Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 213 : Serangan Beast


__ADS_3

"Tetua?" Seorang pria paruh baya datang menghampiri Sian Yu.


Nampak dari kejauhan ada sebuah kabar yang membuat Sian Yu langsung menepuk kening. Zhou Fan yang baru saja selesai dengan latihannya tak tahan untuk diam saja. "Paman, ada apa?"


Pria paruh baya setelah menyampaikan kabar kemudian pergi, Sian Yu menghela nafas. "Nanti ada pertemuan klan. Pertemuan kali ini akan diadakan di wilayah Klan Sian Barat."


Zhou Fan menautkan alisnya, pertemuan seperti apa sampai harus datang ke wilayah Klan Sian Barat. Namun, penjelasan Sian Yu membuatnya seketika paham.


"Pertemuan ini merupakan acara rutin Klan Sian, diadakan setiap satu bulan sekali. Namun sejak perpecahan dua kubu pertemuan semakin jarang, bahkan satu tahun mungkin dua sampai tiga kali. Tidak hanya Klan Sian, tapi juga empat klan lainnya."


"Paman, situasi saat ini semakin menegang, bukanlah terlalu beresiko untuk datang ke sana?" Samggahan Zhou Fan membuat Sian Yu menggelengkan kepala.


"Tentu aku pun memikirkan hal itu, tapi tak mungkin mengabaikan pertemuan ini begitu saja. Sebagai keturunan Klan Sian kami harus menjaga budaya agar tak dilupakan oleh para penerus nantinya." Sian Yu berjalan keluar, pamitnya hendak menemui tetua lain yang telah menunggu di aula.


"Tuan muda, apakah kita tak pergi ke sana?" Ciu Dan memandang Sian Yu yang baru saja berbelok sehingga rak nampak lagi punggungnya.


"Kita harus ke sana, aku merasa suatu yang besar akan terjadi. Entah itu apa yang pasti ini tan bisa dibiarkan begitu saja." Zhou Fan memanggil Zhou Jim, melesat dengan cepat meninggalkan Ciu San dan lainnya yang tak sempat bereaksi.


Namun baru keluar halaman langkah kaki berhenti melihat kedatangan Sian Lou, "Guru, ada yang bisa aku bantu?"


Sian Lou mengangkat tangan. "Apakah kau akan ke Kota Lentera?"


"Yah, aku merasa pertemuaan ini tidak akan berakhir dengan baik. Jadi lebih baik mengikuti mereka, setidaknya dapat membantu jika terjadi sesuatu."


Sian Lou diam sejenak, kemudian berkata. "Klan Ma, mereka yang harus diperhatikan. Gerak-gerik mereka semakin mencurigakan, dan kabar terbaru Ma Teng--patriark Klan Ma telah naik tingkat menjadi petarung dewa."


"Kakek, engkau di sini?" Sian Yuezhi yang keluar bersama Ciu San dan Zhi Long terkejut dengan keberadaan Sian Lou.


"Yuezhi, sebaiknya kau jangan ikut. Karena di sana tak tahu apa yang akan terjadi dan bahaya apa yang akan kita hadapi." Sian Lou mendekati Sian Yuezhi, mencoba memberikan pengertian.


"Kakek. Jika engkau menyuruhku latihan dan pada akhirnya harus bersembunyi, untuk apa aku latihan. Lagi pula untuk kepentingan klan, aku rela melakukan apapun." Sian Yuezhi sangat keras kepala, tapi berkat sifatnya itu Sian Lou sadar telah terlalu membatasi cucu perempuannya.


"Baiklah jika kau berkata seperti itu, aku tak akan lagi menahanmu." Perkataan Sian Lou membuat Sian Yuezhi senang.

__ADS_1


Mereka kemudian menuju Kota Lentera bersama-sama. Ada alasan mengapa tak berangkat dengan tetua klan lainnya, memilih jalur yang berbeda lantaran keberadaan Sian Lou masih harus disembunyikan.


Meski begitu ketika mereka sampai, nampak rombongan Klan Sian Timur yang dipimpin Tetua Sian Hui memasuki wilayah kediaman Klan Sian Barat. Selain mereka, ada juga patriark Klan Sin dan juga patriark Klan Yue.


Penjagaan begitu ketat, hampir seluruh sudut terdapat penjaga. Namun hal ini bukan masalah bagi Sian Lou, hanya dalam satu kedipan mata sebuah portal tercipta. "Ayo kita masuk ke sana, terlalu lama di sini akan menarik kecurigaan."


Zhou Fan sangat kagum, gurunya ini membuka ruang seolah adalah hal biasa. Sama sekali tak ada kesulitan seperti yang ia rasakan. Namun mungkin juga karena pengalaman, suatu saat nanti ia akan bisa melakukannya.


Di dalam aula utama semua orang telah berkumpul, pertemuan di mulai dan nampak sangat serius membahas sesuatu. Dalam pertemuan tak ada yang mencoba menunjukkan kebencian secara terbuka, meski aura perselisihan masih sangat kental dapat dirasakan.


"Patriark, aku ijin sebentar untuk keluar." Ma Teng berdiri dan langsung keluar, meninggalkan jejak heran pada wajah setiap orang dalam pertemuan. Namun, pertemuan terus berlangsung sampai sebuah aura kuat terpancar membuat beberapa orang menjadi siaga.


"Sian Hui! Apakah kau merencakan sesuatu?!" Sian Ying langsung berdiri dengan marah, tapi Sian Hui yang tak tahu menahu masalah ini ikut berdiri dengan wajah bingung.


"Apa maksudmu! Jangan mencoba menipu, aku yakin kau telah menyusun niat buruk kepada kami." Sian Hui mengeluarkan senjata, ia harus waspada karena sekarang berada di wilayah Klan Sian Barat.


Kening Sian Ying berkedut, mengamati ekspresi Sian Hui yang nampak tidak dibuat-buat.


"Jika bukan mereka, lantas siapa? Ini juga bukan aku." Sian Ying membatin heran, seketika wajahnya menjadi siaga merasakan aura kekuatan semakin kuat.


Tanpa kalimat kedua pria tua itu melesat keluar memeriksa, sementara Sian Hui masih menaruh siaga terhadap Klan Sian Barat mengingat ini adalah wilayah mereka. Jika sampai ia mengendurkan kewaspadaan dan dugaannya benar, maka tak tahu apa yang akan terjadi terhadap dia dan tetua lainnya.


Beberapa saat berselang Sian Xi kembali dengan wajah pucat, dengan langkah kaki terburu-buru dia mencoba menyampaikan hasil pengamatannya.


"Patriark, i-ini buruk!" Sian Xi sampai lupa untuk mengambil nafas, kepanika sangat jelas dalam ekspresinya.


Sian Hui tentu dapat melihatnya, ekspresi Sian Xi nampak tak tak dibuat-buat. Namun apa yang terjadi sampai seorang petarung dewa bintang satu sangat panik, ini jelas bukan masalah sepele.


"Apa yang terjadi, katakan dengan jelas!" desak Sian Ying yang sangat penasaran.


Sian Xi mengambil nafas, perlahan menyampaikan apa yang ia dapat setelah memantau keluar. "Patriark, terdapat kawanan beast yang akan menyerang, tak lama pasti akan tiba di kediaman ini."


Semua orang terkejut mendengar informasi dari Sian Xi, tapi Sian Ying masih tenang "Berapa jumlah mereka?"

__ADS_1


"Ratusan, mungkin ribuan." Baru ketika mendengar jumlah kawanan beast yang teramat banyak wajah Sian Ying membeku.


"Tetua Xi, apakah kau yakin?" tanya Patriark She dengan ekspresi yang juga tak kalah buruk.


"Patriark She, untuk apa aku bermain-main dengan keadaan genting seperti ini. Itu sama sekali bukan sifatku."


"Tetua, apakah kau merasa ini bukan akal-akalan mereka?" Mendapati pertanyaan Patriark Yue, Sian Hui menoleh sambil mengedikkan bahu. Namun ia tahu memang bukan sifat Sian Xi untuk melakukan tindakan yang sia-sia.


"Semua, ikuti aku!" Sian Hui mengangkat tangannya yang terkepal, keluar aula utama hendak keluar mencari tahu sendiri dengan mata kepalanya.


Sian Ying juga masih sulit untuk percaya, dua keliar bersama dengan rombongan Klan Sian Timur. Namun sampai di depan gerbang mereka melihat sekumpulan beast berdiri di depan mata, hanya dipisahkan jarak ratusan langkah saja.


Mata semua orang tak bisa beralih dari kawanan beast yang mungkin mencapai seribu ekor. Terdapat tiga beast berukuran besar yang memancarkan aura sangat kuat, mereka adalah kera ekor tinju, singa rambut perak dan juga banteng api.


"Ternyata aura mencekam itu bermula dari mereka!" tunjuk Sian Ying pada tiga beast tingkat sembilan.


"Serang mereka, jangan biarkan satupun tersisa!" Beast kera ekor tinju berseru dan dengan satu kalimat itu kawanan beast yang jumlahnya ratusan menyerang.


"Mereka menyerang!"


Semua yang ada di kediaman Klan Sian Barat membentangkan senjata, bersiap menghadapi gempuran beast yang nampak sangat haus dan lapar.


Tiga beast tingkat sembilan masih belum beranjak dari posisinya, seolah mereka tak akan turun tangan dalam pertempuran ini. Namun keberadaan petarung dewa seperti Sian Ying, Sian Hui dan juga Sian Xi membuat pasukan beast berada dalam ambang bahaya. Mata mereka memerah dengan sorot tajam, tak bisa hanya diam dan harus turun tangan.


"Tiga manusia itu sangat merepotkan, kita harus menghadapi mereka." Kera ekor tinju berkata kepada singa rambut perak dan banteng api di sampingnya.


Tanpa banyak berkata mereka kemudian menetapkan lawan dan memburu dengan cepat. Kera ekor tinju menuju ke tempat Sian Hui, singa rambut perak mengincar Sian Ying sementara banteng api menyeruduk Sian Xi dengan dua tanduknya.


Merasakan serangan mendekat mereka bertiga sontak menghindar. Melihat ketiga beast tingkat sembilan mulai ikut ambil bagian. Sementara tak jauh dari tempat pertarungan, Zhou Fan bersama yang lain termasuk Sian Lou hanya diam sambil mengamati.


Namun dalam kelompok orang yang bertarung tak nampak satupun anggota Klan Ma, bahkan patriark Klan Ma--Ma Teng tak terlihat batang hidungnya.


Hem.. .

__ADS_1


"Tak salah lagi, Klan Ma memang bermasalah!"


__ADS_2