Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 94 : Petarung Suci Milik Pangeran Pertama


__ADS_3

"Teknik Aura Dewi Es yang kau latih hampir mencapai tingkat kesempurnaan, tapi itu sudah sangat mengagumkan." Tetua Yan mendekati Leng Shui yang telah menyelesaikan ketiga belas lawannya.


"Guru... "


Leng Shui membalikkan badan, menjumpai sang guru yang telah berada di sampingnya.


"Teknik itu sangat kuat, namun kurangnya persiapan membuat potensinya tidak maksimal."


Mendengar ini mata Leng Shui berkedut, kemudian menatap Zhou Fan dengan sengit.


Baru saja dia akan menerkam Zhou Fan dengan kata-katanya, namun Tetua Yan angkat bicara. "Yang dikatakan junior ini tidak salah, andai diberikan wakltu untuk mengsirkulasikan tenaga dalam walau sebentar akan sangat terlihat perbedaannya."


"Guru, mengapa engkau tidak memberitahukan hal sepenting itu kepadaku?" Leng Shui mengatakan dengan nada mengeluh, ia merasa apa yang telah ia lakukan selama ini keliru.


"Tetua Yan mungkin khawatir kau tak mampu melakukannya, oleh sebab itu memberikan cara yang mudah." Zhou Fan berusaha menahan tawanya, tapi tetap saja gagal.


Leng Shui menggeram kesal, matanya menatap tajam Zhou Fan. Namun tak ada kata yang dapat terucapkan dari mulutnya.


"Aku akan memberimu manual Teknik Aura Dewi Es yang lengkap setelah kau menyempurnakan teknik tersebut."


Mendengar janji sang guru, Leng Shui tersenyum senang. "Aku janji itu tidak akan lama," ucapnya dengan tekad membara.


Whut...


Blar!


Sebuah serangan melesat menghujam tempat Zhou Fan dan dua orang lainnya berpijak. Namun karena kecepatan mereka, serangan itu dapat dihindari.


Zhou Fan berdiri beberapa langkah dari tempat semula, matanya memandang permukaan tanah yang hancur lebur terkena serangan.


Wosh...


Kecepatan angin di belakang tubuhnya meningkat tajam, hal ini sontak membuat Zhou Fan membalikkan badan. Ketika matanya berpusat pada seorang pria tua membawa pedang, matanya seketika bersinar.


"Pak tua, mau menyerang juga harus bilang!" Zhou Fan melomoag menghindari serangan pria tua, kemudian tangannya mengeluarkan pedang dan langsung mengibaskannya.


Slash...

__ADS_1


Dengan satu serangan kepala pria tua itu jatuh ke tanah. Namun pertarungan belum berakhir, karena tepat setelah itu satu persatu kelompok menampakkan diri.


"Hanya tiga orang?" Salah seorang dari mereka memandang Zhou Fan, Tetua Yan serta Leng Shui dengan tatapan mencibir. Mereka sangat yakin dapat mengalahkan tiga orang ini dengan jumlah kelompoknya yang mencapai puluhan orang.


"Tetua, serahkan pria itu kepadaku, engkau bersama dengan dia mengatasi yang lain." Tangan Zuou Fan menunjuk Leng Shui saat mengatakan 'dia', membuat wanita itu mencebikkan bibirnya.


"Dia adalah petarung suci. Tapi karena kau berkata demikian, aku tak akan menghalangimu." Tetua Yan kemudian melirik Leng Shui. "Shui'er, kau dengar apa yang dikatakannya?"


Leng Shui mengangguk.


"Maka kita akan melakukannya," ucap Tetua Yan sembari mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanan.


Mendengar perbincangan ketiga sosok di hadapannya, pria tua berpakaian hitam menggeram murka. Dia adalah orang kepercayaan pangeran pertama, kedudukannya bukan suatu yang dapat dipandang sebelah mata.


Namun ketiga sosok di hadapannya ini meremehkannya, bahkan seorang pria muda berkata akan menghadapinya. Sungguh cari mati!


Zhou Fan berdiri dengan tenang, membuat ekspresi pria tua berpakaian hitam semakin tak karuan.


"Akan aku bunuh kau!"


Zhou Fan menyipitkan mata, tapi sejurus kemudian dia menarik tubuhnya ke samping dan menyerang dengan pedang di tangannya.


Ketika dua senjata bertemu, dentingan nyaring itu tak dapat lagi terelakkan.


Pertarungan semakin cepat dan dalam kurun waktu tersebut keduanya telah bertukar puluhan gerakan.


"Kau mempunyai bahan untuk bermulut besar, tapi percayalah, itu tak cukup!" Pria tua berpakaian hitam mendorong pedangnya dengan kedua tangan, sembari mulutnya berkata 'tusukan pedang matahari'.


Zhou Fan memegang kuat pedang darah malam, ketika mendekat ia mengayun sekuat tenaga. "Tebasan Ganda!" teriaknya yang disusul dengan dua buah siluet tebasan yang bergerak cepat.


BLAR!!


Begitu dua jurus bertemu, ledakan dahsyat terdengar, membuat pertarungan berhenti sebentar. Tidak terkecuali Leng Shui yang memandang dari kejauhan. "Nampaknya dia juga mendapatkan kemajuan," gumamnya dengan kesal.


Sekarang niatnya untuk memberi pelajaran kepada Zhou Fan akan semakin sulit dilakukan, bahkan mustahil dengan memperhatikan jarak di antara mereka.


Kembali ke tempat Zhou Fan.

__ADS_1


"Bagus sekali! Kau adalah adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu memaksaku dalam keadaan seperti ini." Pria tua berpakaian hitam berdiri setelah terhempas puluhan langkah dari tempat semula.


Pakaian hitam itu nampak ada sedikit bercak darah yang merembes dari tubuhnya. Namun pria tua itu mencoba untuk tak menghiraukan.


"Kau harus bangga karena akan mati setelah aku mengeluarkan teknik andalanku." Setelah berkata, tubuh pria tua nampak menancarkan perasaan mencekam dan itu semakin lama semakin kuat.


"Kau harus tahu, yang dapat selamat dari teknik ini hanya dua orang saja. Sungguh sebuah keberuntungan bagimu." Pria tua menggenggam pedangnya dengan kedua tangan, setelah beberapa saat hanya diam dia pun menerjang ke depan.


Zhou Fan mengeluarkan gerakan teknik dewa pedang, sebuah teknik yang terdiri dari enam gerakan dasar, dua gerakan pengembangan serta satu gerakan gabungan. Teknik pewa pedang merupakan komposisi sempurna dari sebuah teknik bertarung.


Deru pertarungan terus berlangsung, akan tetapi belum juga memperlihatkan siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya. Zhou Fan masih berusaha, begitupun dengan pria tua berpakaian hitam yang sungguh bukan lawan yang gampang.


Namun bukan bukan berarti mengalahkan pria tua ini adalah hal yang mustahil.


"Sebenarnya siapa pria muda ini, mengapa aku tak pernah mendengar namanya?" Kerutan di kening pria tua nampak semakin jelas.


Daftar nama yang patut di waspadai telah berada dalam ingatannya. Namun di antara nama nama tersebut tidak satupun adalah seorang pemuda.


"Jangan mengalihkan perhatianmu saat bertarung!" Zhou Fan menegaskan pedang lurus dari atas.


Pria tua spontan membuka mata lebar-lebar, tubuhnya condong ke belakang demi menghindari serangan Zuou Fan. Namun ia tak sukup cepat dan mengharuskannya menempatkan senjata menahan serangan.


Prank!


Serangan dapat dihentikan, meski tangannya sedikit gemetar. Namun Zhou Fan belum selesai, pria muda itu kembali melancarkan serangan dan menekan lawan habis-habisan.


Bang!!


Tinju Zhou Fan melesat masuk menghujam perut pria tua. Hal ini membuat tubuhnya terhempas dan menghantam sebuah bangunan yang berdiri di belakang.


Zhou Fan belum selesai, dia memburu tubuh pria tua yang bahkan belum bangkit dari jatuhnya.


Jleb!


Pedang darah malam menembus tubuh pria tua, darah merembes di sela luka. Mulutnya bergetar menahan rasa sakit yang tak dapat dijelaskan.


"Kau -- " Matanya mememerah menahan marah, dia tidak terima kalah dari seorang pemuda. Ini jelas merupakan penghinaan baginya.

__ADS_1


Zhou Fan hanya memandang datar, perlahan dia bangkit dan menarik pedangnya.


"Kesalahan terbesar seorang petarung adalah terlalu banyak berpikir dalam sebuah pertarungan. Kau harus membayar mahal kecerobohan itu!"


__ADS_2