Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 172 : Menelusuri Padang Pasir Sagara


__ADS_3

"Junior, kenapa tidak menetap beberapa waktu di sini?" Tuan Kota mengantar Zhou Fan dan juga Dua Kapak Kembar ke depan gerbang kediaman.


Zhou Fan tersenyum menanggapi ucapan Tuan Kota. "Engkau tak perlu khawatir, Tuan Kota. Lagi pula gelombang serangan beast telah berakhir."


Tuan Kota menggaruk tengkuk kepala, tersenyum canggung merasa tak enak. "Bukan maksudku untuk memanfaatkanmu junior, tapi sungguh Kota Zi berutang kepadamu."


"Baiklah Tuan Kota, kami akan pergi." Zhou Fan membalikkan badan, pergi meninggalkan kediaman Tuan Kota. Lagi pula ia telah menerima hadiah sepuluh ribu uang kertas, apa yang harus ia lakukan selain pergi, dia harus melanjutkan perjalanan.


Zhou Fan tahu bahwa maksud Tuan Kota menahannya karena khawatir dengan serangan gelombang beast. Pada gelombang kesepuluh Tuan Kota serta penduduk kota sudah kewalahan, jika terjadi serangan lagi mungkin Kota Zi akan hancur tak bersisa.


Hari demi hari berlalu dan Zhou Fan sekarang berada di wilayah selatan Kota Zi, wilayah yang cukup tandus dengan padang pasir yang luas.


"Tuan muda, mungkinkah pak tua itu menipu? Sama sekali tak ada tanda tanda tanaman langka di sekitar padang pasir ini." Ciu San mengedarkan pandangan dan sejauh mata memandang hanya ada hamparan pasir kekuningan yang sangat panas membakar kakinya.


Zhou Fan mengelap keringat di keningnya, sementara kedua mata tak berhenti mencari. Namun telah satu hari ia berada di wilayah padang pasir sagara, sama sekali tak menemukan keberadaan teratai api tujuh warna.


Sebelum ini Zhou Fan tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai pertapa. Dia merupakan seorang pria tua yang dianggap gila dan terus mengatakan tentang sumber daya langka yang tumbuh di tengah padang pasir sagara.


Tak ada yang percaya dengan ucapan pria tua itu, sampai Zhou Fan tertarik dengan sumber daya alam tersebut dan pertapa tua menceritakan tentang keberadaan teratai api tujuh warna.


Meski setiap kata yang keluar dari mulut pertapa tua tidak diketahui jelas kebenarannya. Entah mengapa Zhou Fan ingin memastikan sendiri, ia pun menjelajahi padang pasir sagara dengan petunjuk petunjuk yang keluar dari mulut pertapa tua.


"Kita cari beberapa lama lagi, setelah itu kita akan pergi walau tak menemukan apapun." Zhou Fan berpikir padang pasir sagara sangat luas, mungkin ia hanya belum menemukan tempat tersebut.


Luas Padang pasir sagara hampir seperempat wilayah kota Zi dan mereka baru menelusuri setengahnya saja. Terlalu cepat mengatakan tidak sebelum mereka menyusuri setiap jengkal padang pasir sagara.


Zhou Fan kembali berjalan, melangkah kemana kaki membawanya. Zhi Long dan juga Ciu San mengikuti dari belakang, begitupun Zhou Jim yang tak berhenti mengendus aroma di sekitar.


Ambisi Zhou Fan untuk menemukan teratai api tujuh warna bukan alasan, tanaman herbal tersebut merupakan tanaman yang sangat dibutuhkan dan menjadi bahan dasar dalam membuat pill jiwa selain intisari beast.


Dalam cincin penyimpanannya sudah ada intisari beast yang telah dimurnikan, jika ia berhasil mendapatkan teratai api tujuh warna ia akan dapat membuat pill jiwa. Tentu saja itu akan mendongkrak kultivasi nya dan akan naik secara signifikan.


Kesempatan seperti ini mana mungkin ia lewatkan, meski hanya harapan juga tak masalah selama sudah berusaha.


Waktu demi waktu berlalu, Zhou Fan yang mencari mulai merasa ragu. Ketika dia hendak kembali dan tak lagi mencari, sekelompok orang datang dengan membawa kuda. Pakaian compang-camping dengan rambut gimbal serta senjata di pinggang, mereka nampak menyeramkan.

__ADS_1


"Kalian bertiga telah memasuki kawasan kami--bandit gurun! Jika ingin selamat lepaskan cincin penyimpanan dan serahkan kepada kami." Pria yang berada di baris paling depan menodongkan pedang sambil mengeluarkan ancaman.


Zhou Fan dalam perasaan buruk setelah tak menemukan keberadaan teratai api tujuh warna. Namun para bandit ini datang menghadang sambil mengarahkan senjata kepadanya, sontak hal itu memancing amarahnya.


Tangan mengepal, rahang mengeras. Mulut enggan berkata, mengabaikan ucapan pria tua.


Pemimpin bandit geram melihat ucapannya hanya dianggap sebagai bualan. Dengan pakaian sangar nan menyeramkan apakah begini sikap para korbannya, bukankah seharusnya mereka bertekuk lutut sambil memohon ampun?


"Cepat serahkan!" Pemimpin bandit turun dari kuda, berjalan masih dengan pedang menodong ke depan.


Zhou Fan bergeming, sementara Dua Kapak Kembar telah mengeluarkan kapak bersiap menyerang. Mereka menunggu perintah, hanya satu kata mereka akan seketika menerjang dan membantai belasan bandit yang datang.


Namun Zhou Fan mengangkat sebelah tangan, membuat Ciu San serta Zhi Long mengerutkan kening heran.


"Biar aku yang hadapi," ucap Zhou Fan tanpa mengeluarkan senjata, akan bertarung dengan tangan kosong.


Pemimpin bandit yang mendengar ucapan Zhou Fan memicingkan mata, kemudian tertawa sambil memandang rekan di belakangnya. "Hahaha... Dia sudah gila karena frustasi, satu lawan lima belas, sungguh cari mati."


Belasan bandit itu pun tertawa, merasa konyol dengan apa yang dikatakan Zhou Fan.


Hem...


Zhou Fan mendengus, melesat mendaratkan tinju.


Pemimpin bandit terkejut sampai membelalakkan mata. Baru satu kedipan Zhou Fan telah berada di hadapannya, tangan melayang memukul wajahnya.


Bang!


Tubuh gempal itu terhempas puluhan langkah jauhnya, terseret di atas pasir panas yang membakar.


Pemimpin bandit bangkit, pakaian bagian belakang sobek karena tak kuasa menahan goresan pasir yang panas. Wajahnya lebam, bekas pukulan Zhou Fan.


"Sial! Kau menyerang diam-diam, jika tidak mana mungkin aku -- "


Bang!

__ADS_1


Bang!


Bang!


Belum sempat pemimpin bandit menyelesaikan perkataannya, satu dua bahkan tiga tinju bersarang di tubuhnya. Mulai dari perut, dada bahkan wajah mendapat pukulan. Sontak membuatnya kembali terhempas belasan langkah.


Houg... Houg...


Dari mulut pemimpin bandit merembes darah segar yang tak berhenti keluar, meski begitu pria tua itu tetap berusaha bangkit dan mengeratkan pedang di tangannya.


"Bangsat, apakah kalian hanya akan diam dan menyaksikan?!" lontar pemimpin bandit kepada belasan anak buahnya. Mereka langsung mengeluarkan senjata dan berdiri di hadapan sang pemimpin.


Zhou Fan menarik sedikit sudut bibirnya. Semakin ramai maka akan semakin mengasikkan. Salahkan saja mereka yang datang pada saat tidak tepat, di saat ia tengah berada dalam situasi buruk mereka datang hendak merampok. Bukan salahnya bertindak kejam.


Wush...


Zhou Fan melesat, menburu dengan dua kepalan tinju yang sangat mematikan.


Satu dua pukulan bandit gurun terlempar. Tak satupun dari mereka yang berhasil mendaratkan serangan di tubuh Zhou Fan, pakaian masih sempurna seperti sebelumnya.


Zhou Fan sama sekali tak memberikan meteka ampun, lima belas orang dibuat pontang panting menghadapi serangannya.


Pemimpin bandit yang melihat keadaan tidak sesuai rencana menyelinap dan naik ke atas kuda. Namun yang tidak ia ketahui, mata Zhou Fan selalu mengintai laksana burung elang yang telah mengunci sasarannya.


Zhou Fan melesat, mencengkeram pakaian pemimpin bandit dan membanting nya dengan keras.


Blam!


Permukaan pasir terguncang, wajah pemimpin bandit takut bukan kepalang.


"Jangan berpikir untuk lari!"


***


Permisi, mau bantu promosi karya teman..

__ADS_1


Yang mau cari referensi bacaan, bisa mampir ke cersil "Pendekar Senjata Keramat" cerita silat bernuansa lokal. Jan lupa mampir ya para reader yang budiman 👉👈😙


__ADS_2