
2 hari kemudian,
Hari ini adalah hari dimana tes masuk sekte Naga Petir diadakan. Seluruh orang di Kota Petir itu sudah sibuk sejak tadi pagi. Bahkan, orang-orang yang tidak mendaftar pun juga ikut sibuk, karena mempersiapkan segala hal yang akan mereka bawa saat menonton pertandingan dan mendukung para jagoan mereka.
Semua orang memang sudah sibuk, terkecuali Rai. Dia masih santai berlatih bersama Raiden di Ruang Jiwa miliknya. Setelah dua puluh lima menit, Rai akhirnya membuka mata.
Hal pertama kali yang dilakukan Rai adalah meregangkan otot-ototnya. Karena sudah duduk bersila selama dua hari berturut-turut, seluruh tubuh Rai menjadi kaku. Oleh sebab itu, Rai langsung melakukan pemanasan atau olahraga kecil untuk melemaskan otot-ototnya. Setelah selesai, Rai pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak butuh waktu lama bagi Rai untuk membersihkan dirinya. Dia kini sedang mempersiapkan pakaian yang akan ia kenakan saat ujian.
"Hmm... Baju apa yang akan aku pakai, ya?" gumam Rai.
"Ah, yang ini sajalah!"
Rai mengeluarkan satu set pakaian berwarna putih dengan garis berwarna biru dan ornamen petir disekitar lengan bajunya, kemudian memakainya dan memadukannya dengan jubah biru pemberian Raiden.
Setelah semuanya selesai, Rai langsung turun kelantai satu untuk sarapan. Namun, alangkah terkejutnya dia saat restoran dipenginapan itu sangat ramai. Bahkan, hampir seluruh meja telah terisi.
"Hah... Ramai sekali. Lebih baik aku makan diluar saja," ucap Rai kemudian keluar dari penginapan.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Rai menemukan sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Dengan segera Rai masuk kedalam restoran itu dan memesan makanan dan minuman.
Setelah itu, Rai langsung memakannya dengan lahap. Namun, baru beberapa menyuap makanan, sekelompok berandalan masuk kedalam restoran dan meminta uang kepada pemilik restoran yang merupakan sepasang kakek dan nenek.
"Hei, kalian! Berikan uang jatah hari ini!" ucap berandal dengan tato memenuhi wajah.
"M-maaf tuan, kami masih belum memiliki uang yang cukup. Nanti akan kami bayar..." ucap sang kakek.
"Hah! Banyak alasan!" bentak orang itu kemudian mengangkat tangannya dan hendak memukul sang kakek.
Tapi, ketika pukulan itu tinggal berjarak beberapa jengkal dari wajah sang kakek, Rai langsung menghentikannya dan memukul balik pria berandal itu hingga keluar menembus dinding restoran. Sedangkan, beberapa pria lain yang merupakan anggota berandalan itu langsung menyerang Rai dengan berbagai jurus.
Rai hanya tersenyum sejenak sebelum melepas aura seorang Mortal King tahap Senior. Aura itu langsung menekan semua yang ada disana, kecuali pasangan kakek nenek tadi.
"Pergi atau mati!" ucap Rai.
Suara yang dikeluarkan Rai bisa dibilang pelan, tapi suara itu mengandung aura yang sangat kuat hingga membuat gendang telinga para berandal itu bergetar keras. Bahkan, ada beberapa anggota berandal yang gendang telinganya pecah dan telinganya mengeluarkan darah.
"Kultivator tahap Mortal King tingkat Senior. D-dia sangat kuat," gumam pria bertato tadi.
"S-senior, maafkan kami. Kami akan pergi sekarang dan tidak akan kembali lagi kesini," ucap pria bertato.
__ADS_1
"Baguslah! Karena jika kalian datang lagi kesini, aku akan membunuh kalian! Camkan itu baik-baik!" ucap Rai.
Para berandalan itu kemudian lari keluar restoran dengan terbirit-birit. Rai kemudian menarik kembali auranya. Seketika, hawa yang ada didalam restoran itu kembali menjadi seperti semula lagi.
"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Rai pada pasangan pemilik restoran itu..
"Kami tidak apa-apa, nak. Terima kasih telah membantu kami," ucap sang kakek.
"Syukurlah kalau begitu. Oh, iya. Orang terkuat dikota ini berada dalam tingkat apa? Karena saat aku melepaskan aura tadi, para berandal itu terlihat sangat ketakutan," tanya Rai.
"Oh, orang terkuat dikota ini adalah pemimpin sekte Naga Petir dan gubernur kota ini. Mereka adalah saudara dan tingkatan kultivasi mereka hampir berdekatan," jawab sang nenek.
"Pemimpin sekte Naga Petir berada ditingkat Mortal King tahap Professional. Sedangkan, gubernur kota ini berada ditingkat Mortal King tahap Junior," sambung sang kakek.
"Jangan lupakan anak dari pemimpin sekte. Dia telah berada ditingkat Mortal King tahap Beginner," ucap sang nenek menimpali.
"Istrinya juga telah berada ditingkat Immortal General tahap Legend," tutup sang kakek.
"Oh, begitu. Terima kasih informasinya, kakek dan nenek. Oh, iya. Berapa harga makanan yang aku pesan tadi?" tanya Rai.
"45 Mutiara Perunggu," jawab sang nenek.
"Eh... Tuan ini..." ucapan sang nenek terpotong ketika menyadari bahwa Rai sudah tidak ada lagi didepannya.
"Benar-benar pemuda yang kuat dan baik. Benarkan, sayang?" ucap sang kakek.
"Benar," jawab sang nenek.
***
Setelah menghilang dari restoran, Rai kembali muncul didekat restoran itu dan langsung pergi menuju sekte Naga Petir.
"Rai, sebenarnya seberapa kaya kau ini?" tanya Raiden tiba-tiba.
"Itu uang pemberian orang tuaku dan tabunganku dulu saat masih menjadi murid sekte Petir Suci. Totalnya kira-kira 5.000 Mutiara Emas, 10.000 Mutiara Perak dan 100.000 Mutiara Perunggu," jawab Rai.
"Oh, hanya se... Apa?! Se-seberapa kaya dirimu ini, hah?!" tanya Raiden tidak percaya.
"Aku tak tahu. Yang jelas, keluargaku adalah keluarga terkaya dikerajaan dulu. Bahkan, kekayaannya hampir melebihi kekayaan raja sendiri," jawab Rai.
"Berapa... Berapa total kekayaannya?!" tanya Raiden lagi.
__ADS_1
"Kalau tidak salah 18.000.000.000 Mutiara Emas, 50.000.000.000 Mutiara Perak, dan 1.000.000.000.000 Mutiara Perunggu," jawab Rai santai.
"Ap-apa? Itu bahkan melebihi kekayaanku dan seluruh naga. Huh... Kau sangat kaya. Tidak, kau sangat sangat sangat kaya. Aku yakin bahwa keluargamu dulu adalah keluarga terkaya didunia," ucap Raiden.
"Hahaha... Mungkin kau benar. Tapi, semua kekayaan itu, hangus akibat dibakar oleh kakekku sendiri. Supaya tidak diambil oleh Raja," ucap Rai.
Tak terasa, Rai hampir sampai disekte Naga Petir. Hanya tinggal beberapa meter lagi dia akan sampai. Tapi, ketika Rai hendak memasuki gerbang sekte...
Bug...
"Aaahhh..." seorang wanita tidak sengaja menabrak Rai hingga mereka berdua terjatuh.
Rai langsung berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Namun, Rai merasakan adanya sebuah serangan. Sehingga Rai langsung menggenggam tangan wanita itu dan menghilang.
Rai kemudian, muncul kembali didepan gerbang sekte. Dia menurunkan wanita itu lalu berjalan kearah pisau yang menancap ditanah tempat mereka berdiri tadi. Tampak racun itu mengeluarkan aura racun yang sangat kuat.
"Hei, kau! Siapa kau yang berani menyentuh wanita milik Tuan Muda, hah?!" tanya seorang pria berbadan kekar dengan warna kulit kecoklatan.
"Hm? Siapa kalian?" tanya Rai santai.
"Apa?! Kau..." orang berbadan kekar itu hendak menyerang Rai. Namun, gerakannya dihentikan oleh pria tampan berambut cokelat.
"Tenanglah!" orang itu mencoba menenangkan orang berbadan kekar itu yang sepertinya merupakan bawahannya, "Kau sepertinya baru disini. Perkenalkan namaku adalah Adrian, putra kedua dari gubernur Abelard!"
"Oh, Adrian. Baiklah, selamat tinggal!" ucap Rai kemudian pergi kegerbang sekte untuk menemui wanita tadi.
"Kau... Beraninya kau mencampakkan aku! Terima i... Ouch, kak itu sakit," Adrian yang hendak menyerang Rai, tiba-tiba berteriak kesakitan.
"Apa?! Kau mau bertindak sesuka hati lagi, hah?!" bentak orang itu.
"I-itu kak Aaron. D-dia..."
"Dia apa, hah?! Aku laporkan ini pada ayah dan kau akan dikurung dikamar selama satu bulan. Apa kau mau?!" bentak orang yang bernama Aaron itu.
Aaron kemudian berjalan mendekati Rai, "Maafkan atas kelakukan adikku. Oh, iya. Namaku Aaron. Kau siapa?"
"Namaku Rai. Kalau sudah selesai, silahkan pergi dari sini. Aku sedikit tidak suka dengan orang yang memanfaatkan gelar bangsawan!" ucap Rai acuh.
"Hah... Sepertinya kau susah diajak bicara, ya? Baiklah, kapan-kapan mampir ke mansion ayahku, ya? Aku akan menjamumu disana. Dan untuk Adrian, kalau kau bertemu dia diujian sekte ini, kau boleh memukulnya habis-habisan. Aku juga sudah cukup muak dengan tingkah lakunya," ucap Aaron dengan senyum seringai.
"Oh, tentu saja. Aku juga sedang mencari sesuatu untuk melampiaskan amarahku!" ucap Rai dengan nada dan senyum menyeramkan.
__ADS_1