
Izzan merebahkan tubuhnya di atas kasur milik mendiang ibunya, rasa hangat menyelimuti tubuhnya, mencoba memejamkan mata berharap mendapat mimpi bertemu dengan sang mama yang begitu di rindukan walau hanya beberapa detik saja, aahh.... semoga Tuhan mengabulkan keinginan dalam mimpi.
dua jam berlalu pria tampan itu akhirnya terlelap dengan damai, segaris senyum terlukis tipis di wajahnya saat dia tertidur, entah apa yang sedang dilakukan nya di alam mimpi sana.
sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar membangungkan pria tampan yang sudah mulai mengeluarkan tubuhnya, saat membuka mata pertama kali yang di lihatnya adalah foto mama nya bersama dirinya yang masih berusia 7 tahun saat itu setahun sebelum kematian datang.
"morning ma" ucap Izzan dengan suara serak khas bangun tidur, tersenyum tipis nyaris tak terlihat lalu bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
"kak kau harus mengantar ku kesekolah!" ujar Nura
"aku lelah, kau pergi dengan supir" jawab Izzan yang batu saja semalam dia sampai di tanah air.
"jika kau terus menolak ku, aku akan menyebarkan nomor ponsel mu pada gadis-gadis di sekolah ku" ancam Nura yang membuat Izzan kesal
"cepat" ujar Izzan dengan tatapan tajam nya lalu berjalan keluar menuju mobil nya.
sesampainya di sekolah, sebelum turun Nura mengenadahkan tangannya pada sang kakak, Izzan hanya melirik sekilas mengerti dengan maksud adiknya, dia mengambil dompet dan mengeluarkan uang berwarna merah 3 lembar dan di berikan pada adiknya, selalu saja begitu walau adiknya itu sudah mendapatkan uang saku dari ayah, oma dan kakaknya, tetapi ada kebahagian tersendiri bagi Nura saat meminta langsung pada kakaknya.
Cup
satu ciuman mendarat pada pipi Izzan sebagai ucapan terimakasih Nura, gadis itu bergegas keluar mobil dan masuk kedalam sekolahnya, Izzan masih memperhatikan sampai adiknya benar-benar tak terlihat.
Aaaaaaaaa
"sakiiit" eluh seorang gadis yang terjatuh akibat terkejut saat terburu-buru hendak masuk kedalam sekolah karena takut terlambat, tanpa melihat sebuah mobil yang akan melaju.
"Shit" umpat Izzan, lalu keluar dari mobil nya dan melihat orang-orang hampir di serempetnya.
"mata lo buta?!" ujar Izzan tanpa membantu gadis yang merintih sakit karena kedua lututnya terluka
"ma ... maaf " ujar gadis yang merasa takut dengan tatapan Izzan yang mengintimidasinya.
"Ahza" teriak Nura yang penasaran karena keadaan yang ramai di depan gerbang sekolahnya.
"kamu gak apapa?"tanya Nura dan Ahza hanya menggelengkan kepalanya, Ahza melihat temanya yang menangis mencari si pelaku yang menyakiti sahabatnya itu, di lihatnya sang kakak yang berdiri dengan acuh dan membuat Nura geram.
"kakak kan yang bikin sahabat aku terluka gini?" tanya Nura
__ADS_1
"temen kamu tu yang gak bisa liat mobil segede ini" sahut Izzan
"tapi tetap aja kakak yang salah, sekarang anterin Ahza kedokter, sebagai bentuk tanggung jawab" perintah Nura
"ada apa ini?" tanya Faid yang baru saja datang setelah memarkirkan motornya
Nura yang melihat kedatangan Faid menjadi salah tingkah, dan takut jika kakak nya justru akan berkelahi dengan Faid, "aku gak apapa kok, Ra, bang" ucap Ahza
"tuh kamu denger temen kamu gak apaapa, udah kakak harus kerja" sahut Izzan, berbalik badan siap untuk masuk kedalam mobil nya lagi.
"tunggu, lo yang bikin adik gue sampai terluka, walau lo gak bertanggung jawab mestinya lo minta maaf" ujar Faid
"adik lo yang---"
"cukup, kakak emang mesti tanggung jawab, Ahza terluka dan antar dia kerumah sakit" ujar Nura menyela ucapan kakak nya
"manja banget, cuma luka kecil doang" kesal Izzan
"aku gak mau, abang aja anterin Ahza ke ruang kesehatan sekolah ya" pinta Ahza karena merasa dirinya akan lebih tidak aman jika bersama kakak sahabatnya.
"ya udah sini biar sama abang" ujar Faid yang membantu adiknya, tak lupa tatapan tajam di layangkan pada Izzan "urusan kita belum selesai" ucap Faid saat melewati Izzan
"Nura kesel sama kakak, awas aja Nura bakal aduin kaka ke mama dan oma" ujar Nura lalu meninggalkan kakaknya begitu saja.
.
.
"Nura masih marah sama kakak?" tanya Izzan yang berdiri di ambang pintu kamar adik nya
"Nura kesel sama kakak, malu juga, punya kakak kok gak ada perasaan kaya kulkas, mending sih kulkas masih bisa buat nyimpen makanan lah kakak lebih parah dari tembok" ujar Nura dengan wajah yang di buat cemberut
"maaf ya, kan salah teman kamu, main lari aja gak liat ada mobil kakak sebesar itu" jawab Izzan membela diri
"ya tapikan kakak sebagai orang dewasa jangan gitu, kasian Ahza dia sahabat Nura, dan Nura jadi gak enak sama Faid" ucap Nura lalu seketika menutup mulut nya dengan kedua tangan melirik kakaknya yang sudah tersenyum menyeringai padanya.
"jadi karena kamu naksir kakak nya temen kamu itu?" goda Izzan
"keluar dari kamar Nura sekarang" usir Nura yang merasa malu dengan ejekan kakaknya.
Izzan berjalan keluar kamar adiknya dan memutuskan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan kesukaan adiknya sebagai bentuk permintaan maaf nya.
__ADS_1
di perjalanan menuju supermarket di lihatnya seorang gadis yang sedang kebingungan karena mobil nya yang mogok, entah mengapa Izzan memberhentikan mobil nya dan berniat membantu gadis itu, tidak seperti bukan dirinya yang akan peduli pada orang lain.
"kenapa?" tanya nya
"mogok" jawab gadis yang tak lain adalah Ahza
"minggir" ujar Izzan dengan reflek Ahza bergerak menjauh, membiarkan Izzan melihat dan siapa tau bisa membantu membenarkan mobilnya.
Izzan terlihat sedang mengetik sesuatu di ponselnya sambil sesekali melirik kearah Ahza yang sedari tadi hanya diam menundukkan kepalanya, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"lo mau kemana ?" tanya Izzan
"mini market" jawab Ahza
"ikut gue, mobil lo biar di urus sama orang gue" ujar Izzan
"tapi?!" ucap Ahza
"ck' terserah lo mau ikut apa enggak" ujar Izzan sambil berjalan mendahului Ahza, sedang gadis itu yang melihat sekeliling nya sepi dan membayangkan hal yang tidak-tidak segera berlari dan masuk kedalam mobil Izzan.
"kak boleh anterin aku pulang?" tanya Ahza
"hemm" jawab Izzan
Hening.....
"turun" perintah Izzan, Ahza menatap heran pada pria dingin yang sudah siap membuka pintu mobil, bukankah tadi sudah jelas jika Ahza mengatakan meminta tolong di antar pulang kenapa mereka justru berhenti di depan mini market?
"mau sampai kapan bengong" tegur Izzan, lagi membuat Ahza kelabakan
"aku mau pulang kak" jawab Ahza
"gue ada yang di cari, dan bukanya lo juga" ujar Izzan
"gak jadi, dompet ku ketinggalan di mobil tadi" jawab Ahza dengan jujur
"udah gue bayarin" ucap Izzan
"enggak mau, nanti aku bisa balik lagi kok sama papa" jawab Ahza yang tak mau merepotkan kakak temanya ini, dan dia ingat pesan mami nya agar sebisa mungkin jangan menambah merepotkan orang yang sudah baik menolong kita.
"trus mobil mogok kenapa gak telfon orang rumah?" tanya Izzan yang sebenarnya penasaran, kenapa gadis itu hanya diam kebingungan saat mobilnya mogok.
__ADS_1
"gak bawa ponsel" jawab Ahza, Izzan berdecak di hatinya di jaman semodern ini masih aja ada anak gadis yang acuh pada ponselnya, mungkin hanya kebetulan pikir Izzan.
pada akhirnya Izzan mengalah untuk tidak jadi masuk kedalam mini market dan mengantar kan Ahza pulang kerumahnya, barulah kemudian dia kembali mencari apa yang di inginkan nya tadi.