Lembaran Cerita Cinta

Lembaran Cerita Cinta
Bab 32


__ADS_3

bukan Gio namanya jika tak menepati ucapannya, hampir semalaman dia tak membiarkan Cala tidur, sampai membuat Cala menangis karna ingin menyudahi kegiatan malam mereka, Gio melakukanya dengan lembut tetapi berulang, Cala benar-benar memohon agar Gio tak lagi menggangunya dan membiarkan ya tidur dengan nyenyak, tubuhnya terasa sangat lunglai bahkan tenaga untuk mengusap air matapun rasanya Cala tak memilikinya sampai dia terlelap dengan wajah yang basah dan mata sembab.


Gio menyeringai puas melampiaskan kekesalan yang ditahanya seharian ini, wajah lelah tetapi terlihat damai saat tertidur pulas, berulang kali juga Gio mencium puncak kepala Cala, " lekaslah hadir di antar kami " ucap Gio sambil mengusap perut Cala yang rata, kemudian ikut terlelap sambil memeluk istrinya.


.


.


Cala mengerjapkan matanya karna silau dari cahaya matahari yang masuk kedalam kamarnya melalui celah-celah jendela, dia duduk bersandarkan kepala ranjang, melihat keselilingnya dan tak mendapati suaminya.


" dia pasti sudah berangkat kerja " gumam Cala lalu beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri.


selesai dengan ritual mandi, Cala yang duduk di tepi ranjang tersenyum-senyum tipis mengingat perlakuan Gio padanya semalam, sangat berbeda tidak seperti biasanya yang selalu kasar padanya, ahh semua ini membuat Cala semakin berharap besar pada Gio, melupakan permasalahan Vina yang menjadi ganjalan hatinya, dan jika di ingat Cala sudah mulai jarang mengkonsumi obat tidur, hanya dengan pelukan Gio dia merasa nyaman dan mudah terlelap.


Cala yang merindukan ayahnya, memutuskan untuk ke apartemen ya, mengunjungi ayahnya dan sekaligus mengajak makan siang bersama, melupakan hukuman yang di berikan Gio padanya, pada dasarnya Cala memanglah sangat suka melanggar aturan, dirinya jadi teringat saat senang sekali melanggar segala aturan untuk merebut perhatian ayah dan bundanya dari pekerjaan mereka.


.


.


Cala masuk kedalam apartemen sayup-sayup terdengar suara orang sedang berbicara, entah mengapa Cala memilih berjalan secara perlahan penasaran dengan siapa ayahnya berbincang dengan serius.


Deg....


bagai tersambar ribuan petir, Cala terdiam membeku, mendengar pernyataan dari ayahnya pada seorang pria yang juga sangat Cala kenal.


kenapa Tuhan ? kenapa harus ada kenyataan pahit baru yang di dengarnya ? apakah benar yang baru saja di dengar dan di lihatnya ini ? apakah ini alasan selama ini kedua orang tuanya tak pernah akur ? selalu saling membandingkan ? ya Cala ingat bundanya sering mengatakan jika ayahnya memiliki kesalahan yang tidak dapat di terima bundanya, apakah ini jawabannya ? oh Tuhan apa yang harus Cala lalukan sekarang ? haruskah dia bahagia, karna mengetahui jika dirinya memiliki saudara ? seorang kakak ?


tunggu ....


apakah pria yang berhadapan dengan ayahnya saat itu juga sudah mengetahui jika Cala adalah adiknya ? Dika ya nama itu terus berkeliaran di kepalanya, Cala duduk diam melamun di hadapan jendela kamarnya, setelah mendengar pembicaraan ayah dan Dika, Cala memutuskan pulang tanpa menemui ayahnya, biarlah ayah dan kakaknya menyelesaikan permasalahan mereka dan Cala memutuskan menunggu kapan mereka akan jujur padanya.


" apa saja yang kau lakukan seharian ini ?" suara bariton yang membuyarkan lamunan Cala.


" tidak ada " jawab Cala


" benarkah ? apa kau mencoba berbohong padaku ?" tanya Gio lagi


" aku pergi ke apartemen untuk menemui ayah " jawab Cala


" lalu ?" tanya Gio

__ADS_1


" tidak ada hanya bertemu " jawab Cala


" kau melanggar hukuman mu, kau tau akibatnya ?" tanya Gio


" Gio aku mohon, aku lelah sangat lelah " ucap Cala


hati ku yang lelah Gio, kalian berdua sama saja tak berbeda, kalian sama-sama kejam, kakak dan suami yang sama kejam nya. batin Cala


" kau pikir sejak kapan aku perduli pada mu ? jangan terlalu merasa senang karna aku lembut padamu, ingat kau wanita yang kunikahi hanya untuk dendam dan kepuasan ku " ujar Gio


" Bukankah semua dendam mu sudah terbalas Gio ? kau sudah menghancurkan semuanya, Vernandes kau juga sudah memberinya pelajaran bukan, lalu apa lagi ? tanya Cala


" wah... apa kau mau memberikan pembelaan pada pria yang mengagumi mu ? atau aku perlu melakukan lebih agar kau kembali mendukungnya ?" tanya Gio tanpa melepas tatapan tajamnya.


" tidak, aku... aku hanya tidak suka cara mu " jawab Cala


" kau tidak memiliki hak apapun padaku Cala, jangan lupa ketika kau mengatakan merelakan dirimu untuk ku, jadi jangan pernah protes apapun itu " ujar Gio dengan tegas


.


.


hari berganti, bulan berganti sampai saat ini Cala masih belum menerima apapun penjelasan dari Raka maupun Dika, bahkan Dika tetap bersikap dingin dan kejam seperti biasanya, bagai tak mengenal adiknya, tidakkah Dika merasa kasihan pada adiknya sendiri, seperti saat ini dirinya jugalah yang melempar Cala kedalam gudang, bahkan dengan kesalahan yang tidak di lakukan Cala.


Flashback


" ada apa ?" tanya Cala saat berada di ambang pintu, sedang Gio langsung menatapnya tajam


" kau bisa kembali kekamar mu nona " perintah Dika dengan tegas


" tidak sebelum kau mengatakan ada apa ini ?" Cala tetap kembali bertanya.


" keluarlah Dik " perintah Gio dan Dika mengangguk, melirik Cala dari ujung matanya sekilas dan bergegas keluar dari ruangan.


" kau ingin tau, kemarilah " ucap Gio yang masih terus menatap Cala


" apa yang terjadi ?" tanya Cala


" kau tau hari ini, hari apa ?" tanya Gio dan gelengan kepala sebagai jawaban Cala, " mana mungkin orang seperti mu akan mengingat " sahut Gio dan mengalihkan tatapanya pada foto Vina yang selalu ada di atas meja kerja Gio.


ya walau Gio menikah dengan Cala tetapi Foto Vinalah yang mendominasi dinding rumah yang di tinggali Cala tanpa ada satupun fotonya atau bahkan foto pernikahan mereka

__ADS_1


" katakan, jika kau bermain teka teki mana mungkin aku tau " jawab Cala yang mengikuti arah pandang Gio


" kau dengar sayang, pembunuh mu ingin tau hari ini hari apa hehehe " ucap Gio dengan suara dan wajah yang menjadi begitu lembut pada sebuah foto yang membuat Cala mengerti dan nyeri sekaligus di dalam hatinya.


bodoh sesat setelah Cala merebut foto yang di pegang Gio, dan menatap tajam pada suaminya, " KEMBALIKAN " bentak Gio


" tidak bisakah kau mencoba untuk melupakannya Gio ?" tanya Cala yang sekita merutuki mulutnya, yang sebenarnya dia tau jika Gio masih sangat mencintai wanita didalam foto itu.


" hahahahahaa, kau benar-benar bodoh, dan munafik " ucap Gio sambil merebut foto Vina


Prraaannnnkkkkk


Brruuukkkk


suara pecahan kaca dan tubuh yang terjatuh bersamaan,


" aakkhh...... " teriak Cala saat dirinya terjatuh di antara pecahan kaca, entah apa yang sudah terjadi di dalam ruangan ini hingga begitu banyak barang yang berserakan.


" berani sekali kau menjatuhkan Vina ku " bentak Gio tanpa perduli dengan ringisan Cala yang menahan rasa sakit pada kakinya.


" aku tidak menjatuhkanya kau sendiri yang menariknya " jawab Cala dan berusaha bangun


" kau harus merasakan bagaimana rasanya tidur di tempat gelap tanpa apapun, seperti yang di rasakan Vina saat ini " ujar Gio


" tidak aku ti......"


" DIKA " teriak Gio memanggil asistenya dengan segera Dika kembali masuk kedalam ruangan kerja Gio.


" tinggalkan dia di gudang belakang dan jangan ada yang membantunya apapun itu " perintah Gio


" baik " jawab Dika yang langsung membawa Cala tanpa berbicara apapun.


Flashback off.


Gelap benar-benar gelap tanpa cahaya, tak ada yang dapat Cala lihat, tak ada penerangan apapun, tubuh Cala gemetar, gugup dan detag jantung yang berdegup kencang, perih di bagian kaki yang terluka tak lagi terasa, kalah dengan rasa takut yang menyergap dirinya.


" Bunda, bunda, tolong Cala, hiks....hiks.... "


" bunda Cala menyerah, tolong Cala menyerah "


" bunda, ayah "

__ADS_1


tak lagi terdengar suara rintihan, entah apa yang terjadi pada wanita di dalam ruangan gelap itu, Dika yang masih berdiri di balik pintu mendengar semua rintihan adiknya tanpa melakukan apapun, dan kembali melangkah keruangan Gio untuk melihat keadaan tuanya.


__ADS_2