
" besok kita akan kembali ke Jerman " ucap Gio
" kenapa ?" tanya Cala
" aku harus mengurus perusahaan ku yang disana, dan kau bisa kali bekerja di perusahaan ayah mu " jawab Gio
" baiklah, apa boleh aku bertemu bunda ?" tanya Cala yang sangat merindukan ibunya.
" tentu, Dika akan mengantar mu nanti jam 10 pagi " jawab Gio
" terimakasih " ucap Cala
.
.
" Dika apa bisa kita berhenti di toko roti yang ada di sana " tanya Cala
" tentu nona " jawab Dika
setelah Dika memarkirkan mobilnya, di membukakan pintu untuk Cala dan mengikutinya masuk kedalam toko roti, setelah selesai mereka langsung menuju rumah Devi.
" Bunda " panggil Cala yang melihat ibunya tengah duduk melamun di sofa ruang keluarga
" Cala " ucap Devi dan dengan semangat menghampiri anaknya.
" iya bunda, bunda apa kabar ?" tanya Cala
" bunda baik, kamu bagaimana ? apa Gio memperlakukan mu dengan baik ? apa kamu baik-baik saja ? Gio tidak menyakiti kamu kan ? dia tidak kasar dengan mu kan ? " tanya Devi beruntun
__ADS_1
nyeri itulah yang Cala rasakan di hatinya, mengingat perlakuan Gio yang lalu, tetap saja Cala tersenyum manis untuk menutup semuanya, " Cala baik-baik saja bunda, dan Gio memperlakukan Cala dengan baik " jawab Cala
Cala dan Devi berbincang -bincang mengenai banyak hal, sampai pada Dika yang menegur Cala jika waktu mereka keluar dari rumah sudah hampir habis yang di berikan Gio.
" nona sudah waktunya untuk pulang " ucap Dika mengingatkan
" baiklah " jawab Cala
" bunda, besok Cala dan Gio kembali ke Jerman, apa bunda tidak apa ?" tanya Cala
" tak apa, seringlah memberikan kabar dan hati-hati, jaga dirimu dengan baik, jika ada apa-apa lekas berikan kabar pada bunda " pesan Devi
" baiklah bunda, Cala pamit " ucap Cala yang sebenarnya sedih, tetapi ada rasa bahagia di hatinya untuk pertama kali setelah sekian tahun akhirnya mereka bisa berbincang bersama.
" ingat bunda selalu menyayangi mu " ucap Devi yang di angguki Cala
sesampainya di rumah ternyata Gio sudah menunggunya di ruang tamu, menatap tajam pada Cala seperti singa yang siap menerkam mangsanya, Cala bergidik setiap kali Gio melihatnya tatapan itu tetapi bagaimanapun Cala harus tegar dan tak boleh terbuai.
" sudah kau kemas barang-barang mu ?" tanya Gio
" sebagian " jawab singkat Cala
" kita pergi sekarang ke Jerman " ucap Gio
" bukankah besok ?" tanya Cala
" tidak usah banyak bertanya " sahut Gio
" aku tidak mau, kau bilang besok itu artinya besok " jawab Cala dan melangkah cepat meninggalkan Gio
__ADS_1
.
.
saat Gio masuk kedalam kamar berbarengan dengan Cala yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya, Cala menatap datar pada Gio yang memberinya tatapan nyalang.
" apa kau mencoba membantah ku ?" tanya Gio
" tidak aku hanya mendengarkan ucapan mu " jawab Cala
" lalu ?" tanya Gio
" bukankah kau bilang besok, itu artinya besok " jawab Cala
" aaaakkkhhh...... " teriak Cala, saat Gio menarik kuat rambutnya.
" jangan besar hati karna aku tidak menyiksamu seminggu ini, lalu kau seenaknya membantah ku " bisik Gio tepat di telinga Cala
" tapi baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu, kita akan pergi ke Jerman besok, dan jangan berharap kau bisa melangkahkan kakimu sebelum esok hari " sambung Gio
Cala menatap Gio tajam, saat dirinya sudah di hempaskan di atas kasur, " berhenti " teriak Cala membuat Gio menyeringai jahat dan terlihat semakin mengerikan
" lebih baik kita pergi sekarang " ajak Cala berusaha mendorong tubuh Gio yang sudah setengah menindihnya.
" kau ter-lam-bat " jawab Gio yang melanjutkan aktifitasnya menjamah tubuh istrinya
" aku mohon Gio, hentikan " ucap Cala yang mulai meneteskan air mata, walau sudah beberapa kali melakukanya dengan Gio, pria yang dia cintai bahkan statusnya suaminya sendiri, ada rasa tak rela di hati Cala, mengingat dasar dari pernikahan mereka yang selalu melekat di dalam pikirannya.
bukan Gio namanya jika dia tak senang melihat Cala yang merasa tersiksa, justru membuatnya semakin bersemangat untuk meneruskan perbuatanya hingga tuntas.
__ADS_1