Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 104 : Daging Lebah Bakar


__ADS_3

Menghadapi kawanan lebah yang ukurannya sangat besar, Zhou Fan harus sering menghindar. Walau bagaimana pun sengatan lebah bisa dibilang mematikan, terlebih itu adalah lebah api.


Namun Zhou Fan tidak kehilangan akal, bukankah tak jauh dari tempat mereka adalah sungai?


Air adalah lawan alami api, dengan memanfaatkan air Zhou Fan sangat yakin dapat menyelesaikan masalah lebah api.


"Ciu San, Zhi Long, bawa mereka menuju sungai."


Mendengar perintah Zhou Fan, Dua Kapak Kembar mengangguk dan langsung mengibaskan kapak menarik perhatian.


Setelah berhasil mereka langsung melesat menuju sungai yang masih satu aliran dengan tempat mereka bermalam.


Hem...


Zhou Fan memandang ke atas, melihat sarang besar dan penuh madu, matanya seketika berbinar.


Sekilas ia melirik ke arah Dua Kapak Kembar yang melesat diburu kawanan lebah. "Madu lebah api sangatlah berkhasiat, selain itu harganya sangat mahal. Dibiarkan begitu saja sama dengan menyia-nyiakan harta berharga."


Zhou Fan mengeluarkan beberapa kendi, kemudian menghantam tanah melesat ke atas.


Srak...


Dengan hanya satu tebasan Zhou Fan mampu mengambil utuh sarang lebah. Senyum menghiasi wajahnya, meski sedikit kewalahan saat membawanya.


Setelah memeras sarang tersebut, ia mendapat sepuluh kendi madu. Tanpa basa-basi Zhou Fan menyimpan kendi kendi tersebut dan melesat menyusul Dua Kapak Kembar.


Tak lama Zhou Fan telah sampai di tepi sungai, namun tak menemukan keberadaan Dua Kapak Kembar yang seharusnya berada di sana.


Pria muda itu berpikir, tidak mungkin kan jika mereka terluka?


Zhou Fan mengedarkan pandangan ke samping, seketika matanya terbelalak melihat dua orang pria serta seekor serigala berupaya mengalahkan kawanan lebah yang menyerang bersama.


Ck!


Zuou Fan berdecak kesal, kemudian melesat dan mengayunkan tombak.


Ketika tombak bergerak angin seolah mengendalikan air dan dengan intuisi yang tepat ia menyerang lebah dengan guyuran air.


Ces...


Ratusan lebah itu langsung berjatuhan, kulit mereka mengelupas, sedang sayap dan juga jarum sengat terputus.

__ADS_1


Wajah Ciu San nampak terkejut, begitupun dengan Zhi Long. Serentak mereka menengadahkan kepala, melihat tuan muda mereka telah tiba. "Tuan muda?"


"Kenapa kalian masih bertarung, bukankah sudah aku bilang bawa mereka ke sungai." Zhou Fan berkata dengan nada mengeluh.


"Tuan muda, kami telah membawa mereka ke sungai. Itu seperti yang kau perintahkan." Ciu San menyangkal dengan pendapatnya.


Zhou Fan tidak menyalahkan Ciu San, namun juga tidak membenarkan tindakan dua saudara ini. "Jika kalian masih bertarung, mengapa harus membawa mereka ke sungai, kalian dapat melawannya di tempat."


Ciu San termenung, mengelus dagunya yang dihiasi bulu bulu tipis. "Engkau benar tuan muda, jadi mengapa kami membawa mereka kemari?"


"Adik, mengapa kita membawa mereka kemari?" tanya Ciu San kepada Zhi Long.


Zhi Long mendengus, sementara Zhou Fan menepuk keningnya pelan. "Dasar kalian, sudah jelas jika kelemahan lebah api adalah air. Mengapa tidak memanfaatkan air sungai untuk melawan mereka?"


Ciu San membulatkan bibirnya membentuk huruf 'O' kepalanya mengangguk angguk dengan tangan menggaruk tengkuk. "Haha... Yang engkau katakan memang benar tuan muda, sebenarnya tadi kami juga berniat demikian. Hanya saja kedatangan tuan muda yang terlalu cepat."


Zhou Fan menggelengkan kepala, kemudian mengumpulkan mayat lebah yang tergeletak di atas tanah.


"Tuan muda, apa yang akan kau lakukan terhadap mayat lebah itu." Ciu San mendekati Zhou Fan, dia tak mengerti apa niat tuan mudanya terhadap serangga yang telah mati itu.


Zhou Fan mengupas kulit yang sebenarnya telah terkelupas, "Ini adalah lebah bakar, apakah kau tidak mau mencicipi nya?"


Ciu San mundur, dia menggeleng. "Apakah dapat dimakan?"


Zhou Fan seolah tahu kekhawatiran Ciu San, dia pun melahap daging lebah tanpa ragu, membuat pria bertubuh gempal membulatkan mata lebar-lebar.


"Ini tidak beracun," ucap Zhou Fan yang kembali mengupas lebah api.


Zhou Jim tak ketinggalan, dia memungut mayat-mayat lebah yang hangus dan langsung memakannya.


"Kakak, kau tidak akan mati walau memakannya." Zhi Long mengulurkan tangannya yang membawa beberapa lebah sekaligus.


Wajah Ciu San nampak ragu, tapi ia memberanikan diri untuk meraih lebah dari tangan sang adik.


Beberapa saat pria bertubuh gempal itu hanya memandang lebah di tangannya, membuat Zhi Long sedikit kesal. "Tidak akan mati jika memakannya," ucapnya sembari mendorong telapak tangan Ciu San hingga daging lebah itu masuk ke dalam mulutnya.


Glek...


Wajah Ciu San nampak kesal, bahkan hendak memberi pelajaran kepada Zhi Long. Namun merasakan sensasi renyah, asin sedikit manis, terasa sangat nikmat dalam mulutnya, ia menahan ayunan tangannya.


"Tidak buruk." Ciu San mengedarkan pandangannya, setelah melihat banyak lebah di permukaan tanah. Tanpa pikir panjang langsung mengumpulkannya.

__ADS_1


"Sayang jika harus terbuang sia-sia," ucapnya sambil memungut satu persatu mayat lebah yang terbakar sampai mati.


Zhou Fan sekali lagi hanya bisa menggelengkan kepala. Baru beberapa saat lalu Ciu San tak mau menyentuh mayat lebah api, tapi begitu mengetahui bagaimana rasanya, ia malah menjadi yang paling bersemangat mengumpulkan lebah lebah yang tersisa.


Zhou Fan memandang satu daging lebah di tangannya. Lebah api adalah beast bersuhu panas, ketika air mengguyur tubuh mereka maka kulit serta sayap tidak akan bertahan, begitupun dengan tubuhnya yang langsung mengeras atau bisa juga dikatakan kering.


Hem...


"Kita harus melanjutkan perjalanan. Semakin lama menunda akan semakin lama kita keluar dari wilayah Hutan Andalas."


Mendengar ini Ciu San menyimpan daging lebah api ke dalam cincin penyimpanan. Kemudian berjalan menghampiri Zhou Fan. "Selalu siap untuk berangkat," ucapnya sembari mulutnya sibuk mengunyah daging lebah api.


Zhou Fan tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi pria bertubuh gempal ini. Dibandingkan dengan Zhi Long--saudara kembarnya, Ciu San memang lebih terbuka dan juga tanpa basa-basi.


...


Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah satu minggu mereka membelah belantara Hutan Andalas. Mereka tak tahu apakah Kekaisaran Han sudah dekat, yang jelas mereka percaya selama berjalan lurus akan sampai di Kekaisaran Han.


Zhou Fan melesat dengan kedua kakainya, dia tak duduk diam di samping Zhou Jim karena enam hari sebelumnya ia selalu menjadikan serigala itu sebagai tunggangan.


Biarkan sekarang Zhou Jim beristirahat di saku jubahnya, menjadi anjing kecil yang menggemaskan.


"Tuan muda, apakah mataku tidak salah?" Ciu San menunjukkan ke depan, dapat terlihat cahaya memancar dan bertahap semakin lebar.


Zhou Fan tersenyum, "Tidak salah lagi, itu adalah batas akhir Hutan Andalas."


"Percepat langkah kalian," tambahnya dengan wajah bersemangat.


Namun langkah kakinya terhenti saat Zhi Long merentangkan tangan tiba-tiba. "Tunggu sebentar tuan muda."


Ekspresi Zhi Long terlihat serius, membuat Zhou Fan serius menantikan apa yang akan dikatakan pria bertubuh gempal tersebut.


"Ada orang minta tolong!"


Zhou Fan menyipitkan mata. Dia tak mendengar apapun, tapi Zhi Long mendengarnya. Dia harus mengakui jika pendengaran Zhi Long sangatlah tajam.


"Tunjukkan tempatnya," ucap Zhou Fan kepada Zhi Long.


Zhi Long mengangguk, kemudian melesat dan diikuti Zhou Fan dan Ciu San. Tak lama mereka sampai di sebuah tanah lapang, nampak di sana belasan pria berpakaian hitam tengah mengerumuni empat orang wanita.


"Tuan muda, apakah kita akan menolong mereka?" tanya Zhi Long kepada Zhou Fan.

__ADS_1


Zhou Fan sejenak diam, kemudian mengangguk. "Karena sudah datang, mengapa harus diam."


__ADS_2