah satu di antara mereka adalah Zhou Fan.


"Ini adalah kemenangan besar, semua orang harus merayakannya." Seorang wanita berkata di tengah keheningan yang melanda. Wajahnya yang bulat dengan poni tipis menutup kening, menjadi sorotan seluruh orang dalam ruangan.


Dia adalah Lan Ning, putri tertua kepala Suku Mantis.


"Tidak buru-buru, pasta yang sesungguhnya adalah saat di mana Mingrui telah disahkan sebagai pewaris takhta." Zhou Fan berkata, membuat semua orang memgangguk.


Lan Ning hanya bisa tersenyum kecut, "Tapi setidaknya kita dapat berpesta malam ini, tidak mungkin setelah kembali ke Kota Hubei hanya diam saja tak melakukan beberapa perayaan."

__ADS_1


"Yang dikatakan Ning'er tidak salah. Kita dapat berpesta malam ini, dengan makan malam dan tentu saja beberapa guci arak itu sudah lebih dari cukup." Jendral Besar Cheng berkata sambil tertawa.


Shao Mingrui hanya mengangguk pasrah mendengar kalimat ayah mertuanya, lagi pula tiada salahnya sedikit berpesta merayakannya kemenangan walau sudah terlambat satu bulan.


__ADS_2