
"turun" ucap Izzan dengan suara dingin tanpa melihat kepada lawan bicaranya.
Ahza tak menjawab tetapi justru mengalihkan tatapanya pada pria super dingin di sebelahnya, sesaat kemudian Ahza kelabakan sendiri ketika Izzan justru membalas tatapanya dengan tajam seolah sedang mengulitinya, Ahza dengan cepat memalingkan wajahnya yang memerah dan mencoba menetralkan detag jantungnya yang berlarian, ada rasa takut pada dirinya saat ketahuan diam-diam memperhatikan pria dewasa di sebelahnya.
"perlu ku ulangi!?" ujar Izzan, dan karena rasa gugup yang di hatinya belum hilang, Ahza malah keluar begitu saja dari mobil Izzan tanpa kata dia langsung berlari masuk kerumahnya.
"ck'tidak tahu sopan santun" gerutu Izzan, kemudian memutar mobilnya untuk kembali kerumahnya.
.
.
usai makan malam, Gio meminta waktu pada putranya untuk membicarakan tentang pekerjaan di ruang kerjanya.
"bagaimana pekerjaan mu Zan ?" tanya Gio
"seprti biasa" jawab Izzan dengan malas
"baiklah, bisakah kau pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan yang ada di sana?" tanya Gio
"tidak" jawab Izzan
"papa, minta tolong pada mu Zan, karena papa tidak bisa merepotkan paman Dika yang sudah harus sibuk mengurus perusahaan kakek Raka disana" jelas Gio
"papa bisa pergi sendiri" jawab Izzan dan hendak keluar dari ruangan kerja papanya
"Cala, anak mu selalu saja begitu tega dengan ku yang sudah tua ini" ucap Gio sambil menatap iba pada foto mendiang istrinya.
"ck'baiklah" sahut Izzan yang kesal dengan papanya selalu saja menggunakan nama mama nya jika meminta sesuatu padanya, sedang itu menjadi kelemahan utama dirinya.
.
.
"mamii.... mami...." teriak Ahza setelah berhasil masuk kedalam rumah
"mami...." teriaknya lagi
__ADS_1
"berisik banget sih"gerutu seorang remaja pria yang baru saja keluar dari dapur.
"mami dimana ?" tanya Ahza pada pria yang mencebik kesal
"dikamar" sahut nya dengan ketus, Ahza begitu saja meninggalkan pria remaja itu dan berlari kemar maminya.
setelah membuka pintu di lihatnya mami nya yang sedang duduk di depan meja rias, terlihat begitu cantik walau usia sudah tidak muda lagi, maminya ini benar-benar awet muda, karena jika mereka sedang jalan berdua selalu saja orang mengira jika mereka adalah kakak beradik, dan hal itu membuat papa nya sering merasa jengkel dan cemburu oada maminya.
"mami" ucap Ahza dengan manja saat dirinya sudah di dalam pelukan maminya.
"ada apa sayang?" tanya mami
"tidak Ahza hanya merasa rindu dengan mami" jawab nya sambil masih memeluk maminya.
aku juga tidak tau kenapa ? tetapi jantung ku terasa sangat gugup seakan siap meledak, dan membuat ku malu jika mengingat saat aku menatap pria itu, bagaimana aku bisa bercerita pada mami. Ahza
"mandilah, sebentar lagi papa akan datang kita makan malam bersama" ucap mami nya.
cleek...
"Mita, lepaskan anak itu" ucap pria yang baru saja datang dan masuk kedalam kamar.
"tapi dia istriku, kamu sudah terlalu lama memeluknya" ujar papanya
"Wahyu" tegur Mita
"tapi aku juga ingin dipeluk" manja Wahyu
"Mamiiii, pria tampan datang" teriak pria remaja yang selalu suka menggangu papanya mendahului memeluk maminya
"Faid" kesal Wahyu yang belum mendapat bagianya memeluk istrinya.
"kalian berdua benar-benar membuat papa kesal" rajuk Wahyu
"hai, apa kalian melupakan ku ?" tanya seorang gadis yang baru saja datang menerobos masuk memeluk Mita.
"ck' lengkap sudah jika kalian bersatu, lebih baik aku mandi" ucap Wahyu dengan kesal tidak mau mendengarkan tawa dari keluarga nya, namun hati nya terasa sangat hangat dengan keakraban yang terjalin dk keluarganya.
__ADS_1
"sudah, acara pelukannya, Jihan, Ahza, dan Faid lebih baik sekarang ayo kalian bersihkan diri lalu kita makan malam bersama, mami akan membantu papa" perintah Mita
"siap mami" jawab ketiga anak nya dengan serempak.
.
.
Izzan sudah siap untuk berangkat ke Jerman, Nura yang merasa kesal karena tak di perbolehkan untuk ikut kakaknya, sama sekali tak mau keluar kamar nya, padahal sang kaka sudah berjanji akan mengajaknya nanti saat dia libur sekolah.
selama 2 minggu kedepan Izzan harus bisa selesai dengan permasalahan perusahaan papa nya guna menepati janji pada adiknya juga.
"ayo biar papa antar ke bandara" ajak Gio
"tidak perlu" jawab Izzan
helaan nafas berat, dan hanya itu yang bisa di lakukan Gio, sadar akan kesalahan nya yang begitu besar dan membekas membuatnya tak lagi bisa mengucapkan kata, setiap kali penolakan dari anak nya itu, tidak juga bisa dia selalu memanfaatkan nama istrinya, karena dirinya juga takut jika Izzan akan semakin membencinya.
Gio hanya bisa menatap kepergian anak sulungnya, bersama si asisten kepercayaan, "semoga Tuhan selalu melindungi mu nak, dan memberikan kebahagiaan untuk mu" ucap Gio lirih.
"pa, Cala ingin di antar papa ke sekolah" ucap anak gadis yang tak mau mengalah dengan nya perihal nama panggilan
"Nura, sudah sering papa peringatkan, panggilan mu Nura" ujar Gio
"no, Cala karena aku ingin seperti mama, yang selalu ceria, baik dan centil" jawab Nura
"wanita ku tidak centil, dia sangat manis, kau yang terlalu centil" sahut Gio tak terima istrinya di sebut centil
"oma bilang saat mama seusia ku, mama sangat centil tapi menggemaskan" ujar Nura yang tak mau mengalah
"cih' kau memang pintar mendebat seperti mama mu, karena kau tak mau mengalah dengan papa, maka kau pergi kesekolah mu sendiri dengan supir" ujar Gio yang di akhiri tawa renyah karena berhasil membuat anak gadisnya kesal dengan bibir yang mencebik.
Nura menghentakkan kakinya berjalan cepat meninggalkan papa nya yang masih tertawa, Gio mengusap air matanya dan di saat bersamaan wajahnya kembali pada mode datar nan sendu.
Cala sayang, apa kau melihat anak gadis kita sudah sangat pintar meraju? dia persis seperti mu yang suka sekali membantah, tapi maafkan aku yang belum bisa meluluhkan hati putra kita Izzan, dan aku akan terus berusaha, ingat kau harus menungguku di surga. Gio
"kau selalu cantik setiap hari sayang" ucap Gio sambil menatap pada foto Cala di layar ponselnya.
__ADS_1
jangan lupa setelah membaca untuk like, comen, dan vote suka rela nya, jika berkenan bantu untuk memberikan rate, Terimakasih banyak, salam sayang dari aku 😘