
"10 kali, hanya 10 kali aku akan menemani mu makan, atau pergi ke pesta dan tidak ada hal lain lagi?" tawar Ahza
Izzan tersenyum menyeringai membuat Ahza bergidik melihatnya, entah apa arti dari senyuman itu, yang jelas Ahza akan tetap mencoba negosiasi yang juga memberikan keuntungan padanya.
"aku tidak setuju, aku ingin uang ku saja" ucap Izzan dengan terus mendesak Ahza agar terus membayar uangnya, kesal itulah yang di rasakan gadis itu, tidak mau begitu rugi ternyata salah, mencari keuntungan dalam kesempitan juga tidak mudah, sudah lah lebih baik menyerahkan uang 200 juta nya dari pada semakin membuatnya kehabisan akal untu negosiasi.
"baiklah, ketikan no rekening mu disini" ucap Ahza dengan lesu, sambil menyodorkan hp nya, saat kembali menarik ponselnya, mata bulat itu melebar dengan sempurna, berganti menatap pria tampan yang tersenyum seringai padanya.
"kenapa jadi 300 juta, kau memerasku ?" tanya Ahza yang tak terima dengan nominal yang di tulis oleh Izzan
"itu sebagai bunga keterlambatan pembayaran, dan untuk membayar orang ku yang mengurus mobil mu" jawab Izzan
ingin menangis, tapi ini memalukan, Ahza anak dari keluarga Mahesa dan Arion, memiliki orang tua yang sukses dalam bidang bisnis, uang 300 juta tak begitu mencolok jika digunakan untuk membayar Izzan, tetapi Ahza merasa ini tidak adil, dia benar-benar sedang di peras, lebih baik uang itu di gunakannya untuk berlibur atau di berikan pada yang lebih membutuhkan.
mata bulat itu terus memicing tajam pada layar ponselnya karena semakin lama gadis itu tak berani menatap mata elang yang begitu tajam menatap nya.
"bagaimana jika setiap sabtu dan minggu kau menemaniku makan siang dan malam selama 3 bulan, ini lebih mudah" ucap Izzan yang sebenarnya masih berusaha agar gadis itu memilih menemaninya makan, karena yang dia tahu dari adiknya, Ahza begitu mencintai uang dan sangat tak suka jika uangnya di gunakan secara tidak tepat.
"2 bulan, bagaimana ?" tawar Ahza penuh harap
"lekas selesaikan pembayaran nya, aku tidak banyak waktu" sahut Izzan dan siap untuk beranjak dari duduk nya dan segera pergi.
"baiklah, baiklah 3 bulan" jawab Ahza dengan cepat, Izzan yang sudah membelakangi Ahza menyeringai penuh, memutar tubuhnya dan menghadap pada Ahza.
__ADS_1
"deal" ucap Izzan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"kamu cocok menjadi rentenir" ujar Ahza dan melewati Izzan begitu saja tanpa menerima uluran tangan pria tampan yang tersenyum puas dengan kemenangan nya.
.
.
"papa dan mami mau kemana? kenapa mami cantik sekali?" tanya Ahza
"papa mau ajak mami makan malam romantis dong" sahut Wahyu
"Ahza ikut" ujar anak gadis yang memberengut kesal
"tidak, kamu di rumah saja, jangan menggangu waktu kami berdua" sahut Wahyu
"boleh, lekas ganti baju mu" jawab Mita, gadis cantik iti tersenyum mengejek pada papa nya yang berganti kesal.
"kok di izinin sih mit?" tanya Wahyu
"papa sama mami mau kemana ?" tanya seorang gadis yang baru datang bersama pria paruh baya yang sayang nya masih sangat tampan.
"ck' ada lagi penggangu" gerutu Wahyu yang semakin kesal, habis runtuh sudah rencana makan malam berdua dengan romantis bersama istri dan membuatnya tak lagi bersemangat.
__ADS_1
"mami mau makan malam, kamu mau ikut, Jihan?" tanya Mita
"ingin, tapi wajah papa Wahyu sudah mengenaskan" jawab Jihan
"ingat papa tidak akan memberimu uang jajan selama sebulan" ujar Wahyu
"kak Jihaaann" teriak Ahza sambil berlari menuruni tangga
"sebentar Ahza, aku belum menjawab perkataan papa" ucap Jihan, kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya
"aku akan terus menempal pada papa, sampai papa tidak bisa bersama mami, dan mami bisa kembali bersama papi Bimo" ucap Jihan
TAK
sentilan tepat di kening Jihan, bukan Wahyu atau Mita pelakunya tetapi Faid yang sudah tampan siap untuk ikut orang tuanya makan malam berjalan bersama adiknya Danish, karena di beritahu Ahza mereka semua akan makan malam bersama di luar.
"ngarang banget omongan mu kak" ucap kesal Faid
"sudah-sudah ayo kita cepat pergi, nanti semakin malam" ujar Bimo yang semenjak tadi hanya tertawa mendengar perdebatan di antara keluarga mereka
kita tidak akan yang pernah tau bagaimana skenario yang nyata dalam kehidupan, hari ini kita menjadi musuh esok hari menjadi sahabat, dan lusa menjadi saudara, setiap perjalan dengan lika-liku yang di lalui pasti akan meninggalkan cerita, dengan bagaimana kita menerima dan memperlakukan nya. seperti yang terjadi di antara Mita, Bimo dan Wahyu.
Hai, aku kembali menyapa kalian para pembaca.
__ADS_1
terimakasih jika kalian suka dengan tulisan ku, bisakah kalian membantu ku dengan like, komen, vote dan rate ?
kalian bisa melakukanya sebelum membaca atau sesudah membaca, aku akan menganggap sebagai bentuk terimakasih kalian ke aku, salam hangat dari ku untuk kalian semua 🤗😘 TERIMAKASIH