
Keesokan harinya,
Saat ini, Rai dan tiga peserta ujian yang lulus lainnya, sedang berkumpul untuk menemui pemimpin sekte dan para tetua. Mereka ditemani oleh Ramiel, anak pemimpin sekte. Dan Rainey, istri dari Ramiel.
Ramiel sendiri telah berumur sekitar 26 tahun. Sedangkan, Rainey memiliki umur sekitar 24 tahun. Mereka baru menikah 5 bulan yang lalu dan saat ini Rainey sedang hamil dengan usia kandungan mencapai 4 bulan.
"Sepertinya kita mendapatkan murid jenius lagi, sayang!" ucap Ramiel kepada Rainey.
"Benar! Semoga anak kita bisa seperti mereka!" balas Rainey sembari melihat perut buncitnya.
Ramiel hanya tersenyum seraya mengelus perut istrinya itu. Dia juga berharap agar anaknya dapat menjadi pendekar yang sakti. Atau paling tidak, menjadi anak yang baik dan patuh kepada kedua orang tuanya saja itu sudah cukup.
Tak lama kemudian, Abrecan datang bersama para tetua lainnya. Melihat kedatangan Abrecan, semua orang yang sebelumnya telag berada disana, langsung memberikan hormat kepada Abrecan dan para tetua, kecuali Rai dan Rin.
"Hei, kalian! Kenapa kalian tidak memberikan hormat kepada kami?" tanya orang yang memiliki jenggot putih pendek dengan luka sayatan dimatanya.
"Kami? Oh, maksudmu aku dan Rin? Tidak, untuk apa aku memberikan hormat kepada orang yang berniat membunuhku, benar 'kan Abrecan?" balas Rin.
"B-bagaimana dia bisa tahu?" batin Abrecan.
"Tetua Thora, biarkan dia! A-aku tidak mempersalahkannya!" ucap Abrecan.
"Tapi pemimpin..." ucapan tetua Thora terhenti ketika suara dari Ramiel terdengar.
"Sudahlah, tetua Thora. Tidak usah diperpanjang masalah ini! Lagipula, ayah tidak mempersalahkannya!" ucap Ramiel.
Tetua Thora pun akhirnya diam dan membiarkan keputusan dari Abrecan dan Ramiel. Tapi, tiba-tiba saja Rai menjulurkan tangannya kearah Abrecan hingga Blue Lightning Sword yang ada dipinggangnya terbang kearah Rai.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Abrecan.
"Mengambil apa yang harus aku ambil! Oh, iya! Ini Rin, ambil pedang itu dan segera satukan!" ucap Rai sembari melempar Holy Ice Sword kearah Rin.
Rin menangkap Holy Ice Sword dan mengangguk mengerti, kemudian mengambil posisi duduk bersila. Rai juga langsung duduk bersila begitu melihat Rin memulai prosesnya.
"Hei, kalian harus menjauh jika tidak ingin terkena dampaknya!" ucap Rai memperingatkan.
Rai mengeluarkan Sky Lightning Sword dan menaruhnya berdampingan dengan Blue Lightning Sword yang sudah ada didepan tubuhnya sejak tadi.
***
Dua jam telah berlalu. Rai dan Rin masih belum menyelesaikan penyatuan roh naga yang ada didalam dua pedang dihadapan tubuh masing-masing.
Tak lama kemudian, tubuh Rin memancarkan aura es yang sangat besar. Hal itu dibarengi dengan Holy Ice Sword yang sudah kehilangan kekuatan es sucinya dan tak ada ubahnya seperti pedang es biasa.
Klang... Klang... Klang...
Dari tubuh Rin terdengar suara seperti mekanisme mesin yang bergerak. Kemudian, sebuah bayangan prasasti biru dengan aura es yang sangat dingin, muncul dari dalam tubuh Rin lalu masuk kembali dan terulang kembali sebanyak dua kali. Kini kultivasi Rin telah meningkat sebanyak tiga tahap dan telah berada ditingkat Immortal General tahap Senior.
Namun, aura es yang menusuk tulang itu masih belum hilang. Justru, aura es itu semakin bertambah besar dan dingin. Bahkan ada beberapa tetua yang pingsan saat merasakan aura es yang dingin itu. Sedangkan, Ramiel telah kembali kedalam kediamannya bersama istrinya.
Hanya tersisa Abrecan, tetua pertama yang bernama Corentin, tetua Thora dan tetua Adraksh. Mereka mampu bertahan karena telah melindungi diri masing-masing dengan energi alam. Walaupun dinginnya aura es itu masih bisa terasa.
Klang... Klang...
Suara seperti mekanisme mesin kembali terdengar. Kali ini berasal dari Rai yang berhasil menaikkan tingkat kultivasinya sebanyak dua tahap dan telah berada ditingkat Mortal King tahap Master.
Namun, aura petir langit yang berasal dari tubuh Rai, masih belum hilang. Sama dengan Rin, aura itu justru semakin besar dan kuat. Abrecan dan tiga tetua yang tersisa, menjadi semakin gemetaran dan kesulitan nafas.
"A-aura macam ini?!" ucap tetua Thora dengan terbata-bata.
"I-ini... Aura ini..." gumam Abrecan.
GROOOAAAHHH...
GROOOAAAHHH...
Tiba-tiba saja terdengar dua suara raungan yang mengejutkan mereka. Abrecan dan yang lainnya mengalihkan pandangan mereka kearah Rai dan Rin.
Terlihat dua ekor naga melilit tubuh Rai dan Rin. Naga yang melilit Rai memiliki sisik berwarna ungu, tanduk hitam dan memancarkan aura petir langit yang mendominasi.
Sedangkan, naga yang melilit tubuh Rin memiliki sisik berwarna putih salju dengan tanduk dan matanya berwarna biru. Naga itu juga memancarkan aura es surga yang sangat dingin.
"Lightning Dragon dan Ice Dragon!" ucap Abrecan.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Lightning Dragon (atau biasa dipanggil Raiden) dan Ice Dragon kembali kedalam tubuh Rai dan Rin. Seketika, tekanan berat yang menimpa Abrecan dan tiga tetua lainnya berangsur menghilang.
Bersamaan dengan itu, Rai dan Rin mulai membuka matanya. Mereka kemudian berdiri dan menyimpan kembali pedang masing-masing.
"Hei, Abrecan! Dimana aku tinggal?" tanya Rai.
Abrecan yang sebelumnya masih tertegun, segera tersadar dan langsung menunjuk 4 gedung yang berdiri bersebelahan dengan kediaman Ramiel.
Rai kemudian membopong tubuh Adrian dan satu orang lainnya yang sebelumnya pingsan, diikuti oleh Rin dibelakangnya yang masih berusaha untuk berkomunikasi dengan Ice Dragon.
***
Sesampainya disana, Rai langsung menurunkan Adrian dan orang yang bernama Neil dikediaman masing-masing. Setelah selesai, Rai hendak masuk kedalam kediamannya untuk beristirahat. Namun, Ramiel yang tidak sengaja lewat, langsung menghentikan Rai.
"Rai, tunggu!" panggil Ramiel sambil berlari kecil kearah Rai.
"Hm? Kak Ramiel? Ada apa?" tanya Rai kebingungan.
"Rai, apakah kau mau mengikuti misi?" tanya Ramiel.
"Misi? Misi apa itu?" tanya Rai penasaran.
"Misi membebaskan desa Lightning Stone. Disana ada pasukan yang mengacau. Katanya, pasukan itu berasal dari ras iblis yang tinggal ditanah kegelapan. Mereka iblis yang kuat. Ada yang bilang kalau yang terlemah ada ditingkat Immortal General tahap Master. Sedangkan, pemimpinnya... Aku tidak tahu. Yang pasti pemimpin mereka adalah orang yang kuat!" jelas Ramiel panjang lebar.
"Oh, begitu! Menarik. Apakah Rin boleh ikut?" tanya Rai lagi.
"Boleh, asalkan dia berada ditingkat Immortal General tahap Master juga!" jawab Ramiel.
"Hmm... Tapi, Rin masih berada ditingkat Immortal General tahap Senior, bagaimana?" ujar Rai.
"Em... Apakah dia punya kekuatan yang tersembunyi?" tanya Ramiel memastikan.
"Ada! Dia punya kekuatan tersembunyi yang kau lihat tadi!" jawab Rai.
"Baiklah! Kalau begitu dia boleh ikut! Tapi, kau harus menjaganya baik-baik, mengerti?" ucap Ramiel.
"Aku mengerti, kak! Kapan misi ini dimulai?" ucap Rai.
"Oh, baiklah!" ucap Rai kemudian masuk kedalam kediamannya.
***
3 hari kemudian,
Rai, Rin, Ramiel dan beberapa anggota sekte Naga Petir lainnya, sedang berkumpul dihalaman sekte. Mereka akan berangkat menuju desa Lightning Stone yang berjarak ribuan kilometer dari sekte.
Oleh karena itu, sekte menyediakan beberapa portal yang bisa dibuka dengan memasukkan Mutiara Perak. Jumlahnya sendiri tergantung pada seberapa jauh tempat yang akan dituju.
"Selamat bergabung, semuanya! Hari ini kita akan pergi ke desa Lightning Stone untuk membebaskannya dari para iblis b******* itu! Apakah kalian semua siap?!" ucap Ramiel.
"Siap!"
"Kami siap!"
"Aku siap, tuan muda!"
Para anggota sekte berteriak semangat. Ini membuat Ramiel semakin semangat dan yakin misi kali ini akan berjalan lancar.
"Bagus! Kalau begitu, kita berangkat!" ujar Ramiel.
Dia kemudian memasukkan sejumlah Mutiara Perak kedalam portal. Tiba-tiba saja portal itu bersinar terang sambil mengeluarkan bunyi yang aneh.
Setelah beberapa menit, portal itu berhenti bersinar dan kembali seperti semula. Hanya saja, portal itu kini mengeluarkan energi alam yang sangat besar. Tapi, energi alam ini sedikit berbeda, karena termasuk energi ruang dan waktu yang berfungsi untuk memanipulasi ruang dan waktu.
Ramiel langsung memasuki portal itu sebagai orang pertama. Kemudian diikuti oleh semua anggota sekte yang mengikuti misi ini.
Sementara semua orang memasuki portal, Rai dan Rin hanya diam ditempat. Mereka bertatapan sejenak lalu mengangguk secara bersamaan. Kemudian, Rai dan Rin memunculkan sepasang sayap naga dipunggung masing-masing lalu terbang kedesa Lightning Stone dengan cepat.
***
Tak butuh waktu lama bagi Rai dan Rin tiba didesa Lightning Stone. Kini mereka telah berada dihutan kecil dipinggiran desa untuk mengamati sekaligus menunggu tim dari sekte yang belum tiba.
Hanya berjarak beberapa menit sejak ketibaan Rai dan Rin, tim sekte yang dipimpin oleh Ramiel datang. Semua orang yang ada disana tesentak kaget ketika melihat sosok Rai dan Rin diatas pohon tempat mereka sampai.
__ADS_1
"B-bagaimana mereka bisa sampai secepat itu?" tanya salah satu orang.
"Aku tidak tahu. Yang pasti, mereka punya sesuatu yang membuat pergerakan mereka cepat!" balas seorang lainnya dengan memasang senyum licik.
Melihat itu, Ramiel hanya tersenyum kecil sambil berusaha memperingatkan, "Hei, kalian! Hentikan obrolan kalian itu. Jika mau dilanjutkan, silahkan pulang, aku tidak butuh pasukan yang hanya bisa mengandalkan mulut saja!" ucap Ramiel.
"Dan untuk kalian yang memiliki niat buruk pada Rai dan Rin, sebaiknya kalian mengurungkan niat. Karena dia bisa membunuh kalian hanya dengan satu jari saja!" lanjut Ramiel.
Beberapa orang langsung terdiam. Sedangkan, beberapa orang yang lainnya, justru meragukan ucapan Ramiel. Melihat sikap pasukannya itu membuat Ramiel geleng-geleng kepala. Dia kemudian menyuruh Rai dan Rin untuk mengurus para iblis yang mengganggu desa itu.
Rai dan Rin hanya mengangguk kemudian mengeluarkan senjata masing-masing. Rai menggunakan katana dan Rin menggunakan rapiernya. Mereka langsung melesat kearah desa.
Slash... Slash... Slash... Slash... Slash...
Zrat... Zrat... Zrat... Zrat... Zrat...
Crash... Crash... Crash... Crash... Crash...
"AARRGGHHHH!!!"
"AARRGGHHHH!!!"
"AARRGGHHHH!!!"
"AARRGGHHHH!!!"
"AARRGGHHHH!!!"
Suara teriakan terdengar dari dalam desa. Satu persatu iblis, tumbang. Mereka mati dengan keadaan yang mengenaskan. Kepala terpotong, kaki hancur, tangan patah, tubuh terbelah dua, jantung hancur dan lain sebagainya.
Semua itu dilakukan hanya oleh dua orang, yaitu Rai dan Rin. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan perburuan itu. Mereka kembali dengan wajah dan pedang dilumuri oleh darah.
Namun, ada satu orang wanita yang terlihat pingsan. Dia digendong oleh Rai dipunggungnya. Tubuhnya penuh dengan darah. Bajunya compang-camping. Seperti korban perang yang menyedihkan.
Rai lantas menurunkannya lalu menyandarkannya dibatang pohon. Ketika telah didudukkan, hampir semua prajurit mendekatinya dan mengerubunginya. Mereka semua mendekat karena melihat kecantikan dari wajah wanita.
Memang, wanita itu terlihat cantik. Dengan rambut merah, dada besar dan tubuh yang seksi, membuat semua pria tergoda akan kecantikannya.
Tak lama kemudian, wanita cantik itu membuka matanya. Terlihat mata merah yang bersinar membuat semua pria yang mengerubunginya semakin terpana.
"Wanita cantik, kau butuh apa? Aku akan mengambilkannya!" ucap salah satu pria.
"Jangan dengarkan dia! Ikutlah denganku, akan kuberikan semua kebutuhanmu!" ucap pria yang lainnya.
"Tidak! Ikutlah denganku, aku akan mengobati seluruh lukamu! Dan yang terpenting, aku tampan!" sahut yang lain.
"Jangan dekati dia!" tiba-tiba ucapan Rai membuat semua pria disana, mengalihkan pandangannya kearah Rai dengan tatapan bingung dan sedikit marah.
"Menjauhlah jika tidak ingin terkena imbasnya!" lanjutnya.
"Hei, kau! Jika bukan karena ada tuan muda Ramiel, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" salah satu pria bangkit dan mencengkeram kerah baju Rai.
"Tunjukkan dirimu yang sebenarnya dalam 5 detik! Jika tidak, rohmu akan kukeluarkan dari tubuh wanita itu!" ucap Rai memberi peringatan kepada wanita itu.
"Hei, kau..."
"Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu... Waktu habis! Tapak Petir : Penyucian Roh!" ucap Rai.
Tiba-tiba saja, Rai menghilang dan muncul kembali dihadapan wanita itu sambil menapakkan tangannya keperut wanita itu.
"AARRGGHHHH!!! AARRGGHHHH!!!"
Wanita itu mengerang kesakitan. Tubuhnya bergetar dan mulai memunculkan cahaya berwarna hitam merah. Cahaya hitam merah itu semakin lama semakin banyak dan mulai membentuk sesosok wanita berdada besar dengan tubuh seksi dan pakaian yang minim.
"Kau!!! Manusia rendahan!!! Beraninya kau mengeluarkan aku dari tubuhnya!!!" ucap roh wanita itu.
Tubuh wanita yang sebelumnya terlihat cantik itu, kini berubah menjadi wanita berbadan gempal yang tak sadarkan diri. Lantas, semua pria yang ada disana langsung berlari menjauh.
"Heh, selamat datang diduniaku!" sambut Rai.
"Kau... Kau yang menyebabkan ini semua 'kan? Akan kubalas kau berkali-kali lipat!" ucap roh wanita itu.
"Oh, benarkah? Kalau begitu, mari kita buktikan! Siapa yang akan membalas berkali-kali lipat, Asmodeus!" ucap Rai seraya mengeluarkan Sky Lightning Sword dari cincin penyimpanannya.
__ADS_1