Lightning Dragon Knight

Lightning Dragon Knight
Chapter 32 : Artefak Hati Murni (Arc 1 : End)


__ADS_3

"Tebasan Naga Petir! Level 2 : Tebasan Naga Petir Langit!"


Sky Lightning Sword yang berada digenggaman Rai, bersinar terang untuk beberapa saat sebelum mengeluarkan elemen petir langit dalam jumlah besar.


Elemen petir langit yang sangat banyak itu juga menimbulkan badai aura yang sangat kuat hingga membuat Rez dan Audi termundur beberapa langkah.


Badai aura itu juga bisa dirasakan oleh Abelard dan Aaron yang sedang terbang sehingga membuat mereka mendarat untuk sementara. Karena jika tetap melanjutkan perjalanan dengan terbang, tubuh akan tidak seimbang dan bisa jatuh menukik ke tanah.


Tidak sampai disitu saja, badai aura itu masih bisa dirasakan oleh Adrian dan pendekar lainnya. Walaupun tidak terlalu menekan, tapi dampak badai aura itu membuat mental mereka sedikit tertekan akibat kengerian yang dihasilkan oleh badai aura itu.


Kembali ke area pertarungan,


Rez dan Audi, terhempas kearah deretan pepohonan yang ada didekat mereka imbas terkena badai aura. Namun, sebelum menabrak deretan pepohonan, Audi berhasil diselamatkan oleh bayangan Rai dan langsung dibawa keatas benteng agar terhindar dari pertarungan yang terjadi dibawah.


"Ingat ucapanmu sebelumnya! Jangan dekati aku lagi!" ucap bayangan Rai.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Audi dengan wajah jahil.


"Kulemparkan lagi kau kesana! Kujamin kau akan langsung mati mengenaskan!" balas Rai.


"I-iya, baiklah! Aku akan menuruti perkataanmu!" ucap Audi dengan ketakutan.


'Heh, jika saja kau bukan adik dari Aaron dan anak dari gubernur tak berotak itu, kau pasti tak akan kuselamatkan!' batin bayangan Rai.


Bayangan Rai itu, langsung turun kebawah berdampingan dengan tubuh aslinya yang saat ini masih mempersiapkan serangan.


"Cepatlah habisi dia! Gubernur bod*h itu sedang mendekat!" desak bayangan Rai yang merasakan kehadiran aura dari Gubernur Abelard.


"Hmm... Baiklah!" jawab Rai cuek.


Rai lalu mengayunkan Sky Lightning Sword yang berada ditangan kanannya secara vertikal. Ayunan pedang itu menghasilkan seekor naga petir langit berwarna ungu dengan aura yang sangat kuat. Bahkan, lebih kuat dari badai aura yang sebelumnya terjadi.


"T-tunggu dulu!" teriak Rez ketakutan. Namun, itu semua terlambat, karena...


BOOOOMMM...


Serangan dari Rai berhasil mengenai dirinya hingga membuatnya mati seketika dan hanya menyisakan seonggok abu yang hilang disapu angin.


'Naga Emas, tepati janjimu!'


'Hmm... Baiklah! Tapi, aku hanya akan memberikan setengah dari kekuatanku dulu agar kau bisa beradaptasi! Nanti jika kau sudah bisa menyesuaikan kekuatannya, akan kuberikan lagi kekuatanku yang tersisa kepadamu secara perlahan!' ujar Naga Emas.


'Baiklah, kalau begitu!' balas Rai lalu mengeluarkan sebilah pedang katana miliknya dari cincin penyimpanannya.


Bzzzt... Bzzzt... BLAAAZZTT...


Derak petir emas tiba-tiba muncul dari bilah pedang katana milik Rai dan langsung melapisinya. Derak petir emas itu mengeluarkan aura yang mampu menekan seseorang ditingkat Immortal Emperor tahap Legend.


Walaupun tidak sekuat petir langit, tapi petir emas mampu membunuh seseorang ditingkat Immortal Emperor tahap Legend hanya dalam sekali serang. Itu dikarenakan petir emas termasuk salah satu petir suci terkuat setelah petir langit.


Golongan petir suci terkuat sendiri terdiri dari empat jenis petir. Yaitu, petir langit sebagai petir suci terkuat, lalu diikuti petir emas sebagai petir suci terkuat kedua, petir hitam sebagai petir suci terkuat ketiga dan petir merah sebagai petir suci terkuat keempat.


Keempat jenis petir itu, mendapatkan gelar petir suci setelah diberkati oleh dewa petir sendiri. Oleh karena itu, keberadaan keempat petir suci ini sangat langka bahkan sempat dianggap sebagai mitos.

__ADS_1


"Karena aku menggunakan petir emas dipedang katana ini, jadi Sky Lightning Sword akan aku simpan untuk sementara waktu!" gumam Rai lalu menyimpan Sky Lightning Sword di cincin penyimpanannya.


Tak lama berselang, Gubernur Abelard datang dengan terbang tanpa menurunkan sedikit pun kecepatannya.


Rai yang mengerti arah dan maksud dari Gubernur Abelard, hanya mengerahkan pedang katananya kedepan bermaksud untuk menggunakannya sebagai pertahanan.


Tring... Swosh...


Pedang katana milik Rai bertemu dengan tangan Gubernur Abelard yang telah diselimuti oleh elemen angin dan petir.


"Oh, teknik perpaduan elemen, ya? Kalau hanya begitu aku juga bisa!" Rai kemudian menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali seraya mengucapkan sebuah jurus, "Teknik Perpaduan Elemen : Petir dan Es!"


Tepat setelah Rai mengucapkan jurus itu, suasana menjadi mencekam. Langit yang semula telah kembali biru, kini berganti menjadi gelap akibat awan-awan hitam yang menutupinya. Awan-awan hitam itu juga mengeluarkan sedikit derakan petir berwarna kuning keemasan.


Tidak hanya itu, hawa yang semula masih sedikit hangat, kini berubah drastis menjadi dingin. Bahkan, Abelard harus menggunakan energi alamnya untuk melindungi dirinya dari hawa dingin tersebut.


"Kau juga bisa menggunakan teknik perpaduan elemen? Bagaimana mungkin?" tanya Gubernur Abelard tak percaya.


"Justru, aku yang seharusnya bertanya begitu! Bagaimana bisa kau yang seorang Immortal General tahap Legend bisa menggunakan teknik ini? Padahal setahuku, teknik ini hanya bisa digunakan oleh seseorang ditingkat Mortal King tahap Master!" jelas Rai.


"Itu pun hanya teknik dasar! Sedangkan, jika ingin menimbulkan efek yang berbeda seperti ini, seorang pendekar harus berada paling tidak ditingkat Immortal Emperor tahap Senior!" tutup Rai.


"Ap-apa?" tanya Gubernur Abelard dengan raut ekspresi ketakutan.


"S-siapa sebenarnya kau ini?" tanya Gubernur Abelard tergagap.


"Aku adalah manusia biasa dengan sejarah yang kelam dan aku sangat membenci yang namanya bangsawan!" ucap Rai tegas dengan penekanan disetiap katanya.


"Huh, manusia kecil! Kau bahkan tidak bisa membuatku terhibur!" ujar Rai lalu menendang Gubernur Abelard.


Rai kembali bergerak cepat kedepan Gubernur Abelard lalu meninju Gubernur Abelard hingga terbang kelangit.


Saat Gubernur Abelard melayang diantara langit dan bumi, tiba-tiba saja tubuhnya disambar oleh petir emas yang berasal dari awan-awan hitam.


BLAAAZZTT...


"AARRGGHHHH!!!"


Bruk... DUARRRR...


Tubuh Gubernur Abelard terjun bebas ketanah dengan kecepatan tinggi hingga menimbulkan bunyi ledakan kecil dan menyebabkan tanah diarea pendaratannya hancur.


Rai mendekati Gubernur Abelard yang tubuhnya sudah penuh luka bakar sembari menyeret pedang katana yang ia bawa.


"Serahkan artefak itu!" pinta Rai.


"T-tidak akan!" jawab Gubernur Abelard.


BLAAAZZTT...


"AARRGGHHHH!!!"


Petir emas kembali menyambar tubuh Gubernur Abelard. Tapi, kali ini petir emas yang muncul bukan dari awan, melainkan pedang katana milil Rai yang telah diselimuti oleh petir emas.

__ADS_1


"Masih tidak mau menyerahkannya?" tanya Rai datar.


"Tidak!"


"Oh, baiklah!"


Kratak... Kratak...


Rai menciptakan sebilah pedang es dari energi alamnya lalu menancapkannya ditanah sembari mengucapkan jurus, "Medan Es!"


Swush...


Kratak... Kratak... Kratak...


Separuh tubuh Gubernur Abelard terbungkus es yang amat dingin seperti tanah disekitarnya. Kini hanya bagian kepalanya saja yang masih bisa bergerak, sedangkan bagian tubuh lainnya sudah tak dapat ia gerakkan.


"Le-lepaskan aku!" ucap Gubernur Abelard sembari berusaha membebaskan dirinya dari es yang membekukan tubuhnya.


"Berikan artefak itu, lalu aku akan melepaskanmu!" desak Rai.


"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan artefak itu kepadamu!" balas Gubernur Abelard.


"Baiklah! Kalau itu jawabanmu, jangan salahkan aku jika kau terbunuh!" ucap Rai datar.


Bzzzt... Bzzzt...


Rai berlari kearah Gubernur Abelard dengan petir emas membungkus seluruh bagian bilah pedang katananya. Petir emas itu mengeluarkan aura kuat dengan intensitas tinggi hingga membuat Gubernur Abelard tertekan.


"Terimalah kematianmu!" teriak Rai lalu mengayunkan pedang katananya kearah Gubernur Abelard.


"Berhenti, Rai!" teriak seseorang yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan.


BOOOOMMM...


Ledakan besar terjadi ketika Rai mengayunkan pedang katananya. Namun, serangan itu tidak mengenai Gubernur Abelard, melainkan hutan yang ada dibelakang tubuhnya.


"Aaron, apa yang kau mau?!" tanya Rai marah kepada Aaron yang tadi menghentikannya.


"Tolong jangan bunuh ayahku!" pinta Aaron.


"Akan kuampuni ayahmu jika kau menyerahkan artefak itu!" jawab Rai.


"Baiklah, akan kuberikan artefak itu! Tapi, lepaskan ayahku!" ujar Aaron.


"Jangan berikan artefak itu, Aaron!" teriak Gubernur Abelard.


"Ayah, nilai artefak ini tidak ada harganya dibanding dengan nyawa ayah saat ini!" balas Aaron lalu mengeluarkan sebuah batu safir putih berbentuk hati dari cincin penyimpanannya kemudian melemparnya ke Rai.


Rai menangkap batu itu lalu membebaskan Gubernur Abelard dari medan es yang tadi ia buat.


"Akhirnya aku mendapatkan artefak Hati Murni ini! Terima kasih, Aaron!" ucap Rai berterima kasih kepada Aaron, "Oh, iya! Aaron, tolong berikan ini kepada kak Ramiel dan kak Rainey!" pinta Rai seraya melemparkan 2 buah cincin penyimpanan kepada Rai.


"Kenapa tidak langsung memberikannya kepada mereka?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Karena aku harus pergi! Dendamku tidak akan terbalas jika aku tetap disini! Selamat tinggal!" balas Rai yang langsung menghilang dari tempatnya.


__ADS_2