
Tiba-tiba aura Qing Yuwei meningkatkan pesat, energi kehidupan dalam dirinya semakin kuat. Zhou Fan tersenyum, kebahagiaan tak bisa lagi terbendung dalam ekspresinya.
Sembilan dari sepuluh kristal kehilangan kekuatan, yang tersisa hanya satu dan itu adalah kristal dewa beast.
Zhou Fan mempertahankan aliran tenaga dalam dan menjaga agar energi yang dikeluarkan kristal beast tidak terlalu besar. Setelah beberapa lama, kristal dewa beast mulai meredup.
"Apakah tak berhasil?" Zhou Fan bangkit, sambil mengelap darah bercampur keringat di sekitar tangan. Namun, Qing Yuwei masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun walau proses penyembuhan telah selesai.
Zhou Fan duduk di samping Qing Yuwei, "Wei'er, apakah kau masih betah untuk tidur. Tidakkah kau ingin melihat betapa cantiknya putri kita?" Sambil menggenggam tangan Qing Yuwei, Zhou Fan menundukkan kepala. Tangan terasa ringan ketika seseorang mengangkatnya.
"Fan gege?"
Suara yang lemah itu sontak membuat Zhou Fan menengadahkan kepala. Melihat wajah cantik Qing Yuwei yang tersenyum kepadanya. Meski sedikit pucat, sama sekali tak menutup paras cantiknya.
"Wei'er, akhirnya kau bangun!" Zhou Fan memeluk Qing Yuwei.
"Di mana Xia'er?"
Zhou Fan menyipitkan mata, "Wei'er, dari mana kau mengetahui nama putri kita?" Bukankah Qing Yuwei selama ini tak sadarkan diri, bagaimana bisa tahu tentang Zhou Xia.
Qing Yuwei bingung menjelaskan, tapi yang jelas ia dapat mendengar semua orang yang pernah datang ke ruangan ini. Dia tak sadarkan diri, tapi semua suara dapat ditangkap olehnya. Yang paling dia ingat tentu adalah nama putri kecilnya, sosok malaikat yang menjadi penyemangat untuknya bertahan.
Di saat tabib mengatakan waktu yang tersisa tidak lama, di situ harapan telah hancur berkeping-keping. Namun mendengar suara putri kecilnya, ia kembali mendapatkan apa itu yang namanya semangat hidup.
"Kau istirahat saja, besok aku akan membawa Xia'er datang." Zhou Fan menaruh bantal, membantu Qing Yuwei untuk kambali terlentang.
Qing Yuwei sebenarnya tak mau menunggu, ia terlalu ingin untuk melihat rupa sang putri. Namun ia tak mempunyai kekuatan, bahkan untuk menggerakkan tangan ia pun kesulitan. Mungkin benar yang dikatakan Zhou Fan, dia harus istirahat demi memulihkan kondisinya.
Melihat Qing Yuwei mulai memejamkan mata, Zhou Fan keluar dan melihat kedua orang tua masih menunggu di sana.
"Fan'er, bagaimana proses penyembuhannya? Apakah berhasil?" Melihat sang putra bukan menanyakan kabarnya, Zhou Qian malah membahas hal lain. Sungguh ibu yang perhatian, pikir Zhou Fan.
"Semua berjalan lancar ibu, tapi Wei'er harus istirahat dan memulihkan dirinya." Jawaban Zhou Fan membuat keduanya senang.
Tanpa sengaja pandangan mengarah pada seorang anak laki-laki dalam dekapan Zhou Hu. "Ayah, dia ...."
__ADS_1
Zhou Hu tersenyum dan mengangguk, "Zhou Ya, putramu."
Zhou Fan langsung mengambil alih Zhou Ya dari tangan sang ayah. Memandang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. "Zhou Ya, maafkan ayah yang baru bisa melihatmu." Sambil mengelus punggung putranya Zhou Fan menciumi kening dan puncak kepala.
"Ibu, di mana Lin'er?"
"Dia berada di ruangannya, dia baru saja kembali untuk menidurkan Xia'er." Tak berlama-lama Zhou Fan menuju ke ruangan Wei Guanlin, ia yakin ruangannya masih sama sebelum dia pergi meninggalkan Kota Batu Hitam.
Pintu ruangan tidak tertutup, nampak seorang wanita duduk sambil membaca sebuah kisah untuk putri kecilnya. Zhou Fan mendekat, memeluknya dari belakang.
"Maaf!"
Wei Guanlin langsung membalikkan badan, dia sangat mengenal suara itu. "Fan?"
Selain Zhou Fan, ia melihat putranya juga berada dalam gendongan. "Dia sangat tampan," ucap Zhou Fan lirih.
Wei Guanlin merasakan pipinya memerah, padahal bukan ia yang disanjung. Tapi entah kenapa ia yang merasa tersanjung.
Zhou Fan membaringkan Zhou Ya di samping Zhou Xia, memandang sang istri yang masih duduk di tepi tempat tidur. "Apakah kau lelah?"
"Jangan berkata seperti itu, aku sama sekali tidak lelah. Ini juga bukan salahmu." Wei Guanlin memandang dengan tatapan yang teramat dalam.
Zhou Fan mendekatkan wajahnya, Wei Guanlin menyambut dengan penuh kerinduan. Dengan ditemani rembulan, keduanya menjelajahi malam dengan kehangatan.
...
Waktu berlalu dan tahun telah berganti. Dalam kurin waktu itu Klan Zhou semakin berkembang, menjadi klan paling disegani di kekaisaran. Tak ada yang tak mengenal klan yang berasal dari Kota Batu Hitam ini, setiap membahas Klan Zhou, selalu ada satu nama yang tak mungkin dilewatkan--Zhou Fan.
Sementara di kediamannya, Zhou Fan berkumpul bersama keluarga kecilnya. Wei Guanlin, Qing Yuwei, Zhou Xia dan Zhou Ya.
"Fan, kau tak bisa begitu terhadap Xia'er."
"Apa, apakah aku tak boleh melindungi putriku? Dia putriku." Zhou Fan menarik Zhou Xia dan merangkulnya, seperti hanya tercipta untuk dirinya.
"Jika kau terlalu peduli kepadanya, bagaimana dia bisa memiliki seorang suami nantinya?"
__ADS_1
"Dia tak membutuhkannya, aku sudah cukup untuk melindunginya. Bukankah begitu tuan putriku?" Zhou Fan mencubit hidung Zhou Xia, membuat si empunya terkelitik geli.
Wei Guanlin menghela nafas pasrah, ia menyerah jika harus melakukannya sekali lagi. Pandangan mengarah kepada Zhou Ya, sejak tadi putranya itu hanya diam sibuk dengan kitab dalam pangkuannya.
"Ya'er, kau bisa membacanya nanti. Lagi pula tak baik terlalu banyak membaca kitab bela diri terlalu awal." Bukannya mendengarkan, Zhou Ya bergeming dan tak menghiraukan ucapan sang ibu.
Sekali lagi Wei Guanlin menghela nafas. Benar-benar tak habis pikir, dari mana datangnya sifat putranya itu. Semenjak mengenal kitab bela diri ia selalu sibuk dan seolah enggan untuk melakukan hal lain. Mungkin itu bagus karena Zhou Ya memiliki semangat untuk menjadi kuat, tapi usianya masih empat tahun, terlalu awal baginya.
...
Di sebuah bukit yang curam, nampak seorang wanita mengenakan jubah biru. Dia menggendong bayi yang mungkin berusia satu dua bulanan. Sambil memandang ke atas, dia sesekali melirik bayi laki-laki yang tampan itu.
"Xu'er, maafkan ibu karena tak bisa memberikanmu keluarga yang lengkap. Mungkin ayahmu juga tak tahu jika dia memiliki seorang putra yang tampan sepertimu." Air mata terurai di wajah cantik sang wanita berjubah biru, dia mengingat kenangan satu tahun lalu yang kini menjadikannya seorang ibu.
"Andai ibu saat itu memiliki sedikit keberanian, ...."
"Matriark?" Seorang wanita paruh baya datang dan langsung membungkukkan badan.
"Ada apa?"
"Tetua Yan Yu mencari keberadaan matriark, berkata ada suatu yang sangat penting." Setelah menyampaikan pesan wanita paruh baya pergi dan mereka kambali hanya berdua.
"Xu'er, nampaknya nenek gurumu menghadapi situasi yang sulit. Mari kita kembali ke sekte menara es." Sambil mendekap putranya, wanita itu melesat pergi.
"Meski tanpa ayahmu, ibu mampu untuk melindungimu. Darah Klan Leng mengalir dalam tubuhmu, kau adalah pewaris Klan Leng. Leng Xu!" batin wanita itu.
...🔥(End) 🔥...
Perjuangan Zhou Fan telah berakhir, nantikan pengumuman selanjutnya karena akan ada kisah Leng Xu yang pastinya tidak kalah seru.
Apakah ia akan mengetahui siapa sosok ayah kandungnya? Bagaimana mereka bertemu? Kalian akan mendapat jawabannya jika mengikuti kisahnya, "Kembalinya Sang Legenda"
Tidak lupa terima kasih kuucapkan kepada kalian--raeder Legenda Petarung yang telah mengikuti petualangan Zhou Fan, terlepas dari ketidaksempurnaan yang masih sangat banyak dijumpai. Entah itu dari kepenulisan ataupun alur cerita.
Tapi sungguh, ini adalah yang terbaik yang bisa aku berikan.
__ADS_1
Sekian, terima gaji👈😎👉