
Rai kembali muncul didepan gerbang sekte. Kemunculannya itu mengagetkan para penjaga gerbang sekte hingga ada diantara mereka yang menodongkan senjatanya kearah Rai.
"S-siapa kau?" tanya salah satu penjaga dengan tangan sedikit gemetaran.
"Rai! Tak mungkin kau lupa dengan nama itu!" ucap Rai.
"Oh... Maafkan aku, tuan Rai! Aku hanya sedikit kaget ketika melihat tuan muncul secara tiba-tiba!" ucap penjaga itu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hah... Terima ini! Bagikan dengan temanmu dan lanjutkan tugas berjaga kalian!" ucap Rai seraya melemparkan sekantong penuh Mutiara Emas.
Penjaga itu menangkap kantong yang dilemparkan Rai lalu membukanya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat isi kantong itu yang penuh dengan Mutiara Emas.
"T-tuan Rai... Ini terlalu banyak..." ujar penjaga itu.
"Tidak apa-apa. Aku masih punya banyak!" balas Rai.
"T-terima kasih, tuan!" ucap penjaga itu kemudian kembali ke posnya.
Rai lalu melanjutkan perjalanannya. Namun, ada seorang lelaki yang tiba-tiba memegang pundaknya dan membuat Rai menghentikan langkahnya.
"Siapa?" tanya Rai.
"Ini aku! Anak pertama dari gubernur Abelard dan kakak dari Adrian dan Audi!" ucap orang yang tak lain adalah Aaron.
"Oh, Aaron! Ada apa?" tanya Rai lagi.
"Hei, kenapa tidak memanggilku kakak? Bukankah kau memanggil Ramiel dengan sebutan 'kakak'?" tanya Aaron.
"Oh, jadi kau kesini hanya untuk bertanya seperti itu? Baiklah, terima kasih karena telah membuang waktuku yang berharga!" ujar Rai kemudian melenggang pergi.
"Eh, Rai! Tunggu! Kau mau kemana?" tanya Aaron setengah berteriak.
"Hutan Kabut Berdarah!" jawab Rai lalu mengeluarkan sepasang sayap naganya untuk terbang menuju Hutan Kabut Berdarah.
"Hei, Rai! Tunggu!" teriak Aaron yang langsung terbang menyusul Rai dengan mengubah energi alam menjadi sepasang sayap berwarna hijau.
"Apalagi? Apa kau juga mau ke Hutan Kabut Berdarah?" tanya Rai acuh.
"Ya! Aku ingin mencari bunga Lotus Petir Langit Abadi!" jawab Aaron.
Rai sedikit terkejut ketika Aaron mengatakan ingin mencari bunga Lotus Petir Langit Abadi, "Kau ingin mencari bunga itu?" tanya Rai yang dibalas dengan anggukan oleh Aaron.
"Oh, sepertinya kita harus bersaing!" ujar Rai.
"Jadi, kau juga mencari bunga itu? Baiklah, kita akan bersaing! Siapa yang menemukan bunga itu dan mengalahkan penjaganya, maka dia berhak untuk memilikinya!" ucap Aaron.
"Baiklah, tantangan aku terima! Babak pertama, siapa yang paling cepat sampai di Hutan Kabut Berdarah, akan memiliki satu poin untuk mendapatkan bunga Lotus Petir Langit Abadi!" ujar Rai.
__ADS_1
"Ok! Dalam hitungan ketiga! Satu... Dua..."
Wosh...
Namun, belum selesai Aaron menghitung, Rai sudah melesat terlebih dahulu dan meninggalkan Aaron sendirian yang sedang termenung melihat Rai terbang menjauh.
"Hei, Rai! Kau curang!" teriak Aaron lalu mempercepat laju terbangnya.
***
Satu jam kemudian,
Rai tiba dipadang rumput, dekat dengan perbatasan Hutan Kabut Berdarah yang ditutupi oleh kabut tebal. Dia kemudian mengeluarkan sebilah pedang katananya lalu berjalan mendekati perbatasan kabut itu.
Tak lama kemudian, sosok Aaron tiba-tiba saja muncul dibelakang Rai dengan pendaratan yang tidak berjalan mulus. Aaron berguling-guling ditanah dan berhenti ketika tubuhnya ditahan Rai menggunakan kaki.
"Rai, kau curang!" ucap Aaron.
"Baru sampai kau sudah begini? Lebih baik pulang saja sana!" ujar Rai.
"Tidak! Aku tidak akan pulang! AKU TIDAK AKAN PULANG!!!" teriak Aaron.
"Hah... Terserah kau sajalah! Cepat masuk dan susul aku jika kau masih ingin mendapatkan bunga lotus itu!" ucap Rai lalu menghilang dari hadapan Aaron.
"Haish... Dasar bocah itu!" umpat Aaron lalu masuk kedalam hutan.
***
"Raiden, apa benar bunga lotus itu ada disekitar sini?" tanya Rai.
"Benar! Bunga itu ada disekitar sini! Hanya saja, ada sebuah penghalang yang menutupinya sehingga aku tidak terlalu merasakan auranya!" jawab Raiden.
Rai hanya mengangguk pelan saja sambil terus berjalan dengan hati-hati. Mata hitamnya menatap tajam pepohonan disekitar yang terus mengeluarkan aura kematian.
Walaupun Rai tidak bisa menggunakan energi alam untuk sementara, tapi dia masih menguasai teknik pedang yang sangat hebat. Bahkan, dikota tempatnya tinggal dulu, Rai sempat dijuluki sebagai 'Raja Pedang', karena kemahirannya dalam memainkan pedang.
Selain itu, Rai juga dijuluki sebagai 'Mata Dewa', karena dia bisa melihat apapun yang ada disekitarnya. Sekalipun benda itu ada didalam sebuah ilusi.
Kemampuan mata ini juga yang membuat Rai bisa bebas dari kekangan ilusi milik Asmodeus. Ia bisa melihat roh Asmodeus yang tidur diatas kasur sebagai sesosok wanita iblis, bukan wanita cantik.
Jadi, ketika Rai melihat itu, dia langsung jijik dan ingin muntah saat itu juga. Namun, dia harus tetap berpura-pura menjadi seperti orang yang terhipnotis agar bisa lepas dari ilusi. Ini juga salah satu langkah dari rencana yang sebelumnya diucapkan oleh Raiden.
Kembali ke Rai,
Saat ini, didepannya ada puluhan ekor Amphiptere berelemen petir biru. Mereka membentuk sebuah lingkaran dengan Rai sebagai pusatnya. Melihat itu, Rai hanya mengeratkan genggamannya pada gagang pedang katana sembari menatap pasukan Amphiptere dengan tatapan menyelidik.
"Rai, hati-hati! Kita sudah masuk wilayah penjagaan luar dari bunga Lotus Petir Langit Abadi!" ucap Raiden memperingatkan.
__ADS_1
"Tenang saja, Raiden! Aku sudah tahu itu!" balas Rai.
"Karena sekarang saatnya sang 'Raja Pedang' beraksi!" lanjutnya dengan seringai terukir diwajahnya.
Rai kemudian berlari kearah salah satu Amphiptere dengan tangan yang sudah siap untuk menebaskan pedangnya, "Hiyaa..."
Slash...
"GROOOAAAHHH!!!"
Satu sayap dari Amphiptere itu terpotong dengan rapi dan membuatnya berteriak marah. Tidak berhenti disitu, Rai kembali menebaskan pedangnya kearah Amphiptere hingga ekor dan sayapnya yang tersisa kembali terpotong.
Slash... Buk...
Rai mengakhiri serangannya dengan sebuah tebasan cepat yang memotong rapi kepala dari Amphiptere itu hingga membuatnya mati seketika.
"Baiklah, siapa selanjutnya?" ucap Rai dengan nada dan seringai yang mengerikan.
"GROOOAAAHHH!!!"
"GROOOAAAHHH!!!"
"GROOOAAAHHH!!!"
Seperti memahami ucapan Rai, semua Amphiptere yang tersisa langsung membalasnya dengan teriakan marah dan disambung dengan serangan masing-masing.
Mendapatkan serangan dengan skala yang besar, membuat Rai semakin bersemangat. Dia mengangkat pedangnya tepat dihadapannya bermaksud untuk melindungi tubuhnya sembari mengucapkan sebuah kalimat.
"Teknik Pedang : Pembalik Serangan, Serap!" teriak Rai lantang.
Swush... Swush...
Swosh... Swosh...
Syuut...
Para Amphiptere itu menyerang Rai secara bersamaan. Namun, semua serangan itu tiba-tiba saja menghilang, karena terserap oleh pedang katana milik Rai hingga bilahnya mengeluarkan cahaya berwarna biru terang yang cukup menyilaukan mata.
"Teknik Pedang : Pembalik Serangan, Lepas!" ucap Rai dengan seringai diwajahnya.
...****************...
(Bagi yang belum tahu bentuk Amphiptere, ini gambar ilustrasinya :
Note : Gambar diatas bukanlah ilustrasi dari pasukan Amphiptere yang menyerang Rai dichapter ini. Gambar itu hanyalah gambaran dari sosok Amphiptere untuk bisa membayangkan bentuk Amphiptere dichapter ini)
__ADS_1
Sekian, terima kasih. See you on the next chapter, bye-bye 👋