Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 156 : Keluarga Chen Benar-benar Tiada


__ADS_3

Zhou Fan baru saja mengumpulkan cincin penyimpanan milik ketiga lawan yang telah ia kalahkan, tapi bersamaan dengan itu suara tapak kaki bergemuruh datang dari arah kediaman keluarga Chen. Semua mata mengalihkan pandangan, memandang puluhan orang berpakaian laksana penjaga kota.


Di depan sendiri seorang pria tiga puluhan tahun berdiri dengan pedang di tangannya. Ekspresinya nampak bersemangat, tapi begitu sampai dan melihat tiga tubuh tergeletak wajahnya menjadi suram.


Ia mendekat, bibirnya gemetar. "Ayah ... Kakek ... " Dia adalah Chen Beixian.


"Siapa yang melakukannya!" Sambil berdiri dia mengibaskan pedang. Tubuhnya berputar mencari keberadaan sosok yang telah menewaskan kakek serta ayahnya.


Seluruh penduduk diam, tapi mata mereka tertuju pada seorang pria muda yang berdiri dengan seekor serigala di sampingnya.


Mata Chen Beixian menggelap marah, telunjuk terangkat mulut memaki. "Bangsat, kau orangnya!"


"Aku akan membunuhmu!" Dengan puluhan orang di belakangnya, Chen Beixian menyerang.


Namun hanya dengan Zhou Jim, Zhou Fan sama sekali tidak membutuhkan bantuan. Bahkan sendiri pun ia dapat mengalahkan mereka semua. Bukan sombong, tapi itu adalah kenyataan.


Trank!


Dua pedang beradu, dari dekat wajah Chen Beixian nampak sangat murka. Namun Zhou Fan sangat tenang, bahkan menunjukkan lengkungan senyum samar yang memabukkan.


"Tiga pria tua itu juga berkata akan membunuhku, tapi sayang mereka malah terbunuh di tanganku." Zhou Fan mendorong pedang darah malam, menghempas tubuh Chen Beixian.


Chen Beixian sangat marah, kambali bangkit dan langsung menyerang.


Puluhan penjaga menghadapi Zhou Jim, meski sendiri serigala itu dengan mudah menghabisi lawan. Cakar yang panjang serta gigi yang runcing dan tajam seolah menjadi momok menakutkan bagi sekelompok penjaga.


Awwo...


Zhou Jim melolong panjang, tepat setelah itu ia melesat cepat menerkam puluhan penjaga.


Kembali ke tempat Zhou Fan yang nampak sangat mudah mengalahkan Chen Beixian. Dengan kultivasi kaisar bintang tujuh memang ia merupakan generasi yang tidak berkompetensi. Namun karena latar belakang keluarga Chen ia menjadi angkuh dan bertindak semena-mena.


Chen Beixian terus bangkit walau tubuhnya sudah lebam, bahkan darah mengalir di antara dua lubang hidungnya.


"Bunuh aku, kau telah membunuh ayah serta kakekku. Kau telah menghancurkan keluarga Chen. Tak ada artinya aku hidup." Chen Beixian bangkit dan menerjang tanpa senjata.


Akan tetapi bukan Zhou Fan jika mengangguki permintaan Chen Beixian begitu mudah.

__ADS_1


Plak!


Zhou Fan mencekal tangan Chen Beixian, memutar tubuh membawa seperti sampah. Menyeretnya menuju penginapan. "Saudaraku ingin bertemu denganmu, sebelum itu jangan berpikir untuk mati."


Zhou Jim yang melihat Zhou Fan pergi langsung melesat mengikutinya.


Setelah kepergian Zhou Fan serta Zhou Jim, penduduk mulai bisa bernafas seperti biasa. Beberapa waktu lalu mereka harus menahan nafas karena kejadian di depan mata sungguh di luar dugaan.


Dengan hanya seekor serigala keluarga Chen binasa di tangan seorang pemuda. Pemuda yang bahkan tak diketahui jelas identitasnya. Ini akan mengguncang tatanan Kota Dianlan.


Sementara di penginapan saat Zhou Fan membawa masuk Chen Beixian dengan menyeretnya sontak membuat banyak pasang mata memperhatikannya. Namun di antara mereka tak ada yang berani bertindak karena melihat wajah Zhou Fan yang sangat menakutkan.


Zhou Fan naik ke lantai dua, sementara pengunjung mulai membicarakan apa yang terjadi.


"Dia membawa tuan muda Chen, bahkan memperlakukannya begitu buruk. Apakah ia tak takut akan kekuatan keluarga Chen?" Seorang pria paruh baya mengangkat tangan sambil mengedikkan bahu.


Seorang pria tua masuk ke dalam penginapan, "Takut apanya, bahkan sekarang keluarga Chen telah tiada. Dengan ditemani serigala nya, ia membantai keluarga Chen. Bahkan leluhur kekuarga Chen yang katanya berada di tingkat petarung suci bintang empat takluk di tangannya."


Sontak semua orang mematung mendengar perkataan pria tua, mereka ingin menyangkal dan tak percaya. Namun melihat tuan muda Chen diseret beberapa saat lalu, menguatkan perkataan pria tua.


Tok tok tok...


Langkah kaki terdengar mendekat, ketika pintu terbuka mata Zhou Fan menyipit melihat Yon Cun berdiri di hadapannya. Bukan masalah ia yang berada di ruangan Miao Ling, tapi wajahnya yang lebam bekas luka pukulan.


Zhou Fan baru saja akan bertanya, tapi Yin Cun mengangkat tangan. "Jangan jangan, jangan tanya." Yin Cun berbalik dan membuka pintu lebih lebar, nampak hela nafas pasrah terdengar.


Miao Ling berjalan mendekat, "Saudara Zhou, kau sudah kembali?" tanya wanita itu tanpa menghiraukan keberadaan Yin Cun.


Zhou Fan tak tahu apa yang terjadi terhadap mereka, tapi bukan itu masalah utama, sekarang yang terpenting adalah Chen Beixian.


"Aku memiliki kejutan untuk kalian." Zhou Fan mundur satu langkah, sehingga Miao Ling serta Yin Cun berjalan ke luar ruangan.


Ketika baru keluar, mereka melihat seonggok tubuh yang terbaring tak sadarkan diri. Yin Cun menoleh kepada Zhou Fan, seolah bertanya apa maksud kejutan itu.


Namun Zhou Fan tak bicara, mengayunkan kaki dan tubuh yang terbaring itu berbalik.


Mata Yin Cun memerah marah, begitupun dengan Miao Ling yang nampak sangat dendam.

__ADS_1


"Aku akan menyerahkannya kepada kalian, terserah akan kalian apakan." Zhou Fan berbalik, kemudian kembali ke ruangannya.


Yin Cun melirik Miao Ling, "Ling'er, maafkan aku. Sungguh aku tak akan mengulanginya."


Miao Ling mendengus, kemudian menunjuk Chen Beixian yang masih tergeletak di depan ruangan mereka. "Bawa dia masuk ke dalam," pintanya.


Yin Cun meraih kerah pakaian Chen Beixian, menariknya ke dalam. Namun sebelum benar-benar masuk ia berhenti, "Kau memaafkan aku?"


Miao Ling kembali mendengus, kemudian masuk ke dalam ruangan. "Cepatlah masuk atau ...."


Yin Cun dengan cepat masuk sambil menarik tubuh Chen Beixian.


Setelah beberapa waktu, Yin Cun keluar ruangan, dengan itu Miao Ling mengikutinya dari belakang. Zhou Fan juga keluar, bersamaan dengan Dua Kapak Kembar.


Mereka turun ke lantai satu dan seperti sebelumnya, perhatian semua orang teralihkan oleh kedatangan mereka. Sebenarnya bukan mereka, melainkan hanya Zhou Fan seorang.


"Kita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan," ucap Zhou Fan yang tak menghiraukan tatapan semua pengunjung.


Mereka akhirnya berjalan menuju ke sebuah meja dan duduk di sana.


Pelayan yang datang nampak takut dan ragu, bahkan pelayan itu dengan sengaja menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan meja.


Zhou Fan sendiri masih penasaran dengan wajah Yin Cu, semakin memperhatikan ia semakin ingin bertanya. "Ada apa dengan wajahmu?"


Yin Cun menengadahkan kepala, memandang Zhou Fan. "Ah... I-ini ...."


"Hem... Ada apa dengan wajahmu tuan muda Yin Cun? Apakah kau baru saja berlatih tanding?" Ciu San mengelus dagu. Dia bertanya tapi sudah menerka apa yang terjadi terhadap Yin Cun.


Yin Cun melirik Ciu San dengan kesal. Ingin sekali dia memberi pria bertubuh gempal itu pelajaran. "Jika bukan karena saranmu, apakah aku akan dipukul oleh Ling'er?!" batinnya dengan geram.


"Hem... Ya, tapi bukan berlatih, bertarung dengan seekor beruang." Yin Cun tentu tak mau mengaku jika itu karena Miao Ling yang marah kepadanya.


Namun ia salah memilih kata, membuat mata Miao Ling berangsur kelam.


Tubuh Yin Cun gemetar, tenggorokan terasa kering.


Glek!

__ADS_1


__ADS_2