
"Tetua, -- "
"Tak perlu kau katakan, aku sudah mengetahuinya. Seorang petarung jika berani pertaruh harus berani menerima kekalahan." Heng Biyen melepas salah satu cincin miliknya, "Ambil itu."
Zhou Fan menangkap dengan sempurna, kemudian memeriksa apa saja yang ada di dalamnya.
Namun matanya berkedip beberapa kali melihat isi di dalam cincin. "Tetua, apakah kau bercanda?"
Heng Biyen terkekeh, "Aku memberimu cincin seperti yang aku katakan, semua yang ada di dalamnya menjadi milikmu. Apakah ada yang salah?"
Zhou Fan mendengus, kemudian mengeluarkan isi di dalam cincin. "Tidak aku sangka pak tua ini licik juga. Hanya ada seribu uang kertas di dalam cincin, tapi dia berkata seolah mempertaruhkan seluruh hartanya."
"Nikmatilah waktumu." Heng Biyen masih tertawa, dia meninggalkan Zhou Fan yang masih bergeming di atas altar pertarungan.
Hem!
Zhou Fan turun dan berjalan menuju Heng Biyu yang berdiri agak jauh dari tempatnya.
"Aku harus memberitahu, ayah seorang yang sangat berhati-hati. Dia tak pernah menyimpan kekayaan di dalam cincin penyimpan yang ada di tangannya. Semua tersimpan di cincin yang menjadi liontin pada kalungnya."
Zhou Fan tak bisa berkata-kata, mengapa wanita ini tidak mengatakan hal sepenting itu sejak awal. Andai mengetahui kenyataan tersebut, dia dapat meminta cincin penyimpanan itu sebagai barang taruhan.
"Aku akan mengantarmu ke ruangan," tawar Heng Biyu yang langsung menunjukkan jalan dan Zhou Fan mengikutinya dari belakang.
Setelah kepergian Zhou Fan, generasi muda Klan Heng terkena mental. Mereka seolah kehilangan semangat untuk berlatih. Pencapaian Zhou Fan yang dapat mengalahkan tetua kedua, sungguh membuat mereka tertekan.
Melihat dari usia, mereka lebih tua lima sampai sepuluh tahun. Namun mereka bahkan tak bisa dibandingkan dengannya. Pelatihan yang telah mereka lakukan nampak sia-sia.
Sementara di sisi lain Zhou Fan telah sampai di ruangan. Dia tengah duduk di tepi tempat tidurnya.
Auk!
Mata Zhou Fan melebar, ia hampir saja melupakan Zhou Jim yang masih berada dalam saku jubahnya. Serigala mungil itu melompat keluar tepat setelah Zhou Fan membuka lebar jubah hitam miliknya.
"Jim, apakah kau lapar?"
Auk!
Serigala itu mengangguk, kemudian memelas sembari menggosokkan kepala ke kaki Zhou Fan.
__ADS_1
Zhou Fan mengeluarkan sepotong daging, melemparnya ke atas dan ditangkap dengan sempurna oleh Zhou Jim.
Hem...
"Kapan kau akan menerobos?" Zhou Fan memandang Zhou Jim yang sibuk dengan daging di moncongnya. Saat ini Zhou Jim telah menjadi beast tingkat tujuh, kekuatannya setara dengan petarung senior bintang tiga.
Tok tok tok...
Ketukan pintu itu membuat Zhou Fan berdiri dan berjalan mendekat untuk membukanya. Ia penasaran siapa yang datang ke ruangannya di tengah malam seperti ini. Mungkinkah itu Heng Biyu, atau Heng Biyen?
Tak mau menerka, Zhou Fan langsung membuka pintu. Dan tepat seperti yang dia pikirkan sebelumnya, itu adalah Heng Biyu.
"Ada apa?" tanyanya kepada putri tetua kedua Klan Heng tersebut.
Sejenak Heng Biyu hanya diam, kemudian mulai buka suara. "Apakah kau membutuhkan teman untuk bermalam?"
Pertanyaan Heng Biyu membuat Zhou Fan menyipitkan mata, ia menatap serius wanita di hadapannya. "Tidak perlu."
"Jangan terburu-buru, kau dapat mempertimbangkannya."
Mendengar ini Zhou Fan menggeleng. "Jika tidak ada yang lain, aku akan menutup pintunya."
Melihat Heng Biyu hanya diam, Zhou Fan masuk dan menutup pintu ruangan.
Zhou Fan mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, perkataan Heng Biyu masih terngiang dalam kepalanya. Namun dengan menguatkan dirinya ia menolak pikiran tersebut, ia harus ingat jika dia istrinya pasti tengah menunggu kepulangannya. Jangan sampai membuat mereka kecewa.
Lagi pula dia memiliki sepuluh jari yang lebih dari cukup untuk menemani malamnya.
...
Malam berlalu dan hari berganti. Suasana pagi ini kediaman Klan Heng cukup ramai dengan banyaknya orang berkumpul di altar pertarungan.
Tak ada yang tahu mengapa banyak orang berkumpul, yang jelas mereka mendapatkan pengumuman untuk berkumpul dari patriark klan.
Meninggalkan altar pertarungan yang begitu rakai dengan hiruk pikuknya, seorang pria muda masih terbaring di atas tempat tidur. Di sampingnya ada seekor serigala kecil yang tak lain adalah Zhou Jim.
"Tuan muda, tuan muda?"
Panggilan dari luar membuat Zhou Fan menghentikan aksi reuni nya bersama keluarga, meski itu hanya sebatas dalam mimpi.
__ADS_1
Hem...
"Kenapa pagi-pagi begitu berisik." Zhou Fan membenahi pakaian, berjalan keluar meninggalkan Zhou Jim yang masih bergeming di tempatnya.
"Kenapa kau baru bangun?" Heng Biyu berlari dengan tergesa. Wanita itu mengambil nafas sebentar, kemudian kembali berkata. "Tahukah kau jika saat ini patriark klan mengumumkan siapa saja yang akan mewakili klan?"
Oh...
Zhou Fan hanya mengangguk samar, sekarang ia tahu mengapa keadaan Klan Heng begitu berisik walau hari masih pagi.
Mereka berdua kemudian pergi ke altar pertarungan.
Di altar pertarungan...
"Di mana kandidatmu tetua kedua, bukankah kau mengatakan telah menemukan pengganti yang lebih baik dibandingkan dengan Tuan Muda Jing?"
Heng Biyen mengangguk, "Patriark tenang saja, karena aku telah mengukur kemampuannya dengan pedang ku sendiri."
"Bahkan aku kalah darinya." Tentu saja kalimat terakhir dikatakan dalam hati, dia tidak akan tahan jika kabar ini sampai menyebar.
"Hem... Memiliki putri memang merepotkan, bahkan saat bertarung pun harus mencari jagoan." Salah satu tetua berkata dengan sinis. Sangat jelas jika terdapat perselisihan di antara tetua itu dan juga Heng Biyen.
"Setidaknya putriku lebih baik dibandingkan dengan putra seseorang. Jika tidak salah saat pertarungan klan, dia dihajar oleh putriku sampai babak belur." Heng Biyen membalas dengan tenang.
"Tetua kedua, apa maksud perkataanmu!" Pria tua itu berteriak marah, mengangkat pedangnya dan berniat mengeluarkan serangan.
"Tetua kedua, tetua ketiga, bisakah kalian tenang. Kita tengah memilih lima kandidat yang akan membawa nama klan, seharusnya acara ini berlangsung dengan lancar." Patriark Klan Heng yang tak tahan dengan kelakuan dia tetua klannya pun tak bisa hanya diam dan memperhatikan.
"Lanjut kadidat lain saja patriark, Klan Heng tidak membutuhkan seorang yang tak tepat waktu. Karena bisa saja saat pertandingan dia juga terlambat. Dari pada membuang slot secara cuma-cuma, lebih baik melanjutkan memilih kandidat selanjutnya." Mendengar perkataan tetua ketiga, patriark klan mengangguk.
Ekspresi Heng Biyen berubah kelam, dia menoleh ke belakang, tapi belum nampak putrinya yang pergi menyusul tunangannya--Zhou Fan.
Pria tua itu belum mengetahui jika di antara putri serta pemuda yang mengalahkannya tidak ada apa-apa. Hanya sebuah kesepakatan yang dilandasi asas saling menguntungkan.
Pemilihan berlanjut dan tak butuh waktu lama telah terpilih lika kandidat yang akan mewakili Klan Heng dalam turnamen antar klan besar di Kota Hong.
Acara selesai, patriark klan pun berniat menutup acara. Namun seorang pria muda naik ke atas altar pertarungan. "Pemilihan belum selesai."
Semua orang tercengang, termasuk Heng Biyen yang berdiri dengan mata melebar.
__ADS_1
Patriark klan tak perlu ditanya, dia juga terkejut atas kedatangan pemuda ini. Namun untuk menutup keterkejutan, ia bertanya. "Kau siapa?"
"Marga ku Zhou, namaku Fan. Zhou Fan."