Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 123 : Turnamen Klan Besar (9)


__ADS_3

Mulai!


Begitu kata itu keluar dari mulut sang juri, Zhou Fan mengambil kesempatan untuk menyerang duluan. Ia mengeluarkan gerakan teknik dewa pedang tingkat pertama.


Xuan Yu telah menebak hal ini. Dengan sangat mudah ia menghadapi serangan Zhou Fan. Namun perlahan keningnya mengerut karena kekuatan Zhou Fan sangatlah besar.


Xuan Yu mundur tiga empat langkah, ia melirik tangannya yang sempat merasakan getaran saat menghadang secara langsung serangan Zhou Fan.


"Di tingkat mana ia sekarang, itu jelas berada di atas tingkatan ku." Xuan Yu membatin sembari kembali menyusun strategi. Ia tahu tak akan mudah menghadapi Zhou Fan jika menghadapinya secara langsung, ia harus berpikir satu langkah di depan sang lawan.


Zhou Fan sendiri telah mengeluarkan seluruh kekuatannya, itu adalah kekuatan petarung suci bintang satu, bahkan bisa disamakan dengan petarung suci bintang dua.


Trank!


Tebasan pedang darah malam di tahan dengan dua tangan, Xuan Yu tidak mampu jika harus menahan dengan hanya satu tangan menopang pedangnya. Ia tidak mengira jika jarak di antara mereka sangatlah lebar. Padahal dia juga salah satu jenius kebanggan Kota Hong, tapi sama sekali tak berkutik di hadapan Zhou Fan.


Penonton yang menyaksikan menyipitkan mata, mereka heran dengan Xuan Yu yang seolah sangat pasif.


"Cepatlah, mengapa hanya diam!"


"Ini adalah babak empat besar, seharusnya mampu memberikan pertunjukan yang menakjubkan."


Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya Xuan Yu alami, apa yang Xuan Yu rasakan. Setiap serangan Zhou Fan, terasa seperti aliran listrik yang menyengat jemarinya. Jika diteruskan bukan tidak mungkin tangannya akan mati rasa dan ia tak akan mempunyai kesempatan untuk meneruskan pertarungan.


"Apakah aku harus mengeluarkan teknik pedang bintang?" batin Xuan Yu dengan ragu. Pertarungan baru saja di mulai, apakah ia harus mengeluarkan teknik pamungkas nya saat ini juga, tidaklah terlalu cepat?


Namun jika terus menunda ia khawatir tidak akan ada kesempatan untuk mengeluarkan teknik tersebut. Bahkan ia tak tahu sampai mana kekuatan Zhou Fan yang sesungguhnya.


Setelah bergulat dalam pikiran, Xuan Yu memutuskan untuk mengeluarkan teknik pedang bintang. Sebuah teknik yang melambungkan namanya sebagai Pedang Permata Bintang.


Xuan Yu mulai memasang kuda-kuda, pedang dia putar perlahan. Kakinya mengambil beberapa langkah kecil.


Zhou Fan tak tahu apa yang akan dilakukan lawannya, tapi ia menebak ini adalah sebuah teknik yang berbahaya.


"Xuan Yu, tak ku sangka kau begitu menarik." Zhou Fan menarik sudut bibirnya, bersiap dengan teknik dewa pedang. Bukan teknik dewa pedang tingkat pertama, kedua atau bahkan ketiga, merupakan kombinasi sempurna dari teknik dewa pedang.


Xuan Yu melihat Zhou Fan melakukan gerakan yang lebih komplek, itu sangat berbeda dari teknik sebelumnya. Ini adalah kali pertama ia dibuat kagum berkali-kali oleh satu orang, bahkan kekagumannya terhadap sang ayah tidak seperti kepada pria muda ini.

__ADS_1


Meski menyadari kekuatan serangan Zhou Fan meningkat ia tak mengurungkan niatnya. Biarkan ia mencobanya, masalah menang kalah juga sudah biasa baginya.


Dengan langkah kaki yang tegas Xuan Yu melesat, Zhou Fan menyambutnya dengan tangan terbuka.


Xuan Yu melancarkan teknik pedang bintang, pedang seolah bersinar ketika menyambar.


Trank!


Trank!


Dua pedang terus beradu, dentingan itu mengiring langkah kaki yang bergerak semakin cepat. Keduanya sama sekali tidak membiarkan lawan mempunyai kesempatan, saling menekan dengan teknik bertarung masing-masing.


"Tidak salah lagi, mungkin ia saat ini berada di tingkat petarung suci." Sambil bertahan Xuan Yu membatin pelan. Pertukaran serangan yang yang baru saja terjadi ia semakin yakin jika Zhou Fan tidak berada di tingkat petarung senior.


Jika masih berada di tingkat petarung senior meski itu adalah bintang sembilan. Ia sudah pasti dapat mengimbangi serangannya. Namun perbedaan dia dan Zhou Fan masih sangatlah jauh. Bagai kuda dan keledai.


Trank!


"Jangan banyak berpikir, pikiranmu dapat membunuhmu." Zhou Fan menegaskan pedang secara diagonal dan Xuan Yu menahan dengan menaruh pedangnya menghadap ke bawah.


Xuan Yu menautkan alisnya, mungkin benar yang dikatakan Zhou Fan. Ia terlalu banyak berpikir. Berpikir dalam pertarungan memang diperlukan, tapi berpikir sampai memikirkan betapa kuatnya lawan, membandingkan diri dengan lawan, itu sama saja dengan menurunkan kepercayaan.


Zhou Fan mundur, sekarang jarak keduanya tersisa belasan langkah.


Xuan Yu menarik sebelah kakinya ke belakang, pedang di tangannya diputar ke kanan. Kemudian dalam satu waktu ia menegaskan pedang dengan kuat. "Jurus Pedang Kehampaan!"


Zhou Fan memfokuskan indranya, terkhusus adalah indra pendengaran. Ia tahu jurus milik milik Xuan Yu ini tak kasat mata, tapi ia sempat mendengar dengungan angin yang berhembus meski itu sangat pelan.


Mata Zhou Fan melebar, dia dapat merasakannya, sekitar sepuluh langkah dari tempatnya, bergerak dengan cepat.


Dengan itu Zhou Fan tanpa ragu menempatkan oefang di depan wajahnya. Merapalkan beberapa gerakan, "Penebas awan!"


Siluet tebasan laksana bulan sabit menerjang ke depan.


Blar!!


Seketika ledakan terdengar keras, asap putih menyebar menutup arena pertarungan.

__ADS_1


Beberapa saat arena dibiarkan dalam keadaan seperti itu, penonton yang tak dapat melihat keberadaan dua perwakilan pun semakin gemas, seolah ingin melompat dan bertarung sendiri.


Wosh...


Dengan satu kibasan, asap langsung menghindar. Namun kedua perwakilan masih berdiri di tempat masing-masing, tak satupun dari mereka yang beranjak dari tempat semula.


Namun jika diperhatikan, keringat membasahi kening Xuan Yu, tangannya pun gemetar seolah menahan sebuah baban yang sangat besar.


Zhou Fan tetap di posisinya, tak sedikitpun celah dalam dirinya, bahkan pada pakaiannya sekalipun.


"Apakah lanjut?" tanya Zhou Fan kepada Xuan Yu.


Beberapa saat Xuan Yu tak menjawab, ia masih bergeming di tempatnya berusaha untuk menyelaraskan tangannya yang seolah enggan untuk digerakkan.


"Aku belum kalah," ucap Xuan Yu sambil memutar tangan kanannya.


"Jika seperti itu pertarungan belum selesai." Zhou Fan menumpukan pedang di salah satu pundaknya.


Xuan Yu menghentakian kaki beberapa kali. Zhou Fan terheran dengan apa yang dilakukan tuan muda keluarga Xuan tersebut. Namun ia melihat dari alas kaki Xuan Yu terlepas bantalan yang biasanya untuk meredam suara tapak kaki.


Tak tak tak...


Ketika Xuan Yu melangkah suara tapak kaki terdengar nyaring. Ia mengambil posisi siaga, kembali mengekuarkan jurus andalannya--Jurus Pedang Kehampaan.


Zhou Fan bersiap, tapi matanya menatap lurus kepada Xuan Yu.


"Pedang Kehampaan!" Setelah melakukan tebasan, Xuan Yu menghentak kaki bergantian.


Tak tak tak tak tak tak...


Zhou Fan yang mencoba mendengar suara serangan, tak dapat mendengar apapun kecuali tapak kaki Xuan Yu. Sekarang dia tahu mengapa Xuan Yu melepas bantalan alas kakinya, itu untuk mengganggu indra pendengarannya bekerja.


Jurus Xuan Yu tak terlihat, juga tak bisa didengar. Sekrang tak ada pilihan lain selain menghadang dengan menebal secara asal. Namun Zhou Fan memiliki satu cara, ia memutar tangannya. Mendorongnya perlahan sehingga membuat udara menyebar seperti air danau dihantam batu.


Memanfaatkan ransangan dari serangan tersebut, Zhou Fan mengetahui dari mana serangan Xuan Yu berasal. Ia melirik ke samping, dan langsung menebaskan pedang. "Penebas awan!"


Blar!

__ADS_1


Penonton yang sempat terkejut karena Zhou Fan tiba-tiba mengeluarkan serangan ke samping pun mendapatkan jawaban yang memuaskan.


Xuan Yu melepaskan pedangnya, tak tahu lagi ia harus bagaimana agar bisa mengalahkan lawannya ini. Jadi dia memutuskan untuk mengakui kekalahan. "Aku menyerah!"


__ADS_2