Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 139 : Kegelisahan Yin Cun


__ADS_3

Kedelapan tetua melebarkan mata, menatap mayat teman mereka yang tergeletak di bawah kaki Zhou Fan. Kemudian perlahan mereka mengalihkan pandangan menuju ke tempat ketua, ekspresi berubah kala mendapati sang ketua pun telah tiada.


"Bajingan, aku akan membunuhmu!"


Mereka berteriak serentak dan langsung menyerang Zhou Fan. Namun sebelum berhadapan dengan tuannya, harus terlebih dahulu menghadapi penjaganya. Zhou Jim berdiri di depan Zhou Fan, kedua kaki depan mamamerkan kukunya yang panjang.


Tanpa basa-basi serigala itu menerkam, mencabik pundak salah satu tetua hingga jatuh berguling. Racauan tetua itu terdengar menyakitkan, dia berusaha menghempaskan Zhou Jim tapi berakhir sia-sia.


Ketujuh tetua lain dengan cepat mengeluarkan serangan, berusaha menyingkirkan Zhou Jim. Namun ketika serangan itu menghantam tubuhnya, Zhou Jim melompat mendorong pria tua dalam cengkeraman menimpa jurus yang dilesatkan temannya.


Bang!


Tubuh pria tua terlempar menubruk dinding ruangan, sedang Zhou Jim kembali ke sisi Zhou Fan. Sontak hal ini membuka lebar mata ketujuh tetua, asap seolah keluar dari telinga mereka, kemarahan sudah tidak bisa lagi di tahan.


Zhou Fan melirik Zhou Jim, memuji aksi serigalanya. beast tingkat tujuh itu membusungkan dadanya, menunjukkan bahwa dirinya adalah serigala jantan yang tak dapat diremehkan.


Tersisa tujuh tetua, nampak mereka akan mengeluarkan serangan gabungan.


Mata Zhou Fan melirik Zhou Jim, memberi tanda kepada serigala itu. Dengan begitu cepat Zhou Jim menyalak, seolah paham apa yang diperintahkan kepadanya.


Zhou Fan bergerak, Zhou Jim juga bergerak. Mereka melesat bersama, mengayunkan tombak menggerakkan cakar.


Belum sempat ketujuh tetua mengeluarkan serangan gabungan, formasi mereka tercerai-berai dengan kombinasi Zhou Fan serta Zhou Jim. Keduanya tidak memberikan kesempatan bagi para tetua untuk melakukan serangan.


Dentingan terus terdengar, tak jarang teriakan bergema di dalam ruangan. Darah perlahan menetes, membasahi senjata dan juga pakaian.


Tak butuh waktu lama, dengan hanya dirinya serta seekor beast serigala ia mengalahkan mereka semua.


Tap tap tap...


Langkah kaki seperti pungutan waktu yang terus berdetak, wajah tetua yang berada dalam keputusasaan seketika pucat dan terus mencoba menjauh.


"Katakan di mana kalian menempatkan tawanan lainnya?!" tanya Zhou Fan kepada tetua di hadapannya. Pria tua ini adalah satu-satunya tetua yang tersisa, sedang keenam lainnya telah tiada menyusul ketua mereka.

__ADS_1


Pria tua menggelengkan kepala, wajahnya sudah memerah karena darah yang terus keluar dari sekujur tubuhnya. Dia benar-benar buruk, berada dalam situasi hidup mati.


Zhou Fan memicingkan mata, tombak di tangannya perlahan turun dan menyentuh dada pria tua. "Ini bukan pertanyaan, ataupun permintaan. Ini adalah perintah!"


Mata pria tua berpendar ke sekitar, nampak ekspresi wajahnya sangat putus asa. Ia sadar, tak ada jalan untuk kembali. Mungkin ini adalah jalan yang telah ditetapkan. Ia tetap membisu, karena apapun yang terjadi akhir dirinya hanyalah satu, kematian.


Zhou Fan mengertakkan gigi, mengangkat tombaknya tinggi.


Pria tua tetap tidak mau mengatakan di mana keberadaan para tawanan. Zhou Fan tak bisa bersabar, menusuk dada pria tua yang lebih memilih bungkam dari pada mengatakan jawaban dari pertanyaannya.


Jleb!


Pria tua tersenyum meski darah melintasi dua bibirnya. Melampirkan senyum sinis yang ia tujukan kepada Zhou Fan.


Zhou Fan mencabut tombaknya, mengelap lalu menyimpannya. Ia keluar kediaman dan menjumpai semua orang yang sebelumnya keluar.


Nampak juga tiga tetua yang tergeletak di samping Ciu San, mereka mencoba menangkap kembali tawanan. Namun mereka tidak tahu, bahwa Dua Kapak Kembar berada di antara para tawanan.


Yin Cun mendekat, bertanya kepada Zhou Fan. "Saudaraku, apakah kau menemukan keberadaan Ling'er?"


Zhou Fan menggeleng dengen menyesal, ia belum mendapatkan kepastian tentang keberadaan Miao Ling.


"Tuan, apakah kau mencari seseorang? Apakah dia wanita, jika benar mungkin mereka berada di penjara bawah tanah." Seorang pria berkata kepada Yin Cun.


Mata Zhou Fan berpaling kepada pria tua berkulit hitam itu, perlahan ia mengamati puluhan tawanan yang telah mereka selamatkan. Benar saja, tak satupun dari mereka adalah wanita. Seluruhnya pria.


Sungguh bodoh karena tak menyadari hal ini.


Zhou Fan mendekati pria tua yang berkata. "Apakah kau mengetahui di mana penjara bawah tanah itu?"


Pria tua itu mengangguk ragu, "Jika tidak salah penjara bawah tanah berada di bangunan yang sama. Kebenaran ini aku dengar dari Manusia gila--tetua yang melakukan percobaan terhadap racun miliknya."


Zhou Fan membalikkan tubuhnya, kemudian kembali melompat ke atas melintasi lubang yang diciptakan Dua Kapak Kembar sebelumnya.

__ADS_1


Yin Cun tak mau ketinggalan, mengikuti Zhou Fan yang sudah masuk ke dalam. Begitupun dengan Ciu San, Zhi Long bahkan Zhou Jim.


Beberapa lama mereka menelusuri setiap ruangan, tak satupun mereka lewatkan. Akan tetapi pintu penjara bawah tanah belum juga ditemukan.


Zhou Jim berputar-putar, mengendus lantai sambil terus berjalan.


Auk!


Zhou Fan menyipitkan mata, kemudian memberi tanda kepada yang lain agar mengikuti kemana Zhou Jim bergerak. "Jim, tunjukkan jalannya."


Auk!


Sekali lagi Zhou Jim menyalak, berjalan menyusuri ruangan yang sebenarnya telah diperiksa.


Zhou Jim terus berjalan, moncongnya tak berhenti mengendus. Namun, tiba-tiba ia terdiam dan kembali berputar-putar.


Zhou Fan terheran, melangkahkan kakinya maju ke depan. Satu dua langkah masih terasa biasa, tapi begitu langkah ketiga, lantai ruangan bergetar, sebuah jalur tercipta.


Zhou Jim melompat ke bawah, langsung melanjutkan pencarian. Sedang Zhou Fan menggaruk tengkuk kepala yang tak gatal, ketidaksengajaan malah membawa mereka menuju penjara bawah tanah.


Mereka mengikuti Zhou Jim dan sekitar enam kaki di bawah permukaan tanah, tak ada lagi jalan menurun.


Zhou Fan meraih sebuah obor, memantikkan api dari jarinya. Ruang bawah tanah berangsur terang, penampakan penjara terlihat jelas di depan mata mereka.


Yin Cun mencari keberadaan Miao Ling, tapi tak menemukan tunangannya di antara para tawanan. Ia terus mencari, berlari dari satu penjara ke penjara lainnya. Memang ada sekitar belasan penjara, dan setiap penjara diisi oleh dua puluhan orang.


Yin Cun yang telah memeriksa keseluruhan penjara, kembali dengan wajah nesu. Nampak ia berada dalam suasana hati yang buruk, sama sekali tidak baik-baik saja. "Saudara Zhou, Ling'er ... Dia, dia tak ada."


Zhou Fan memandang puluhan orang dalam penjara pertama, kemudian merapatkan giginya. Ia mengingat perkataan ketua bajak silumam.


"Kami--bajak siluman tidak hanya menangkap orang, tapi juga menjualnya sebagai budak."


Zhou Fan meraih pundak Yin Cun, dia berniat mengatakan kemungkinan terburuk kepada temannya ini. Namun ia sungguh tak sanggup mengatakannya, tentu kenyataan ini akan membuat Yin Cun semakin tak karuan.

__ADS_1


Yin Cun sangat frustasi, memukul dinding dengan tangannya. "Pria tak berguna!" umpatnya pada diri sendiri.


Pria itu menangis, air mata bahkan telah memenuhi wajahnya. Sebagai seorang tunangan ia benar-benar tidak berguna, jangankan membahagiakan, ia bahkan tak mampu melindunginya.


__ADS_2