
Cala sudah bersiap untuk mengunjungi Mita setelah melakukan panggilan pada Alif, untuk meminta alamat apartemen mereka tinggal.
" Mita " ucap Cala setelah melihat sahabatnya duduk diam di sebuah sofa yang menghadap jalanan, di depan jendela kamarnya.
Cala memperhatikan wajah pucat Mita, mengusap lembut tangan Mita dan terus menatap Mita yang melamun kosong, tak ada respon yang di berikan Mita pada Cala, dia hanya diam melamun dengan sesekali menggumamkan nama Faiz.
" aku Cala dan aku disini, lihatlah aku dan peluk aku " ucap Cala dengan menahan kuat genangan air mata yang sipa meluncur.
" aku mohon berjuang lah, atau katakan padaku apa yang bisa ku lakukan agar kau kembali ceria seperti dulu Mit" ucap Cala tetapi tetap tak ada respon sama sekali.
__ADS_1
Cala memeluk Mita dan membantu Mita untuk makan, penuh dengan rayuan dan berbagai macam kata di ucapkan Cala agar Mita mau membuka mulutnya untuk menyuap makanan dan obat yang harus di konsumsinya.
.
.
sesuai apa yang di katakanya pada Gio, Cala kembali ke Jerman bersama Izzan sedang bundanya kembali ke Indonesia, walau berat sangat berat hatinya meninggalkan Mita yang dalam keadaan depresi tetapi dirinya harus kembali pada suaminya.
Rasa cinta milik Cala masih sama terhadap Gio, hatinya mudah luluh dengan perasaan yang mendalam, walau sering kali akalnya mengajaknya untuk menolak setiap kata manis dari Gio yang pasti berakhir menyakitkan.
__ADS_1
walau sekarang Gio mulai mengakrabkan diri dengan anak mereka Izzan, tak juga membuat Gio menghilangkan sikap kasarnya pada Cala, benar - benar menyalurkan rasa dendam yang ada di hatinya, menuruti nafsu buruk yang ada di otaknya pada wanita yang sebenarnya mencintai dirinya dengan tulus.
berulang kali orang tua Gio selalu mengingatkan anaknya agar merubah sikapnya, karena mau bagaimanapun Gio menyiksa Cala tak akan bisa membuat Vina kembali hidup di dunia, dan seharusnya Gio bersyukur mendapatkan seorang wanita yang begitu baik dan lembut, tidak seperti apa yang mereka dengar saat Cala masih bekerja dulu, bahkan Cala tak pernah membedakan antara orang tuanya atau mertuanya, kasih sayang yang Cala berikan sama, bahkan terhadap Sarah ibu dari kakaknya Cala tak menyimpan rasa benci sedikitpun, banyak hal yang telah di laluinya dan merubahnya menjadi seorang yang memiliki ketegaran hati, hanya fokusnya lebih kepada anaknya Izzan.
Cala berharap anaknya mampu menjadi seorang pria bijaksana, baik dan penuh kasih sayang, dia juga berharap jika dirinya bisa selalu menemani anaknya hingga akhir hayatnya.
**********
Terimakasih untuk kalian yang masih mau mampir dan membaca cerita yang aku tulis.
__ADS_1
maaf jika cerita tidak nyambung atau garing, aku hari ini menulis dengan tujuan mengalihkan pikiranku dari suasana duka yang ku alami, aku ingin kembali semangat tetapi sepertinya aku masih ingin sedikit waktu lagi untuk libur merangkai kata untuk cerita, karna aku benar-benar tak bisa berkonsentrasi. sekali lagi maafkan aku menyelipkan cerita duka ku disini.