
malam kedua, Cala masih berada di dalam gudang yang begitu gelap, lukanya sudah di obati, oleh pelayan yang di perintahkan Dika secara diam-diam, Cala menolak makanan yang di berikan padanya, dia hanya ingin keluar dari ruangan yang begitu mengerikan untuknya.
" bagaimana, apa kau nyaman berada disini ?" tanya Gio yang berjongkok tepat di hadapan Cala
" lebih baik dari saat bersama dengan mu " jawab Cala
Gio menyeringai istrinya ini masih saja sombong, padahal jelas dia terlihat sangat ketakutan, tubuhnya yang gemetar tak dapat di sembunyikan Cala, Gio semakin menyeringai jahat, menatap Cala yang juga menatapnya dengan sendu.
" ayo " ajak Gio pada Cala yang hanya diam tak bergerak, membuat Gio merasa kesal dan menarik Cala keluar dari gudang.
.
.
di salah satu Cafe yang cukup terkenal di kota Cala tinggal, dia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang membuatnya memiliki banyak pertanyaan dan cerita yang ingin dibagikanya, tetapi semua itu hanya ada dalam angan Cala.
" aku tidak perlu menjelaskan lagi, kau sudah tau jika aku adalah kakak mu " ucap pria dewasa dihadapan Cala yang tak lain adalah Dika.
tidak, bukan pernyataan seperti ini yang Cala inginkan, dia ingin kakaknya ini mau menerimanya, Cala berusaha tidak ikut campur dengan urusan orang tuanya dan Dika hanya berharap jika kakaknya mau membelanya dan berada disisinya walau mereka berbeda ibu.
" iya aku tau " jawab Cala
" baguslah jadi tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, jangan pernah menganggapku kakak mu, hubungan kita tidak lebih dari atasan dan bawahan " ujar Dika
" kau tau, aku sangat bahagia setelah mengetahui jika aku memiliki saudara, aku berharap ada yang membelaku saat aku sedang sedih, terluka dan tersakiti, aku tidak tau apa permasalah yang terjadi diantara orang tua kita, tetapi aku sangat berharap jika kau mau menerima aku sebagai adikmu "
" katakan kepadaku kak, kenapa kau juga begitu tega kepadaku ? katakan kesalahanku padamu ?" tanya Cala
" kau sudah memiliki hidup yang sempurna Cala dan inilah saatnya kau merasakan kesakitan " jawab Dika
" sempurna ? apa yang kau pikir tidak seperti apa yang ku jalani, jika Tuhan memberikan pilihan untuk menukar hidup, aku akan memilih hidup mu, karna walau tanpa ayah kau mendapat kasih sayang melimpah dari ibu mu, aku ingin itu " sahut Cala
" terimakasih kak, setidaknya aku mengenal mu sebagai kakak ku, aku harap kau tidak membenci ku, karna mungkin suatu saat aku akan meminta bantuan mu " ucap Cala lagi lalu beranjak dari duduknya.
" nak " sapa seorang wanita paruh baya
__ADS_1
" siapa gadis ini ? apa dia kekasih mu ?" tanyanya pada Dika yang diam menatap Cala
" bukan bu, dia hanya teman " jawab Dika
Cala tersenyum kemudian memeluk wanita yang menjadi ibu dari kakaknya " maafkan aku jika lancang memeluk mu bibi " ucap Cala
" tidak apa nak, tapi siapa nama mu ?" tanya Sarah
" aku Cala, senang bisa bertemu dengan mu, aku permisi lebih dulu " jawab Cala dan langsung berpamitan, sementara Sarah terdiam beku menatap punggung Cala yang semakin menjauh.
" pantas wajahnya tidak asing " ucap Sarah lirih
" ayo bu aku antar pulang " ajak Dika
" jelaskan pada ibu " pinta Sarah, mau tidak mau akhirnya Dika kembali duduk dan menjelaskan semuanya pada Sarah.
.
.
" karena aku tidak merasakan apapun " jawab Cala dengan santai
" katakan apa yang dokter jelaskan " perintah Gio
" dokter bilang jika aku sudah hamil 4 bulan, dan keadaan bayi yang ku kandung baik-baik saja walau ada riwayat keguguran " jelas Cala dengan terus menampilkan senyum manisnya
" kau sangat bahagia ?" tanya Gio dan Cala mengangguk
" jangan menyusahkan ku " ujar Gio
" tidak akan " jawab Cala yang lagi-lagi tanpa melepas senyumnya.
terlepas dari kejadian Cala di kurung di gudang, dia tidak lagi mengurus apapun yang berhubungan dengan Gio dan Vina, hanya melakukan aktifitas layaknya seorang istri dengan terus tersenyum dan sesekali bergurau bersama para asisten rumah tangga yang mau menemaninya.
Cala mengisi waktu kosongnya dengan lebih sering pergi kepanti asuhan untuk melepas semua penat dalam hatinya, dan kembali lagi ketika berada di rumah mewah milik Gio.
__ADS_1
seperti saat ini dia tengah sibuk dengan kegiatan dapur, karna sejak mengetahui jika dirinya kembali hamil Cala bersikeras belajar memasak, agar dia bisa setidaknya membuatkan makanan bergizi untuk anaknya, di bantu oleh beberapa pelayan.
" nona istirahatlah, kau pasti lelah " ucap bi Ani
" tidak apapa bi, Cala suka, bahkan Cala sudah tidak sabar saat nanti anak Cala mencicipi masakan mamanya " jawab Cala dengan semangat
" baiklah, tapi jangan terlalu lelah nona " ujar bi Ani
" Terimakasih bi " ucap Cala yang kembali melanjutkan masaknya.
" bi ..... bi ... Ani " teriak Cala
" nona ada apa ?" tanya bi Ani yang sudah mendekat
" cobalah " ucap Cala sambil mendekatkan sesendok makanan ke bibir bi Ani
" biar saya saja nona " tolak halus bi Ani
" aku ingin menyuapi mu bi " ucap Cala
" baiklah, baiklah, aku akan menganggap ini permintaan bayi mu nona " jawab bi Ani membuat Cala kembali bersemangat.
mereka berdua saling memberikan pendapat dan berdebat kecil dengan sifat Cala yang tak suka mengalah, dan hanya membuat bi Ani geleng-geleng kepala dan gemas pada majikannya ini.
di ujung sana seorang pria memperhatikan sejak tadi kecerian yang menghiasi wajah istrinya, dengan ikut tersenyum tipis, " kau sebenarnya gadis yang baik, dan menggemaskan " ucapnya dan masih memperhatikan senyum manis istrinya.
.
.
" apa kau puas nak, melihat adik mu yang tidak bahagia ? apa kau sudah mencari tau bagaimana kehidupan sebenarnya adik mu ? ibu sudah mengingatkan mu berulang kali, selesaikan semua masalah dengan dingin, jangan sampai kau menyesal " ucap Sarah penuh dengan penekanan
" aku sudah tidak memiliki urusan dengan tuan Raka bu, kami sudah menyelesaikan semuanya, dan Cala aku belum bisa menerimanya dengan benar di hatiku " jawab Dika
" ingatlah jangan lagi menambah kesulitan untuknya, jika kau melakukan itu sama saja kau melukai ibu mu " ujar Sarah laku meninggalkan Dika di ruang keluarga rumah mereka.
__ADS_1
" kenapa ibu begitu membela Cala ?" tanyanya pada diri sendiri dan mengusap kasar wajahnya..