Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 93 : Menyaksikan dari Kejauhan


__ADS_3

Ketika Zhou Fan keluar, dia dapat melihat jika Ciu San dan juga Zhi Long telah berada di sana. Tak ketinggalan serigalanya--Zuou Jim di samping mereka.


"Jendral, seluruh kelompok telah berkumpul setelah melihat tanda di langit. Apakah ada hal penting sampai memerintahkan kami semua untuk berkumpul?" Seorang pria tua bertanya sembari mengangkat tangannya.


Zhou Fan menelisik puluhan orang di depannya, jika di hitung pasukan yang dia bawa tersisa lima puluhan orang.


"Jendral, di mana penolong yang menolong kami sebelumnya?" tanya salah satu dari pasukan yang ada.


"Mereka telah pergi, dan keberadaan mereka merupakan bantuan bagi kelompok kita."


Mendengar jawaban Zhou Fan, kening mereka nampak mengerut. Bukankah hanya satu orang, mengapa jendral muda ini malah mengatakan 'mereka'.


Namun tak ada yang angkat suara, membiarkan pertanyaan itu larut dan menghilang seiring berjalannya waktu.


"Ciu San, Zhi Long, kalian bawa semua orang kembali ke kediaman Klan Song."


Mata Dua Kapak Kembar terbelalak, "Tuan muda, apa engkau tak akan pergi bersama kami?"


Untuk sejenak Zhou Fan hanya diam, kemudian berkata. "Kalian kembalilah terlebih dahulu, setelah memastikan beberapa hal aku akan menyusul."


Dua saudara itu meragu, tapi perkataan Zuou Fan selanjutnya membuat mereka berpikir ulang.


"Penolong yang sebelumnya muncul, satu di antara mereka adalah petarung suci bintang sembilan. Dengan keberadaan nya yang tinggi, pasukan pangeran pertama akan binasa."


Ciu San pun membalikkan badan, dia menepuk pundak sang adik. "Tuan muda pasti telah memikirkan semua matang-matang. Karena dia telah memutuskan, aku percaya kepadanya."


Zhi Long bergeming di tempatnya, sepang beberapa saat dia maju mendekati Zhou Fan. "Kami akan menunggu kedatanganmu, tuan muda."


Zhou Fan terkekeh, kemudian mengangguk. "Aku pasti akan kembali."


Setelah mendengar ucapan Zuou Fan, Zhi Long menyusul sang kakak yang sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat tersebut bersama puluhan orang lainnya.


Sekarang hanya ada Zhou Fan dan Juga Zhou Jim, tapi kening pria muda itu nampak berkedut. "Jangan kira aku tak mengetahui keberadaanmu, cepat keluar!" ucapnya dengan suara lantang.


Tak berselang lama keluar seorang wanita muda dari balik sebuah bangunan. Dia berjalan dengan tangan terlipat di depan dada.


Cis...


"Jangan bersikap seolah kau sangat hebat, itu membuatku semakin kesal."

__ADS_1


Zhou Fan menarik sedikit sudut bibirnya, mata hitam itu memandang wanita yang tengah berjalan ke arahnya. "Nona Leng, apakah ada suatu yang ingin kau bicarakan kepadaku?"


Leng Shui mendengus, tapi masih berjalan mendekat. "Karena kita memiliki tujuan yang sama, mengapa kita tidak bekerja sama?"


Zhou Fan berpikir sesaat, dia tak mengerti satu hal. Bukankah guru Leng Shui--Tetua Yan sudah lebih dari cukup untuk berhadapan dengan pasukan pangeran pertama, mengapa masih membutuhkan bantuannya.


Padahal baru saja dia berniat ingin menyaksikan dari kejauhan bagaimana seorang master bertarung. Namun nampaknya hal ini tidak akan pernah terjadi dan dia masih harus bertarung dengan kelompok pangeran pertama.


"Bagaimana, apakah kau akan menerima ajakan muridku?"


Zhou Fan membalikkan badan, "Tetua Yan, dengan tingkat kuktivasimu apakah masih membutuhkan bantuan dariku?"


Wanita paruh baya itu tersenyum simpul, seolah menyimpan maksud tersembunyi di balik ajakannya kepada Zhou Fan.


"Menambah satu orang juga bisa mengurangi beban, juga dapat dijadikan tumbal." Tetua Yan tertawa lirih, meski begitu terlihat anggun dengan sebelah tangan menutup mulutnya.


Sementara wajah meredup mendengar kalimat yang keluar dari mulut tetua Sekte Menara Es tersebut. "Tetua Yan, bercandamu sangat tidak lucu. Jika tidak ada hal lain aku akan pergi."


Zhou Fan tidak akan berpikir dua kali jika harus menjauh dari Tetua Yan, meski mereka bukan musuh, juga tidak bisa dikatakan rekan.


Namun Leng Shui menghentikannya dengan cibiran yang terdengar sarkas. "Kemana perginya keberanianmu, apakah harimau yang ganas itu telah berubah menjadi seekor kucing?"


Zhou Fan menahan lajunya kakinya, ia kembali mekutar tubuhnya. "Nona Leng, aku tak menyangka kau begitu peduli kepadaku. Jika demikian aku akan ikut bersama kalian."


"Baiklah, karena tim ini telah terbentuk. Ayo kita buru pasukan pangeran pertama." Tepat setelah berkata, Tetua Yan telah menghilang dari tempatnya.


Wosh...


Leng Shui menyusul sang guru meski gerakannya tidak bisa dikatakan sebanding dengan Tetua Yan.


Zhou Fan tentu tak mau ketinggalan, dia menghentak kaki kuat dan mulai melesat mengikuti dua wanita di depannya.


...


"Lihat, bukankah itu adalah salah satu kelompok kecil dari pasukan pengeran pertama?" Tetua Yan menunjuk ke tempat belasan orang yang tengah berjalan menyusuri beberapa bangunan.


Zhou Fan mengalihkan pandangan, dia juga dapat melihat belasan orang yang terdiri dari delapan petarung senior serta lima petarung kaisar.


"Shui'er, kau maju dan kalahkan mereka."

__ADS_1


Kening Zhou Fan nampak berkerut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Tetua Yan. Apakah Leng Shui dapat mengalahkan tiga belas orang itu, terdengar tidak mungkin.


Namun tak menyangka jika Leng Shui mengangguk tanpa berpikir. Dia melompat dan menghadang tiga belas orang yang baru saja keluar dari salah satu bangunan.


"Siapa kau!" Ketiga belas orang tentu terkejut melihat kemunculan Leng Shui, terlebih dengan pedang yang sudah berada di tangannya.


Leng Shui masih diam tak bicara, membuat ketiga belas orang sangat murka.


Zhou Fan sangat menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya, dan ia penasaran teknik bertarung seperti apa yang akan dikeluarkan Leng Shui sampai wanita muda ini begitu percaya diri.


"Menari bersama bulan!"


Ketika tiga kata itu kekuar dari mulutnya, sepintan pedang di tangannya mulai bergerak. Tubuhnya terus berkelit sembari tak berhenti menyarangkan tebasan.


Ketiga belas lawan menghadapi serangan Leng Shui, meski terdapat sedikit kesulitan saat berusaha menangkis gerakan pedang yang sangat tidak wajar.


Trank...


Trank...


Dentingan dua logam terus terdengar mengiring gerakan yang dikeluarkan. Namun sampai beberapa waktu belum nampak satu dari dua pihak menunjukkan tanda akan menyerah, bahkan mereka semakin gencar memberikan serangan.


Setelah puluhan gerakan, sedikit demi sedikit Leng Shui menunjukkan celah. Hal ini dimanfaatkan oleh ketiga belas lawan dengan segera memberikan serangan mematikan.


"Tetua Yan, apakah kau tidak berniat membantu muridmu? Dia nampak kewalahan." Zhou Fan melirik ke wanita paruh baya di sampingnya.


Bukannya panik, Tetua Yan malah bersikap acuh tak acuh seolah tidak ada hubungan apapun dengannya.


Leng Shui saat ini tengau berada dalam kepungan ketiga belas lawan dan mereka telah bersiap menerjang.


Hyat!


Ketiga belas orang itu melesat dan membentangkan senjata di depan. Namun belum sempat senjata mereka mengenai sasaran, tubuh mereka terhempas jauh ke belakang.


Brak!


Brak!


Brak!

__ADS_1


Mereka semua menghantam bangunan bangunan yang ada di sekitar, sementara Leng Shui masih berdiri tegak di tempat semula.


Melihat hal ini Tetua Yan tersenyum, "Lihat, itu adalah muridku!"


__ADS_2