
Satu hari penuh Zhou Fan bersama dengan tetua agung berkeliling kota, meski begitu perjalanan tidak sia sia lantaran semua klan yang ada menyatakan bersedia bergabung dengan pasukan.
Kota Chen memang bukan kota terbesar, tapi kota ini merupakan kota terpadat, dengan delapan puluh persen wilayahnya merupakan tanah berpenghuni.
Membandingkan dengan ibukota yang berada di tempat kedua, Kota Chen masih unggul sepuluh persen, karena ibukota memiliki presentase kepadatan tujuh puluh persen.
Hari demi hari berlalu, suasana Kekaisaran Shao semakin tidak menentu, saat ini hanya beberapa kota saja yang masih lepas dari kekuasaan dua pangeran.
Total ada lima kota, selain Kota Chen dan juga Kota Bei Xian ada kota Xinyan yang berdiri tenang di tengah kekacauan karena tidak satupun pangeran memiliki keberanian untuk menyerang.
Selain itu ada Kota Guaye dan juga Kota Jiangsu yang berbatasan langsung dengan kota Chen. Mungkin dua pangeran ragu untuk menyerang karena keberadaan petarung suci di Kota Chen.
Meski masing masing di antara dua pangeran memiliki tiga petarung suci, akan sangat menguntungkan pihak lain jika salah satu dari mereka menyerang. Memang pilihan paling tepat adalah menunggu dan menunggu.
Di aula utama kota Chen, banyak perwakilan klan yang datang, pertemuan ini berkaitan dengan memanasnya persaingan perebutan kekuasaan.
Selain perwakilan Kota Chen, ada juga perwakilan Kota Guaye dan juga Jiangsu, mereka datang lantaran wilayah mereka sudah dikepung dan itu menebar kepanikan bagi penduduk sekitar perbatasan.
"Tetua, jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin penduduk kota akan gila karena tertekan." Itu adalah salah satu patriark klan Kota Guaye.
Semua yang berada di sana setuju atas perkataan patriark tersebut. Banyak dari mereka mulai berpikir akan berpihak kepada salah satu pangeran, tapi konsekuensi yang didapatkan semakin berat karena harus membayar upeti setiap harinya.
Pertemuan berakhir tanpa mendapatkan hasil, Song Dayi sebagai orang yang memiliki nama besar di kota tidak bisa membuat keputusan.
Jika mereka memutuskan untuk bergerak terlebih dahulu, kemungkinan menang sangatlah tipis, mungkin yang mengepung hanya pasukan lapis kedua, tapi satu di antara mereka adalah petarung suci.
Kemudian di sisi lain ada pasukan lain yang kemungkinan juga memiliki satu petarung suci. Ini sungguh merupakan keputusan sulit.
"Tetua, jika boleh berpendapat. Aku akan mencoba menghadapi pasukan yang berada mengepung Kota Guaye, sementara tetua serta lainnya memfokuskan diri di pasukan pangeran kedelapan yang mengepung Kota Jiangsu." Zhou Fan berkata dengan mantap, tak ada jejak ragu dalam pengucapannya.
Di ruangan itu hanya tersisa orang Klan Song, sementara untuk yang lain telah meninggalkan aula Kota Chen dan kembali ke tempat masing masing.
__ADS_1
"Kau terlihat yakin, apakah kau memiliki rencana?" Song Dayi menyipitkan mata sambil memandang Zhou Fan penuh tanda tanya.
Zhou Fan mengangguk. "Aku akan menyusup saat malam, di saat seperti itu dengan beberapa orang pasti mampu menahan sampai menumpas pasukan yang ada di Kota Jiangsu."
Song Dayi mangut mangut, dia kemudian menoleh kepada Shao Mingrui. "Rui'er, bagaimana menurutmu?"
"Aku sepenuhnya percaya kepada saudaraku, jika dia berani melakukannya, maka pasti dia yakin atas keberhasilannya." Shao Mingrui diam sejenak kemudian kembali berkata.
"Shin, kau ikut bersama saudaraku," ucapnya yang langsung di tanggapi oleh pria tua bernama Shin.
Satu hari setelahnya, banyak pasukan berkumpul. Itu adalah pasukan Kota Chen yang telah bersiap untuk membantu Kota Jiangsu.
Shao Mingrui yang notabene adalah pangeran ketiga memimpin pasukan, sementara Song Dayi berdiri di samping cucunya sebagai jendral pasukan.
Di tengah keramaian satu orang memakai pakaian tertutup perlahan mulai memisahkan diri, dia merasa apa yang dilakukannya lolos dari pengamatan, dia tidak tahu seorang pemuda tengah mengamati gerak geriknya sejak lama.
"Aku menemukan orangnya." Zhou Fan tersenyum, memberikan tanda tanpa membuka suara, Shao Mingrui seketika paham dengan kode yang diberikan.
Mereka sudah curiga bahwa ada mata mata di antara mereka sejak beredarnya kabar kesembuhan Song Dayi yang bahkan sudah diketahui seluruh Kekaisaran. Yang mereka lakukan juga tidak lain karena ingin memancing keluar sosok tersebut.
Tak sampai di sana, sosok berjubah hitam terus berjalan sampai di suatu tempat yang lebih sepi.
Setelah memastikan keadaan aman, sosok berjubah hitam mengeluarkan merpati dari balik jubah miliknya. Sepenggal kertas dia selipkan di bagian kaki burung merpati tersebut.
Berrr...
Merpati terbang membawa surat menuju tujuan yang telah ditentukan. Namun belum juga merpati terbang tinggi, seekor serigala merah menerkam dengan gigi taringnya yang tajam.
"Tak ku sangka Klan Song memiliki mata mata yang berdiam di tempatnya." Zhou Fan keluar dan berdiri di belakang sosok tersebut.
Dua orang memakai jubah serta tudung saling berhadapan, tak ada kata yang mereka ucapkan setelah salam barusan.
__ADS_1
Wush...
Sosok tersebut melesat melarikan diri. Namun belum jauh dia melangkah, di depan sudah ada dua pria gempal, mereka tak lain adalah Dua Kapak Kembar.
"Kau mau kemana?"
Sosok tersebut melangkah mundur, melirik ke samping. Balum juga dia bergerak, muncul lagi satu lagi yang menghadangnya.
"Ternyata Klan Song-ku sangat mudah dimasuki penguntit." Song Dayi tersenyum misterius.
Zhou Fan melangkah maju, ketika jarak hanya beberapa langkah dia berkata. "Tetua Akoi, kau sudah tak dapat melarikan diri, apakah kau tidak ingin menyapa tetua agung serta tetua lainnya?"
Mendengar perkataan Zhou Fan, bukan hanya sosok tersebut yang terkejut, tapi juga tetua agung dan juga tetua lain, bahkan Shao Mingrui yang baru saja datang tidak kalah terkejut.
"Kau sudah mengetahui? Aku tak perlu lagi menutupinya." Song Akoi membuka tudungnya, memutar badan menghadap Zhou Fan.
Mata Song Dayi serta tetua yang ada membulat sempurna. Sebenarnya orang yang mereka kepung adalah tetua klan mereka sendiri, tapi kenapa?
Bukankah mereka adalah keluarga, kenapa mengkhianati keluarga serta kediaman yang telah membesarkannya.
Pertanyaan pertanyaan muncul begitu saja dalam kepala tetua Klan Song.
"Tetua Akoi, kenapa kau melakukan ini?" Tetua Ouyang sungguh sudah tak mengenal sosok tetua yang satu ini.
Pria yang dia kenal adalah seorang yang selalu mementingkan kepentingan keluarga, bahkan jika itu akan merugikan dirinya sendiri.
"Yang kulakukan? Phuih... " Song Akoi meludah dengan wajah menghina, dia kemudian melirik satu persatu orang di sekitarnya dengan tatapan sinis.
"Aku adalah tetua, tapi ucapan ku bahkan tak lebih dari seorang pemuda asing, kenapa aku harus diam jika pangeran pertama menjanjikan kursi patriark kepadaku?!" Song Akoi berteriak dengan suara lantang.
Song Ouyang termenung mendengar perkataan Song Akoi, ternyata yang menjadi permasalahan adalah kekuasaan. Senyum sinis dia perlihatkan, dia berpikir, betapa hebatnya kekuasaan.
__ADS_1
Karena kekuasaan, keluarga harus bertarung bahkan tak peduli lagi dengan nyawa. Karena kekuasaan, orang rela melakukan apapun walau dengan cara tak benar.
Kekuasaan merupakan pedang bermata dua, dapat berpengaruh baik, tapi juga bisa berpengaruh buruk. Itu tergantung bagaimana cara seseorang menyikapinya.