Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 68 : Ini Semua Karenanya!


__ADS_3

Zhou Fan berjalan mendekati tubuh kera bertangan tinju, tombak yang hampir sepenuhnya menebus kepala ia cabut dengan satu tangannya. Darah meloncat keluar dan menggenang di permukaan tanah yang berlubang.


Laba-laba berkepala merah seolah mengerti bahwa rekannya tewas di tangan Zhou Fan, tatapan mata yang berjumlah empat itu sangat tajam, seakan akan tatapan tersebut sanggup melelahkan sebuah baja.


Zhou Fan tidak menghiraukan tatapan tersebut, dia dengan fokus mulai memutar tombak, darah pun mengalir di sela jemarinya.


Splash!


Benang hijau melesat hendak mengikat tubuh Zhou Fan, tapi serangan itu masih terlalu lambat, dapat dihindari dengan melompat.


Zhou Fan tidak mencoba untuk menangkap ataupun menghadang dengan tombak, hanya orang bodoh yang mengulang kesalahan yang telah dilakukan.


Namun laba-laba berkepala merah seolah telah menebak gerakannya, ketika dia melompat beast itu kembali menembakkan benang dari mulut bercapit miliknya.


Ck...


Zhou Fan menebaskan tombak, bukan menghalau serangan benang, tapi dia menebas ke samping. Tebasan angin itu menyebabkan sebuah dorongan, membuat tubuhnya terdorong ke arah sebaliknya.


"Dia lumayan pintar, kemungkinan ada seseorang dibalik ini semua." Itu hanya sekadar tebakan. Sebelum ini dia juga menghadapi beast tingkat tujuh, bahkan beast tingkat kedelapan, tapi belum pernah dia bertemu dengan beast yang mempunyai kemampuan berpikir.


Grah!


Laba-laba berkepala merah melompat dengan kedelapan kakinya, kaki lancip yang sudah seperti tombak itu membuka dan menerkam kejam.


BLAM!


Zhou Fan melompat bergaling beberapa kali, mengambil kesempatan dia menyerang bagian belakang yang sama sekali tidak ada pertahanan.


Crash!


Tombak berhasil menembus tubuh laba-laba berkepala merah, tapi serangan itu sama sekali tidak terasa, tidak berdampak apapun pada laba laba berkepala merah.


Zhou Fan mengerutkan kening. Apakah tidak ada saraf di bagian belakang tubuhnya, itu akan sulit meski memotong menjadi dua.

__ADS_1


Groah...


Bukan seperti itu! Ternyata bukannya tidak berdampak, hanya saja efeknya cukup lambat, padahal tombak sudah tercabut, tapi baru sekarang laba-laba itu mengaum.


Senyum tipis tersungging di wajahnya, dia telah menemukan titik lemah laba-laba berkepala merah, seharusnya tidak masalah untuk mengalahkannya.


Laba-laba berkepala merah yang merasakan darah keluar dari tubuhnya, bertingkah semakin gila. Tak peduli apapun, beast itu melesat sambil menembakkan benang hijau dari mulutnya.


Zhou Fan menghindari setiap benang yang mengarah ke arahnya, ketika laba-laba berkepala merah sudah semakin dekat, Zhou Fan menghunuskan tombak dan mengeluarkan jurus 'Tombak Naga'.


Siluet kepala naga tercipta di ujung tombak, laba-laba berkepala merah bersiap menembakkan benang, mulutnya terbuka lebar. Melihat hal ini Zhou Fan mendorong tangannya, menusuk dengan tombak mengincar mulut yang sudah terbuka.


Benang hijau berhasil menjerat Zhou Fan, tapi kepala laba-laba berkepala merah hancur berkeping-keping bahkan tengkorak pun tak ada. Hanya ada darah yang bercampur dengan daging yang hancur bak bubur.


Tubuh laba-laba perlahan ambruk, kedelapan kaki itu masih bergetar, meski tidak ada lagi yang mengendalikan mereka.


Au!


Zhou Fan membalikkan badan, tak jauh darinya Zhou Jim kesulitan menghadapi serangan serigala berbulu emas yang mempunyai ukuran lebih besar.


Sementara serigala berbulu emas meski unggul dalam kekuatan juga bukan tanpa luka, terlihat di bagian pelipis mata ada sebuah cakaran, itu pasti diciptakan Zhou Jim.


Au!


Serigala berbulu emas menerkam dengan kedua kaki depan, Zhou Jim juga melompat. Namun sebelum keduanya saling menerkam, Zhou Fan melompat dan masuk ke dalam pertarungan.


Zhou Fan menyerang dengan tombaknya, ketika serigala berbulu emas hendak menyerang, Zhou Jim langsung melesat dan menghalau entah itu dengan moncong ataupun kaki serta tubuhnya.


Serigala berbulu emas kewalahan menghadapi Zhou Fan dengan bantuan Zhou Jim. Perlahan tapi pasti serigala berbulu emas mundur, dan sekejap mata dia melarikan diri.


Zhou Fan tidak mengejar, dia hanya memberikan kode kepada Zhou Jim dan serigala itu langsung mengejarnya.


Meski kekuatan Zhou Jim berada di bawah serigala berbulu emas, kondisi yang begitu buruk akan melemahkan kekuatan serigala berbulu emas. Dengan begitu Zhou Jim pasti bisa menangkap mangsanya.

__ADS_1


Setelah kepergian serigala berbulu emas, semua beast yang tersisa pergi begitu saja, setidaknya yang melarikan diri ada puluhan beast tingkat lima ataupun enam dan tujuh.


"Serangan berakhir?!"


Semua orang yang masih bertahan bernafas lega setelah beast beast itu meninggalkan kota. Meski luka membekas di tubuh mereka, itu sebanding dengan keberhasilan mengusir kawanan beast yang menyerang.


"Ini semua karena pemuda itu. Dengan tombaknya dia mengalahkan tiga beast tingkat tinggi, yang merupakan pimpinan kawanan beast."


"Benar benar tidak bisa dikatakan masa depannya, mungkin suatu saat seluruh alam semesta akan menyebut namanya sebagai legenda."


Zhou Fan sungguh berhasil menarik semua perhatian yang ada di sana, tidak ada yang memalingkan pandangan dari parasnya yang rupawan serta perangainya yang menawan.


"Junior Zhou?" Zhou Fan menyimpan tombaknya, membalikkan badan dan menjumpai Ni Quero bersama dengan lima tetua yang sebelumnya.


Selain itu ada Shao Mingrui bersama dengan Shin yang tidak pernah jauh dari tuannya.


"Tetua Ni? Tetua... " Zhou Fan memberi salam ala kadarnya, dia juga tidak mengetahui nama setiap tetua yang ada di dekatnya.


Ehem...


Deheman itu membuat Ni Quero tersadar. "Junior Zhou, bisakah kau bertahan untuk beberapa waktu di kota ini, setidaknya itu akan menjamin keselamatan seluruh penduduk kota jika terjadi serangan beast skala besar seperti ini."


Zhou Fan nampak berpikir, dia juga tidak terlalu terburu buru. Dia berpikir jika ada serangan beast, mungkin dia akan berjumpa dengan beast tingkat kedelapan berelemen es.


"Baiklah, aku rasa beberapa hari di sini juga tidak buruk." Zhou Fan melirik Shao Mingrui yang hanya memberikan anggukan kecil kepadanya.


"Jika begitu, biarkan yang tua ini menunjukkan ruangan Tuan Muda Zhou." Salah satu tetua berkata dan langsung berjalan hendak menunjukkan kediaman yang menjadi tempat tinggal Zhou Fan.


Zhou Fan, Shao Mingrui serta Shin mengikuti pria tua yang menunjukkan jalan. Sementara Ni Quero serta empat tetua lainnya harus tetap berada di sana dan mengawasi pembangunan kembali bangunan bangunan yang hancur akibat pertarungan.


"Tuan Muda Zhou, ini adalah kediaman sekte kami. Mohon jangan tersinggung, Sekte Hati Surgawi memang terkenal sederhana, setiap kediaman hanya memiliki beberapa ruangan, semoga Tuan Muda Zhou bisa mengerti." Pria tua itu menunjukan kediaman yang lumayan besar.


"Senior terlalu sungkan, dan lagi jangan panggil tuan muda, lebih baik seperti Tetua Ni, junior." Mendengar perkataan Zhou Fan, Tetua Sekte Hati Surgawi merasa bingung, bagaimana mungkin dia bersikap begitu akrab dengan seorang terhormat seperti Zhou Fan.

__ADS_1


Zhou Fan hanya bisa menghela nafas rendah, dia tahu akan sulit mengubah pandangan seseorang walau memiliki kekuatan ataupun kekuasaan.


__ADS_2