
" maafkan kami yang tidak bisa menolong atau mempertahankan janin yang di kandung nona Cala tuan " ucap dokter yang baru saja selesai memberikan penanganan pada Cala.
" maksud mu istriku hamil ?" tanya Gio
" iya tuan, dari hasil pemeriksaan istri anda sudah mengandung 6 minggu, tetapi sekali lagi maafkan kami yang tidak bisa mempertahankannya, karna keadaan nona Cala yang sangat lemah, di tambah sepertinya nona sering mengkonsumsi obat tidur" jawab dokter
" kau jangan asal berbicara " bentak Gio
" maafkan saya tuan, tetapi itulah yang kami dapatkan " jawab dokter
Gio mengepalkan kedua tangannya, menatap Cala yang tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit, wajahnya memerah menahan emosi, kenapa dia harus kehilangan lagi ? apa Tuhan sama sekali tak ingin memberinya kesempatan memiliki anak ? dua kali dia gagal memiliki anak karena kesalahan wanita yang sama ? haruskah Gio menghukum wanita yang menjadi istrinya ini ? atau memang dirinyalah yang bersalah disini ? niat yang tidak baik ? keinginan yang tidak tulus ? maka Tuhan langsung menghukumnya ?
Gio memilih pergi meninggalkan Cala di rumah sakit dan memerintahkan Dika untuk menemani istrinya, Dika menatap lekat wajah Cala, miris itulah yang ada didalam pikiran Dika, belum genap satu tahun pernikahan Cala sudah dua kali masuk rumah sakit karna hal dan sebab yang hampir sama.
" nona seharusnya kau lebih sabar " ucap Dika kemudian mendudukkan dirinya di sofa.
.
.
hari ini hari ke empat Cala di rawat sudah satu jam yang lalu Cala mendapat kesadaranya setelah beberapa hari tertidur, dia hanya diam membiarkan Gio yang terus menatapnya tajam " dokter bilang kau hamil " ucap Gio,
" benarkah ?" tanya Cala meyakinkan, tampak raut wajah bahagia dan semangat saat Cala menerima kabar itu, dia tersenyum menatap suaminya yang tanpa ekspresi.
" iya dan usianya 6 minggu " jawab Gio, sedang Cala langsung mengusap perutnya dengan perasaan yang begitu bahagia, dan nampak jelas di mata Gio.
" tetapi, kau mengalami keguguran, dan anak itu sudah tidak ada lagi " ucap Gio, membuat Cala menghentikan usapan tangannya dan menatap Gio penuh dengan pertanyaan.
" kau tau? aku sangat bersyukur karna anak itu memilih tidak ikut dengan mu, lagi pula orang seperti mu tidak pantas mengandung anak ku, dan tidak pantas menjadi seorang ibu " ucap Gio penuh penekanan.
tidak ada jawaban dari Cala, dia hanya terus menatap suaminya yang juga menatap tajam padanya, kau tau saat ini jantung Cala sedang berdetag sangat kencang, dia sedang di permainkan ? dia sedang di hancurkan menjadi abu, bukan lagi pecahan yang masih bisa di satukan, Cala menahan amarah dan kesakitan di hatinya.
Cala menahan sakit pada bagian perutnya untuk merubah posisinya menjadi miring dan membelakangi Gio, sedang Gio hanya memperhatikan lalu mengambil tempat untuk duduk di sofa dengan santai memainkan ponselnya tanpa rasa bersalah pada istrinya.
__ADS_1
Cala membekap sendiri bibirnya, dengan sebelah tangan dan satu tangan lagi menekan dadanya berharap mampu mengurangi rasa sakit, air matanya tak bisa lagi di tahan, mengalir dengan cepat dan deras, sesak napas Cala, bahkan otaknya terasa seperti berhenti bekerja, kalian bisa membayangkan bagaimana menangis dengan menahan isakan, itu justru lebih menyakitkan di bandingkan kalian menangis dengan histeris.
Cala terus merutuki dirinya sendiri, menyalahkan dirinya atas kelalaianya, sakit yang dia rasakan saat ini mungkin sama dengan apa yang di rasakan Vina saat itu, atau justru lebih sakit yang di rasakan Cala ? tanpa ada sesiapa yang menjadi sandaran ? bahkan suaminya lebih memilih meneruskan pekerjaan setelah mengucapkan setiap kalimat menyakitkan.
ingin mengadu tetapi harus kepada siapa ? ingin berlari tetapi kemana ? kesalahan bertubi-tubi, penyesalan yang selalu menemani,mampukah masih bertahan ? apa yang harus di lakukan sekarang ? haruskan Cala memilih untuk mengakhiri hidupnya saja ? setidaknya dia bisa kabur dari permasalahan dunia ? tidak Cala tidak boleh melakukan itu, di sela tangisnya dia menggeleng kuat, menampik pikiran jahat itu, jika memang dia ingin mengakhiri hidupnya kenapa tidak dari duku saja.
Tuhan bantu Cala menemukan ketenangan walau tanpa cinta orang yang di cintainya, atau bantu Cala menghapus rasa cinta itu hingga membuat semuanya menjadi mudah, itulah harapan Cala saat ini, semoga saja Tuhan memberikan salah satu pilihan yang terbaik untuk Cala.
Gio memperhatikan punggung istrinya yang bergetar dengan suara tangis tertahan, dia tau jika istrinya pasti sedang menangis, ya lagi-lagi dia merasa sakit sendiri di hatinya saat sukses menghancurkan hati istrinya, tetapi Gio selalu menepis semuanya, selalu ingatkan dia jika Gio menikah karna sebuah dendam, dan saat ini baru setengah dari penderitaan yang seharusnya Cala terima.
" ingat apa yang kau katakan padaku tentang Vina " bisik Gio tepat di telinga Cala, dan setelahnya Gio melenggang pergi meninggalkan Cala seorang diri.
.
.
hari ini Cala sudah di perbolehkan untuk pulang, dan Dika lah yang datang menjemputnya, sejak dua minggu yang lalu Cala tak bertemu dengan Gio, karna setelah itu sama sekali Gio tak pernah datang menjenguknya hanya Dika yang datang beberapa kali.
" Dik, apa jalan yang kita lewati akan melewati tama ?" tanya Cala memecah keheningan
" bolehkah ?" tanya Cala
" 30 menit, nona " jawab Dika yang mengerti keinginan Cala untuk singgah di taman.
" baiklah " jawab Cala dengan terus menaruh pandanganya pada jalanan yang mereka lewati.
Cala sudah duduk di sebuah taman yang tidak terlalu ramai, sedang Dika entah kemana setelah mengantar Cala untuk duduk di sebuah kursi.
" nona " panggil Dika sambil menyerahkan permen kapan berwarna pink, sedang Cala menata bingung pada Dika yang tiba-tiba saja baik padanya, biasanya pria itu akan sama kejamnya dengan tuanya.
" anggap saja ini sebagai sebuah keberuntungan mu, dulu sewaktu aku kecil aku pernah terjatuh dan berdarah, ibu ku memberikan permen kapas ini padaku, karna ibuku bilang jika kau menyukai hal manis maka hidup mu pasti akan mendapat keberuntungan yang tak akan usai " ucap Dika
" ayah " gumam Cala lirih, kalimat yang di dengar Cala dari Dika mirip dengan apa yang ayahnya sering katakan saat dirinya masih kecil ketika sedang terluka saat bermain.
__ADS_1
" terimalah " ucap Dika sambil mendekatkan permen kapas yang belum di terima Cala
" terimakasih " ucap Cala dengan tangan yang menerima permen kapas dari Dika.
" 15 menit lagi kita harus segera kembali, aku akan menunggu nona di mobil " pesan Dika yang di angguki Cala.
Cala menatap permen kapas yang di pegangnya, tersenyum tipis teringat kenangan masa kecil, menangis juga percuma, semuanya sudah terjadi, sudah hancur dan Cala sama sekali tak berharap untuk memperbaikinya.
.
.
Dika membukakan pintu mobil untuk Cala setelah mereka sampai di rumah mewah milik Gio, setelah mengucapkan terimakasih, Cala berjalan masuk kedalam rumah yang di ikuti oleh Dika, mereka berdua mendapati sepasang paruh baya yang sedang asik berbincang di ruang keluarga, bersama Gio.
" nona, mereka adalah orang tua tuan Gio " bisik Dika pada Cala
" apa kau yang bernama Cala ?" tanya Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik
" iya nyonya " jawab Cala, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan mencium punggung tangan ibu dan juga ayah dari suaminya.
" kau manis sekali, mengambil hati ku "
" aku Winda dan dia Darius suami ku, mulai sekarang panggil aku, mami dan papi seperti Gio, dan sekali lagi maafkan kami yang tak hadir di pernikahan kalian, karna anak kurang ajar itu tidak memberikan kabar pada kami " ujar Ny.Winda
" baiklah, " jawab Cala " maaf jika aku tak ada di rumah saat kalian datang " sambung Cala
" apa yang kau katakan, kami baru saja tiba dan mengajak Gio untuk menjemput mu di rumah sakit tetapi Gio bilang jika Dika sudah menjemput mu, maafkanlah suamimu yang tak berguna itu " ucap Ny.Winda dengan mata yang melirik tajam pada Gio
" sudah biarkan menantu kita beristirahat, dia pasti belum benar-benar pulih, Gio temani istrimu " perintah Tn.Darius pada anaknya yang hanya diam.
" baiklah " jawab Gio yang langsung menyeret Cala begitu saja.
" ck' lihat anak mu yang sama keras kepalanya seperti dirimu, semoga saja menantuku bertahan dengan sikap anak mu " ujar Ny. Winda penuh akan sindiran pada suaminya yang hanya berdehem.
__ADS_1
" Dik istirahatlah " ucap Tn. Darius yang di angguki oleh Dika dan memilih untuk meninggalkan rumah Gio.