
Gio dan Vina masih asik dengan perdebatan mereka dikarenakan hadiah yang dikirim Cala pada Vina di saat pesta pertunangan.
" kamu lebih percaya sama foto itu dari pada penjelasan aku Gio ?" tanya Vina
" yang buat aku gak suka, kamu yang gak jujur sama aku, waktu itu bukanya aku sudah ajak kamu jalan, tapi kamu bilang capek, nyatanya kamu asik-asikan di club sama cowok lain Vin " ujar Gio
" Gio ini tujuan utama Cala membuat hubungan kita hancur, aku sudah jelasin aku gak kenal sama cowok itu dia tiba-tiba datang dan cium aku gitu aja, dan semua ini sampai ada foto ini pasti ulah Cala " ujar Vina
" yang aku tau kamu bohong sama aku Vin, dan jika memang tidak mengenal kenapa tidak mengelak saat dia mencium mu ?" ucap Gio
" terserah kamu, aku gak nyangka rasa cinta kamu ke aku hanya sebatas seperti ini, gak ada percaya-percayanya, kamu lebih percaya foto dari pada aku yang sudah berhubungan sama kamu beberapa tahun, kalo memang kamu gak percaya aku pasrah kamu mau gimana, terserah kamu Gio " ujar Vina
" pernikahan kita lebih baik di percepat dua bulan lagi, agar aku bisa selalu mengawasi kamu " ucap Gio
" tapi bukanya rencana masih beberapa bulan lagi ?" tanya Vina
" kamu pilih mau tetap dengan cinta kita menikah dua bulan dari sekarang, atau kita akan terus bertengakar karna di ganggu oleh gadis kecil itu ?" tanya Gio
" ya sudah aku nurut kamu aja " jawab Vina dengan pasrah
" aku cinta banget sama kamu, karna itu aku sama sekali gak bisa liat kamu di sentuh sama pria lain, maafin aku ya Vin, maaf " ucap Gio sambil memeluk Vina
__ADS_1
" iya maafin aku juga, aku janji sama kamu aku gak akan ngulangin lagi " ucap Vina.
.
.
Tiga tahun berlalu Cala sudah selesai dengan pendidikan S2nya di Jerman, Cala memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya yang ada di Jerman tanpa berpikir untuk kembali ke Indonesia.
Cala sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan kembali ke Indonesia kecuali suatu hal yang benar-benar tak dapat dihindarinya.
rasa sakit hati yang disadari Cala karna ulahnya sendiri mencintai pria yang memiliki wanita disampingnya, membuatnya lupa dengan berbagai macam hal buruk yang dilakukannya hingga tanpa sengaja kejadian naas menimpanya yang membuat pria yang dicintainya semakin membencinya.
beruntung dengan pengaruh kuat ayah dan bundanya masalah itu tidak sampai kedepan hukum, yang sudah pasti tidak akan berpihak banyak pada Cala, namun rasa bersalah, rasa takut, dan kebencian yang di terimanya membuatnya berubah menjadi lebih dewasa dan berhenti bertingkah tidak karuan yang hanya akan menambah masalah, mungkin dulu dia akan senang jika membuat masalah yang akan memusingkan kedua orang tuanya namun tidak untuk sekarang.
Cala sangat berhati-hati dalam melakukan segala hal, tingkah yang biasa di biarkan ceroboh sekarang sudah tidak ada lagi, semua yang dilakukannya penuh pertimbangan agar tidak terjadi kesalahan yang membuatnya selalu tidak tenang.
.
.
Cala tengah bersiap dengan segala dokumen yang akan dibawanya untuk bertemu rekan bisnisnya, Cala tidak ingin ada kesalahan saat nanti dia beridiskusi tentang proyek yang akan mereka kerjakan bersama.
__ADS_1
Cala sampai lebih dulu di salah satu restoran yang menyediakan tempat khusus untuk para pembisnis melakukan pertemuan, Cala sudah duduk di temani oleh sekretarisnya yang bernama Sonya.
Cala merasa sedikit gugup karna dia belum sekalipun bertemu dengan calon rekan bisnisnya ini karna sebelumnya semua urusan yang melakukan adalah sekretarisnya.
" selamat siang " sapa seseorang dengan suara baritonya
Cala mendongakkan kepalanya, dan dalam sekejap dirasakan paru-paru nya berhenti memasok oksigen bahkan jantungnya seakan berhenti berdetag, mata bulat Cala masih menatap pria di hadapanya, jelas terlihat ada kilatan kebencian yang sangat besar dilihat Cala.
" nona, nona Cala " ucap Sonya menegur Cala yang terdiam kaku
" hah iya " jawab Cala dengan gugup
" nona beliau adalah tuan Gio yang menjadi rekan bisnis kita " ucap Sonya
Cala menarik napasnya dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya agar tak terlihat begitu gugup, dan menerima uluran tangan Gio yang mengajaknya untuk bersalaman.
" Gio Elvin Merviano " ucap Gio
" Cala Fahad " jawab Cala sambil mencoba menarik tanganya yang di genggam erat oleh Gio, Cala merasa sakit pada tanganya namun dia tidak berani untuk menyentakkan tangannya sampai Gio melepaskan karna mendengar sekretarisnya berdehem.
jangan lupa untuk, like, komen dan vote ya, terimakasih karna sudah mampir dan membaca cerita ini ❤❤
__ADS_1