
Mendengar perkataan Xuan Yu yang dengan sengaja membandingkan ia dan Zhou Fan, Hang Gui semakin kesal. Tanpa basa-basi ia maju menerjang dengan senjata di tangannya.
Xuan Yu menempatkan pedang di depan wajahnya, begitu Heng Gui datang ia langsung mendorong menahan serangan dengan gampang.
Heng Gui melompat mundur, tak percaya serangannya dapat diatasi dengan begitu mudah. Ia kembali berpikir, mungkinkah apa yang dikatakannya benar, apakah jarak di antara mereka terlalu jauh?
Saat ini Xuan Yu berada di tingkat petarung senior bintang delapan, sedang Heng Gui berada di tingkat senior bintang lima. Itu jelas sebuah perbedaan yang sangat besar.
"Tidak, aku tak percaya!"
Heng Gui tetap bersikukuh, ia adalah generasi paling berbakat milik Klan Heng, ia juga termasuk generasi berbakat di Kota Hong dengan umurnya yang masih tiga puluh tahun.
Heng Gui mengeratkan pedang, ia menyerang dengan menyebutkan teknik andalannya. "Teknik Pedang Api!" Seketika api berkobar dan berputar mengiring kemanapun pedang bergerak.
Zhou Fan yang berada di bawah menyipitkan mata. Ia benar-benar tak menyangka jika Heng Gui dapat menggunakan api sepertinya.
Tunggu sebentar!
Mata Zhou Fan berkedut, sekilas nampak senyum di bibirnya. "Ternyata bukan, api itu adalah efek dari teknik bertarung miliknya, bukan murni ciptaan tenaga dalam."
Sempat ia salah mengira jika Heng Gui dapat mengolah api. Namun itu hanya sekedar teknik bertarung miliknya. Memang apa yang dikeluarkan Heng Gui sangat mirip, bahkan hampir tak bisa dibedakan. Andai Zhou Fan tidak memperhatikan dengan seksama, mungkin ia tak akan mengetahui kebenarannya.
Pertarungan di atas arena begitu menegangkan, dengan teknik pedangnya Xuan Yu menghadapi teknik pedang api milik Heng Gui. Ketika dua pedang bertemu selalu menimbulkan bercak cahaya yang menyilaukan mata.
Sepuluh serangan Heng Gui masih mampu menghadapi teknik pedang Xuan Yu, tapi setelah mencapai belasan bahkan dua puluhan, mulia terlihat jelas wajahnya yang semakin pucat.
Xuan Yu tak mengendurkan serangan, teknik bertarung miliknya benar-benar luar biasa. Meski tidak dapat dibandingkan dengan Zhou Fan, setidaknya telah mencapai angka sembilan puluh dari seratus.
Heng Gui pontang panting menghadapi serangan pedang yang sungguh bergerak sangat liar. Penonton yang menyaksikan dibuat gemas lantaran Heng Gui yang tak memberikan perlawanan.
Namun itu bukan keinginan Heng Gui, salahkan saja Xuan Yu yang tak memberikan kesempatan sama sekali.
Trank!
Untuk pertama kalinya Heng Gui dengan berani mengangkat wajahnya, ia berhasil menangkis serangan Xuan Yu dengan sempurna. Namun tidak berlangsung lama, karena sejatinya itu hanya pancingan agar ia menurunkan kewaspadaan.
Tepat setelah itu Xuan Yu melakukan tebasan melingkar, pedang begitu cepat, sampai bayangan pun tak terlihat.
Sret...
Pakaian bagian depan milik Heng Gui terkoyak memanjang, memperlihatkan perut yang memerah dengan noda darah. Tidak dalam, tapi cukup menyakitkan.
Heng Gui memegang luka di tubuhnya, matanya memerah penuh kemarahan.
"Aku akan mengalahkanmu, Xuan Yu!" Heng Gui sudah bertekad, tapi sayang, tekad tanpa melihat keadaan hanya orang bodoh yang akan percaya.
__ADS_1
Xuan Yu menarik kaki kanan satu langkah ke samping, tubuhnya condong menghindari serangan pedang. Bersamaan dengan itu tangannya mendorong pedang, pedang melintas di samping kepala Heng Gui.
Heng Gui tersenyum, tapi sesaat kemudian Xuan Yu merubah mata perangnya, mengibas dengan cepat ke samping.
Mata Heng Gui terbelalak, dengan cepat menurunkan kepala dan langsung mundur seketika.
Xuan Yu melesat, mulutnya bergumam pelan. "Jurus Pedang Kehampaan!"
Heng Gui tak melihat serangan atau apalah itu namanya, tapi sebuah energi besar tengah mengarah ke arahnya. Tanpa menunggu lebih lama ia membentangkan senjata, menciptakan sebuah pertahanan dengan teknik miliknya.
Xuan Yu tersenyum, "Itu tidak cukup."
Tepat setelah itu ledakan sangat dahsyat terjadi di atas arena, suara yang memekak telinga membuat sebagian besar penonton terlonjak kaget.
Untuk sesaat arena di penuhi dengan asap berwarna putih keperakan, tak ada yang tahu apa yang terjadi di sana.
Beberapa saat berselang, asap mulai menghilang. Menampilkan dua pria yang berdiri berseberangan.
Mata semua orang terbelalak, "Heng Gui masih bertahan!" Beberapa orang berseru bersamaan.
Bahkan Heng Biyu pun tak menyangka. "Mungkin masih ada kesempatan jika Heng Gui lolos ke babak selanjutnya."
Namun ucapan ini malah ditertawakan oleh Zhou Fan. "Jangan bercanda. Lolos? Lihatlah lebih jelas."
Tepat setelah Zhou Fan berkata, Heng Biyu menatap Heng Gui dengan teliti. Baru beberapa kedipan mata ia memperhatikan, Heng Gui terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Heng Gui tumbang, Heng Gui tumbang!"
"Sudah aku katakan, Tuan Muda Xuan Yu yang akan lolos ke babak selanjutnya."
"Sempat berpikir jika Heng Gui dapat bertahan, ternyata ia sudah tak sadarkan diri." Beberapa penonton menghela nafas dengan kecewa, mereka masih menantikan pertarungan yang menegangkan, tapi pertarungan harus berakhir karena kekalahan Heng Gui.
Hang Biyu menggaruk tengkuk kepalanya. "Ternyata dia tak sadarkan diri."
...
Setelah Xuan Yu dinyatakan lolos ke babak selanjutnya, turnamen dilanjutkan kembali. Kali ini adalah babak delapan besar, semua perwakilan akan bertanding dan siapapun yang menang akan melakukan ke babak selanjutnya.
"Semua perwakilan, silakan maju ke depan."
Mendengar perkataan juri, Zhou Fan menaiki arena dan berdiri di antara perwakilan lainnya.
"Jika kita bertemu, aku akan bertarung sekali lagi denganmu. Aku akan berusaha jika hal itu terjadi." Xuan Yu menepuk pundak Zhou Fan, membuat Zhou Fan mengangguk.
"Aku juga tak akan mengalah," ucapnya dengan santai.
__ADS_1
Hem!
Zhou Fan merasa ada yang memperhatikannya dengan tatapan penuh kebencian, ia mengedarkan pandangan dan mengetahui tatapan itu berasal dari salah satu perwakilan. Sosok tersebut tidak lain adalah Jing Tian, tuan muda keluarga Jing.
"Mengapa ia memandangku begitu dongkol?" tanya Zhou Fan pada dirinya sendiri.
"Aku akan mengalahkanmu!" Mungkin itu yang disampaikan Jing Tian kepada Zhou Fan.
Pria tiga puluh delapan tahun itu baru mengetahui jika calon istrinya diambil oleh pria muda ini. Ia bertekad untuk mengalahkan Zhou Fan dan mempermalukan nya di hadapan semua orang.
Di Kota Hong, dia adalah jenius pertama. Zhou Fan mengambil calon istrinya, itu sama saja dengan menginjak-injak wajahnya. Ia tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja.
"Seperti sebelumnya, masukkan nama kalian di kotak itu." Juri memberikan petunjuk kepada kedelapan perwakilan yang akan bertanding, mereka pun melakukan seperti apa yang dia katakan.
"Baik, sekarang perhatikan baik-baik. Aku akan mengambil satu nama, siapa nama yang aku sebutkan langsung maju dan mengambil satu nama, siapa nama yang didapatkan, itu adalah lawan kalian."
Mendengar perkataan juri, semua perwakilan mengangguk.
Juri perlahan maju mendekati kotak, memasukkan tangannya ke dalam. Ia tak langsung membuka, tapi memandang kedelapan perewakilan. Hal ini membuat semua orang menjadi tegang.
"Zhou Fan!"
Ketika nama Zhou Fan diteriakkan, semua orang nampak menantikan. Mereka bahkan menerka-nerka siapa yang akan menjadi lawannya.
Zhou Fan maju, tangannya masuk ke dalam kotak untuk mencari lawan.
Xuan Yu sangat berharap, begitupun dengan Jing Tian. Keduanya sangat ingin berhadapan dengan Zhou Fan, tapi tujuan mereka berbeda.
Jika Xuan Yu ingin berhadapan dengan Zhou Fan karena ingin beradu teknik pedang, maka tidak dengan Jing Tian yang ingin memberikan Zhou Fan pelajaran. Tuan Muda Keluarga Jing itu sangat yakin dapat mengalahkan Zhou Fan.
Zhou Fan memegang kertas kecil, ia tak kunjung membukanya, membuat semua orang penasaran. Ia menikmati saat saat seperti ini, melihat semua orang tak sabar menunggunya.
"Cepatlah, siapa lawannya!"
Beberapa penonton mulai tak sabar, bahkan patriark serta kepala keluarga yang menyaksikan pun dibuat geram.
"Dia pasti mendapatkan lawan yang tangguh."
"Mungkin dia berhadapan dengan Jing Tian."
Patriark Klan You tertawa lirih, matanya melirik ke tempat Patriark Heng berada.
Karena Zhou Fan tak kunjung membuka kertas di tangannya, juri pun mendekat, "bisakah kau tunjukkan?"
Zhou Fan menyerahkan kertas itu kepada juri, mata pria paruh baya itu menyipit. Kemudian memandang ke tempat tujuh perwakilan lainnya.
__ADS_1
"Zhou Fan akan melawan ...."
#digantung biar reader pada penasaran:v