Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 146 : Terbongkar


__ADS_3

Leng Shui memandang punggung Zhou Fan, pria yang kini mengenakan pakaian brahmana dengan janggut tebal itu memang sangat berbeda dengan sosok Zhou Fan sebelumnya. Meski sempat berpikir bahwa itu adalah Zhou Fan, ia juga tidak bisa mengatakannya karena ia sendiri masih ragu.


"Junior, apakah kau mengenal pendeta itu?" Wanita yang datang bersama Leng Shui, mengelus dagunya sambil memandang Zhou Fan.


Leng Shui mengedikkan bahu, menata penyamarannya. "Apakah sebegitu jelas penyamaran ku?" tanya gadis itu pada dirinya sendiri.


Zhou Fan menuju ke ruangan kedua, melihat pintu yang terkunci ia pun hendak menghancurkannya. Namun Leng Shui maju dan menyerahkan sebuah kunci kepadanya, "Ini, kunci untuk membuka pintunya."


Zhou Fan memandang Leng Shui, meraih kunci tersebut. "Nampaknya kalian telah merencanakan semua dengan sangat baik."


Leng Shui tak menjawab, dia hanya diam masih mencoba menerka identitas pendeta di hadapannya.


"Kami memang telah menyusun rencana ini sejak beberapa waktu terakhir, setiap sudut kediaman ini sudah kami ingat dengan jelas." Bing Roxue--wanita yang mengenakan pakaian pelayan itu menjelaskan.


Zhou Fan kemudian melirik ke Leng Shui, memberikan kunci itu setelah membuka tuangan kedua. "Kau buka ruangan ketiga."


Leng Shui mengerutkan kening, meski tangannya tetap menerima kunci tersebut. Perlahan ia berjalan, tapi matanya masih melirik Zhou Fan.


Semakin diperhatikan, ia semakin penasaran dengan sosok di balik pendeta tua ini.


Zhou Fan masuk ke dalam, begitupun dengan Yin Cun serta Dua Kapal Kembar. Sedang Leng Shui dan Bing Roxue pergi membuka pintu ruangan ketiga.


Ketika empat orang masuk, wajah beberapa wanita yang ada di dalam menjadi pucat. Namun, tak ada yang dapat mereka lakukan kecuali diam sambil merenungi nasib meteka yang tragis.


"Ciu San, Zhi Long, bebaskan mereka semua. Aku dan Yin Cun akan pergi ke ruangan ketiga." Mendengar perkataan Zhou Fan, dua saudara kembar itu mengangguk. Berbeda dengan ekspresi enam wanita yang nampak terkejut tidak percaya.


Yin Cun masuk ruangan ketiga dengan tergesa-gesa, langsung mencari keberadaan Miao Ling. Namun dari ketujuh wanita yang ada di sana, tidak satupun dari mereka adalah Miao Ling.


Tangan Yin Cun mengepal, Zhou Fan mencoba menenangkannya. "Masih tersisa satu ruangan, saudari Miao Ling pasti berada di sana."


Benar, yang dikatakan Zhou Fan benar. Masih ada satu tempat, dan ia harus segera memeriksanya.


Yin Cun keluar ruangan, melesat dan menuju ke ruangan keempat.

__ADS_1


"Tunggu,"


Zhou Fan yang hendak mengikuti Yin Cun mendengar suara dari belakang, ia menoleh dan mendapati Leng Shui menyerahkan kunci. "Mungkin kau akan membutuhkannya."


Gelengan keluar dari kepala Zhou Fan, "Itu tidak perlu."


Kening Leng Shui mengerut, bersamaan dengan itu terdengar dentuman yang lumayan keras.


Blar!


Ledakan itu seketika membuat Leng Shui paham, tapi bukan itu masalahnya. Suara yang keras bisa saja menarik perhatian penjaga di luar. Jika hanya peniaga saja mungkin masih tidak apa, tapi bagaimana jika seluruh kediaman keluarga Chen mengepung mereka, semua usaha yang telah dikorbankan akan sia-sia.


Mereka semua menyusul ke ruangan keempat, seorang wanita duduk dengan kaki tangan terikat, wajahnya yang cantik membuat para pria akan terpesona ketika melihatnya.


Yin Cun yang sudah terlebih dahulu sampai mematung melihat sesosok wanita di hadapannya. Perlahan kakinya melangkah dan berdiri di hadapan wanita itu. "Ling'er?" ucapnya lirih.


Miao Ling samar samar mendengar seseorang menyebut namanya, perlahan mulai membuka mata dan menjumpai seorang pendeta tua berdiri sangat dekat dengannya.


"Siapa kau! Menjauh dariku!" Tanpa sungkan Miao Ling mengayunkan dua tangannya yang saling terikat.


Miao Ling terhenyak sesaat, kemudian sadar dan melepaskan beberapa pukulan. Namun dengan kultivasi yang terkunci cincin penghilang kultivasi ia tak bisa memberikan serangan mematikan.


"Lepaskan!" Air mata Miao Ling perlahan mengalir, ia merasa sangat buruk dan mungkin tak akan mempunyai wajah untuk bertemu dengan Yin Cun--tunangannya.


Miao Ling memejamkan mata, berniat mengakhiri hidupnya. Namun Yin Cun yang tak merasakan pergerakan dengan cepat menarik tubuh Miao Ling. "Ling'er?"


Panggilan itu, mata Miao Ling langsung terbuka. Memandang lekat pendeta tua di hadapannya. "Yin Cun?"


Yin Cun melepas penyamarannya, memperlihatkan wajah seorang pria muda yang tampan. Miao Ling menitikan air mata, bukan sedih tapi terharu. Tak menyangka ia masih dipertemukan dengan Yin Cun--tunangannya.


"Aku di sini, kita akan baik-baik saja." Yin Cun kembali memeluk tubuh Miao Ling.


Yin Cun membantu Miao Ling menyingkirkan cincin di tangannya, sebuah cincin yang membatasi kekuatannya.

__ADS_1


Zhou Fan tersenyum, dia senang tujuannya telah tercapai. Membantu Yin Cun menemukan keberadaan Miao Ling. Mereka bertiga pun kekuar karena tak ingin mengganggu sepasang manusia yang saling mengungkapkan kerinduan.


"Siapa kau sebenarnya?" Begitu keluar Zhou Fan dihadapkan dengan Leng Shui yang memandangnya dengan tajam dan penuh ancaman.


Lengkungan senyum tercipta di antara bibirnya, nampaknya Leng Shui masih belum mengetahui siapa ia sebenarnya. Zhou Fan tetap diam, tak memberikan jawaban walau hanya beberapa patah kata saja.


Bersama dengan itu Yin Cun keluar ruangan bersama dengan Miao Ling, "Saudara Zhou, ini semua berkatmu. Aku akan mengenang jasa ini sampai kapanpun."


"Saudara Zhou?" Kening Leng Shui berkedut, nampak sorot matanya semakin tajam.


Zhou Fan tersenyum canggung, ia tak bisa menutupi identitasnya. "Nona Leng, tak kusangka dapat bertemu di sini. Sungguh kebetulan." Sambil berkata ia membuka penyamarannya.


Leng Shui mendengus, tebakannya selama ini tidak salah. Benar saja ternyata pendeta tua itu adalah Zhou Fan.


Yin Cun memandang heran dua sosok di hadapannya, seolah ada sebuah hubungan yang rumit di antara mereka. "Saudara Zhou, apakah kau ...."


Dengan cepat Zhou Fan menepis telunjuk Yin Cun. "Jangan sembarangan bicara!"


Hng!


Leng Shui kembali mendengus, berlalu pergi menuju ke tempat seniornya yang tengah mengumpulkan para wanita.


Yin Cun terdiam, sementara Miao Ling mengambil kesempatan untuk berbicara. "Saudara Zhou, terimakasih karena telah menolong kami. Aku telah mendengar semuanya dari Yin Cun. Namun terlepas dari itu, aku tidak akan diam jika kau mencari wanita lain. Lin'er serta Qing Yuwei, di sana mereka setia menunggu kepulanganmu."


Mendengar perkataan Miao Ling, Zhou Fan mengerutkan kening. Bagaimana Miao Ling mengetahui tentang Qing Yuwei.


Miao Ling melihat raut terkejut Zhou Fan, ia pun menjelaskan. "Sebelum kami memutuskan untuk pergi dari daratan Tian Lei, kami mengunjungi Kekaisaran Wei, mencari keberadaanmu serta Lin'er ...."


" ... Dari sana kami mengetahui tentang Qing Yuwei, juga tentang kau yang pergi ke daratan Tian Hu. Kami penasaran dengan daratan Tian Hu, oleh sebab itu pergi ingin menjelajahinya. Namun siapa sangka jika dalam perjalanan bertemu dengan kelompok bajak siluman. Sungguh perjalanan yang sial!"


"Jadi kalian sebelum ini pergi ke Kota Batu Hitam, bagaimana keadaan Lin'er, bagaimana keadaan yang lain?"


Baru saja Miao Ling menjawab, terdengar suara dobrakan pintu yang sangat keras. Hal itu sontak mengalihkan perhatian Zhou Fan.

__ADS_1


Hem...


"Nampaknya mereka telah menyadari penyamaran ini."


__ADS_2