
sesuai dengan kesepakatan antara Cala dan Gio jika di hari libur maka Cala tak akan kemanapun hanya berada di rumah, entah apa maksud dan tujuan Gio suka sekali mengurungnya di dalam rumah, sedangkan Gio sendiri bebas melakukan apapun yang diinginkanya.
" Gio bisakah pengecualian untuk hari ini ?" tanya Cala setelah memberikan pakaian ganti pada Gio yang baru saja menyelesaikan acara mandinya
" tidak " jawab Gio
" Gio aku hanya ingin pergi ke panti " ucap Cala
" percuma saja kau berbuat baik, nyatanya tidak akan bisa menghapus kejahatan mu " sahut Gio
" aku tidak pernah melakukan kejahatan " jawab Cala
" kau lupa, saat dimana kau menabrak Vina, kau membunuh calon anak ku ?, kau menjadi penyebab Vina depresi dan memilih mengakhiri hidupnya, belum lagi perbuatan mu yang lainya, di saat kau mencoba memisahkan kami, dengan berbagai macam cara licik " bentak Gio
" sudah ku katakan aku tidak pernah dengan sengaja menabrak Vina, jika dia depresi itu karna kesalahannya sendiri terlalu larut dalam kesedihan, juga dia memang bodoh karna memilih bunuh diri " sahut Cala melepaskan perkataan yang tak terkontrol
__ADS_1
Plaak....
" disini kenyataanya yang bodoh adalah dirimu " ucap Gio setelah menampar Cala.
" benar aku memang bodoh, karna aku jatuh cinta pada pria kejam seperti dirimu, dan kebenaranya adalah wanita hebat yang selalu kau puja tidak jauh lebih bodoh dari pada aku " sahut Cala penuh emosi, menahan rasa panas yang ada di pipi dan matanya yang sudah memburam oleh air mata yang siap terjatuh.
" kau benar-benar memancing emosi ku, dan salah mengartikan diam ku beberapa bulan tak menyiksa mu " ucap Gio berjalan mendekat pada Cala.
Cala sudah tidak dapat lagi menahan sakit hatinya, dimana Gio terus mendekat yang sudah panti akan menyakitinya lagi, Cala menatap Gio dengan wajah yang memucat dan berlari keluar kamar begitu saja meninggalkan Gio yang ternyata mengejarnya.
" nona " panggil Dika yang sudah ada di belakang Cala bersama Gio yang menyeringai padanya.
Cala memutar tubuhnya menghadap dua pria yang menatapnya tajam, sebelah tangannya menyentuh oerutnya yang tiba-tiba terasa nyeri dan semakin di rasa berubah menjadi rasa sakit, " apa ?" tanya Cala
" Dik, kembalilah keruang kerja " perintah Gio, tetapi entah mengapa kali ini Dika seperti enggan meninggalkan Cala bersama Gio sendiri, ada rasa tak nyaman di hatinya, melihat Cala yang sudah menangis dan menahan sesuatu yang tak dimengerti Dika, walau begitu tetap Dika melangkahkan kakinya.
__ADS_1
" apa kau puas berlari ? atau masih ingin kembali berlari ?" tanya Gio
" aku membenci mu Gio, aku sangat membenci mu, bukan salah ku, semuanya bukan kesalahanku, kau yang tidak bisa menerima takdir, kau yang terlalu berlebihan dan tak mau bangkit dari semua keterpurukan, kau menutup hati mu, dan kau juga menutup pikiran mu, kau yang menjatuhkan dirimu sendiri dalam kubangan " ucap Cala dengan emosi
" katakan jika sebenarnya kau merasa bersalah, kau merasa kesepian dan melampiaskan semuanya pada ku, kau yang lalai menjaga Vina, jadi berhenti menyalahkan ku " sambung Cala yang masih di temani isakan tangis.
Gio terdiam mendengar ucapan Cala, benarkah dirinya yang pengecut ? apa benar yang dilakukan Gio pada Cala sebagai pelampiasan rasa bersalah ? tidak, semua yang Gio lakukan karna ingin membalas dendam, agar Cala juga merasakan rasanya penderitaan Vina, Gio menepis pikiran-pikiran yang ada di kepalanya, kembali mengingat bagaimana jeritan dan tangisan Vina saat mengetahui calon anak mereka tiada.
Gio berjalan mendekat pada Cala, mengusap air mata istrinya dengan lembut, menatap pada mata Cala yang terlihat sayu dan sarat akan kesedihan, kekecewaan dan harapan, hati Gio tiba-tiba saja merasa ikut sakit karna melihat air mata Cala yang terus keluar, " tidak bisakah kau memaafkan aku ?" tanya Cala dengan suara yang lirih.
" masuklah kekamarmu, kita bicarakan nanti " perintah Gio yang bingung dengan perasaanya yang tiba-tiba berubah menjadi kasihan pada istrinya.
Cala mengangguk, dan siap melangkah namun rasa sakit di perutnya semakin terasa, Gio memutar tubuhnya memperhatikan Cala yang berjalan sangat pelan, " darah " ucap Gio ketika melihat setiap langkah Cala meninggalkan banyak bercak merah di lantai.
" Cala " panggil Gio, membuat istrinya memutar tubuh ingin menghadap suami yang memanggilnya.
__ADS_1
" Gi....o " ucap Cala sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.