Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 98 : Namaku Adalah Zhou Fan!


__ADS_3

Bruk!


Zhou Fan menurunkan tubuh pangeran pertama yang masih dalam keadaan pingsan. Saat ini ia berada di kediaman klan Song, jadi dari perbatasan utara ia membawa pangeran pertama.


Namun tentu saja bukan dirinya yang menggendong, itu adalah tugas Zhou Jim.


"Tuan muda, akhirnya engkau kembali." Dua pria paruh baya menyambut kedatangannya dengan suka cita.


Tanpa melihat wajah mereka, Zhou Fan sudah tahu jika dua pria paruh baya ini adalah Ciu San dan juga Zhi Long.


"Kedatangan tuan muda sangat pas, baru saja pasukan bantuan berangkat menuju perbatasan selatan."


Mendengar kalimat Ciu San, mamata Zhou Fan menyipit. "Lantas mengapa kalian masih di sini?"


"Kami menunggumu, tuan muda. Meski kami yakin akan kemampuan tuan muda, tetap saja tidak tenang sebelum memastikan bahwa engkau kembali dengan selamat." Ciu San kembali berkata, membuat Zhi Long menyikut perut sang kakak.


Ciu San menggaruk tengkuk kepalanya, kemudian diam tak bicara.


"Tuan muda, keadaan perbatasan bagian selatan masih belum dapat dipastikan. Kedua kubu masing-masing memiliki tiga petarung senior, hal inilah yang membuat pertarungan berjalan seimbang. Namun pihak pangeran kedelapan lebih unggul jumlah orang, meski tidak terlalu berpengaruh akan berbeda dalam pertarungan jangka panjang."


Zhou Fan mangut mangut mendengar penjelasan Zhi Long, dia kemudian melirik ke belakang. "Kalian bawa pangeran pertama ke ruangan bawah tanah, pastikan sebelum itu memakaikan cincin pengunci kuktivasi kepadanya."


Dua pasang mata pria paruh baya terbelalak sempurna, perlahan mereka memandang sesuatu di balik tempat Zhou Fan berdiri.


Ketika memastikan bahwa itu adalah pangeran pertama, wajah mereka nampak tak percaya. "Tu -- tuan muda, engkau berhasil menangkap pangeran pertama?!"


Melihat ekspresi dua pria paruh baya ini, Zhou Fan tersenyum. "Apakah ada yang aneh?" tanyanya sembari mengangkat sedikit alisnya.


Serentak Ciu San dan juga Zhi Long menggeleng.


Namun dalam benak mereka masih bertanya bagaimana cara Zhou Fan mendapatkan pangeran pertama. Keduanya sangat mengingat jelas pasukan yang berada di belakang pangeran pertama, terlebih ada beberapa petarung suci dan banyak petarung senior.


Mereka tak tahu harus berjata apa, yang jelas tuan muda mereka ini sangat luar biasa!


...


Ini adalah pertarungan skala besar yang sesungguhnya!


Zhou Fan memandang bangunan bangunan yang hancur saat akan memasuki wilayah perbatasan selatan.

__ADS_1


Ia memperkirakan jumlah pasukan pangeran kedelapan mencapai ribuan orang, dengan pasukan yang teramat besar tidak heran bila mana mendatangkan kehancuran.


Blar!


Terlihat sinar perak yang membelah langit malam, hal itu sontak membuat dua mata Zhou Fan terbelalak.


Serangan di langit itu nampak sangat mengerikan. Tidak salah lagi jika itu adalah serangan dari seorang petarung suci.


"Jurus yang mampu membelah langit, di sana pasti tengah berlangsung pertarungan besar." Zhou Fan menunggang Zhou Jim, melesat cepat menuju perbatasan selatan.


Zhou Fan tidak hanya berdua bersama Zhou Jim, melainkan ada juga Dua Kapak Kembar yang selalu mengikuti langkah kakinya.


Tak lama mereka telah memasuki wilayah perbatasan selatan, dapat terlihat ribuan orang berbeda kubu saling menyerang.


Dentingan juga ledakan tak dapat lagi dielakkan, semua semakin jelas kala jarak semakin dekat.


Zhou Fan mengedarkan pandangan. Ketika melihat seorang pria tua tengah berdiri kewalahan menghadapi lima orang, tangannya bertahap mengepal. "Tetua agung, aku harus membantunya!"


...


"Bajingan tak tahu malu! Sendiri tidak bisa bertiga, bertiga tidak bisa berlima. Aku tak menyangka kau bisa naik menjadi petarung suci bintang satu." Song Dayi berkata dengan murka, sekarang dia berada dalam kepungan lima lawan.


Namun umpatan Song Dayi tidak dianggap serius oleh Liang Zu--Patriark Klan Liang. Pria tua yang baru saja mencapai tingkat petarung suci itu malah tertawa.


Song Dayi mendengus, dia mengutuk Patriark Klan Liang yang sungguh tidak tahu malu. Walau dalam pertempuran semua hal diperbolehkan, tetap saja baginya ini tidak benar.


Pria tua itu berpikir, mungkin ia dapat bertahan jika masih dengan dua tiga orang. Namun menghadapi lima orang sekaligus itu bukan perkara gampang, bahkan dapat dikatakan mustahil dalam kondisinya sekarang.


"Tetua agung, apakah engkau membutuhkan bantuan?"


Song Dayi yang sempat memejamkan mata terkejut mendengar suara yang datang dari atas, ia pun menengadahkan kepala dan menjumpai tiga orang turun dari atas.


"Akhirnya kau datang!"


Zhou Fan menelisik luka yang ada pada tubuh Song Dayi, nampaknya pria tua ini sudah sangat berusaha. Menghadapi lima orang sedang paling lemah di antara mereka berada pada tingkat petarung senior bintang delapan, tentu bukan suatu yang dapat dilakukan sembarang orang.


Terlebih satu dari kelima orang ini berada pada tingkat petarung suci bintang satu. Dapat bertahan sampai pada titik ini sudah merupakan bukti ketangguhan seorang tetua agung Klan Song.


Berbeda dengan ekspresi Song Dayi yang seperti mendapat sebuah berkah, wajah kelima orang nampak menghitam tapi di sisi lain juga penasaran.

__ADS_1


Siapa pria muda ini sampai tokoh terkemuka seperti Song Dayi begitu bersemangat saat melihat kedatangannya. Apa identitasnya dan yang terpenting seberapa kuat dia.


"Tetua agung, serahkan pria tua itu kepadaku. Engkau bersama dengan Ciu San dan juga Zhi Long hadapi keempat orang lainnya." Telunjuk Zhou Fan mengarah pada Liang Zu.


Perkataan yang begitu percaya diri membuat telinga Liang Zu terasa terbakar. Dengan tatapan penuh kemarahan dia memandang Zhou Fan. "Bocah bau, apa yang kau katakan. Coba ulangi, aku tidak terlalu dengar."


Zhou Fan menyipitkan mata, setelah mengekuarkan sebuah tombak dari cincin penyimpanan dia langsung menerjang.


Whut...


BLAR!


Dari serangan Zhou Fan, permukaan tanah membekas sebuah sayatan memanjang. Sementara Liang Zu telah melompat beberapa langkah ke belakang.


Meski serangan pertama tidak tepat sasaran, belum tentu serangan kedua. Dengan jurus 'tombak naga' pemuda itu menghujam tubuh pria tua yang mengenakan pakaian merah tersebut.


Bruak!


Tubuh Liang Zu terhempas puluhan langkah.


Namun Patriark Klan Liang itu kembali bangkit dan sorot matanya memaparkan sinar kemurkaan. Dia sangat geram sampai wajahnya merah terbakar.


"Bocah bau, aku akan membunuhmu!" Dengan pedang di tangannya, Liang Zu menyerang Zhou Fan.


Namun serangan tersebut dapat dipatahoan oleh Zhou Fan dengan membentangkan tombak.


Berpikir serangan telah berakhir, itu salah besar. Setelah mengetahui serangannya berhasil di tahan, Liang Zu menarik tengan dan kembali menebaskan pedang.


Zhou Fan memutar tombak, sekali lagi menghalau serangan yang sudah tepat berada di depan wajahnya.


Sling...


Tombak menghindar, membuat pedang kehilangan tempat bersandar. Liang Zu yang tak mengira Zhou Fan akan menurunkan tombak belum sempat menarik kembali pedang di tangan, membuat tubuhnya condong ke depan.


Memanfaatkan hal ini Zhou Fan mengangkat kaki kanan, menyepak tanpa peringatan.


Bang!


Tubuh pria tua itu sekali lagi terlempar.

__ADS_1


Zhou Fan bergeming di tempatnya, memandang Liang Zu yang berusaha bangkit dengan sisa tenaga.


"Jangan panggil aku bocah, namaku Zhou Fan!"


__ADS_2