Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 192 : Identitas Sang Guru


__ADS_3

Srag!


Perdana menteri langsung merebut gulungan itu, memperhatikan lebih seksama. Ketika melihat bahwa itu adalah silsilah asli dari Klan Sian wajahnya benar-benar serius. "Dari mana kau mendapatkannya?"


"Itu adalah milik guruku," ucap Zhou Fan tanpa beban, karena memang itulah kenyataannya.


Dua alis perdana menteri bertautan, "Tidak mungkin! Gulungan ini sudah puluhan tahun hilang, bagaimana bisa ada padamu, kau tidak berasal dari Klan Sian."


Zhou Fan tak mengerti, sementara perdana menteri menunjukkan sebuah rajah bintang di pergelangan tangan kanannya. "Seluruh anggota Klan Sian memiliki rajah bintang, kau tak memilikinya yang mana menjelaskan kau bukan bagian dari klan."


"Aku memang bukan dari Klan Sian, margaku adalah Zhou dan namaku adalah Fan."


Belum sempat Zhou Fan menyelesaikan perkataannya, perdana menteri kembali berkata. "Lantas bagaimana gulungan ini bisa berada di tanganmu?"


Zhou Fan harus menahan sedikit kekesalannya, pria tua ini tak mau mendengarkan juga tak mau memberi kesempatan untuk menjelaskan.


"Perdana menteri, gulungan itu adalah milik guruku, dia meninggalkan gulungan itu sebelum kembali ke Klan Sian. Sekarang aku mencari keberadaannya."


Perdana menteri diam sejenak, kemudian memberikan tatapan yang nampak kurang yakin. "Siapa nama gurumu, kau akan mampus jika berani menipu. Hanya ada dua nama yang memegang gulungan ini, sebutkan nama gurumu."


"Sian Lou!"


Mata perdana menteri sedikit terbuka, terkejut dengan jawaban Zhou Fan. "Sian Lou, kau yakin?"


Zhou Fan mengangguk tanpa ragu, membuat perdana menteri menjadi gugup. "Ikutlah denganku." Pria tua itu kemudian menyimpan senjata dan mengajak masuk ke dalam kediamannya.


Sikap perdana menteri tak lagi waspada seperti sebelumnya, nampak antusias ingin lebih mendapat informasi dari Zhou Fan.

__ADS_1


"Di mana kau bertemu dengan Penguasa Timur?"


Zhou Fan mengerutkan kening mendengar pertanyaan perdana menteri, Penguasa Timur? Apakah itu gurunya--Sian Lou?


"Kau bahkan tak tahu siapa gurumu?" ucap perdana menteri dengan nada tak percaya.


"Perdana menteri, aku bahkan sebelumnya tak mengetahui siapa nama asli guruku. Aku datang kepadamu hendak mencari informasi tentang keberadaannya." Zhou Fan berkata dengan serius, membuat ekspresi perdana menteri sedikit aneh.


Namun hanya sekilas, pria tua itu kemudian menghela nafas pasrah. "Jika begitu Penguasa Timur tidak berniat memberitahumu, maka jangan cari dia."


"Tidak! Aku tahu guru tengah menghadapi sebuah masalah besar. Jika tidak bagaimana mungkin dia pergi tanpa kabar." Zhou Fan tetap bersikukuh, dia telah berjalan sangat jauh, bagaimana mungkin kembali begitu saja.


Perdana menteri memandang langit-langit ruangan. "Memang ada masalah, tapi kau tak akan mampu membawa perubahan walau ikut campur."


"Jika belum mencoba siapa yang tahu, selain itu apa yang terlihat mungkin juga bisa menipu." Mata perdana menteri menyipit menelisik kekuatan Zhou Fan dan kedua pria di belakangnya. Ia sangat yakin jika kekuatan mereka tak lebih dari petarung suci bintang satu. Namun mengapa ucapannya nampak begitu yakin.


Zhou Fan menekan kultivasi nya hingga setara dengan petarung suci bintang satu, oleh sebab itu perdana menteri tak bisa melihat kultivasi nya yang asli.


Perdana menteri melihat tekad di mata Zhou Fan, begitu kuat seolah tak ada yang bisa menahannya. Ia pun mulai berpikir, murid Penguasa Timur--Sian Lou pasti bukan orang biasa. Setelah perdebatan panjang dalam kepalanya, perdana menteri akhirnya menjelaskan semua yang ia tahu kepada pria muda di hadapannya.


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa malam telah tiba. Zhou Fan hendak pergi, tapi seorang dayang datang ke kediaman perdana menteri. "Perdana menteri, perjamuan malam telah siap. Mohon segara datang karena Yang Mulia Kaisar telah menunggu."


Perdana menteri yang berada di ambang pintu menoleh dengan cepat. Ia sampai lupa karena terlalu menikmati waktu bersama Zhou Fan. "Karena Yang Mulia Kaisar telah menunggu, kalian ikut saja bersama. Ini merupakan perjamuan besar, semua orang yang ada di istana berhak menghadirinya."


Zhou Fan yang sebenarnya hendak pergi melanjutkan perjalanan pun tak enak untuk menolak. Bagaimanapun perutnya tak bisa berbohong, mendengar perjamuan pasti ada makanan.


"Kami akan merepotkan perdana menteri untuk membawa kami." Zhou Fan mengikuti langkah perdana menteri menuju ke ruang perjamuan. Lokasinya kebetulan tidak terlalu jauh, sehingga hanya beberapa waktu sudah terlihat mewahnya perjamuan kekaisaran.

__ADS_1


Ruang perjamuan tidak tertutup, pintu besar terbuka lebar. Perdana menteri masuk dengan pandangan hormat tertuju kepadanya, dia datang dan menghadap kaisar. Beberapa orang bersikap biasa, tapi merasa asing dengan tiga sosok di belakang perdana menteri.


"Perdana menteri, siapa yang kau bawa?" tanya seorang pria tua yang merupakan bendahara istana.


Perdana menteri melirik sekilas, kemudian menyatukan tangan dan berkata kepada kaisar. "Mereka adalah kenalan pria tua ini, mohon Yang Mulia menerima kehadiran mereka."


Kaisar mengangkat tangan sambil mengangguk. "Perjamuan ini dibuka untuk orang istana, karena berada di istana, mereka juga berhak menghadirinya."


Zhou Fan menyatukan tangan dan menunduk. "Terima kasih, Yang Mulia."


"Li'er, lihat pria muda itu. Dia terlihat tampan dan menjanjikan, selain itu memiliki hubungan dengan Ketua Huo." Selir Yue melirik putrinya--Han Li'er.


Han Li'er memandang Zhou Fan dengan lekat, menyaksikan ukiran wajah yang mempesona. Memang, Zhou Fan mempunyai paras yang menawan, ketampanan yang sangat jarang dimiliki bahkan oleh para bangsawan.


Tak ayal paras Zhou Fan menarik perhatian Han Li'er.


Selir Yue yang melihat tatapan mata sang putri pun tersenyum penuh arti. "Li'er, jika kau tak bergerak mungkin akan didahului oleh kakak keduamu."


Han Li'er memandang ke tempat duduk Han Yu--putri pertama Kaisar Han, merupakan anak tertua kedua setelah pangeran mahkota. Dapat dilihat jika kakak keduanya tertarik dengan pria muda di belakang perdana menteri.


"Dia sudah memiliki tunangan dan tunangannya--Gong Liusha, putra jendral besar juga hadir dalam acara perjamuan. Kakak kedua sangat berani jika mengungkapkan ketertarikannya secara langsung." Han Li'er hanya memandang Zhou Fan, pria muda yang telah menarik perhatiannya.


Selir Yue tersenyum melihat perkataan putrinya, "Mengatakan itu semua sama sekali tidak berguna, bila tak mengungkapkannya, maka dia tak akan tahu apa yang kau rasakan."


"Ibu, kau tahu aku tak akan memiliki perasaan semacam itu. Ini hanya ketertarikan sesaat. Setelah mendapatkannya, mungkin perasaan ini akan lenyap seketika." Han Li'er mengungkap senyum di bibir indahnya. Sementara Selir Yue menggelengkan kepala melihat sikap sang putri yang seolah tak memiliki perasaan.


Namun ia tahu, Han Li'er hanya belum menemukan sosok yang mampu menyentuh titik terendah dalam dirinya.

__ADS_1


Zhou Fan yang merasa diperhatikan mengedarkan pandangan, menjumpai Selir Yue yang duduk bersama dengan seorang wanita muda, ia memberikan hormatnya dengan menundukkan kepala.


Namun ada yang aneh dari wanita muda itu, memperhatikannya begitu dalam, seolah ada maksud yang ia sembunyikan.


__ADS_2