Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapterm.. 159 : Sampah yang Harus Disingkirkan


__ADS_3

Auk...


Suara Zhou Jim membuat Zhou Fan tersadar, dengan senyuman bahagia ia mendekati serigalanya. Namun perhatian masih saja fokus dengan perubahan Zhou Jim, bulu yang semula berwarna merah sekarang menjadi kuning keperakan.


Bukan hanya warna bulu yang berubah, tapi juga ukuran tubuhnya yang bertambah besar. Jika diukur tingginya sekarang setara dengan dada Zhou Fan, padahal saat itu hanya seukuran pinggang atau bahkan kurang.


Zhou Fan mengelus kepala Zhou Jim dan serigala itu menundukkan kepala sambil mengelus moncong ke kakinya.


Meski telah naik tingkat Zhou Jim tetaplah Zhou Jim. Serigala miliknya.


Ciu San merasa kagum dengan perubahan Zhou Jim yang menurutnya sangat menakjubkan. Perlahan ia mendekat dan berusaha mengelus buku yang nampak halus.


Akan tetapi, baru ia menjulurkan tangan sengatan listrik menyengat tangannya.


"Akh!"


Bukan hanya Ciu San yang terkejut, Zhou Fan serta Zhi Long pun ikut terkejut.


Namun Zhou Fan masih belum melihat dengan jelas, ia pun mencoba mengelus bulu Zhou Jim yang berada di bagian punggung.


Aneh!


Zhou Fan tak merasakan apapun, bahkan ia telah mengelus beberapa kali tapi tak kunjung mendapatkan reaksi seperti Ciu San.


Ciu San terheran, ia sangat yakin jika tangannya tersengat listrik saat menyentuh bulu Zhou Jim. Melihat tuan mudanya baik-baik saja, ia kembali mencoba mengelus.


Ces...


Baru satu jari yang terjulur, sengatan listrik langsung menyambar tangannya.


Ciu San mengibaskan tangan yang terasa terbakar, wajahnya menahan rasa sakit yang nampak tak biasa. Padahal hanya menyentuh satu ujung bulu, tapi sengatan sangat menyakitkan.


"Hei, apakah kau dendam kepadaku?" tanya Ciu San dengan kesal.


Grgr...


Zhou Jim menggeram, mengabaikan Ciu San dan malah mengelus telinganya ke kaki Zhou Fan.


Sekarang Zhou Fan paham, evolusi Zhou Jim memberikan sebuah energi listrik di antara bulunya yang berwarna kuning. Yang lebih menakjubkan, Zhou Jim dapat mengendalikan listrik di bulunya. Ini sangat luar biasa.


Zhou Fan kemudian memandang ke langit, bintang dan juga bulan bersinar semakin terang. Malam di gurun sangat dingin, mereka harus segera melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Zhou Jim seolah mengerti, dia menurunkan tubuhnya meminta Zhou Fan untuk naik.


Zhou Fan tersenyum, tapi sebelum naik ia akan menyimpan tanaman spiritual ini terlebih dahulu. Bagaimanapun merupakan sumberdaya langka nan berharga.


"Kita berangkat!"


Dengan itu Zhou Jim melesat, meninggalkan Ciu San serta Zhi Long yang mematung di tempat. Mulut keduanya terbuka, mata mereka melebar.


"Sangat cepat!"


Zhi Long menggelengkan kepala, kecepatan Zhou Jim jelas di atas rata-rata. Bahkan mungkin setara dengan kecepatan Zhou Fan yang sudah mencapai tingkat petarung suci bintang empat.


Ciu San mencebikkan bibir, tangannya masih terasa nyeri akibat sengatan listrik Zhou Jim. Sekarang dia ditinggal dan harus mengejar dengan kecepatannya, mungkin ia baru sampai Kota Zi saat matahari telah menunjukkan diri.


Sementara Zhou Fan yang melesat di atas punggung Zhou Jim melihat ke belakang. Namun Dua Kapak Kembar belum nampak batang hidungnya.


"Mari kita tunggu mereka di gerbang kota." Zhou Jim yang sempat menurunkan kecepatan sontak memacu langkah keempat kalinya lebih cepat.


Beberapa waktu berlalu dan Zhou Fan telah berada di depan gerbang Kota Zi dan selang beberapa waktu Dua Kapak Kembar datang dari arah gurun. Tampak wajah mereka begitu lelah, dengan keringat yang telah mengumpul begitu banyak.


Mereka mencari kebaradaan sang tuan muda, setelah mencari akhirnya menemukan Zhou Fan yang ternyata berada di dekat gerbang.


"Kalian akhirnya sampai, jika tidak mungkin aku akan masuk tanpa kalian berdua."


Perkataan Zhou Fan membuat mulut Ciu San berkedut. "Tuan muda, kau yang sangat cepat. Kami mana sanggup untuk mengimbangi kecepatanmu."


Ciu San mendekat, tapi saat jarak hanya belasan langkah seorang pria berusia tiga puluhan tahun menabraknya.


Bruk!


Keduanya tidak ada yang terpental, seolah tak terjadi benturan. Namun, wajah pria berpakaian hijau itu terlihat sedikit geram.


"Menyingkir!" ucapnya tanpa menggerakkan satupun bagian tubuhnya.


Ciu San merasa dongkol, ia tidak salah lantas menyapa harus takut. Mengabaikan ucapan pria berpakaian hijau, Ciu San bergeming tak mau menarik tubuhnya menyingkir.


Pria berpakaian hijau menggeram marah. "Kau cari mati!"


"Zhu Ma!" Teriakan dari dalam gerbang membuat perhatian pria berpakaian hijau teralihkan.


Dengan enggan pria itu membalikkan badan dan pergi masuk ke dalam kota. Namun sekitar beberapa langkah ia berjalan, tanpa membalikkan tubuhnya ia berkata. "Ingat, Zhu Ma adalah namaku. Aku mengingatmu dan akan menyelesaikan masalah ini saat kita bertemu."

__ADS_1


Ciu San mendengus, kemudian menuju Zhou Fan yang telah menunggu.


"Dia petarung senior bintang sembilan, satu tingkat di atasmu. Namun, bukan berarti dia akan menang saat kalian bertarung." Pesan tersirat Zhou Fan adalah 'jangan takut, aku akan membantumu'.


Ciu San sama sekali tak khawatir, lagi pula kota ini sangat luas, tidak mungkin kan begitu kebetulan sampai bertemu dengannya?


Jikapun bertemu ia juga bukan pria lemah, mana mungkin mengabaikan tantangan bertarung.


"Kita masuk, sebentar lagi akan fajar. Sebaiknya kita memanfaatkan waktu untuk persiapan gelombang serangan yang menurut perkiraan akan terjadi satu atau dua hari lagi." Zhou Fan berjalan ke arah penjaga, tapi yang tak mempunyai tanda pengenal kota diwajibkan membayar sejumlah uang kertas.


Jelas Zhou Fan tak memilikinya, karena ia bukan berasal dari kota tersebut. Jadi ia membayar sepuluh uang kertas untuk tiga orang.


Masuk ke dalam kota ia mencari sebuah penginapan, tapi seluruh penginapan telah penuh, membuat Zhou Fan beberapa kali keluar masuk mencari penginapan yang kosong.


"Tuan, apakah engkau mencari penginapan?" Seorang gadis kecil mendekati Zhou Fan dengan suara pelan. Dari pakaian nampak gadis kecil ini tidak menjalani hidup dengan baik.


Mata Zhou Fan berkedut, ia pun menyetarakan tinggi tubuhnya dengan gadis kecil.


"Tuan, aku bisa menunjukkan penginapan jika engkau bersedia." Gadis kecil itu nampak memelas, membuat Zhou Fan tak tega untuk mengabaikannya.


"Baiklah, tunjukkan penginapan itu kepada kami." Zhou Fan kemudian berdiri dan si gadis perempuan itu pun tanpa basa-basi langsung berjalan menunjukkan tempat penginapan berada.


Beberapa persimpangan dilalui, mereka berjalan masuk ke pelosok kota.


Zhou Fan mengamati dengan seksama daerah sekitar, daerah kumuh dengan banyak tempat pembuangan limbah.


Kaki gadis kecil belum berhenti, sampai mereka tiba di sebuah bangunan yang lumayan besar. Namun seperti bangunan-bangunan yang ada di sekitar, nampak tak terurus bahkan mungkin tak layak untuk dijadikan penginapan.


"Bagus sekali, akhirnya kau membawa tamu datang ke penginapan." Dua pria paruh baya tersenyum puas dan langsung menarik gadis kecil pergi masuk ke dalam. "Jangan keliaran! Tetap di sana bersama teman-teman mu."


Zhou Fan mengerutkan kening, "Tuan, apa hubunganmu dengan gadis kecil itu?"


Mendapati pertanyaan seperti itu, dua pria paruh baya saling pandang. "Kau jangan banyak tanya, itu tak ada hubungannya denganmu." Sambil melambaikan tangan salah satu dari mereka memandang dengan tidak suka.


"Bukanlah kau mencari penginapan? Kau bisa tinggal di sini, tapi biaya setiap orangnya lima puluh permalam."


Mata Zhou Fan melebar, tapi sejurus kemudian pandangan matanya tak sengaja mengarah kepada dua anak kecil yang baru saja datang. Pakaian mereka nampak kumuh, sama dengan gadis kecil yang membawa mereka kemari.


Tanpa dijelaskan Zhou Fan sudah mengerti jelas situasi saat ini. Sorot matanya menjadi tajam dan mengarah kepada dua pria paruh baya.


"Sampah seperti kalian harus disingkirkan!"

__ADS_1


__ADS_2