
Wuung... Wuung...
Suara mendengung tiba-tiba terdengar diluar gerbang sekte. Suara itu diikuti dengan terciptanya sebuah portal besar yang membawa banyak orang serta satu orang yang dibawa menggunakan tandu.
"Hei, kalian! Cepat bawa Rai keruang perawatan!" perintah seseorang yang tak lain adalah Ramiel kepada para penjaga gerbang.
"Kalian, panggil tabib!" lanjutnya memerintah penjaga yang lain.
"Baik, tuan muda!" ucap para penjaga lalu melaksanakan perintah Ramiel.
Kemudian, para anggota sekte yang membawa Rai tadi, segera melarikannya keruang perawatan untuk mendapatkan penanganan pertama.
Tak lama kemudian, penjaga gerbang yang sebelumnya ditugaskan Ramiel untuk mencari tabib, datang bersama seorang pria paruh baya dengan jenggot putih yang hampir memenuhi seluruh area mulutnya.
Pria paruh baya itu tak lain adalah tabib yang dipanggil oleh penjaga gerbang itu. Tabib itu kemudian masuk kedalam ruang perawatan untuk memeriksa dan mengobati Rai.
Saat tabib itu masuk, semua orang yang ada disana langsung mengalihkan pandangannya kearah tabib itu secara bersamaan.
"Tabib Behrooz, tolong sembuhkan Rai!" ucap Ramiel dengan nada memohon.
Tabib bernama Behrooz itu, segera menuju salah satu kursi yang berada disamping tempat tidur. Behrooz kemudian memeriksa denyut nadi dan detak jantung Rai.
"Tetua Adraksh, apakah kau sudah memberikan penanganan pertama untuknya?" tanya Behrooz kepada tetua Adraksh.
"Ya, aku sudah memberinya penanganan pertama! Tapi, keadaannya masih belum juga membaik. Malah sebaliknya, wajahnya semakin pucat kondisinya semakin memburuk!" ucap tetua Adraksh.
Behrooz mengangguk setelah memeriksa detak jantung dan mendengar penjelasan dari tetua Adraksh. Dia kemudian memerintahkan tetua Adraksh, Ramiel dan Rin untuk melepas seluruh armor dan mengambil pedang yang ada dibelakang punggung Rai.
Setelah semua selesai, Behrooz kembali menyuruh semua orang untuk keluar dari ruangan itu agar dia bisa mengobati Rai dengan leluasa.
Tetua Adraksh, Ramiel dan Rin hanya menuruti perkataan Behrooz dan keluar dari ruangan itu sambil membawa seluruh perlengkapan perang milik Rai.
"Armor ini berat sekali!" gerutu tetua Adraksh kemudian meletakkan armor yang dia bawa dengan kasar hingga menimbulkan sedikit suara benturan.
Brak..
Krak...
"Argh... Punggungku!" tetua Adraksh sedikit mengerang kesakitan setelah punggungnya mengeluarkan sedikit suara yang tidak enak didengar.
"Tuan Muda Ramiel, aku akan ke ruang obat untuk mengambil beberapa herbal yang bisa menyembuhkan punggungku ini!" ucap tetua Adraksh.
"Baiklah, tetua!" balas Ramiel.
Tetua Adraksh pun akhirnya pergi. Ramiel kemudian mengalihkan pandangannya kearah Rin yang terlihat menatap pintu ruang perawatan dengan raut wajah cemas.
"Tenanglah, Rin! Dia akan baik-baik saja!" ucap Ramiel mencoba menenangkan Rin.
"Sebaiknya kau kembali ke kediamanmu untuk membersihkan tubuhmu! Nanti aku akan memberitahumu begitu Rai siuman!" lanjutnya.
"Baiklah, kak Ramiel! Ini, tolong bawakan pedang milik Rai!" ucap Rin seraya menyerahkan Sky Lightning Sword kepada Ramiel lalu pergi dengan sedikit isakan yang bisa didengar oleh Ramiel.
"Kasihan, Rin! Selama ini dia tidak pernah memiliki teman! Sekarang, dia memiliki satu teman yang baik! Tapi, temannya sedang dalam keadaan kritis!" gumam Ramiel sambil menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
***
20 menit kemudian,
Ramiel masih menunggu diluar ruang perawatan. Dia menunggu dengan ditemani oleh secangkir kopi dan sepiring camilan yang dipesannya dikantin untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya hujan.
"Ah... Sudah habis! Sebaiknya kukembalikan dulu cangkir dan piring ini!" gumam Ramiel kemudian pergi menuju kantin.
Tak lama setelah itu, seseorang tiba-tiba muncul disebelah peralatan perang milik Rai yang Ramiel tinggalkan untuk pergi kekantin. Orang itu tak lain adalah Abrecan yang hendak mengambil seluruh peralatan perang milik Rai.
"Hahaha... Akhirnya, aku akan mendapatkan seluruh perlengkapan ini! Tamatlah riwayatmu, Rai Tanaka! Hahaha..." gumam Abrecan seraya berusaha mengambil armor dan pedang milik Rai.
Namun, tiba-tiba saja tangannya digenggam oleh seseorang hingga membuat Abrecan gagal mengambil perlengkapan perang milik Rai.
"Ayah! Jika kau ingin mengambil semua ini, maka aku tidak akan memaafkan ayah!" ucap orang itu yang tak lain adalah Ramiel.
"Ramiel? Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Abrecan.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu! Kenapa ayah bisa ada disini?" ujar Ramiel membalikkan pertanyaan Abrecan.
"Aku... Aku..." ucap Abrecan ragu-ragu. Dia tidak ingin tindakannya saat ini diketahui oleh siapa pun.
"Apa yang ayah laku—" ucapan Ramiel terhenti tatkala pintu ruang perawatan terbuka.
Abrecan yang melihat itu segera menghilang dari tempatnya berdiri tadi. Ramiel menggertakkan giginya kesal. Dia ingin mengejar ayahnya itu. Tapi disisi lain, dia juga ingin mengetahui kondisi Rai setelah dirawat beberapa menit oleh Behrooz.
"Tabib Behrooz, bagaimana keadaan Rai?" tanya Ramiel.
"Kondisinya sudah sedikit membaik. Tapi, dia harus beristirahat beberapa hari, karena penyakit yang dideritanya sangat parah!" jawab Behrooz.
"Dia memiliki penyakit jantung. Kelihatannya, penyakit jantungnya ini telah dideritanya sejak kecil," jawab Behrooz.
"Dan ada satu hal lagi yang bisa membuatnya hampir sekarat seperti tadi. Meridiannya tersumbat!" lanjutnya.
"Meridiannya... Tersumbat?" tanya Ramiel tidak percaya.
"Benar! Sepertinya, hal ini disebabkan oleh pertarungannya sebelumnya. Dia terkena racun yang membuat meridiannya tersumbat! Ditambah lagi dengan fakta bahwa meridiannya pernah rusak dan kultivasinya pernah hancur beberapa bulan lalu!" ucap Behrooz.
"Apa?! Kultivasinya pernah hancur?!" ucap Ramiel terkejut.
"Ya! Dilihat dari meridiannya yang belum terlalu bagus, jelas terlihat bahwa dia pernah kehilangan kultivasinya! Dan satu lagi. Racun yang ada didalam tubuh Rai, juga membuat darahnya sedikit kotor. Juga seperti yang aku katakan tadi, racun itu juga membuat meridiannya tersumbat, sehingga dia tidak bisa menggunakan jurus, teknik ataupun serangan yang membutuhkan energi alam dalam waktu dekat! Tapi, jika dia tetap memaksakan diri untuk menggunakan energi alam, maka meridiannya akan meledak dan dia tidak bisa menjadi pendekar lagi!" jelas Behrooz.
"Baiklah, tabib! Aku akan menjaganya baik-baik!" ucap Ramiel.
"Aku sudah memberinya pil pereda sakit dan penawar racun tingkat Menengah. Itu akan sedikit mengurangi rasa sakitnya! Tapi, tidak akan menyembuhkannya! Emm... Apakah dia pernah bertarung dengan iblis?" ujar Behrooz.
"Ya! Saat pergi kedesa Lightning Stone kemarin, dia menghadapi para iblis bersama Rin!" ucap Ramiel.
"Oh, begitu! Pantas saja!" gumam Behrooz.
"Memangnya ada apa?" tanya Ramiel.
"Hah... Racun yang ada didalamnya adalah racun kegelapan yang tidak ada penawarnya didunia ini!" jawab Behrooz.
__ADS_1
"Apa?!" ucap Ramiel kemudian terdiam.
"Baiklah, aku permisi dahulu!" ucap Behrooz kemudian berlalu pergi.
Sesaat setelah Behrooz pergi, Rin datang dengan tergesa-gesa. Nafasnya masih memburu, karena berlari dari kediamannya menuju ruang perawatan.
"Kak Ramiel, bagaimana keadaan Rai?" tanya Rin.
Ramiel yang sebelumnya masih termenung ketika mendengar ucapan dari Behrooz, segera tersadar dan langsung memberitahukan kondisi Rai.
"Ee... Dia... Baik-baik saja. Tabib Behrooz juga telah memberinya obat. Mungkin sekarang dia sudah siuman," jawab Ramiel.
"Syukurlah! Boleh aku masuk?" tanya Rin.
"Tentu!" balas Ramiel.
Rin segera memasuki ruangan begitu mendapat izin dari Ramiel. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa Rai sudah berdiri dari tempat tidurnya dan sedang menyiapkan perlengkapan miliknya.
"Rai? Kau mau kemana?" tanya Rin.
"Hm? Oh, Rin. Kapan kau masuk?" tanya Rai.
"Baru saja. Jawab pertanyaanku, kau mau kemana?" ucap Rin dengan penekanan diakhir kalimatnya.
"Oh, iya! Apa kau melihat armor dan pedangku? Sepertinya tadi dilepas ketika aku sedang dirawat!" ujar Rai kembali mengacuhkan Rin.
"Rai! Ja—"
"Oh, itu dia!" ucap Rai kemudian berjalan kearah semua perlengkapan perangnya lalu menyimpannya dicincin penyimpanan.
"Baiklah! Sampai jumpa, Rin!" ucap Rai.
Rai hendak keluar dari ruang perawatan. Tapi, langkahnya terhenti ketika Rin tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kau mau kemana, Rai?" tanya Rin lagi.
"Hah... Aku mau ke Hutan Kabut Berdarah!" jawab Rai.
"Tidak! Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi kesana! Disana sangat berbahaya! Aku takut kau terluka lagi!" ucap Rin.
"Memangnya kenapa jika aku terluka? Bukankah sejak awal kita tidak memiliki hubungan apa-apa?" ujar Rai.
Deg...
"Tapi... Aku menganggapmu sebagai teman!" balas Rin.
"Teman? Heh, aku sudah tidak lagi percaya dengan namanya teman ataupun sahabat!" ucap Rai ketus.
Deg...
"K-kenapa?" tanya Rin.
"Kau tidak perlu tahu kehidupan pribadiku!" ujar Rai kemudian menghilang dari hadapan Rin.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Rai... Kenapa? Kenapa kau mencampakkan aku? Kenapa? Bukankah aku temanmu? Hiks... Rai... Kau tahu? Sepertinya aku menyukaimu!" gumam Rin.